Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Akhir tugas Malvin


__ADS_3

Ketika kubah itu roboh, Edgar dan lainnya mendapati pangeran Uzan, Arika, dan Linda yang sedang dalam keadaan tersudut.


Malvin sedang mengarahkan tongkatnya ke arah Pangeran Uzan yang sedang tersungkur dan berusaha berdiri. Linda tampak masih mengudara di samping pangeran Uzan. Pixi itu tampak khawatir. Arika juga sedang tersungkur di atas tanah. Tangannya sudah tidak bisa digerakkan.


Dengan itu, sudah diketahui bahwa Malvin akan mengalahkan mereka. Gestur dan Ekspresi mereka berubah ketika mereka tahu bahwa tanah roboh.


“Bisa – bisanya kalian memanfaatkan Golem Gorila untuk menghancurkan kubah buatanku ini,” kata Malvin. Setelah itu, ia menyalakan tongkatnya kembali. “Sangat mengagumkan. Akan tetapi, kalian sudah terlambat, Uzan sudah—


Sebuah portal terbentuk karena di depan Malvin. Kemudian, Rota keluar dari portal tersebut dan mengarahkan pisau ke leher Malvin. Akan tetapi, penyihir itu cepat tanggap. Ia langsung meredupkan sihirnya dan melompat mundur sehingga serangan Rota meleset.


Malvin menghela kesal karena ia gagal untuk membunuh Uzan di sini. Ia mengudara jauh ke belakang untuk menjauhkan jarak dengan mereka sembari berpikir tentang strategi selanjutnya.


Ia melihat ke arah Uzan sedang dihampiri oleh teman – temanya, termasuk Rota yang baru saja menyerangnya. Di samping itu, salah satu dari mereka juga membawa gadis penyihir yang memaksa untuk melakukan plasma. Semua penyihir tahu bahwa jika seorang penyihir melakukan plasma, maka kedua tangannya tidak akan bergerak selama tiga hari. Hal ini mirip seperti ketika bertarung di bagian gedung atas kerajaan.


Malvin melihat Arika yang tubuhnya terluka parah. Luka itu segera menutup cepat karena desembuhkan oleh Klerik Uzan. Gadis penyihir angin itu baru saja menggunakan plasma untuk mengeluarkan dirinya secara paksa dari perangkap tanah untuk membantu Uzan untuk bertarung dengannya. Sangatlah pandir dan karena itu, ia menerima serangan berupa reruntuhan batu dari atas.


Malvin memperhatikan pixi yang sedang mengudara di sekitar Uzan dan lainnya. Ketika menghadapi Uzan, kekuatan pixi perempuan itu tidaklah seberapa karena ia hanya menambah tingkat pendarah cahayanya dan mengganggu penglihatannya. Ia terlalu mudah untuk diabaikan.


Malvin menggertakkan gigi sebagai tanda pelampisan kekesalannya. Ia mengedarkan pandangan ke arah Golem Gorila yang baru saja menghancurkan kubah miliknya. Makhluk itu sedang terdiam di dalam kedunguannya.


Sang penyihir sudah menyatukan antara lingkaran api dan kubah ini menjadi satu. Jadi, ketika kubah hancur, lingkaran api sudah hilang.


Edgar menyadari bahwa keadaan Uzan, Linda, dan Arika cukup parah setelah bertarung dengan Sang penyihir. Maka dari itu, ia, Rota, dan Dubal segera berdiri dan menatap Malvin yang sedang terdiam menyaksikan keadaan mereka.


Edgar menyiapkan tombaknya. “Linda berkata bahwa banyak sekali api yang bertebaran ketika Uzan dan lainnya di sini.”


“Sudah kuduga bahwa ajudan ini akan sangat merepotkan,” kata Dubal. “Apalagi, ia juga adalah anak buah si pengkhianat Faraq.”

__ADS_1


“Paling tidak Uzan dan Arika selamat,” Rota melempar salah satu pisaunya, lalu menangkapnya kembali. “Aku juga tidak begitu yakin dengan cara untuk mengalahkannya.”


“Aku tidak begitu suka basa – basi seperti ini,” ujar Malvin. “Aku akann menghancurkan kalian semua!”


Penyihir itu menyalakan ujung tongkat sihir yang digenggamanya. Selain itu, tangan kirinya menggenggam kalung hijau yang dikenakannya.


Sesaat kemudian, Golem Gorilla melompat ke samping penyihir itu, menghasilkan getaran kecil yang membuat Edgar dan lainnya siaga. Uzan dan Arika masih terbaring dan dijaga oleh Sara yang masih duduk bersimpuh di samping mereka berdua.


“Sara, sepertinya Malvin akan melakukan serangan besar.” Kata Rota tanpa menghadap ke arah klerik itu.


“Bagaimana kau tahu?”


“Lihat!”


Sara menoleh. Gadis itu mendapati Malvin yang sedang terbang dan mendarat di atas Golem Gorila Lava.


“Sepertinya ini adalah saatnya untuk menggunakaan tongkat Lumina,” kata Linda. “salah satu kegunaan tongkat Lumina adalah untuk menetralisir serangan skala besar. Apalagi, sudah dijanjikan ketika kita masih di rumah aman bahwa yang bisa menggunakan Tongkat Lumina hanyalah Pangeran Uzan dan Sara.”


“Baiklah, akan kulakukan,” Sara mengangguk. Kemudian, Sara memasukkan tangannnya ke topi penyihir Arika. Kemudian, ia mengeluarkan Tongkat Lumina dari topi tersebut.


Golem Gorila itu masih menghentak – hentak.


Dengan Togkat Lumina yang digenggamnya, Sara akhirnya bangun dan berdiri di samping Edgar, Rota, dan Dubal.


“Dengan ini, aku akan berkonsentrasi,” Sara menutup matanya. Cahaya putih mulai berpendar di depan bagian ujung Tongkat Lumina.


Edgar, Dubal dan Rota hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh makhluk Golem yang sedang melakukan hentakan di depan mereka.

__ADS_1


Dari kejauhan, Malvin memperhatikan kawanan Uzan yang tampak sedang bersiaga. Pastinya mereka sudah siap dengan Tongkat Lumina yang sedang dipersiapkan oleh Klerik tersebut. Namun, pastinya tongkat Lumina itu tidak akan bisa melindungi mereka semua dari kehancuran.


Karena targetnya bukan hanya Uzan dan kawan – kawannya. Tergetnya adalah seluruh area yang ada di dekatnya, termasuk pepohonan pixi dan seluruh makhluk hidup uyang ada di sekitarnya.


“Ayo kita mulai!” Malvin mengarahkan tongkatnya ke arah Sara dan kawan – kawannya.


Akhirnya, Golem Gorila berhenti berhentak. Lalu, cahaya berpendar dari kedua genggaman tangannnya. Lalu, dengan cepat ia menghentak tanah.


Cahaya putih tongkal Lumina sudah berhasil dinyalakan oleh Sara.


Tiba – tiba, guncangan besar terjadi. Ribuan gundukan tanah raksasa mencuat ke arah Sara dan lainnya. Tidak hanya itu, ribuan bongkahan tanah runcing yang timbul dari tanah tersebut juga berpengaruh pada pepohonan dan makhluk hidup yang berada di area Sara dan lainnya.


Malvin hanya menatap serangannya tenang dan menunggu sejenak. Pastinya Pangeran Uzan dan lainnya sudah mati karena yang sekarang ia lihat adalah berkali – kali lipat cuatan tanah berpaku yang timbul menjauh di depannya.


“Ternyata pengaruhnya jauh sekali,” Malvin berkomentar. “Aku bisa merasakan bahwa serangan ini sampai ke arah sungai.”


Beberapa saat kemudian, keheningan terjadi di hutan tersebut ketika Malvin menyadari bahwa serangannya mengakibatkan hancurnya pepohonan dan terbunuhnya ratusan makhluk hidup yang terkena serangan tersebut walaupun mereka tidak punya kaitan dengan tugas yang dijalaninya sekarang.


Beberapa saat kemudian, penyihir memutuskan untuk mendarat turun dari kepala Golem Gorila. Kemudian, ia mengangkat tongkatnya dan menyalakan ujungnya, membersihkan gundukan tanah yang berada di sekitar area dimana Sara dan lainnya berpijak.


Di sana, Malvin tersenyum puas ketika mendapati jasad Uzan dan kawan – kawannya yang terluka parah dan tidak bernyawa.


“Sepertinya tugasku sudah selesai di sini,” Malvin menghilangkan tongkatnya. “Pastinya mereka tidak bisa melawan serangan pamungkas yang baru saja kulakukan.”


Dengan sendirinya, Hikin keluar dari saku Malvin. Setelah mengedarkan andangan dan mendapati tubuh Uzan dan lainnya yang tergelatak tak bernyawa, ia berujar, “A-apakah tugasnya sudah selesai?”


Malvin menjentikkan jarinya. Golem Gorila Lava memudar seketika bagaikan debu. Kemudian, penyihir itu berkata, “Ayo kita pulang!”

__ADS_1


__ADS_2