
“Rafael adalah teman masa kecilku, bersama dengan Edgar, Sara, dan Rena.” Uzan memulai ceritanya. “Ia kabur dari Kastala ketika umur kami masih empat belas tahun.”
“Berapa umurmu sekarang, pangeran?” tanya Dubal.
“Dua puluh dua tahun"
“Baiklah, lanjutkan ceritamu!”
“Pada mula kami berlima bertemu, Rafael memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah anak dari Tuan Firas, ia menjabat sebagai prajurit istana biasa. Ketika itu umur kami masih tujuh tahun, masih pada masa bermain.
“Dia adalah orang yang mnyenangkan, kemungkinan sama seperti Edgar. Akan tetapi, sifat menyenangkannya perlahan berubah setelah dua tahun pertemanan kami karena Tuan Firas diangkat menjadi seorang petinggi.
“Ketika kami berlima sedang bermain di rumahnya Rafael, kami menyaksikan Tuan Firas beradu mulut dengan Kamasa, Petinggi bagian Klerik dan Penyihir di masa itu. Aku tidak ingat mengenai bahan pembicaraan yang mereka perdebatkan, namun aku ingat beberapa kata kunci yang mereka lontarkan seperti; jabatan, Dunia Namaril, perang, kesejahteraan kerajaan Kastala, dan pengendalian.”
“Selain itu, yang kuingat adalah mereka berbicara dengan suara keras sembari mengeluarkan amarah kepada satu sama lain. Kamasa tahu bahwa adalah pangeran dan sering menyapaku, namun aku tidak pernah melihat Kamasa marah – marah kepada siapapun. Tentu saja dia pernah marah, itu hanya pikiranku waktu kecil. Tapi, sampai sekarangpun aku juga tidak pernah melihat orang – orang yang kemarahannya melampaui kemarahannya saat itu.”
“Ketika itu kami berlima terkejut dan ketakutan. Salah dua yang paling khawatir adalah Rena dan Rafael karena Kamasa adalah ayah Rena dan Tuan Firas adalah ayah Rafael.”
Uzan menghela sejenak, lalu melanjutkan ceritanya. “Saat Perang Frederik pecah, yaitu peperangan antara kerajaan Rimasti dan Enmar, kakek Fadion juga bersekutu dengan para pimpinan Kerajaan Rimasti. Sebagai raja Kastala ketika itu, Kakek Fadion memajukan diri untuk bertempur.
“Jadi benar dugaanku, itu adalah faktor luar,” Dubal mengomentari. “Kakekmu memang sangat berani. Tidak ada raja yang masuk langsung ke daerah pertempuran. Tidak hanya mengirimkan bantuan berupa personel dan persenjataan.”
“Itu bukan berani, Dubal,” kata Uzan. “Itu namanya ceroboh atau, seperti yang kau katakan kepada Edgar, bodoh.”
“Oh ya?” Dubal bersedekap. “Bisa kau jelaskan?”
Uzan mengangguk. “Ada laporan bahwa di dalam Perang Frederik, Tuan Firas mencoba untuk membunuh Kakek Fadion dengan maklumat palsu, yaitu, jika kakek Fadion sendiri datang ke medan perang, maka para pimpinan Kerajaan Rimasti akan memberikan setengah wilayahnya secara cuma – cuma kepada Kastala.
“Setengah?” Dubal menggeram. “Jika ada yang membujukku dengan bayaran berupa setengah wilayah pulau, aku tidak akan mungkin mempercayainya. Itu tindakan bodoh!’
__ADS_1
“Aku sudah tahu bahwa kau akan marah, Dubal, tapi ketika itu, umurku masih dua belas tahun. Aku belum mengetahui banyak tentang seluk beluk kerajaan. Perkiraanku adalah bahwa pasti ada beberapa orang di belakang Tuan Firas.
Ketika itu, aku hanya bisa berasumsi bahwa pasti ada beberapa orang di belakang tuan Firas. Dari sifatnya saja, Raja Fadion lapar akan wilayah. Aku juga menilai dari tingkah lakunya dan pidatonya ketika rapat perang bahwa ia memang seperti apa yang aku duga.”
“Jadi begitu, ya?” Dubal memilin janggutnya.
“Benar,” Uzan melanjutkan. “Dua tahun kemudian Tuan Firas ditangkap dan dihukum mati oleh Istana. Ia tertangkap basah akan menarget nenekku, Ratu Danari, dengan panahnya. Bahkan keputusan Ratu Danari untuk menjatuhkan hukuman itu adalah hasil rapat dengan Aggota Tujuh petinggi, terutama Kamasa.
“Ketika itu, kami sedang ada di lapangan prajurit untuk melihat Rafael yang sedang berduel tombak dengan Edgar. Setelah itu, seorang prajurit mengabarkan kematian Tuan Firas, ayah Rafael. Karena maklumat tentang hukuman mati seseorang dikabarkan kepada keluarganya setelah ia meninggal.
“Setelah itu, Rafael merasa bahwa ayahnya telah dikendalikan Istana, terutama Kamasa. Sejak saat itu, Ia membenci kami berempat. Karena sehari setelah ia mengetahui tentang kematian ayahnya, ia melarikan diri dari Kastala.”
“Hanya Rafael kah?”
“Rafael bersama ibunya,” Uzan meralat. “Istri Tuan Firas sangatlah sedih karena kematian, sehingga ia juga berfikiran seperti Rafael dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kabur.”
Keheningan sejenak terjadi di antara Uzan dan Dubal.
“Itu mudah,” Uzan menghela. “Kalian adalah orang asing yang ingin melakukan perjalanan denganku. Dan kau sudah menyadari kesalahanmu, dan sebagai tambahannya, kau sudah menceritakan tentang asal – usulmu. Ditambah lagi, Arika sudah memberikan beberapa pertanyaan yang membuatku kembali mempertanyakan tentang tujuan semula dijaalankannya misi ini. Lagipula, gadis itu juga dengan sukarela menyerahkan dirinya menjadi anggota kelompok kita.”
“Bagus, pangeran,” Dubal tersenyum sinis. “Jika gadis itu berkhianat, dengan sukarela aku akan mencelakakannya untukmu.”
Uzan membalas senyuman Dubal. “Terima kasih, Dubal”
---
“Pangeran,” Dubal memanggil Uzan kembali. “aku ingin mengetahui detail tentang beberapa percakapan yang kita lalui.”
“Tanyakan saja!”
__ADS_1
“Kau bilang bahwa penyihir Kamasa ini tidak ada ketika gempa periodik ini terjadi, kan?”
Uzan mengangguk. Sampai dua minggu setelah itu terjadi, bahkan ia mewakilkannya kepada Faraq, Petinggi Antarwilayah.”
Dubal memegang dagu. “Kenapa ia pergi ke Oslar untuk negoisasi jika akhirnya ia menitipkan titahnya kepada Faraq? Jika aku jadi Kamasa, aku akan menemanimu saat pelepasan.”
“Aku juga berpikir begitu.”
"Penyihir Kamasa yang kau ceritakan ini cukup mencurigakan," kata Dubal. "Namun kemungkinan kau hanya menilai Kamasa dari luarnya, pangeran."
“Apakah kau berpikir bahwa orang tidak boleh menilai sesuatu dari luarnya? itu adalah sifat natural manusia. Manusia akan selalu menilai sesuatu dari luarnya, walaupun aku sendiri tidak yakin apakah aku bisa melakukannya."
"Masalah Kamasa ini cukup rumit, namun kalau dilihat dari segi terangnya," Prajurit itu menjawab, “Aku tidak merasa sangsi kalau memang Raja Endan melakukan ini karena masalah unjuk rasa dari warga terjadi, karena secara langsung, beliau diperingatkan oleh warganya.”
Uzan merasa kesal. "Namun kecurigaan tentang bagaimana aku, Edgar, dan Sara patut dipertanyakan. Apalagi lama kelamaaan, hal ini membuatku curiga, Dubal.”
“Kalau begitu,” kata Dubal, “kau bisa membicarakan kecurigaanmu kepada seluruh anggota kelompok ini dan mempertimbangkan tentang apakah kau akan menambah anggota atau tidak setelah ini. Bukankah begitu?”
Uzan duduk bersandar di dekat Dubal. “Aku baru saja bercerita kepadamu tentang sudut pandangku terhadap masa lalu Rafael dan bagaimana hal itu mempengaruhiku dan mempengaruhi alur perjalanan ini. Jika kau bertanya jauh tentang masa lalu Rafael kepada Rena, Edgar, atau Sara, kau akan mendapatkan cerita yang berbeda.”
“Aku mengerti, pangeran,” Dubal mengangguk. “Aku hanya tertarik dengan pengubahan keputusan yang kau lakukan.”
Kurasa aku tidak perlu mengatakan hal ini selain kepadamu,” kata Uzan. “Mungkin Sara atau Edgar akan menceritakan tentang serpihan – serpihan kisah tentang Rafael kepadamu dan Arika seiring waktu.”
“Baiklah,” Dubal menurut.
“Apakah kau akan jaga malam sampai akhir, Dubal?” Uzan menghela panjang sambil sesekali menahan kantuk. “Jika iya, aku akan istirahat.”
“Kau bisa istirahat, pangeran.” Kata Dubal. “Seperti katamu, aku akan jaga malam sampai pagi. Aku sedang tidak bisa tidur malam ini.”
__ADS_1
“Baiklah, Dubal.” Kata Uzan. Lalu, sang pangeran melangkahkan kaki ke tenda dan akhirnya beristirahat di sana, meninggalkan Dubal yang masih terjaga.
Malam itu, Dubal menjaga Uzan dan lainnya yang sedang tidur. Di bawah pohon rindang menjulang tersebut. Prajurit itu sesekali menatap ke atas untuk memeriksa keganjilan yang ada di sana, namun hasilnya nihil. Sebelumnya, yang bersedia untuk jadi penjaga malam juga diberi makanan tambahan di dekat tenda untuk dimakan agar Dubal juga bisa menghapus rasa bosan ketika melakukaan penjagaan, sehingga ia sanggup terjaga hingga pagi hari tiba.