
Petugas itu menjelaskan. “Ruhin berjanji bahwa jika aku berhasil membangkitkan kembali wujudnya berikut dengan pabrik emas ini, maka ia akan menjadikan Desa Sakanan menjadi sebuah kerajaan. Di samping itu, aku akan menjadi seorang raja yang memerintah.”
“Kekuasaan, ya?” kata Dubal. “Apa kau punya rencana seperti Galar?”
“ Ada bedanya dengan tujuan Galar,” Fured meralat. “Perbedaan yang mencolok adalah bahwa desa ini akan menjadi sebuah kerajaan. Aku akan menjadi seorang raja, dan kalian berempat akan menjadi budak – budak setia yang akan mengabdi kepadaku untuk selamanya.”
“Sial!” Edgar memaksakan diri untuk memegang tombaknya, lalu ia berlari terengah – engah ke arah Fured. Amarah prajurit itu sudah tidak terbendung.
Fured hanya bersedekap sambil tersenyum. Ketika Edgar akan mencapainya, prajurit itu jatuh terjerembab karena kelelahan.
“Seharusnya kau tahu batasanmu, prajurit,” kata Fured pelan, lalu, petugas itu menjentikkan jarinya dua kali. Kuda Fured langsung meringkik keras dan berlari ke arah Edgar. Sebelum mencapai Edgar, kuda itu berbalik dan menendang keras tubuh Edgar dengan kedua kaki belakangnya sampai prajurit itu terpental.”
Edgar masih tergeletak di atas tanah. Ia mencoba untuk berdiri, namun tubuhnya sudah tidak dapat digerakkan.
“Sudah diam, ya?” Fured tersenyum. “Sayang sekali aku bukanlah seorang prajurit terlatih seperti Edgar atau Tuan Dubal. Aku hanya akan menyesuaikan diri dengan memanfaatkan kuda yang diberikan oleh Fatta secara cuma – cuma kepadaku.”
“Sekali lagi, aku ingin mengucapkan terima kasih karena ternyata pemeriksaan kuda dan kereta kencana yang berlaku untuk para pengunjung dapat menghasilkan perolehan Unliv dan kuda magis Igardias.”
Keheningan menyeruak di antara mereka. Fured memandang Uzan dan para rekannya yang sedang tidak berdaya untuk melawannya, apalagi bergerak. Di samping itu, Zero di sampingnya pasti akan selalu bisa diandalakan jika salah satu dari mereka mumituskan untuk menyerang.
-
-
“Baiklah,” kata Fured. “Tanpa membuang waktu, aku akan memulai ritualnya.”
Setelah itu, Fured menggenggam Kalung Sila di lehernya. Lalu, ia mengucapkan mantra.
Uzan, Edgar, Dubal, dan Arika tidak berkutik ketika melihat Fured mengucapkan mantra.
Ketika Petugas itu sedang merapal mantra, empat cahaya yang mengelilingi masing – masing syarat kebangkitan yang terdiri dari Sara, Rota, Trez, dan Unliv terlihat smakin terang dan semakin terang.
Akhirnya, ledakan cahaya putih terpancar dari kalung Sila yang dipakai oleh Fured dan menyebar luas dan membutakan mata.
Uzan sempat menutup mata ketika cahaya kalung Sila tersebar ke arahnya. Ketika sang pangeran membuka mata, ia mendapati sebuah bangunan dengan hiasan emas yang berdiri kokoh di depan matanya.
Bangunan itu berdiri kembali tanpa proses. Pabrik Emas itu muncul dalam sekejap mata.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan rapalan mantranya, Fured menghadap ke belakang dan memandang bangunan tersebut sembari mengagumi hasilnya.
Setelah itu, seseorang datang dari ketiadaan. Ia mengenakan pakaian serba merah dan memiliki sayap capung di punggungnya. Ia adalah Ruhin, pixi yang dimaksud oleh Fured.
Uzan mengerti bahwa penampilannya sama seperti Hikin sang pixi di kerajaannya.
“Terima kasih, Fured.” Kata Ruhin dengan suara beratnya.. “Kau sudah membangkitkan bangunan pabrik emas ini.”
“Sama – sama, Tuan Ruhin,” kata Fured. “Jadi, seperti yang kau janjikan, apakah kau akan menjadikan Desa Sakanan menjadi sebuah kerajaan dan menjadikanku seorang raja?”
“Aku tidak akan melanggar janjiku, Fured,” kata Ruhin. “kau hanya perlu menunaikan syarat terakhir, yaitu mencabut nyawa seseorang.”
“Baiklah, Tuan Ruhin,” Fured mengangguk. Ia mempersiapkan pisaunya sambil menghadap Sara. “Klerik itu, aku akan membunuhnya.”
Sebelum Fured akan bergerak, Ruhin berujar, “Kalau dipikir – pikir, kau tidak perlu melakukannya, Fured.”
“Maksud Tuan?”
Ruhin berjalan mendekati Fured. “Setelah itu, butiran cahaya terkumpul di telapak tangannya dan membentuk sebuah pedang cahaya berkilau putih. Setelah itu, pixi itu menghujamkan ujung pedangnya tepat ke dada Fured.
Ruhin menghadap ke arah Uzan dan para rekannya. “Aku merasa beruntung karena mendapatkan manusia yang mudah sekali ditipu.”
“Betapa kejam,” Arika mengerutkan dahi. “Fured sudah bersusah payah untuk membangun kembali Pabrik Emas dan dirimu, tapi kau malah mencabut nyawanya.”
“Ini tidak kejam, dasar bodoh!” geram Ruhin. “Jika manusia ini membunuh Klerik yang menjadi salah satu syarat untuk membangun kembali bangunan ini, pastilah kau juga akan merasa kasihan dan menganggapnya kejam. Bukankah begitu?”
Arika menggigit bibirnya. Gadis penyihir itu tidak melontarkan sepatah katapun.
“Apa maksud dari semua ini, Ruhin?” seru Uzan.
“Ohh…” Ruhin menyeringai. Ia menoleh ke arah Uzan. “Jadi, kau tidak terkejut dan takjub dengan diriku, ya? Pastilah kau berdarah Royal. Namaku Ruhin, pixi pertama yang menaungi Pabrik Emas Desa Sakanan.”
“Kau sudah dibangkitkan,” kata Dubal. “ Sekarang, apa yang kau inginkan?”
Ruhin bersedekap. “Aku hanya ingin mengabarkan kepada kalian tentang kekecewaanku terhadap perlindungan yang dilakukan oleh Warga Desa Sakanan kepada Pabrik Emasku ini.
“Di samping itu, aku tidak habis pikir bahwa seluruh emas yang ada di dalam pabrik ini diraup habis oleh Galar dan kawan - kawannya menggunakan Kantung Magis. Karena itu, aku ingin menyatakan kepada kalian bahwa…” Ruhin memasang tatapan tajam. “Aku akan membunuh Galar dan semua kaum Girafan berjenis Gulda.”
__ADS_1
“Jangan bercanda!” seru Edgar. “Kau baru saja dibangkitkan dan langsung menyatakan kebencian terhadap kaum tertentu."
“Lagipula, perilakumu sangatlah janggal sekaligus tidak masuk akal,” ujar Dubal. “Arika benar, bagaimana seseorang yang baru saja dibangkitkan langsung membunuh pembangkitnya.”
“Maksudku,” kata Arika. “Apakah fungsi syarat terakhir yang kau terakan?”
Ruhin menjelaskan. “Syarat terakhir adalah untuk diriku sendiri. Seperti yang sudah diketahui oleh khalayak umum di Dunia Namaril, beberapa pixi bisa menggandakan nyawanya ketika mencabut nyawa seseorang.”
Edgar tertegun. “Apakah itu berarti bahwa sekarangkau memiliki dua nyawa?”
“Itu benar,” Ruhin tersenyum. “Selain itu, aku mencabut nyawa Fured karena jika tidak, dia akan memintaku untuk memenuhi janjiku.”
“Dasar licik!” geram Dubal. “Kau telah menipu Fured dan bersikap seolah tidak tahu diuntung!”
“Ini bukanlah licik, ini adalah taktik,” kata Ruhin. “Kujamin bahwa kebangkitanku ini akan menjadi malapetaka bagi Galar dan seluruh Kaum Girafan jenis Gulda.”
Keheningan terjadi beberapa saat diantara mereka. Setelah itu, Ruhin menghadap ke belakang sembari mengedarkan pandangan ke arah empat objek syarat yang dipersembahkan oleh Fured untuk membangkitkannya.
Setelah Ritual selesai, Sara sudah mulai terbangun dari ketidaksadarannya. Rota juga tergeletak di atas tanah, namun ia juga mulai berdiri. Trez juga mulai bangun dan mendirikan tubuhnya dengan kedua kaki depannya. Unliv segera mengatupkan kedua telapak tangannya, lalu berubah menjadi kereta kencana.
Ketika mendapati bahwa kereta kencana tersebut adalah jelmaan dari Unliv, Uzan sedikit memiliki kecurigaan padanya, namun ia akan simpan perasaannya sekarang untuk waktu yang tepat.
Zero masih berdiri tidak jauh dari Ruhin, namun pixi itu tampak tidak memperdulikan. Sasaran pandangnya masih tertuju pada Trez.
Beberapa saat kemudian, Ruhin mengumumkan, “Aku sudah berhasil mengalami kebangkitan, aku akan kembali ke Igardias dan melakukan perencanaan agar pembicaraan yang baru saja kulontarkan kepada kalian bukanlah omong kosong belaka.
“Jadi..” Ruhin terkekeh. “Sampai Jumpa!”
Sang pixi menepukkan kedua telapak tangannya dua kali, lalu ukurannya menjadi berkali - kali lebih kecil dari ukuran manusia. Ia melayang sembari mengepakkan sayap capungnya. Setelah itu, ia terbang menuju bagian atas Trez lalu mengelilingi kuda tersebut.
Kemudian, ukuran Trez mengecil menyesuaikan dengan ukuran Ruhin. Setelah itu, sang pixi menaiki Trez. Kuda magis itu tampak menurut dan langsung menganggap Ruhin sebagai majikan barunya.
Ketika Ruhin mengetuk pelana kuda itu, Trez langsung meringkik kegirangan. Setelah itu, Ruhin dan Trez melesat cepat ke langit malam dan lenyap di dalam ketiadaan.
Uzan, Dubal, Edgar, dan Arika segera menghampiri Sara dan memastikan bahwa gadis klerik itu baik - baik saja.
Setelah itu, sang pangeran dan kawan - kawannya menyambut Rota yang bersedekap dengan rasa kesal dan berujar, “Tadi itu sangatlah menyebalkan!”
__ADS_1