Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Kembali....


__ADS_3

Malam setelah Ruhin pergi, Uzan dan kawan – kawannya kembali ke penginapan dan terduduk di penginapan untuk berdiskusi.


“Jadi, ceritakan tentang bagaimana kau dilkeluarkan dari kalung Sila ini, Rota,” kata Dubal sembari menggenggam kalung Sila yang diambilnya kembali dari mayat Fured.


Rota bersedekap, “Ia menggunakan sihir Gulda untuk melakukan sihir tersebut.”


Uzan menghela, “Apakah salah satu kemampuan makhluk Girafan adalah meminjamkan sihir ke manusia?”


“Tidak, pangeran,” kata Rota. “Sihir untuk meminjamkan kekuatan hanya dimiliki oleh makhluk Girafan jenis Gulda. Selain itu, jika ia mau, ia bahkan bisa memasukkan seorang manusia ke kalung Sila tersebut.


Sara berujar, “Untung saja Nyonya Natalia juga tidak dikeluarkan dalam ritual sihir tersebut.”


Dubal menegakkan tubuhnya. “Kemungkinan jika Natalia ikut dan hasil situasinya seperti ini, kemungkinan ia akan ku suruh untuk beristirahat di desa ini.”


“Apakah kau tidak ingin Nyonya Natalia untuk tinggal di Desa Wulfric, Tuan Dubal?” tanya Arika.


“Tidak,” Dubal menggeleng. “Kita sendiri sudah mengetahui tentang situasi dan kondisi di desa Wulfric sekarang, terutama tempat itu dikepalai oleh Norman dan Marko. Sehingga, mungkin saja desa itu akan dijadikan tempat aneh - aneh yang sedang dilakukan oleh Fured.”


“Mungkin Dubal benar,” kata Edgar, “tapi aku juga tidak habis pikir tentang bagaimana cara Marko dan Norman mengumpulkan warga berjumlah banyak.”


“Itu benar,” Uzan mengangguk. “Mungkin kita akan kerepotan jika warga Desa Sakanan ini juga menyetujui tentang kehendak Fured.”


Dubal menghela. “Perkiraanku adalah bahwa Fured ingin menjadi raja untuk dirinya sendiri tanpa sepengetahuan penduduk lain. Selain itu, ia juga bilang bahwa ketika ia menjadi raja, ia akan memperbudak kita. ‘kita’ yang dikatakannya mungkin hanya merujuk pada ‘kita’ sejumlah orang yang ada di ruangan ini. Namun, aku yakin bahwa seluruh penduduk di Desa Sakanan akan dijadikan budak olehnya.”


“Di samping itu,” ujar Uzan. “Aku juga memperhatikan bahwa kereta kencana yang dipakai untuk obyek ritual pembangkitan Ruhin adalah seorang Unliv. Bisa jadi Kereta kencana yang Unliv berikan kepada kita merupakan jebakan. Maksudku, ketika Sentafal dikalahkan, Unliv sudah memepersiapkan salah satu klon milik nya untuk persembahan dalam ritual yang dilakukan Fured.


“Aku juga terkejut, pangeran,” kata Rota. “Aku juga mengira bahwa kereta tersebut adalah kereta kencana biasa, tapi ternyata, ia menjelma menjadi Unliv.”


“Bisa jadi itu adalah suatu kebetulan,” kata Arika.


“Paling tidak, Unliv yang kita bawa ini kembali menjadi kereta kencana lagi,” ujar Edgar. “Selain itu, kita tahu bahwa Trez sudah dibawa pergi oleh Ruhin, dan kita punya Zero yang bisa kita gunakan saat perjalanan. Bukankah begitu?”


“Zero adalah kuda Magis Girafan,” kata Rota. “Aku jamin, ia pasti bisa diandalkan.”

__ADS_1


Sara tersenyum. “Jika Rota yang berkata begitu, niscaya akan kami lakukan. Bukankah begitu, semua?”


“Perjalanan menggunakan akan kita simpan sebagai alternatif,” kata Uzan.


Edgar menggaruk kepala. “Kenapa begitu, Uzan?”


Uzan menghela. “Jika kita terus kaku dengan menggunakan satu cara, aku punya firasat buruk jika kita akan selalu dipermainkan begini.”


“Kita mungkin sedang dipermainkan, pangeran,” kata Dubal. “Namun, apakah kau memiliki cara lain untuk mencapai Material Magis yang diperlukan untuk memulihkan Pulau Kastala?”


Uzan bersedekap. Setelah itu, sang pangeran berujar, “Rota, kau bilang bahwa setelah dikeluarkkan paksa oleh Fured darei kalung Sila, kau tidak akan bisa kembali masuk. bukankah begitu?”


“Itu benar, pangeran,” kata Rota. “Jangan bilang kalau kau ingin aku kan diajak untuk melakukan perjalanan bersama kalian.”


“Kami memerlukan bantuanmu untuk memulihkan gempa yang ada di Kastala, Rota,” kata Uzan. “Apakah kau mau ikut?”


“Tentu saja,” Rota tersenyum. “Ajakanmu adalah yang aku tunggu - tunggu, pangeran.”


Edgar dan Dubal memandang satu sama lain. Setelah itu, kedua prajurit itu mengangguk. “Itu benar,”


“Setelah itu,” kata Uzan. “Kita juga tidak akan luput dengan Ruhin sang pixi. Bukankah begitu, Arika?”


Arika bertanya, “Apa yang akan kita lakukan terhadap Ruhin, pangeran?”


“Kita masih akan menyimpan agenda tersebut sampai waktu yang ditentukan. Jadi, sekarang kita punya tiga agenda dan kita bertujuan untuk menyelesaikan agenda tersebut.”


Gadis penyihir tersebut mengangguk. “Baiklah, pangeran,”


Sara berujar, “Aku mungkin sangat ingin mempercepat perjalanan kita dari tempat satu ke tempat lainnya, pangeran,”


“Aku sudah menjadi anggota kalian,” kata Rota. “Jadi, aku ingin membantu jika ini adalah masalah percepatan. Di samping itu aku bisa membuat portal untuk masuk ke lokasi tertentu dan dalam jarak tertentu. Jadi, mungkin saja aku bisa mengalokasikan kekuatan magis Silvar milikku untuk keperluan perjalanan.”


“Jika begitu,” kata Arika. “Aku juga akan bisa menggabungkan sihirku dengan sihir Rota karena kemungkinan untuk tercapainya tujuan berikutnya bisa dicapai. Yang diperlukan adalah keberadaan pangeran Uzan dan juga Gulungan Magis yang dibawanya.”

__ADS_1


Sara mengangguk. “Sebagai Klerik, dengan senang hati aku akan meminjamkan kekuatan.”


“Terima kasih, kawan - kawan,” kata Uzan. “Ternyata ide kalian muncul satu per satu.”


“Yah,” kata Edgar. “Jadi, apa yang aku dan Dubal akan lakukan setelah ini?”


Uzan menghela. “Besok, kau dan Dubal bisa menyiapkan kuda dan kereta kencana berikut dengan barang - barang yang diperlukan untuk perjalanan selanjutnya.”


“Baiklah pangeran,” kata Dubal.


“Baiklah,” ujar Edgar. “Aku juga ingin mencoba untuk berkenalan lebih dekat dengan Zero si kuda Girafan itu.


“Baiklah,” setelah ini, kita akan beristirahat dan tidur di kamar masing - masing.” kata Uzan.


“Di mana kamarku?” tanya Rota.


“Kau bisa memilih antara tidur di kamar laki - laki atau di ruang tengah saja, Rota,” kata Dubal.


“Itu mudah,” kata Rota. “Aku akan tidur di ruang tengah saja.”


“Arika bilang bahwa sihir yang digunakan untuk mempercepat tercapainya tujuan selanjutnya membutuhkan keberadaanku. ” ujar sang pangeran. “Besok, kita akan membicarakan tentang hal itu. Kita akan istirahat malam ini.”


“Pangeran Uzan,” kata Dubal. “Aku dan Edgar akan memeriksa dan memasang kuda Zero dan kereta kencana yang akan dipersiapkan untuk besok agar besok tidak kerepotan.”


“Baiklah,” Uzan mempersilahkan.


Setelah itu, Uzan langsung masuk ke kamar lelaki untuk beristirahat dan tidur.


Sara dan Arika langsun masuk ke kamar perempuan dan segera beristirahat.


Rota mengistirahatkan diri di sofa di bagian tengah ruangan.


Dubal dan Edgar keluar dari penginapan dan memeriksa kuda Zero, kereta kencana, dan barang - barang keperluan yang akan dibawa untuk keesokan harinya.

__ADS_1


__ADS_2