Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Laporan Malvin kepada Faraq


__ADS_3

Sebuah portal lingkaran putih terbentuk. Malvin dan Hikin keluar dari portal tersebut.


Sang penyihir dan sang pixi memilih untuk mendaratkan dirinya di lantai paling atas istana. Setelah itu, Malvin berjalan ke arah pinggir teras untuk memandang keadaan sekitar istana. Hikin mengudara di sampingnya.


“Kau sudah melayaniku dengan baik, Hikin,” kata Malvin. “Kau sudah tidak diperlukan lagi.”


Hikin memegang kalung sihir api yang terpasang di lehernya. Ia tampak khawatir. Sudah saatnya Malvin akan membunuhnya. Tidak salah lagi.


Seoilah membaca pikiran Hikin, Malvin berujar, “Sebenarnya kau bisa saja kumatika sekarang juga, Hikin. Namun, aku juga ingin berdiskusi tentang hal – hal yang berkaitan dengan kerajaan ini denganmu, karena pastinya kau lebih tahu soal ini.”


Hikin mengangguk. Setelah itu, ia berkata pelan, “Aku akan tetap bersumpah setia kepada Raja Endan dan Ratu Sofia.”


Malvin menghela kesal. Tentu saja. Sudah lama Pixi ini bekerja untuk kerajaan ini. Pastinya ia masih bersumpah setia untuk Istana. Walaupun sudah jelas bahwa istana ini sudah diambil alih. Ia sebenarnya ingin sekali langsung membakar leher pixi tersebut. Tapi kemungkinan itu akan menjadi hal yang sia – sia.


Karena selain itu, ia merasa sedikit kesepian karena tidak ada yang mendampinginya. Tidak ada teman untuk berbincang. Apalagi para ajudan Faraq lebih bersifat individual atau lebih mementingkan tentang diri mereka sendiri. Hal ini cukup sulit baginya karena pada akhirnya, keinginannya adalah mengambil sebagian kekuasaan yang telah ditakhlukan oleh Faraq dengan membantunya.


Misi untuk mencabut nyawa Uzan dan teman – temannya sudah ia laksanakan dengan sukses. Faraq memerintahkan dirinya sebelum keberangkatan agar melapor kepadanya secara fisik mengenai keberhasilannya agar penjelasannya lebih bisa dijabarkan. Seandainya ia bisa menjadikan pixi yang ada di sampingnya untuk mendampinginya….


“Jika aku melepas kalung sihir api yang ada di lehermu, apa yang akan kau lakukan, Hikin?” tanya Malvin sambil bersandar di dinding.


Sambil mengudara, Hikin menghela. “Kau bisa memasukkanku ke penjara bawah tanah bersama Raja Endan dan Ratu Sofia.”


“Bagaimana kalau kau bersumpah setia kepadaku dan segera meninggalkan sumpah setiamu kepada Raja Endan dan Rati Sofia?”


Hikin menelan ludah. Sebenarnya ia tidak ingin mengatakan hal yang akan ia katakan. Pastinya ia akan dibunuh. Akhirnya, ia berujar, “Lebih baik aku kehilangan nyawa daripada meninggalkan kesetiaanku kepada Sang Raja dan Sang ratu.”


Itu jawaban yang menakjubkan pikir Malvin. Betapa setianya pixi ini kepada istana. Tentu saja ia bisa langsung membunuhnya sekarang juga. Namun, ia punya keyakinan agar kesetiaan itu bisa diubah kepadanya.

__ADS_1


“Apakah kau tidak bisa mengubah kesetiaanmu kepadaku?” kata Malvin.


Hikin menggaruk kepala. “Maksudmu?”


“Aku sudah tidak ingin mengancammu dengan menggunakan pengikat yang terpasang di lehermu itu,” Malvin bersedekap. “Kau sudah mengantarkan aku untuk menumpas Pangeran Uzan dan lainnya sehingga, selayaknya sebagai imbalan, aku akan membebaskanmu karena kesenanganku kepada jasa yang telah kau berikan.”


“Apa kau tidak ingin langsung membunuhku?”


“Sebenarnya aku bisa melakukan itu,” kata Malvin. “Tapi aku tidak akan melakukannya. Jangan kira bahwa aku adalah tukang bunuh yang tidak punya pikiran!”


Mendengar perkataan Malvin, Hikin memegang dagu. Sepertinya Malvin serius dengan perkataan yang baru saja dilontarkannya.


Keheningan menyeruak diantara mereka berdua ketika Hikin memejamkan mata sambil mengudara. Malvin juga menunggu jawaban Hikin sambil memandangi pixi itu dengan seksama.


Setelah membuka matanya, Hikin berujar, “Aku membutuhkan waktu untuk terbiasa denganmu.”


“Baiklah,” kata Hikin. “Aku akan mencoba membiasakan diri denganmu.”


Malvin menengadah. Lalu, Hikin mendarat di telapak tangan sang penyihir. Kemudian, ia memasukkan pixi itu ke saku yang ada di jubahnya.


---


Faraq sedang menempati kamar Kamasa. Ia sedang duduk di sofa hitam yang tersedia di tempat itu sambil memandangi Bola Ramal besar yang ada di sana.


“Jadi, dari sini ia mengabadikan momen – momen penting yang ada di dalam kehidupannya,” gumam Faraq.


Ia sedang membawa sebuah buku berisi seratus lembar kertas. Ia mengetahui bahwa di dalam lembaran – lembaran kertas yang terkandung di dalam buku tersebut terdapat deskripsi -deskripsi tentang kejadian – kejadian penting yang Kamasa abadikan, termasuk Perang Frederik yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


Karena banyaknya momen yang diabadika di dalam buku itu, tentu saja ketika setiap lembar yang terbuka, jumlahnya bukan hanya seratus. Akan tetapi, jumlahnya tidak terbatas. Hal ini terbukti karena sebelum ia duduk di sini, ia sudah menyuruh Malvin untuk memeriksa buku ini sebelum keberangkatannya menuju Hutan Lumina untuk menghabisi Uzan. Ia berkata bahwa buku ini mempunyai keterkaitan dengan Bola Ramal.


Ketika Faraq sedang tenggelam di dalam lamunannya, terdengar ketukan pintu.


“Masuk!” ujar Faraq sambil meletakkan buku itu di samping Bola Ramal Kamasa.


Ketika pintu dibuka, Malvin melangkahkan kaki masuk. “Aku sudah mencabut nyawa Pangeran Uzan dan kawan – kawannya.”


“Itu bagus,” kata Faraq. “Setelah ini, bersiaplah untuk ikut andil dalam pertimbangan tentang siapa yang akan dijadikan petinggi untuk Kerajaan Kastala yang baru saja kita ambil alih.”


“Aku baru saja melihat keadaan pemukiman sekitar istana dari lantai paling atas,” kata Malvin. “Apakah sudah ada yang memastikan bahwa para penduduk sudah tahu tentang peralihan kekuasaan?”


“Itu sudah bisa diatur,” Faraq menjentikkan jari. “Istandi, petinggi bagian kemasyarakatan, sudah kumasukkan ke Penjara bawah tanah. Selain itu, Rafael sudah aku jadikan petinggi tetap bagian kemasyarakatan untuk Istana ini. Ia sudah melaksanakan tugasnya dan mengarahkan para prajurit untuk memberikan maklumat tentah peralihan kekuasaan kerajaan ini.”


Malvin menghela. “Hal ganjil yang ada dipikiranku adalah perebutan kekuasaan ini tidak menimbulkan kerusakan, sihir tingkat tinggi, atau pertarungan sengit.”


“Hal – hal tersebut tidak perlu.” Faraq menggeleng. “Aku akan memastikan bahwa Istana dibawah kekuasaanku menjadi aman dan sejahtera. Selain itu, aku ingin meminimalisir pertarungan yang terjadi di dalam Pulau Kastala ini.”


“Apakah Tuan Faraq bermaksud untuk menjaga kedamaian?”


“Aku ingin menjaga kedamaian yang ada di wilayahku dari pertarunga yang tidak diperlukan,” kata Faraq. “Dengan ini, aku bisa memaksa untuk melakukan pertarungan ketika melakukan Invansi ke wilayah – wilayah lain di Dunia Namaril.”


“Itu bagus, Tuan Faraq,” kata Malvin.


“Setelah ini, kau bisa beristirahat sejenak di kamar yang sudah disediakan, Malvin.” Faraq bersandar di sofa. “Apakah kau menginginkan seorang perempuan untuk menemanimu?”


“Terima kasih atas tawarannya, tapi aku ingin sendiri dahulu,” kata Malvin.

__ADS_1


Faraq mengibaskan tangannya. Isyarat bahwa pertemuan di antara mereka sudah selesai. Malvin mengetahui itu. Lalu, sang penyihir segera mengundurkan diri dan pergi ke kamar dan berniat untuk beristirahat di kamar yang sudah disediakan.


__ADS_2