Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Menikmati Momen Sementara


__ADS_3

Malam itu, Uzan terduduk termenung di depan kapal karena di sana ada sebuah bangku, menyaksikan pemandangan yang tertinggal karena ia sedang dalam perjalanan meninggalkan Pulau Kastala.


Sang pangeran menghela. Dari maklumat yang ia peroleh dari Malvin, ia tahu bahwa kecurigaannya sudah menjadi realita. Tugas yang diembannya hanyalah rekaan belaka. Kerajaannya sudah diambil alih, ayah ibunya sedang disandra.


Malvin datang kepadanya untuk menyampaikan maklumat tersebut. Benar saja. Tugasnya kala itu adalah membunuhnya. Jika itu adalah yang direncanakan Faraq, maka petinggi hubungan antar negara itu sudah berhasil.


Walaupun kenyataannya adalah bahwa drinya sekarang belum terbunuh.


Sesaat kemudian, Sara datang dan duduk di samping kiri Uzan.


“Pangeran, aku turut berduka cita atas apa yang sedang menimpa kerajaan,” kata gadis Klerik itu.


“Tidak apa – apa,” Uzan berkomentar dengan suara datar. “Yang paling penting adalah bahwa kita semua baik – baik saja.”


“Ternyata selama ini kita hanya dimanfaat oleh Faraq. Aku tidak menyangka,” Sara tampak termenung. “Aku juga khawatir tentang bagaimana keadaan ayah sekarang.”


Uzan meletakkan kedua tangan dipangkuannya. Ia lupa bahwa Sara juga harus meninggalkan ayahnya ketika diberi ajakan untuk mengikuti tugas rekaan yang sedang mereka jalani ini.


“Semoga saja Faraq tidak bermacam – macam dengan penduduk yang ada di sekitar wilayah Istana,” kata Uzan.


“Uzan! Sara!” Edgar berjalan menghampiri mereka berdua dan segera duduk di sebelah kanan Uzan. “Kalian sedang apa di sini?”


“Yah….” Uzan hanya berkomentar datar.


“Seharusnya aku juga sudah tahu…” Edgar mengepalkan tangan sambil menggeram. “Kita sudah dikhianati oleh Pak Tua Faraq yang tidak berguna itu. Sudah banyak yang kita korankan demi melakukan perjalanan sampai sejauh ini. Tapi hasilnya, kita menemukan bahwa kita telah ditipu.”


Uzan merasa bahwa Edgar baru saja menjabarkan tentang apa yang dipikirkannya. Sesaat kemudian, sang pangeran berujar, “Paling tidak Malvin mengira bahwa kita sudah mati.”


“Uzan, pastinya kau tidak terima bila harta benda keluargamu diambil alih, kan?” Edgar menggertakkan gigi. “kesetiaanku kepada Kerajaan menjadi sia – sia karena hal ini. Ini tidak bisa diterima, Uzan. Paling tidak, setelah ini, kita harus mencari cara untuk mencabut nyawa Faraq.”

__ADS_1


“Edgar, kau tidak perlu terburu – buru,” kata Sara. “Kita tahu bahwa kita bukanlah tandingan dari Faraq, kan? Apalagi, kita baru saja melawan Malvin, ajudan Faraq, dan berakhir dengan kekalahan.”


“Ergh!” Edgar berdiri sambil merasakan aliran angin dalam pelayaran ini. “Seandainya saja aku lebih kuat dan lebih pintar, maka kita bertiga tidak akan berakhir seperti ini.”


“Seharusnya aku yang mengutarakan kalimat itu, Edgar,” kata Uzan dengan nada datar. Walaupun begitu, ia menyembunyikan kekesalannya. “Jika saja kita bisa menerka muslihat ini lebih awal, pastinya kita tidak akan berakhir seperti ini.”


Edgar meredakan rasa kesalnya. Lalu, ia berujar, “Sara, aku juga khawatir tentang Tuan Odd yang sedang mengungsi di wilayah sekitar istana.”


“Semoga saja ayah tidak apa – apa,” kata Sara.


Keheningan menyeruak di antar mereka bertiga karena tidak ada sepatah katapun yang mereka ujarkan.


Beberapa saat kemudian, Linda melayang menghampiri Uzan dan kedua temannya. Pendaran cahaya dari tubuhnya berkelap – kelip. Hal itu karena mereka sedang ada di dalam perjalanan pelayaran yang cukup cepat dimana hembusan angin berpengaruh pada tingkat cahaya pixi itu.


“Apakah kalian sudah selesai berbincang?” kata Linda. “Makan malam sudah siap.”


“Baiklah,” Uzan berdiri. Ia tidak ingin berpikiran buruk saat ini. “Kau datang di waktu yang tepat, Linda!”


Sara dan Edgar juga ikut berdiri. Mereka berdua tahu bahwa Uzan juga sudah tidak ingin melakukan pembahasan tentang hal buruk yang sedang terjadi di kerajaan. Jadi, mereka berdua juga akan mengikuti langkah sang pangeran agar mereka tetap merasa tenang di dalam situasi darurat seperti ini.


--


--


--


Setelah masuk ke bagian dalam kapal, Uzan duduk di ruang makan yang tersedia. Ruang makan yang ada di kapal ini sangatlah sederhana dengan dinding kayu. Walaupun begitu, Linda menjamin bahwa kapal sihir buatan Uvuk sangatlah kokoh.


Uzan dan lainnya masing masing duduk di sebuah kursi . Di depan mereka terdapat sebuah meja bundar yang di atasnya sudah tersedia makanan berupa Sayuran, daging sapi rebus, gandum, dan roti. Persediaan yang diberikan oleh Uvuk untuk perjalanan.

__ADS_1


“Untung saja Tuan Uvuk berbaik hati untuk memberikan makanan untuk kita santap dalam perjalanan selama tiga hari ke Pulau Igardias,” Linda tersenyum. “Sebenarnya, kalau dihitung – hitung, makanan yang diberikan Tuan Uvuk dalam lima hari pun juga mungkin tidak akan habis.”


Dubal bersedekap. “Apakah kita akan melakukan pembahasan tentang pengkhiantan Faraq sebelum kita makan, pangeran?”


“Tidak Dubal,” kata Uzan. “Sebaiknya kita menikmati makananan kita dahulu. Kita akan membahas permasalah itu setelah makan saja.”


“Itu benar,” Sara menyetujui. “Kita juga harus bersyukur karena kita masih hidup walaupun sedang ada di dalam pihak yang kalah.”


Arika tampak kebingungan. Ia tidak bisa menggerakkan kedua lengannya selama tiga hari karena melakukan plasma ketika menghadapi Malvin untuk membantu Pangeran Uzan.”


Seolah membaca raut muka Arika, Linda menghampiri gadis penyihir itu sambil berujar, “Aku tahu bahwa kau tidak akan bisa makan karena plasma. Akan kusuapi.”


Arika tersenyum lega dan berkata lirih, “Terima kasih….”


Dalam duduknya, Rota juga memperhatikan makanan yang tersedia di atas meja. Walaupun ia ingin cepat – cepat membahas tentang pengkhianatan yang baru saja dilakukan oleh petinggi pangeran Uzan, namun selera makannya juga tergugah karena makanan tersebut.


Sesaat kemudian, makhluk Girafan itu juga memperhatikan Arika yang sedang duduk. Kedua lengannya tidak bisa digerakkan. Linda sedang mengambil makanan untuknya.


Pikiran Rota mulai kembali ke kejadian sebelum mereka naik kapal ini. Tidak disangka bahwa gadis penyihir itu melakukan plasma yang beresiko tinggi untuk membantu Pangeran Uzan bertarung. Hal tersebut sangatlah dibutuhkan, mengingat kondisi mereka yang sangat darurat.


Rota memegang dagu sambil memandangi sang pangeran dan lainnya yang sedang mengambil bagian makanan mereka. Dengan mencontoh gadis penyihir itu, pastinya ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk Pangeran Uzan karena Kerajaannya sudah diambil alih.


Silvar itu mengetahui bahwa jika wilayah Istana Kastala sudah diambil alih, maka Pulau Kastala juga dengan cepat akan dikuasai. Hal itu berarti bahwa Bukit Giraf juga sedang dalam bahaya.


Rota akan menawarkan dirinya untuk melakukan plasma agar bisa mempercepat jalannya kapal yang sedang diumpanginya ini.


Linda menerangkan cahaya yang berpendar dari tubuhnya. “Selamat makan…!”


Setelah mengambil bagian makanan masing – masing, Uzan dan para rekannya segera menyantap makanan yang tersedia. Linda memegangi makanan Arika karena penyihir itu masih tidak bisa bergerak. Dubal memakan porsi besar yang diambilnya dan memakannya dengan lahap. Kebalikan dari Dubal, porsi makanan Rota Cuma sedikit karena tubuhnya yang pendek dan tidak begitu memerlukan banyak makanan. Edgar dan Sara, yang menyantap hidangan mereka dengan rasa senang.

__ADS_1


Mereka menikmati momen itu sebelum membahas tentang permasalahan mereka yang lebih besar.


__ADS_2