Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 45. Peri Kecil


__ADS_3

Kanaya menatap liontin yang dipegang oleh Edward.


"Tidak mungkin,"Ucap Kanaya dalam hatinya. Matanya tak lepas menatap liontin itu, Kemudian Edward menatap Kanaya, lalu berkata seraya memperlihatkan padanya.


"Kau ingat liontin ini peri kecil ?" Tanya Edward


Mendengar kalimat 'Peri Kecil' matanya terbelalak dan menatap Edward tak percaya. Tak Lama kemudian Edward semakin mendekat pada Kanaya kemudian tangannya membelai kepala Kanaya dan juga menoel hidung Kanaya dengan lembut, lalu mengecup keningnya. seraya berbisik.


"Ku katakan pada mu kau milik ku sejak dulu, bersiaplah setelah kau sembuh kita akan menikah," ucap Edward seraya tersenyum lembut dan mengecup bibir mungil Kanaya di hadapan semua orang. Semua yang memandang Edward membelalakkan matanya, terkejut.


"Edward katakan pada mami, apakah peri kecil mu itu adalah Kanaya?" tanya Mami Edward.


"Iya mam, dialah Kanaya yang aku cari selama ini," ucap Edward tatapan matanya tak lepas memandang wajah Kanaya yang terkejut menatap Liontin yang ada ditangannya.


"Ternyata takdir mempertemukan kalian dengan jalan yang penuh liku-liku, dan sekarang takdir merestui kalian," ucap Mami Edward.


"Betul mam, dan kali ini takdir tidak akan mempermainkan kami lagi, karena setelah Kanaya sembuh aku akan menikahinya, dan siapapun yang menentang ku, aku tidak perduli," ucap Edward seraya menatap Daddy Ded, Mommy Lingga dan juga Richard.


"Ceritakan pada kami, ada kisah apa di balik liontin itu?" tanya Daddy Ded.


"Kisah seorang peri kecil yang menangkap kupu-kupu di taman dan menolong seorang pangeran dalam dongengnya dan berjanji menikahi pangeran itu, dan peri kecil yang cantik bagaikan kupu-kupu itu pergi meninggalkan pangeran itu, sehingga pangeran itu mengurung diri di kamarnya berhari-hari karena tidak dapat menemukan peri kecil itu dan saat pangeran itu mencarinya ke istananya ternyata peri kecil itu telah pergi meninggalkan pangeran itu dan tidak pernah kembali lagi, sehingga pangeran itu mencarinya selama bertahun-tahun, dan akhirnya menemukan peri kecil itu," ucap Edward seraya menghela nafas teringat masa lalu yang membuatnya bermuram durja selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.


Mendengar perkataan Edward Kanaya membelalak matanya dan berkata.


"Kau masih mengingat cerita itu?" tanya Kanaya perlahan.


"Aku selalu mengingatnya dan kali ini, akulah yang akan meminta pertanggungjawaban mu, karena aku telah kehilangan peri kecil ku, dan saat aku menemukannya kau telah mengubah peri kecil itu sehingga peri kecil itu membenci ku," ucap Edward.


"Kau yang telah mengubahnya karena kau telah melakukan kesalahan yang sangat besar pada peri kecil itu," ucap Kanaya, seraya memejamkan matanya.


"Ya, aku tahu itu dan aku akan menebusnya sepanjang sisa hidup ku dan kali ini aku tidak akan mengalah pada peri kecil itu, aku akan mengikatnya di istananya dan tidak akan melepaskannya lagi, tidak akan pernah lagi, pencarian ku telah usai dan akan kupastikan kali ini aku akan mengikatnya dan tidak akan pernah melepaskannya lagi apapun yang terjadi," ucap Edward seraya menatap Kanaya dengan lembut dan senyum penuh kebahagian.


"Ku mohon jangan pergi lagi," ucap Edward seraya memeluk Kanaya. Kemudian melepaskan pelukannya dan tanpa rasa malu sedikitpun pada semua orang yang berada di ruangan kamar Kanaya, Edward mencium Kanaya dengan lembut. mendapatkan ciuman dari Edward. Kanaya berusaha mendorong Edward dengan kedua tangannya, tetapi Kanaya meringis kesakitan, karena tangan Kanannya yang terluka dan di perban berdenyut sakit. Richard menghampiri Edward.


"Heii, kau ingin membunuh adik ku ya?" tanya Richard seraya menarik kerah baju Edward sehingga ciumannya terlepas.


"Dan kau menodai mata keponakan ku yang masih bau kencur," ucap Richard lagi dengan ketus.


"Selamat Pagi," ucap Sebuah suara. Richard, Edward dan yang lainnya menoleh kearah suara, terlihat dokter dan suster yang berjalan kearah Brankar Kanaya, membawa Kursi roda rumah sakit.


"Sudah saatnya Pasien melakukan Rontgent dan juga CT-SCAN, apakah anda sudah siap nyonya?" tanya Dokter seraya menatap Kanaya dan tersenyum manis padanya.


"Hati-hati Dok mata mu itu jangan terlalu genit melihatnya, aku bisa mencongkel mata mu," ucap Edward dingin.

__ADS_1


"Astaga, itu matanya suka-suka dia mau natap siapa pun itu," ucap Richard mengejek Edward.


"Aku tidak suka milik ku ditatap pria lain," ucap Edward dingin.


"Astaga sejak kapan kau bucin seperti ini pada adik ku?" tanya Richard dingin dengan nada mengejek Edward.


"Sejak dulu," ucap Edward enteng.


"Dasar Bucin akut," ucap Richard.


"Jangan perdulikan dia dok," ucap Richard seraya menatap dokter.


Para orang tua yang melihat Edward dan mendengar perkataannya hanya menggelengkan kepalanya. sementara itu Papi Edward dan juga Mami Edward ternganga kaget melihat putranya itu, selama ini belum pernah mereka melihat Edward bersikap seperti itu, tidak juga pada mantan kekasihnya dulu. Mereka pun tersenyum seraya berkata dalam benaknya.


"Putra ku telah menemukan cinta sejatinya," lalu Papi dan Mami Edward saling menatap seulas senyum bahagia terlihat di wajah mereka.


"Mari Nyonya, kami bantu bangun," ucap Suster.


"No," ucap Edward.


"Aku yang akan membantunya, Suster pegang infusannya," ucapnya lagi. Kemudian dengan perlahan dan sangat hati-hati, Edward menggendong Kanya ala bridel Style. mendapatkan perlakuan seperti itu Pipi Kanaya bersemu merah.


"Rebahkan kepala mu di dada ku Nay," ucap Edward.


"Kau benar-benar keterlaluan Edward !" seru Richard seraya mendekat pada Edward.


"Berikan adik ku, aku kan membantunya duduk di kursi roda itu," ucap Richard lagi.


"Aku yang akan mengendongnya," ucap Edward.


"Kenapa kalian jadi memperebutkan mami ku?" tanya Edward menatap tajam Uncle nya dan Edward.


"Turunkan aku," ucap Kanaya perlahan.


"No, aku akan menggendong mu seperti ini," ucap Edward.


"Tapi tangan dan kepala ku sakit," ucap Kanaya seraya meringis.


"Tidak akan sakit, letakkan tangan mu di perut mu, dan Kepala mu di dada ku," ucap Edward.


"Astaga, kau," seru Richard dengan geram.


"Stop," seru mami Edward dengan nada tajam, matanya menatap Edward kesal.

__ADS_1


"Turunkan Kanaya Edward dan biarkan dia duduk di kursi roda itu," ucap Mami Edward tegas.


"No, Mam," ucap Edward tak kalah dingin dan tegas.


"Turunkan putri ku Edward, bukankah kau ingin mendapat restu dari ku?" tanya Daddy Ded.


"Jika kau tidak menurunkannya, aku akan membawa putri ku pergi dan kau tidak akan menemukannya lagi," ucap Daddy Ded. Mendengar Daddy Ded bicara seperti itu, sejenak Edward Terdiam kemudian berkata.


"Baiklah," ucap Edward.


"Tetapi kau dokter genit, minggir," ucapnya ketus pada Dokter.


Kemudian Edward mendudukkan Kanaya di kursi roda dengan sangat hati-hati. Saat Suster akan mendorong Kursi roda Kanaya.


"Jangan coba-coba mendorongnya suster, aku yang akan melakukannya," ucap Edward.


Semua yang mendengar menepuk jidatnya.


"Astaga ngidam apa aku saat mengandung kamu Edward, Pada suster saja kau cemburu," ucap Mami Edward.


"Bucin mu itu kelewat batas," ucap Papi Edward.


"Suka-suka aku Pi," ucap Edward. Kemudian mendorong kursi roda Kanaya.


Kanaya yang melihat sikap Edward hanya diam, saat ini dia tak bisa berkata apapun, semua yang terjadi sangat membingungkannya.


"Stop," ucap Kanaya.


"Ada apa Nay?" tanya Edward.


"Gerald kamu mandi dan ganti pakaian mu nak," ucap Kanaya.


"Mom, Kanaya minta tolong, bisakah Mommy menemani Gerald?" tanya Kanaya.


"Biarkan Mami yang menemaninya Nak," ucap Mami Edward.


"Makasih Tante," ucap Kanaya. Mami Edward tersenyum sendu menatap Kanaya yang masih memanggilnya Tante.


"Tapi Mam, aku mau menemani Mami," Ucap Gerald.


"Sayang mami baik-baik saja, setelah kamu selesai mandi dan berganti pakaian, kamu bisa menemani mami ok," ucap Kanaya pada putranya seraya tersenyum menatap Gerald.


"Oke mam," ucap Gerald. Kemudian melangkahkan kakinya memasuki kamar Kanaya bersama Mami Edward.

__ADS_1


Edward pun kembali mendorong kursi roda Kanaya menuju ruang Rontgent, Selesai di Rontgent Kanaya melanjutkan Ke ruang CT-SCAN. Setelah semuanya selesai, Edward pun kembali mendorong Kursi roda Kanaya kembali ke kamarnya.


__ADS_2