Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 94. Perancis


__ADS_3

Tak terasa waktu pun terus berjalan jam didinding terus berdetak, malam pun berganti pagi, dan saat ini Kanaya, Edward, Cintya dan Gerald telah berada di jet pribadi miliknya. setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang akhirnya mereka pun sampai di bandara internasional Perancis "Charles de Gaulle"


"Ahhhhhhh, akhirnya sampai juga,"seru Gerald.


"Jam tujuh malam,"ucap Cintya.


"Yupzz,"ucap Kanaya. Lalu berkata lagi.


"Ayo, sepertinya Mark telah menunggu."


Kemudian mereka pun melangkahkan kaki berjalan menuju ruang jemput penumpang. Sesampainya di ruang jemput penumpang seorang pria berambut pria berjalan menghampiri mereka.


"Bonsoir mesdames et messieurs,"( selamat malam nyonya dan tuan)ucap Mark seraya menunduk hormat.


"Bonsoir Mark,"jawab Cintya.


"Bon retour en france,"( selamat datang kembali di Perancis )ucap Mark.


"Présenter ceci mon mari Edward," ( perkenalkan suami saya Edward ) ucap Kanaya.


"Monsieur Edward," ( Tuan Edward )ucap Mark seraya menunduk hormat dan mengulurkan tangannya menyalami Edward.


"Mark,"ucap Edward menyambut uluran tangan Mark.


Setelah Mark dan cintya mengurus bagasi. Mark pun mengambil mobil dan memarkirkan mobil di depan pintu bandara. Kemudian Kanaya, Edward dan juga Cintya serta Gerald masuk ke dalam mobil, sedangkan Mark memasukkan koper-koper ke bagasi setelah selesai dia pun memasuki mobilnya dan melajukannya.


"Kita langsung ke rumah saja,"ucap Kanaya.


Kemudian mobil pun melaju ke sebuah perumahan elite, lalu sesampainya di depan rumah seorang Pelayan telah menyambut mereka di depan pintu dengan senyum merekah. kemudian menghampiri mobil yang telah berhenti di depan pintu. Dengan tak sabar Gerald membuka pintu dan keluar dari mobil lalu berseru.


"Nounou tante, j'arrive." seraya tersenyum lebar dan memeluk pelayan sekaligus pengasuhnya itu.


"Mon seigneur Gerald, tante tu me manques tellement,"( Tuan Gerald ku bibi sangat merindukan mu )ucap Bibi pelayan.

__ADS_1


Kemudian memeluk Gerald dengan erat.


Kanaya dan Cintya hanya memperhatikan interaksi antara Gerald dan Bibi Pelayannya itu tersenyum lebar, mereka tahu hubungan mereka sangat dekat. Kemudian Gerald melepaskan pelukannya dan berkata.


"Tante présente mon Papi."( Bibi Perkenalkan Papi ku )


"Monsieur, bienvenue dans cette maison,"(Tuan Selamat datang di rumah ini) uacap Bibi Pelayan.


"Merci,"ucap Edward.


"Allez maintenant entrons,"( Ayo sekarang kita masuk)ucap Kanaya. Seraya tersenyum menatap Bibi Pelayan.


"Désolé madame, j'ai oublié de vous saluer, j'étais trop content de rencontrer M. Gérald. Bienvenue à la maison madame," ( Maaf nyonya saya sampai lupa menyapa anda, saya terlalu senang bertemu dengan tuan Gerald, selamat datang kembali ke rumah nyonya)ucap Bibi Pelayan. Seraya tersenyum malu pada Kanaya.


"C'est bon ma tante, je comprends," ( tidak apa-apa bibi saya mengerti)ucap Kanaya. Lalu tersenyum lebar menatap Bibi pelayan yang tersenyum malu padanya.


Kemudian mereka pun memasuki rumah mewah Kanaya. Sesampainya didalam rumah beberapa pelayan menyambut gembira kedatangan Kanaya dan Gerald serta Cintya. sementara itu Edward hanya diam dan memperhatikan kedekatan istri dan putranya pada pelayan rumahnya.


"Cin, kamu tinggal di sini aja,"ucap Kanaya. duduk di sofa di ruang keluarganya.


Tak lama kemudian Bibi Pelayan menghampiri mereka dan mempersilahkan mereka menuju ruang makan. Lalu Kanaya, Edward, Cintya serta Gerald bangkit berdiri dari sofa ruang keluarga melangkahkan kaki berjalan menuju ruang makan.


sesampainya di ruang makan mereka menarik kursi dan duduk di kursi tersebut. Diatas meja makan telah tersaji berbagai hidangan yang lezat. Lalu Kanaya mengambil piring Edward dan mengisi piring tersebut dengan makanan dan setelah menyerahkannya pada Edward. Kanaya mengambil piring Gerald dan mengisinya dengan makanan juga. Setelah selesai melayani suami dan putranya Kanaya mengambil sendiri makanannya. Begitu pun dengan Cintya.


Kemudian mereka menyantap hidangan Yang ada diatas piring dengan diam tak ada suara sedikit pun hanya denting sendok dan garpu yang terdengar.


Setelah selesai makan malam mereka beristirahat sejenak, lalu memasuki kamar mereka masing-masing untuk membersihkan tubuh mereka dan melepaskan lelah setelah berjam-jam melakukan perjalanan.


...****************...


"Istirahat yang,"ucap Edward, seraya tersenyum menatap wajah istrinya yang terbaring di sampingnya diatas kasur King Size kamar Kanaya.


"Aku belum mengantuk,"ucap Kanaya.

__ADS_1


"Kenapa? apakah kamu tidak lelah?"tanya Edward.


"Hemmm,"ucap Kanaya.


"Aku hanya bingung siapa orang yang berani mencuri desain ku,"ucap Kanaya lagi.


"Jangan dipikirkan, besok pagi kita akan mencari tahu,"ucap Edward.


Kemudian memiringkan tubuhnya, lalu meraih istrinya membawanya kedalam pelukannya. Kemudian Kanaya menyusup kedalam pelukan suaminya.


Tangan Edward menepuk-nepuk belakang punggung Kanaya berusaha menenangkan kegundahan istrinya, dan seolah-olah me nina bobokannya, seperti seorang anak kecil yang di kelonin.


Merasa nyaman dengan perlakuan suaminya, Kanaya memejamkan mata meresapi rasa nyaman mendapatkan perlakukan manis dari suaminya Edward, tak lama kemudian Kanaya pun tertidur pulas dalam pelukan Edward.


Mengetahui istrinya telah tertidur pulas, Edward menatapnya dengan senyum lembut mengecup kening istrinya, lalu melepaskan pelukannya. Turun dari atas tempat tidur mengambil selimut yang berada di bawah kaki Kanaya, kemudian menyelimuti tubuh istrinya.


Setelah menyelimuti istrinya Edward berdiri diam menatap Wajah Kanaya seulas senyum lembut terlihat di wajahnya melihat wajah Istrinya yang tertidur pulas seperti bayi yang tertidur. lalu Edward pun berkata.


"Sweet dream peri kecil." Lalu Edward melangkahkan kaki menuju sofa yang ada di ruangan Kanaya, setelah duduk diatas sofa kedua mata Edward pun mengedar menatap sekeliling kamar yang bercat putih itu. Tatapannya berhenti pada sebuah bingkai foto besar yang menempel di dinding.


Edward bangkit berdiri melangkahkan kakinya berjalan menuju bingkai foto tersebut, wajahnya tersenyum melihat Kanaya dan Gerald, didalam Foto tersebut Kanaya duduk disebuah kursi dengan senyum lebar, sementara itu Gerald berdiri dan mencium Maminya, mereka nampak terlihat bahagia, lalu Edward menatap sebuah Foto lagi dan melihat istrinya bersama Gerald.


Kanaya berdiri dengan gaun berwarna peach yang melekat dalam tubuh semampainya terlihat sangat cantik dan anggun, sedangkan Gerald memakai Tucxedo hitam terlihat sangat tampan, Edward menghela nafas panjang kedua matanya menatap sendu foto tersebut, lalu tangannya memegang foto itu, dan berkata.


"Seharusnya saat itu aku bersama kalian membuat foto ini." Lalu menghembuskan nafasnya kemudian berjalan kembali menuju sofa, setelah mendudukkan tubuhnya. Edward pun mengambil sebuah album yang berada di atas meja. Seulas senyum terlihat di wajahnya, saat membuka album tersebut.


Di dalam album terlihat Foto-foto Kanaya saat hamil, dan juga foto-foto Gerald saat bayi. Edward menatap foto Istrinya yang tersenyum menata Gerald yang berbaring di kasurnya kedua tangan Gerald memegang kedua jari telunjuk Kanaya, dalam foto itu terlihat Gerald tertawa menatap maminya. Mami dan anak saling menatap dan tertawa lepas.


"Seandainya aku ada saat itu,"ucap Gerald. Tersenyum penuh penyesalan.


kemudian Edward pun membalikkan lembar demi lembar album foto. Kemudian kedua matanya menatap kagum putranya yang sedang memegang sebuah piala, kemudian membuka kembali lembar album tersebut dan melihat berbagai macam foto-foto Gerald bersama dengan piala prestasi yang di raihnya.


"Betapa bangganya Papi pada mu nak,"ucap Edward. Seraya menatap foto putranya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Edward pun menutup album foto tersebut lalu menghela nafas panjang.


kemudian berjalan menuju tempat tidur lalu naik keatas tempat tidur membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Sesaat Edward menoleh pada Istrinya dan menatapnya kemudian memejamkan matanya dan akhirnya tertidur pulas.


__ADS_2