Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Menuju Istal Pegasus


__ADS_3

Salah satu teras bagian depan istana sedang ditempati oleh Rego, Dubal, Arika, dan Linda.


Rego dan Dubal sedang berdiri sambil memainkan senjata mereka. Arika sedang duduk di bangku. Linda duduk di bahu kanan Arika sambil sembari melihat kedua lelaki itu.


“Besok adalah hari keberangkatan,” kata Rego. “Pastinya kau sudah siap, Tuan Dubal.”


“Itu pasti!” kata Dubal. Prajurit berjanggut itu memegang kapaknya. “Kita akan berjanji kepada Rota bahwa kita akan latihan bertarung dengannya.”


Sesaat kemudian, Rota menghampiri Rego dan lainnya. “Apakah kalian sudah siap untuk bertarung denganku?”


“Aku dan Tuan Dubal sudah siap,” kata Rego. “Aku tidak tahu apakah Arika dan Linda juga akan siap.”


Arika melihat para lelaki yang sudah siap bertarung satu sama lain. Ia memang akan mengikuti mereka, tapi sayangnya ia sedang tidak di dalam suasana hati untuk melakukan itu.”


“Maaf kawan – kawan,” kata Arika. “Sepertinya aku tidak akan ikut latihan pertarungan dahulu.”


“Kenapa, Arika?” tanya Rota.


“Aku tidak tahu,” kata Arika. “Mungkin aku sedang tidak punya suasana hati untuk melakukan itu.”


“Kita sudah tahu bahwa kita akan menghadapi Ruhin sang pixi, kan,” kata Dubal. “Jadi, mau tidak mau, semua dari kita perlu latihan pertarungan dengan makhluk magis. Atau mungkin satu sama lain.”


“Apa mungkin kalian sedang bosan berpikir tentang misi yang sedang kita jalani ini?” Rego memegang dagu. “Jika itu sebabnya, kalian mungkin perlu istirahat untuk memperbaiki suasana hati kalian.”


Arika mengangkat bahu. “Aku juga tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Jadi, mungkin aku akan melihat kalian para lelaki bertarung sedangkan aku ditemani Linda di sini, ya kan, Linda?”


“Itu benar,” kata Linda. “Paling tidak, kami di sini dahulu untuk melihat kalian bertarung.”


“Apa mungkin kalian ingin mengunjungi Lusa dahulu?” tanya Rego.


“Apakah Lusa punya waktu luang?” tanya Arika.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka, Arika,” kata Rego. “Kau bilang bahwa pamanmu adalah bendahara istana ini, kan, apakah kau belum pernah melihat para gadis pegasus mempersiapkan diri mereka untuk menjalankan misi?”


Arika menggeleng. “Aku belum mengetahui tentang itu, Rego. Lagipula, aku sibuk sekolah.”


Rego menghela. “Aku Rota, dan Tuan Dubal akan melakukan latihan bertarungan di sini. Kau dan Linda pergi ke istal pegasus yang tersedia di sayap bagian kiri istana ini. Kau sudah tahu lokasinya, kan, Arika?”


“Aku sudah tahu,” kata Gadis penyihir itu.


“Tapi mungkin kalau bisa kau ajak Lusa kemari untuk menyaksikan pertarungan kita walau hanya sebentar. Atau mungkin, setelah kau selesai dengan kunjungan ke tempat Lusa, kau kembali kemari dan memutuskan untuk ikut latihan.”


“Aku setuju dengan itu,” kata Arika. Linda juga mengangguk.


“Baiklah kalau begitu,” Dubal mengangguk. “Mungkin kita akan melakukan wacana strategi nanti. Untuk sekarang, Rego dan Rota akan melakukan latihan sendiri.”


“Baiklah,” kata Arika. Kemudian, penyihir itu berdiri dan segera beranjak ke arah Istal kuda para pengendara pegasus. Linda turun dari bahu Arika, melayang sejajar, dan mengikutinya.


“Sayang sekali mereka tidak ikut,” Rota berdecak. “Padahal kita bisa menanyakan kepada mereka perihal Risaik dan serangan umum para pixi.”


“Aku tahu apa yang baru saja dikatakan oleg Rego,” kata Dubal. “Arika dan Linda masih akan kembali. Kita hanya harus mempersiapkan senjata kita agar kita bertarung lebih efektif lagi.”


“Terkadang aku juga merasa heran mengapa persiapan yang dilakukan para pegasus begitu lama,” tanya Linda.


“Sebelumnya aku juga berpikir begitu,” kata Arika. “Kenapa tidak disederhanakan seperti para prajurit pengendara kuda biasa? Tapi setelah ini kita akan mengunjungi Lusa. Semoga dia tidak sibuk.”


Arika dan Linda mengnjungi sebuah Istal Pegasus di bagian kiri Istana Igardias. Istal itu berupa bangunan layaknya gedung yang beratapkan kubah seperti atap istana.


Ketika gadis penyihir dan pixi itu memasuki Istal, ia mendapati banyak bilik kuda di sana. Hal ini karena mereka berdua bisa melihat langsung ke bawah dari dekat pintu. Mereka harus menuruni tangga ketika ingin mengunjungi salah satu bilik.


Walaupun awalnya Arika dan Linda kagum dengan pemandangan mereka akan Istal pegasus itu, mereka berdua heran karena tempat itu terlihat kosong. Akan tetapi, kebetulan Linda menemukan kertas yang di tempel di dekat pintu. Di kertas tersebut, tertera nama – nama pengendara pegasus.


Setelah pixi itu memberitahu Linda, mereka tidak butuh untuk mencari Lusa karena nama Lusa tertera jelas dengan tulisan putih terang di sana. Dan namanya adalah salah satunya. Di kertas itu juga tertera nomor bilik pegasus milik Lusa, yaitu nomor seratus lima (105)

__ADS_1


Sesaat kemudian, Arika dan Linda berjalan turun menuruni tangga dan berjalan menyusuri banyaknya bilik pegasus kosong. Akhirnya, ia menemui pintu ruangan milik Lusa.


Ketika pintu itu diketuk, pintu langsung terbuka. Kemudian, Arika dan Linda menemui Lusa yang sedang meraba dahi pegasus putih miliknya.


“Kalian ya?” Lusa tersenyum. “Silahkan masuk…”


Linda dan Arika langsung memasuki tempat itu. Truangan itu mengingatkan Arika akan istal kuda biasa yang berisi jerami dan kolam air. Akan tetapi, ruangan ini lebih luas. Di bagian samping truangan tersebut terdapat sebuah bangku.


“Kemana para pengendara pegasus lainnya, Lusa?” tanya Linda.


“Mereka semua sedang menjalankan misi,” kata Lusa. Gadis itu berdiri di depan pegasus sembali meraba dagu pegasusnya.


“Mereka semua?” tanya Arika


“Banyak gadis pegasus yang sedang menjalankan misi karena, selain penyihir, pegasus juga sangat dibutuhkan.”


Arika menghela. “Setahuku, aku tidak melihat satu pun pengendara pegasus selain dirimu di sini, bahkan di luar istana. Mereka semua kemana?”


Lusa terdiam sejenak. Lalu berkata, “Para penunggang pegasus jarang ada di Istal pegasus, Arika. Karena mereka Nomaden. Kebanyakan dari mereka tersebar di seluruh penjuru Dunia Namaril. DI sini, mereka hanya mempersiapkan pegasus untuk keperluan pribadi mereka.”


“Raja dan Ratu sangat baik karena menyediakan fasilitas gedung sebesar ini untuk para pegasus,” kata Linda.


Lusa berkata, “Seperti yang sudah kau ketahui bahwa pengendara pegasus hanya ada di Igardias. Setelah usia dua puluh lima, dengan sendirinya ia akan mengundurkan diri dan mengembalikan pegasus mereka ke istana. Jadi, maklum bagi mereka jika istana menugaskan mereka untuk berkeliling Dunia Namaril untuk menyebar ke sluruh penjuru Namaril dan menghabiskan masa mereka untuk bertugas.”


“Itu berarti kau sedang tidak mempunyai tugas sama sekali?”


“Aku baru saja pulang dari Rimasti,” kata Lusa. “Dan beruntungnya, aku bertugas lagi untuk berdampingan dengan kalian untuk pergi ke Gunung Atlas.”


“Aku mengerti,” kata Arika.


Linda berkata, “Kami baru saja akan mengadakan latihan pertarungan dengan Dubal, Rego, dan Rota di salah satu teras istana. Tapi Rego bilang bahwa sebaiknya kau ikut untuk mengikuti latihan, Lusa.”

__ADS_1


“Atau mungkin nanti saja,” Arika duduk bersandar. “Kita berbincang – bincang di sini sebentar dan membicarakan hal yang berkaitan dengan kita.”


__ADS_2