Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Di Hutan Lumina


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Uzan dan lainnya tiba di Hutan Lumina.


Dubal yang sedang mengendarai Zero melihat daerah yang ada di sekitar Hutan. Walaupun malam sudah merayap, namun hutan yang sedang dilewatinya saat ini terlihat terang. Hal ini dikarenakan pendaran cahaya Pixi yang sedang terbang berlalu lalang di sekitar hutan tersebut.


Sesaat kemudian, Dubal memelankan Zero ketika sedang melewati hutan tersebut. Ketika ia perhatikan lebih dekat, para pixi terdiri dari terdiri dari laki – laki dan perempuan bertubuh kecil bersayap capung. Lebih kecil daripada Rota. Sekiranya dua kali lebih besar dari kupu – kupu normal. Selain itu, Pixi laki – laki pixi mengenakan baju lengan panjang dan celana panjang, dan pixi perempuan mengenakan gaun.


Prajurit itu mengedarkan pandangannya sejenak untuk mengagumi pemandangan yang sedang ia lihat. Beberapa saat kemudian, ia turun dari Zero dan membuka pintu kereta kencana agar Uzan dan lainnya keluar.


Sang pangeran dan para rekannya hanya mengagumi tempat yang mereka pijak sekarang sejenak sebelum akhirnya mereka membuka pembicaraan.


“Jadi, kita di sini dan…” kata Edgar. “Sekarang, apa yang harus kita lakukan?”


“Ketika aku melakukan ritual bersama Rota, Arika, dan, Sara,” Uzan mengedarkan pandangan ke sekeliling pepohonan. “Aku merasakan bahwa seorang pixi perempuan akan mendatangi kita. Itu berarti bahwa kita tidak perlu berjalan kemana – mana dan hanya perlu menunggu di sini.”


“Aku mengantuk,” kata Edgar.


“Aku tidak yakin bahwa kita bisa beristirahat di sini, Edgar,” kata Dubal. “Maksudku, dengan puluhan Pixi yang masih melayang dan berlalu lalang disana - sini dan celoteh mereka yang terdengar nyaring.”


Tidak lama kemudian, seorang pixi datang menghampiri Uzan dan para rekannya. Gadis pixi itu berambut pirang panjang dan mengenakan gaun hijau terang. senyuman menghiasi wajahnya ketika ia tahu bahwa ia mendatangi Sang Pangeran.


“Namaku Linda,” sang pixi memperkenalkan diri. “Ada apa gerangan anda kemari, Pangeran Uzan?”


“Kau tahu namaku?” Uzan terheran.


“Tentu saja, pangeran,” kata Linda. “Hikin yang menjadi pegawai kerajaan berasal dari sini dan memberitahu kami tentang anda.”


“Aku minta maaf karena aku kurang mengetahui tentang Hikin, Linda…”


“Ja-jangan minta maaf, pangeran,” kata Linda. Ia tampak panik. “Kami sangat merasa terhormat bahwa Hikin bisa menjadi pegawai kerajaan yang termasyhur di negeri ini.”


Edgar berbisik kepada Sara. “Pixi ini berlebihan.”


Sebenarnya Sara menyetujuinya. Tapi ia berkomentar, “Jangan bicara dulu, Edgar, ini penting.”


Uzan memperkenalkan satu persatu nama rekannya. Tidak lupa, ia juga memberitahu Linda tentang status dan kemampuan mereka.


“Ada penyihir, ya?” kata Linda sembari melayang ke depan Arika. “Pastinya kau dari Igardias.”


“Itu benar,” Arika tersenyum.


“Pangeran Uzan,” kata Linda sabil melayang mengitari Uzan dan lainnya. Setelah itu, tersebut mengepakkan sayap capungnya di depan Uzan. Apakah aku bisa meminta penjelasan tentang Penyihir dan Klerik sebelum kita ke pembicaraan utama?”


“Silahkan saja,” kata Uzan. “Aku tidak keberatan jika sang tuan rumah ingin berbasa – basi sebentar.”


“Baiklah,” kata Linda. “Aku ingin mengetahui lebih tentang Penyihir dan Klerik yang mengenyam pengetahuan di Igardias. Mereka memiliki tingkatan. Bukankah begitu?”


“Itu benar,” kata Sara.

__ADS_1


“Bisakah kalian berdua,” Linda menunjuk ke arah Sara dan Arika. “Menjelaskan kepadaku tentang tingkatannya?”


Sara berujar kepada Arika. “Kau bisa menjelaskannya menggunakan sihir tulisan melayang, Arika.”


Gadis penyihir itu mengangguk “Baiklah..”


Setelah itu, Arika memunculkan tongkat sihir dan enyaakan ujungnya. Perlahan, sebuah tulisan cahaya tertera dan melayang di udara.


[Tingkatan penyihir]


#Penyihir Lelaki tingkat 1


*Magus – Jubah merah


#Penyihir Lelaki tingkat 2


*Magnus – Jubah biru


#Penyihir Lelaki tingkat 3


*Hizar – Jubah abu - abu


#Penyihir Perempuan tingkat 1


*Magus – Jubah merah muda


*Magisa – Jubah biru muda


Penyihir perempuan tingkat 3


*Hizarzia – Jubah putih


[Tingkatan Penyembuh]


#Penyembuh Lelaki-Perempuan


*Tingkat 1 – Dawa – Syal Merah


*Tingkat 2 – Farma – Syal Kuning


*Tingkat 3 – Klerik – Syal biru


“Apakah kau bisa menjelaskan tentang suatu tingkatan ini?”


“Tentu saja,” kata Arika. “Tingkat ketiga penyihir tidak sama dengan tingkat ketiga klerik karena tingkat ketiga penyihir hanya khusus untuk pegawai kerajaan.”


“Begitu, ya?” Linda bertepuk tangan.

__ADS_1


Sambil menggaruk kepala, Edgar membaca maklumat itu.


“Aku tahu bahwa itu hanyalah basa – basi,” Dubal berkomentar. “Tapi jika ingin mengetahui lebih tentang mereka berdua, sejujurnya, ini bukanlah pemilihan waktu yang tepat. Walaupun, kuakui, itu menambah maklumatku tentang penyihir dan penyembuh.”


“Baiklah,” kata Uzan dengan nada datar. “Apakah kau sudah memenuhi keperluanmu dengan Sara dan Arika, Linda?”


“Sudah pangeran,” Linda melayang di depan Uzan.


Arika meredupkan cahaya di tongkat sihirnya dan perlahan mematikannya, sehingga tulisan itu menghilang seketika.


“Baiklah,” kata Uzan. “Kami harus mendapatkan Tongkat Lumina.”


“Tongkat Lumina, ya?” kata Linda. “Kau bisa mendapatkannya langsung oleh Tuan Uvuk. Beliau adalah salah satu Tetua yang ada di Hutan Lumina ini.”


“Apakah hal ini melibatkan pertarungan?”


“Tidak, pangeran,” Linda menggeleng. “Pangeran Uzan harus pergi menemui Tuan Uvuk sendiri dan meminta izin kepadanya secara mandiri. Setelah itu, Tuan Uvuk akan memberikan langsung Tongkat Lumina itu.


“Baiklah,” kata Uzan. Setelah itu, sang pangeran mengedarkan pandangan ke arah Edgar dan teman – temannya. Mereka tampak lelah. “Setidaknya, jika ia akan menemui Uvuk, maka mereka harus beristirahat dahulu.”


Seakan sudah membaca pikiran Uzan, Linda berkata, “pangeran dan para kawan sebaiknya beristirahat dahulu. Sekarang sudah malam. Apalagi, Tuan Uvuk hanya bisa ditemui pada pagi dan siang hari karena ia mulai tidur pada sore hari.”


“Baiklah kalau begitu,” Uzan menyetujui.


Edgar berkata, “Apakah kita akan tidur di tempat tidur pixi kecil?”


“Itu tidak akan terjadi,” Linda berdecak sambil menggeleng. “Kami tahu bahwa kami adalah para Pixi dan akan kedatangan manusia yang punya tubuh jauh lebih besar. Jadi, kami menyediakan tempat tinggal khusus bagi kalian. Rota sang Girafan pun kami beri tempat peristirahatan sama seperti manusia.


“Terima kasih, nona Linda,” kata Rota.


“Sama – sama,” kata Linda. “Mari!”


Setelah itu, Linda mengarahkan Uzan dan para rekannya untuk mengunjungi suatu rumah besar yang ada di pinggiran Hutan. Rumah tersebut tampak terang layaknya rumah – rumah pada umumnya.


“Silahkan!”


Ketika Uzan dan kawan – kawannya masuk, mereka mendapati ruangan khas penginapan yang terdiri dari banyak kamar. Lalu, Uzan dan lainnya menyesuaikan diri dengan memilah – milah jumlah kamar yang baru saja mereka bagi. Setelah itu, Edgar dan lainnya segera terlelap.


Uzan dan Dubal masih duduk di sofa ruang tengah yang tersedia di rumah itu.


“Berarti ini adalah tempat terakhir yang kita kunjungi. Bukankah begitu, Pangeran?” kata Dubal.


“Itu benar,” kata Uzan. “Setelah aku mendapatka tongkat Lumina, aku tidak akan memberikan Material Magis itu untuk istana. Sebaliknya, Tongkat Lumina akan kita manfaatkan.”


“Sayang sekali kau belum bertanya tentang fungsi dari tongkat Lumina itu, Pangeran Uzan,” kata Dubal. “Linda sudah pergi dan berpesan bahwa ia akan kembali ke sini untuk menjemputmu.”


“Tidak masalah,” kata Uzan. “Besok adalah waktu yang tepat untuk menanyakannya.”

__ADS_1


__ADS_2