Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Flashback (1/2)


__ADS_3

Galar sedang berdiri memandang pabrik emas yang ada di Desa Sakanan. Di sampingnya, Imnas, Kepala Desa Sakanan, juga sedang berdiri menemaninya.


 


“Tuan Imnas,” kata Galar. “Bolehkah saya mengetahui dari mana asal usul pabrik emas ini?


Tuan Imnas tersenyum. “Pabrik emas ini adalah sebuah hadiah dari Para Pixi, Tuan Galar.”


“Oh ya?” Galar terheran. “Berarti mereka kesini untuk membangun pabrik emas ini?”


“Aku bercanda, Tuan Galar,” kata Imnas. “Sebenarnya, dahulu ada sebuah tambang emas kecil yang ada di bawah tanah tempat pabrik itu berdiri. Lalu, tetua desa ini memutuskan untuk membuat sebuah pemukiman di mana situs tersebut menjadi pusatnya  adalah pertambangan emas."


“Begitu ya?”


“Itu benar,” kata Imnas. “Sayang sekali, entah mengapa tidak banyak yang bekerja di pabrik ini, dan para warga lebih gemar untuk bekerja sebagai nelayan karena banyaknya sungai yang  ada di sekitar Desa Sakanan.”


“Terima kasih atas maklumatnya, Tuan Imnas,” kata Galar. “Anda telah mencerahkan saya tentang desa ini."


“Sama - sama, Tuan Galar,” kata Imnas. “Jikalau saya boleh tahu, apa keperluanmu datang ke Kastala?”


“Saya ingin mengetahui lebih tentang Desa Sakanan di Kastala, Tuan Imnas. Di Kerajaan Oslar tempat saya bekerja, Desa Sakanan adalah rekomendasi pertama untuk dikunjungi jika ingin mengetahui perihal desa terbaik di pulau ini.”


“Kalau begitu, saya juga akan membantu anda untuk memberitahu lebih tentang Desa ini,” Imnas tersenyum.  “Di  penginapan yang sedang anda tinggali, akan ada seorang petugas yang akan mendatangi anda. Dia bernama Fured dan dia akan melayani segala kebutuhan anda.”


“Terima kasih, Tuan Imnas,” kata Galar.


“Jadi, saya permisi dulu.” Sang kepala desa berjalan pergi untuk melaksanakan tugas lainnya. 


Prajurit itu mengedarkan pandangan ke arah pabrik emas yang sedang ada di depannya.  


Gedung pabrik ini cukup besar. Namun yang sangat disayangkan adalah bahwa pekerjaannya yang terlihat  sangat rendah. Di samping itu, hal ini menandakan bahwa warga desa ini lebih mementingkan sungai yang ada di desa ini daripada tambang emas yang tersimpan di bagian penting pabrik ini.


Prajurit itu masih belum mengerti mengapa ia tidak diperbolehkan masuk ketika berjalan – jalan bersama Tuan Imnas, namun ia sudah memiliki rencana untuk mengambil alih seluruh emas yang ada di tempat ini.


Beberapa saat kemudian, ia membalikkan tubuh dan berjalan kembali ke penginapan.  


-


-


Galar sendiri sengaja menyewa penginapan besar dengan beberapa kamar dan ruang tengah sebagai salah satu ciri dari rencana-nya.


Prajurit itu duduk di atas kasur sambil bergumam. “Untuk sebuah syarat awal, ini cukup,” Ia mengeluarkan kalung Sila dari sakunya dan memasang benda itu di lehernya. “Fatta, aku memanggil.”


Cahaya putih hangat menjalar di sekeliling Galar.


Terlihat bayangan seorang lelaki bertubuh emas menggeram ke arah Galar. Ia adalah seorang Gulda dari bukit Giraf.

__ADS_1


“Aku sudah mengetahui tentang lokasi tambang emas yang ada di Kastala.”


“Oh, ya?” kata Fatta. “Jadi, kau akhirnya memang ke sana?


“Ini adalah tawaranku, Fatta,” Galar menyeringai. “Jika aku bisa meraup seluruh emas yang ada di Desa Sakanan, maka persembahan yang aku berikan kepada Gulda Gul adalah seluruhnya. Selain itu, aku tidak akan mengambil keuntungan apapun dari emas itu.”


Fatta mendengus. “Kami tidak habis pikir bahwa selain bisa menipu seorang Silvar dan masuk ke Alam Magis di Bukit Giraf, kau juga ingin mengungkap Rahasia Gulda Gul untuk melaksanakan ritual itu.”


“Apa yang kau maksud dengan ritual itu?” Galar bersandar dengan kedua tangannya. Ia tersenyum. “Sebut saja bahwa aku akan bisa menjelma menjadi makhluk magis, Fatta.”


“Kurang ajar! Berani – beraninya kau melampaui batas seperti itu,” Fatta menggeram. “Aku tidak menyangka bahwa kalian para manusia ingin menjadi makhluk magis.”


“Aku sangat ingin menjadi Raja Makhluk Magis, Fatta,” ujar Galar. “Jika kau tidak menuruti kehendakku, aku akan menghancurkan seluruh Kaum Girafan. Gulda, Silvar, Barinza, atau apapun itu.” 


Fatta menghela sejenak, lalu berujar, “Sebenarnya perjanjian ini sangatlah terlarang, Galar.”


“Oh, ya?” kata Galar. “Aku tidak hanya berjanji. Kau sudah mengetahui bahwa aku dan bawahan prajurit yang aku bawa ke alam Magis Girafan berhasil  mencabut nyawa...” Galar menghitung dengan jarinya. “Lima puluh lima orang.”


“Dua ratus lima – puluh lima orang,” Fatta mendecih. “kebusukanmu tidak akan kami ampuni.”


“Perkataanmu hanya omong kosong, Fatta ” kata Galar. “Kau melakukan perjanjian ini untuk melindungi kaummu.”


Fatta mendengus kesal.


Sebelum Gulda itu melanjutkan perkataannya, Galar langsung merujuk ke pembicaraan inti. “Bagaimana caraku agar kalian bisa datang ke sini untuk meraup semua emas itu.”


“Bagaimana kau tahu lokasi Desa Sakanan melalui Bukit Giraf?”


“Kau tidak perlu khawatir. Kalung Sila yang sedang engkau gunakan memiliki kekuatan untuk menunjukkan arah penggunanya. Sehingga, kami bisa melacak lokasi di mana kau berada.”


Galar memegang dagu. “Kau bilang bahwa kalung Sila ini bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan makhluk Girafan dan seorang manusia,” prajurit itu menghela. “Aku memiliki seorang kawan manusia yang biasa kuajak berhubungan dengan kalung Sila. Apakah itu berarti bahwa dia juga bisa melacak lokasiku ketika aku menghubunginya?”


“Itu tidak benar,” kata Fatta. “Yang bisa mengetahui lokasimu hanyalah makhluk Girafan.”


“Syukurlah,” kata Galar sambil menghela lega. “Lanjutkan instruksimu!”


“Beberapa anggota Gulda akan menyamar menjadi manusia berkuda dan akan mendatangi Desa Sakanan satu persatu. Setelah itu, mereka juga akan berperilaku seperti manusia pada umumnya, namun yang patut mereka curigai adalah kuda mereka.”


“Kenapa dengan kuda mereka?” kata Galar.


Fatta menjelaskan. “Kuda makhluk Girafan, jika keluar dari Alam Magis bukit Giraf, harus diperiksa keberadaannya.”


“Keberadaannya?”  


“Mereka bukanlah kuda biasa, melainkan kuda yang memiliki kekuatan untuk menguras seluruh tenaga manusia ketika dipegang hidungnya.”


Galar terkekeh. “Kekuatan yang konyol!” 

__ADS_1


“Akal manusiamu mungkin bisa menganggap bahwa hal ini hanyalah kekuatan konyol, tapi ketika kuda – kuda itu sudah terjun ke lapangan, kekuatan mereka akan menjadi sangat memudahkan.”


Galar bersedekap. “Jujur saja, ketika aku membantai kawan – kawanmu, mereka semua tidak berkuda, apakah kuda Bukit Girafan ini punya ciri – ciri tertentu?”


“Tidak, Galar,” kata Fatta sambil mendengus. “Kuda – kuda tersebut sama persis dengan kuda – kuda manusia pada umumnya.”


“Jadi,” kata Galar sambil tersenyum, “apa ciri – ciri orang – orangmu itu?’


“Mereka juga seperti manusia biasa. Ketika menjumpaimu, mereka akan menunjukkan bahwa mereka bisa menyalakan cahaya emas dari kuku jari telunjuk mereka.”


“Itu saja?” kata Galar. 


“Kedatangan mereka akan dimulai besok,” kata Fatta. “Kau harus menunggu selama dua belas hari. Setelah itu, kau akan bisa mengumumkan kepada mereka tentang tujuanmu.” 


“Berarti aku harus menambah biaya tinggal di desa ini,” Galar mengepalkan tangan. “Itu bisa diatur. Berapa orang yang akan datang?”


“Aku tidak bisa mengatakannya, tapi aku jamin bahwa jumlah mereka lebih dari dua puluh orang.”


“Sedikit sekali,” Galar mengedarkan pandangan sejenak dengan tatapan jijik, lalu kembali menatap Fatta. “Kau tidak tahu bahwa pabrik yang ada di Desa Sakanan yang sedang aku tinggali ini berukuran besar dan memiliki pegawai banyak.”


Fatta berdehem. “Kau tidak mengetahui bahwa kawan – kawanku memiliki kekuatan magis yang bisa mengabulkan permintaanmu.”


“Baiklah,” galar menatap Fatta dengan tatapan tajam. “Kau harus menepati janjimu atau aku akan meremukkan kalung Sila ini dan kau akan langsung mati. Mengerti?”


Fatta tampak tersentak. “Mengerti, Galar.”


 


Galar melepas Kalung Sila. Bayangan Fatta memudar.


Beberapa saat kemudian, pintu depan diketuk. Galar berdiri dan menghampiri ruang tamu.


Setelah pintu terbuka, Galar mendapati seorang petugas mengenakan seragam kebiruan. Petugas itu yang berujar, “Selamat malam, Tuan Galar, nama saya Fured. Saya diperintah oleh Tuan Imnas untuk membantu keperluan anda.”


“Terima kasih, Tuan Fured,” kata Galar, prajurit itu tersenyum. “Aku ingin mendiskusikan tentang keperluanku di desa ini, terutama yang berkaitan dengan Desa Sakanan dan pabrik emas utama.”


 


  


   


 


 


  

__ADS_1


 


__ADS_2