
“Jadi…” Arika mengangkat rendah tangannya. “Apa solusi untuk masalah Galar?”
“Menurutku, untuk sementara ini, kita belum bisa memastikannya,” kata Rego.
Sara menghela. “Mungkin kita hanya bisa berharap agar Pangeran Axel bisa menghadapi Galar untuk saat ini.”
“Ini sangatlah pelik,” kata Edgar dengan nada kesal. “Bagaimana kita bisa ke Kerajaan Oslar jika keadaan kita sekarang sedang terasing seperti ini.”
Ratu Agatha berkata, “Kalau aku boleh menyarankan, masalah itu akan kita tangguhkan dahulu dan kita akan membahas tentang masalah selanjutnya.”
“Masalah selanjutnya adalah Ruhin sang Pixi,” kata Arika. “Yang kami tahu adalah bahwa Ruhin tidak tinggal di Hutan Restra di Igardias. Benarkan, Linda?”
Linda, yang sedang bersandar di bahu kanan Dubal mengangguk. “Itu benar, Ratu Agatha.”
Agatha tersenyum. “Jadi, kalian belum mengetahui tentang keberadaan Ruhin itu ya…”
Lusa berkata, “Sebelumnya mungkin aku tidak mengetahui apapun tentang Galar yang sedang kita bicarakan. Akan tetapi, aku sudah mengetahui keberadaan Ruhin. Ia sedang ada di bukit dimana Risaik tinggal.”
“tidak mungkin,” kata Arika. “Apakah ia ada di Gunung Atlas?”
Lusa mengangguk. “Itu benar,”
Gunung katamu?” Edgar menggaruk kepala. “Jika ia sedang ada di gunung, maka bagaimana kita akan menggapainya?”
“Jika memang diizinkan oleh Istana, bisa saja kita menjalani misi untuk mencapai Ruhin sesegera mungkin,” kata Lusa. “Karena walaupun kata – kata ‘Gunung’ terdengar berat. Untuk mencapainya, kita perlu memasuki alam magis. Itu benarm kan, Arika?”
‘Itu benar,” kata Arika. “Aku belum sempat menjelaskannya di awal. Di samping itu, jika kita mengetahui tentang Lokasi Ruhin sekarang, di Gunung Atlas, maka kita akan langsung bisa mencapainya, sesuai dengan titah istana.”
Ratu Agatha tersenyum. “Hal itu akan aku pertimbangankan. Tapi aku membutuhkan penjelasan lebih tentang ini.”
__ADS_1
“Aku pernah menghadapi Risaik bersama teman – temanku dulu,” kata Arika. “Ia melarikan diri saat pertarungan. Pastinya ia kembali ke Gunung Atlas untuk tinggal di sana.”
“Bisa jadi,” kata Lusa. “Tapi bisa jadi mereka tidak
“Atau bisa jadi mereka tinggal bersama dan memanfaatkan Namaril Mystical Beast itu untuk kepentingannya,” ujar Dubal.
“Jika kita berhasil ke tmpat Ruhin, bagaimana cara mencapainya?” ujar Sara.
“Aku merasa terhormat karena dihadirkan oleh Ratu Agatha di sini,” kata Lusa membenahi duduknya. “Dengan statusku sebagai pengendara Pegasus, aku akan membantu kalian di dalam penugasan ini.”
“Baiklah,” Ratu Agatha bersedakap sambil bersandar. “Apakah diskusi kalian tentang masalah minor ini sudah selesai?”
“Sepertinya sudah, Baginda,” kata Dubal.
“Aku sudah mendengar dua masalah minor pokok yang baru saja kalian perbincangkan,” Agatha menghela. “Seperti yang baru saja dikatakan oleh Dubal, kita akan menangguhkan tugas ke Kerajaan Oslar karena masalah jarak. Selanjutnya, aku akan segera memberikan izin kepada kalian untuk menemukan Ruhin. Aku pernah mendengar tentang Ruhin entah darimana. Tapi aku tidak ingat. Aku akan menyerahkan masalah pelik tentang dirinya kepada kalian semua. Karena hal ini hanyalah minor, maka aku sebagai ratu pun tidak akan ikut andil besar dalam hal ini.
“Sekarang, kita akan memilih enam orang anggota yang akan berangkat untuk menemui Ruhin. Salah duanya adalah Rego dan Lusa.
“Selanjutnya…” Ratu Agatha mengedarkan pandangan sekeliling. Lalu berujar, “Arika, Linda, Dubal, dan Rota juga ikut.”
Apakah semua dari kita bisa pergi ke Gunung Atlas, Baginda?” kata Edgar.
“Sebenarnya bisa,” kata Agatha. “Akan tetapi, aku pikir bahwa Edgar dan Sara harus menetap di istana untuk menmani Uzan karena sang pangeran membutuhka teman – teman terdekatnya.”
Sara tersenyum. “Bagaimana Yang Mulia tahu bahwa Edgar dan saya berteman dengan Pangeran Uzan?”
Agatha mengetuk pelan meja bundar itu dengan jari telunjuknya. “Layla sering bilang bahwa Pangeran Uzan berteman dekat dengan orang – orang bernama Edgar, Sara, Rena, dan Rafael. Senang bertemu dengan salah dua dari kalian. Mungkin aku kurang tertarik untuk mengetahui keberadaan Rena dan Rafael. Tapi kemungkinan mereka berdua masih di Istana. Aku hanya berharap bahwa mereka berdua baik – baik saja.”
Sara dan Edgar saling melirik satu sama lain. Seakan bersepakat bahwa mereka berdua tidak akan memberitahukan tentang keadaan Rafael dan Rena sebenarnya.
__ADS_1
Sebenranya Edgar ingin sekali mengikuti tugas untukk menumpas Ruhin bersama Dubal dan lainnya. Akan tetapi, ia berubah pikiran setelah Ratu Agatha berkata bahwa mereka berdua akan didekatkan kepada Uzan. Itu masuk akal. Ia ingin menghadapi masalah yang lebih pelik mengenai tempat tinggalnya di Kastala.
“Baiklah,” Ratu Agatha berdiri. “Aku ada perlu setelah ini. Aku juga sudah mengetahui tentang pmebahasan masalah minor yang sedang melanda kalian. Kelompok sudah terbagi. Dan…kalian hanya perlu bercengkerama antara satu sama lain dan membahas peermasalahn ini dengan lebih mendalam. Jadi, akan kutinggal dahulu.”
Setelah itu, Ratu Agatha segera berjalan ke luar dari ruangan itu.
Beberapa saat kemudian, Rego berkata, “Tuan Dubal dan Rota, aku tidak menyangka bahwa aku akan bertemu dengan kalian.”
“Aku juga tidak menyangka bahwa ada utusan pangeran Axel di sini.”
“Aku tidak tahu akan berbincang tentang apa kepada kalian Rego dan lainnya. Tapi aku akan ikut saja.” Edgar menghela ringan.
Lusa segera berdiri. “Maafkan aku teman – teman, aku harus bersiap – siap dengan pegasusku untuk melaksanakan tugas untuk menemui Ruhin yang akan dilaksanakan dua hari lagi.”
“Dua hari lagi?”
“Oh, aku lupa,” kata Rego. “Sebelum datang ke sini, ratu Agatha berkata bahwa setelah kesimpulan pertemuan ini ditemukan, maka pelaksanaan tugasnya dilaksanakan dua hari lagi. Barangkali Sang Ratu lupa untuk menyampaikannya tadi.”
“Itu benar,” kata Lusa. “Selain itu, sebagai pengendara pegasus, aku juga harus bersiap – siap untuk memastikan bahwa pegasusku mampu untuk melaksanakan tugas ini.”
Edgar menggaruk kepala. “Pegasus juga sama dengan kuda biasa, kan?”
“Tidak Edgar, mereka berbeda,” kata Sara. “Seperti Trez dan Zero, pegasus juga termasuk hewan magis. Jadi, mereka memerlukan persiapan lebih.”
“Terima kasih, Sara,” Lusa tersenyum. “Pegasus lebih sulit untuk ditangani daripada hewan atau kuda magis biasa. Ada beragai macam sihir yang terkandung di dalam pegasus. Jadi, untuk kemantapan persiapan, ia harus kuurus.”
Kemudian Lusa mulai beranjak pergi keluar ruangan.
Edgar bersedekap. “Aku lupa bertanya tentang apakahb pengendara pegasus bisa melakukan sihir jika memang mengurusi pegasus yang penuh dengan sihir,”
__ADS_1
“Mereka bisa melakukan sihir,” kata Arika. “Akan tetapi, sihir itu hanya khusus untuk satu pegasus. Jadi, tidak selincah penyihir elemental atau klerik yang bisa melakukan sihir di bidangnya secara luas. Pengendara pegasus sudah terkunci dengan satu ekor pegasus di mana kita bisa menganggap bahwa seorang pengendara pegasus dan tunggangannya tidak bisa terpisahkan satu sama lain.”
Edgar mengangkat bahu. “Baiklah kalau begitu.”