
Detik demi Detik seolah waktu terasa lambat berlalu. Semua orang gelisah dan termenung, mereka sibuk dengan handphone mereka menghubungi para anak buah mereka, mengerahkan semuanya untuk mencari Gerald. Edward yang sangat mengkuatirkan putranya berjalan mondar mandir dengan perasaan gelisah.
"Lebih baik kamu duduk dengan tenang Ed,"ucap Daddy Ded.
"Aku tidak bisa tenang Dad,"jawab Edward.
Tak lama kemudian Mark datang menghampiri, lalu berkata.
"Apa yang terjadi nyonya?"tanya Mark.
"Putra ku menghilang dan kami menduga dia di culik,"jawab Kanaya.
"Apa..!"seru Mark terkejut, menatap wajah Kanaya dengan tatapan tak percaya.
"Bagaimana bisa?"tanya Mark.
"Entahlah jika aku tahu, aku tidak mungkin menghubungi mu,"ucap Kanaya dingin menatap wajah Mark dengan sebuah senyum sinis. Lalu berkata lagi.
"Aku ingin kau mencarinya."
"Bisa kah kamu menunjukkan secarik kertas itu?"tanya Kanaya pada Edward.
"Tentu,"ucap Edward.
Lalu Edward melangkahkan kaki berjalan menuju kamarnya dan sesampainya di dalam kamar Edward membuka koper kecilnya yang berada di dalam walk in Closet. Lalu mengambil secarik kertas yang dilipatnya dan di selipkannya di dalam koper dengan merobek kain kopernya, semua itu dilakukannya agar Kanaya tak mengetahuinya.
Kemudian Edward melangkah keluar berjalan menuruni anak tangga menghampiri Kanaya lalu memberikan kertas tersebut. Lalu Kanaya mengambil secarik kertas tersebut dari tangan Edward dan membacanya.Tak terlihat Ekspresi apapun saat dia membaca tulisan pada kertas tersebut. Kemudian Kanaya pun menyerahkan kertas tersebut pada Mark.
"Bâtard," (bajingan)seru Mark seraya meremas kertas tersebut. lalu menatap Kanaya.
"Apakah saya boleh melihat rekaman hasil CCTV rumah ini?"tanya Mark.
"Astaga kenapa kita begitu bodoh,"seru Cintya.
"Benar kita sangat bodoh,"ucap Kanaya. kemudian mengalihkan pandangannya pada Cintya.
"Laptop ku,"ucapnya.
Kemudian Cintya berlari menuju sebuah ruangan yang biasa di gunakan Kanaya untuk bekerja. Sesampainya di dalam ruangan tersebut Cintya pun meraih laptop dan kembali berjalan menuju ruang tamu.
"Ini,"ucapnya.
Kemudian meletakkan Laptop tersebut diatas meja. Kanaya pun duduk berjongkok di depan meja, tangannya membuka laptop dan menyalakannya, kemudian membuka sebuah aplikasi CMS (Central Management System). Semua yang berada di ruang tamu merapat mendekat pada Kanaya. Memperhatikan hasil dari rekaman CCTV tersebut. terlihatlah kedua pria memanjat dinding tembok pagar rumah Kanaya. Lalu kedua pria tersebut mengendap-endap dan membekap kedua satpam yang sedang berjaga di gardu pos. kemudian rekaman CCTV tersebut mati menghilang meninggalkan bintik-bintik hitam pada layar monitor laptop Kanaya.
"Sittt..!"seru Richard.
"Sepertinya mereka meng hack CCTV rumah,"ucap Kanaya suaranya terdengar sangat tenang.
Kemudian Kanaya memainkan jari jemarinya diatas keyboard laptop tersebut, tak berapa lama layar monitor pun menampilkan sebuah Video.
__ADS_1
"Siallllll,"seru Kanaya.
"Mereka berani bermain dengan ku..!"ucap Kanaya dengan geram.
Semua mata memandang layar laptop tersebut dengan tatapan nyalang, rahang mereka mengeras, kedua tangan mereka mengepal.
"Sepertinya mereka memiliki ahli IT yang sangat handal, dn mampu menembus sistem keamanan rumah ini Nay,"ucap Cintya. seraya memperhatikan film kartun Tom and Jerry pada rekaman itu.
"Dasar bajingan..!"seru Richard kemudian meraih laptop yang berada diatas meja dan mengangkatnya ke atas ingin membanting laptop tersebut.
"Tunggu tuan jangan di banting laptop itu,"ucap Mark seraya menghentikan tangan Richard.
"Tolong tuan, berikan pada saya,"ucapnya lagi. Lalu Richard memberikan laptop ditangannya seraya berseru.
"Apa yang bisa di lihat dari rekaman film kartun seperti ini hah..!"
Tanpa menggubris seruan Richard. Mark pun meraih laptop tersebut lalu meletakkannya kembali diatas meja, kemudian memperhatikan hasil rekaman tersebut, lalu keningnya berkerut. Kanaya yang merasa penasaran melihat mimik wajah Mark, kemudian mendekati Mark dan ikut memperhatikan layar laptop.
"Apa yang kamu lihat Mark?"tanya Kanaya. lalu berkata lagi.
"Itu hanya film kartun mereka sengaja melakukannya untuk menertawakan kita."
"Anda salah nona, film kartun ini seperti sebuah teka teki,"ucap Mark.
"Bisakah aku meminta rekaman CCTV ini nona?"tanya Mark.
"Terima kasih nona,"ucap Mark.
"Apapun yang kamu dapatkan segera laporkan pada ku,"ucap Kanaya dingin.
"Baik Nyonya, anda jangan kuatir saya akan melakukan berbagai cara untuk menemukan Tuan muda Gerald,"ucap Mark.
Kemudian mereka pun terdiam dengan pikiran masing-masing. Edward yang merasa sangat gelisah berjalan mondar mandir. Lalu melangkahkan kakinya berjalan keluar dari rumah. Richard yang melihat Edward mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di luar rumah. Edward pun menatap sekeliling halaman. Kemudian menghela nafas panjang dan menghembuskannya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Tenanglah, Gerald pasti ditemukan,"ucap Richard seraya memegang bahu Edward seolah-olah memberikan kekuatan padanya.
"Aku tidak bisa tenang sebelum putra ku ditemukan,"ucap Edward menghembuskan nafasnya.
Kemudian melangkahkan kakinya berjalan ke tengah-tengah halaman, lalu kedua matanya menatap sekeliling halaman lagi.
"Mengapa bisa mereka lepas dari keamanan komplek ini dan juga dari sistem CCTV rumah ini?"tanya Edward pada dirinya sendiri.
"Yang jelas mereka telah terlatih,"jawab Richard yang telah berada di belakang Edward.
"Kau benar,"ucap Edward.
"Entah bagaimana nasib putra ku di luar sana,"ucap Edward dengan nada sendu. lalu berkata lagi.
__ADS_1
"Aku seorang ayah yang tak berguna sedikit pun."
"Kenapa bisa aku lengah dan membiarkan putra ku di culik oleh orang asing di negara asing."
"Bagaimana jika mereka menyakiti putra ku?"
"Tenanglah, aku pun merasakan apa yang kau rasakan dia keponakan ku,"ucap Richard. Lalu berkata lagi.
"Aku pun sangat mengkhawatirkannya, untuk saat ini kita harus tenang, semua orang-orang kita telah menyebar untuk mencari Gerald."
kemudian Richard menghela nafas berat lalu menghembuskannya.
Kemudian melangkahkan kakinya berjalan menuju Pos Satpam diikuti oleh Edward.
Sesampainya di pos Satpam mereka mengelilingi pos tersebut. Kedua tatapan mereka memandang kebawah, lalu tangan Richard mengambil sebuah sapu tangan putih bergaris coklat di tepian saputangan tersebut. Lalu Richard dan Edward memperhatikan saputangan itu.
"Ini adalah saputangan pelaku yang meletakkan Secarik kertas ancaman itu,"ucap Richard.
"Astaga, ada yang kita lupakan,"seru Edward.
Kemudian Richard pun memandang Edward dan berlari menuju rumah mewah Kanaya. Sesampainya di dalam rumah dengan nafas terengah-engah berteriak memanggil pelayan di rumah.
"serveur..!"seru Richard dan Edward berbarengan sehingga membuat semua orang terkejut mendengar teriakan mereka.
"Kalian kenapa berteriak seperti itu hah..!"seru Daddy Ded.
"Kita melupakan sesuatu Dad,"ucap Richard.
"Serveur..!" teriak Richard menambah suaranya. Lalu berteriak lagi.
"Où êtes-vous les gars? venez tous ici..!" ( kemana kalian, kemari semua ).
"Kita sarapan jam 7 pagi bukan?"tanya Edward. Lalu berkata bertanya lagi pada Kanaya.
"Jam berapa Gerald pamit ke taman?"
"Jam 8 pagi, dia sangat suka ke taman itu pada jam 8 pagi biasanya dia ke taman itu untuk bermain basket atau berlatih bela diri,"jawab Kanaya.
Tak lama kemudian para pelayan di rumah Kanaya berdatangan.
"Dis-moi où sont les deux gardes ?"tanya Edward menatap tajam para pelayan
"Ils n'ont pas été vus depuis ce matin, monsieur," ( mereka tidak terlihat sejak tadi pagi tuan )ucap para pelayan.
"Aku akan mencari mereka malam ini juga,"ucap Mark.
Kemudian merogoh saku celana mengambil handphonenya, menghubungi seseorang, setelah selesai berbicara Mark pun melihat pada Kanaya dan berkata.
"Aku pamit nyonya,"seraya menundukkan kepalanya stelah di balas anggukan oleh Kanaya Mark berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari rumah Kanaya menuju mobilnya yang terparkir di halaman.
__ADS_1