
“Mungkin kalian bisa mencukupkan latihan kalian sampai disini,” kata Putri Layla.
Pagi itu Dubal dan lainnya melakukan latihan di lapangan Istana Igardias. Memang sebenarnya Dubal menamai kegiatan tersebut latihan. Akan tetapi, yang mereka lakukan adalah berkumupul bersama dan berbicara tentang hal – hal yang berkaitan dengan diri mereka. Hanya Dubal dan Rego saja yang beradu pedang. Arika hanya memastikan bahwa sihir anginnya bekerja dengan baik. Lusa membawa pegasusnya dan mengistirahatkan diri dengan duduk di bangku yang tersedia di sana. Sara dan Edgar sedang tidak bersama mereka karena mereka berdua sedang bersama Pangeran Uzan di Istana. Mereka tahu bahwa hari esok adalah hari dimana misi untuk menghampiri Ruhin ke gunung Atlas akan dilaksanakan.
Putri Layla memerintahkan seorang prajurit untuk membawa karpet besar dan menggelarnya di lapangan itu. Kemudian, ia, Dubal, Arika, dan lainnya duduk di sana membentuk lingkaran.
“Besok adalah hari H keberangkatan kita,” kata Putri Layla. “Aku ingin kau yang menjadi pendamping pemimpin, Rego.”
“Baiklah, Putri,” kata Rego. “Suatu kehormatan aku bisa turut andil dalam ekspedisi ini.”
“Dari sini Gunung Atlas jaraknya tidak begitu jauh,” kata Lusa. "Akan tetapi mungkin itu cuma perkiraanku saja karena aku terbiasa terbang menggunakan pegasus.”
“Jika memang perlu, aku akan menyiapkan portal untuk sampai ke sana,” kata Rota.
“Mungkin Portal sangat efisien dalam menempuh perjalanan yang cukup jauh ini,” kata Dubal. “Tapi kalau bisa kita tidak akan menggantungkan diri kami kepada sihir tingakat tinggi milikmu, Rota.”
“Itu benar,” kata Arika. “Pembuatan portal merupakan salah satu sihir tingkat tinggi yang bisa melelahkan penggunanya.”
Rego berkata, “Kalau begitu, sebaiknya kau menggunakan sihirmu untuk kebutuhan penyerangan.”
“Baiklah,” kata Rota.
“Apakah kau punya opini tentang ini, Lusa?” tanya Layla.
Lusa menggeleng. “Untuk sementara ini, aku akan mendengarkan kalian saja.”
“Baiklah,” Layla mengangguk.
“Kita akan menghadapi Ruhin, makhuk Pixi,” kata Arika. “Apakah kau punya ide untuk mengalahkan makhluk pixi, Linda?”
Linda terbang mengelilingi mereka semua dengan bunyi bergemerincing. Setelah itu, ia berkata, “Aku tidak punya ide apapun untuk mengalahkan Ruhin. Mungkin kita sebaiknya bertanya kepada Hiu, pimpinan Pixi di Hutan Restra di pulau ini atau Uvuk, pimpinan hutan Lumina di Kastala.”
Dubal berkata, “Sayang sekali kalau kita sudah tidak akan menuju ke Kastala untuk waktu dekat ini. Walaupun begitu, kita bisa meminta bantuan dari para petugas di Istana ini, misalnya Rura untuk bisa terhubung dengan Tuan Hiu.”
“Itu benar,” kata Linda. “Aku akan bilang kepada Rura.”
“Putri Layla,” kata Rego. “Apakah kau sudah menyelidiki tentang Faraq?”
“Aku sudah memanggil Romeo kemarin,” kata Layla. “Sekarang ia sedang ada di istana. Ia sedang tidak ingin berbicara kepada siapapun walaupun kemarin malam sudah bicara kepada Pangeran Uzan.”
“Seorang penyihir Nekroz,” kata Arika. “Penyihir di luar Elemen.”
__ADS_1
“Aku tidak habis pikir bahwa penyhir Nekroz tidak punya sebintik pun pengkhianatan,” kata Layla. “Padahal jika ingin diratakan, ia bisa dibilang sebagai penjahat karena ia bisa berhubungan dengan orang mati dan mungkin bisa mematikan.”
“Memang tidak normal,” kata Arika. “Dari dulu sampai sekarang penyihir Nekroz tidak punya sejarah pembelotan atau pelanggaran terhadap istana atau pulau apapun. Mungkin memang natur mereka yang cenderung sedang menyendiri dan hanya berbicara ketika ada perlu.”
“Itu benar,” kata Layla.
“Jadi, penyihir Nekroz yang baru saja Putri Layla panggil akan melakukan penyelidikan?” kata Dubal.
“Itu benar,” kata Layla. “Ia akan mencari tahu tentang hakikat Faraq dengan menggali lebih dalam tentang masa lalu petinggi Igardias itu.”
“Apa kau yakin?” kata Dubal. “Caranya?”
“Aku tidak tahu caranya, Dubal,” kata Layla. “Akan tetapi, karena Romeo dan Faraq punya hubungan murid dan guru, maka ia akan menggali masa lalunya dengan menceritakan tentang seluk beluk Faraq dan bagaimana ia bisa menjadi seperti sekarang.”
”Apakah hal tersebut bisa diceritakan melalui perbincangan ringan saja?” kata Rota. “Menceritakan tentang masa lalu seseorang bisa dilakukan bahkan di sini, kan?”
“Itu mungkin benar,” kata Putri Layla. “Akan tetapi, yang akan kita perbincangkan ini sudah mengambil alih wilayah Kastala. Maka dari itu, Raja Guvar memilih untuk menjadikan hal ini menjadi jauh lebih penting supaya semua orang tahu tentang ini.”
“Itu langkah bagus,” kata Dubal. “Kami juga membutuhkan informasi tentang Faraq da lainnya.”
“Mengenai ini, ada yang harus disayangkan,” kata Layla. “Kita tidak akan mendengarkan tentang pemberitahuan itu.”
“Maksudnya?” tanya Dubal.
Duba menghela kesal. “Sangat disayangkan.”
“Tenang saja, Dubal,” kata Layla. “Kita juga akan diberi tahu tentang hasil diskusi dan penyelidikan.”
“Setelah menjalankan misi?”
“Tidak,” kata Layla. “Pada hari kedua setelah menjalankan misi.”
“Oh, iya,” kata Arika. “Istana menyediakan kalung kalung sihir untuk menampakkan maklumat yang terjadi di kerajaan.”
“Jika begitu, itu sangat meringankan,” kata Rota. “Tapi apakah setiap prajurit yang menjalankan misi selalu diberi kalung sihir itu?”
“Tidak, Rota,” kata Layla. “Kalung Sihir itu hanya dilakukan dipergunakan untuk para petinggi ketika mereka menjalankan misi. Lagipula, jumlahnya cuma lima di istana ini.”
“Begitu, ya?” kata Dubal. “Jikalau menjalankan misi menjadi semudah itu, seharusnya kemampuan berhubungan antara orang – orang istana dan orang – orang yang sedang menjalankan misi menjadi lebih mudah.”
“Belum tentu,” kata Layla. “Kata ayah, jika setiap orang yang menjalankan misi diberi kalung sihir agar dapat berhubungan dengan istana, maka dia akan menggantungkan dirinya dengan keadaan istana dan tidak fokus menjalankan misi. Atau mungkin orang – orang istana akan lebih ingin tahu dan selalu menghubungi para pelaku penjalan misi tersebut sehingga mengganggu para pelaku penjalan misi.”
__ADS_1
“Baiklah, aku mengerti sekarang,” Dubal mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Sara berlari kecil menghampiri mereka.
“Maaf teman – teman,” kata Sara dengan sedikit bersalah. “Apakah latihan yang sedang kalian lakukan sudah selesai?”
“Sudah selesai dari tadi, Sara,” kata Arika.
“Aku baru saja disuruh oleh Raja Guvar untuk memanggil kalian semua untuk berbincang masalah keberangkatan yang akan dilaksanakan besok.”
“Baiklah,” kata Layla.
Sang Putri, Dubal, dan lainnya. Segera berdiri. Dua orang prajurit Istana yang kebetulan melihat mereka langsung mengambil dan menggulung karpetnya. Setelah diarahkan oleh Putri Layla, mereka berdua pergi.
“Mari!” Putri Layla mengajar Dubal dan lainnya untuk masuk Istana.
Sang Putri mengetahui bahwa mereka bersiap untuk menyelesaikan masalah – masalah yang dihadapi ini. Ia juga tahu bahwa kehidupan ini tidak lepas dari masalah. Ia juga tahu bahwa ia harus membantu Pangeran Uzan untuk mengambil alih kembali kerajaannya.
Ketika semua sudah masuk ke istana, Layla berheti sejenak untuk menyaksikan langit yang semakin terang. Menandakan pagi yang sudah menjelang siang. Kehangatan berubah menjadi lebih panas.
Sang Putri menandakan bahwa momen ini adalah salah satu rintangan yang harus dihadapi oleh Uzan, dirinya, atau petinggi – petinggi lainnya karena kehidupan istana tidak selalu megah seperti kelihatannya.
Sesaat kemudian, Layla berbalik dan berjalan masuk ke Istana. Bersiap untuk melaksanakan tugasnya.
........Bersambung ke Sekuel Selanjutnya......
__ADS_1