Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 104. Rencana Pembebasan Gerald 2


__ADS_3

Kanaya menatap wajah Edward, kemudian mengalihkan tatapan pada semua orang yang berada di ruang keluarga tersebut lalu berkata.


"Aku akan melacak dimana mereka berada melalui nomor ini."


"Dan jika dugaan ku benar maka aku akan pergi sendiri kesana membebaskan putra ku."


"No princess, and once again i said No,"ucap Daddy Ded dengan nada tegas dan dingin.


"Big no honey,"ucap Edward.


"Kamu harus mengikuti semua yang Daddy Katakan pada mu,"ucap Daddy Ded dengan nada tegas. Kemudian menatap Mark seraya berkata dengan nada dingin dan tegas.


"Cherchez l'expéditeur du message WhatsApp et avant que le soleil ne se couche, je veux que vous l'ayez."( carilah informasi pengirim pesan WhatsApp, sebelum matahari tenggelam aku ingin kau sudah mendapatkannya )


"Oui Monsieur," ( baik Tuan )ucap Mark.


"Dan yang lain bersiaplah,"ucap Daddy Ded dingin seraya menatap semua yang ada di ruang keluarga.


"Dan kamu Nay, Istirahatlah,"ucap Daddy Ded dengan nada tegas. lalu melanjutkan perkataannya.


"saat ini pikiran mu tidak jernih, semua yang kamu putuskan salah dan untuk kali ini, Daddy yang akan mengambil alih semua masalah mu,"ucap Daddy Ded seraya menatap wajah putrinya lalu berkata lagi.


"sudah cukup kamu melakukan sesuatu sendirian seolah-olah kamu tidak memiliki suami dan orang tua."


"Maafkan Nay Dad, saat ini memang benar aku tidak bisa berpikir sedikit pun pikiran ku kalut aku takut sesuatu terjadi pada putra ku,"ucap Kanaya.


Seraya menatap wajah sang Daddy lalu dari kedua matanya menyeruak air mata yang sedari tadi ditahannya. Edward yang berada di samping Kanaya merengkuh bahu sang istri mencoba menenangkan Kanaya.


"Maka dari itu serahkan semuanya pada kami, tenangkan diri mu dan ingat istirahatlah,"ucap Daddy Ded. lalu beralih menatap Mark.


"Lakukan apa yang ku perintahkan pada mu sekarang,"ucap Daddy Ded.


"Paman Bernie jika Mark tidak berhasil dapatkan informasi apapun maka kita akan melakukan apa yang sudah kita rencanakan,"ucap Daddy Ded.


"Kamu benar, ada ataupun tidak ada informasi tersebut kita melakukannya malam ini,"ucap Bernie.


"Richard, Edward kalian bersiaplah, Cintya kamu temani Kanaya sekarang bawa dia untuk beristirahat, Kanaya harus kuat saat menghadapi penculik itu,"ucap Daddy Ded.

__ADS_1


"Baik om,"ucap Cintya, lalu bangkit berdiri berjalan menghampiri Kanaya.


"Ayo Nay, aku temani ke kamar mu, Daddy mu benar kamu harus beristirahat dan mempersiapkan diri untuk menghadapi penculik Gerald,"ucap Cintya.


kemudian Kanaya bangkit berdiri berjalan beriringan bersama Cintya.


"Aku akan menemani istri ku sebentar,"ucap Edward kemudian mengikuti Kanaya dan Cintya berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.


Daddy Ded menghela nafas panjang lalu menghembuskannya. kemudian menatap Richard. lalu berkata.


"Kamu putra pertama ku, dan kamu harus melindungi adik mu Kanaya."


"Aku tahu Dad,"ucap Richard. lalu berkata lagi.


"aku dan Edward akan mengerahkan semua anak buah kami, aku merasa masalah ini tidak semudah yang kita bayangkan,"ucap Richard.


"Kamu benar chard,"ucap Papi Edward seraya menghela nafas panjang.


"Jika pelakunya adalah James Lawrence maka ini akan sulit bagi kita aku mengenal betul keluarga Lawrence,"ucap Papi Edward kemudian melanjutkan perkataannya.


"walaupun kami masih terikat dalam hubungan darah tetapi kami menjauhkan diri dari mereka karena sikap tamak mereka,"ucap Papi Edward.


Tak lama kemudian senyum itu pun berubah menjadi sebuah senyum yang mengerikan, rahangnya mengeras dan kedua tangannya terkepal menahan amarah. Lalu Papi Edward pun berkata.


"kali ini aku tidak akan segan untuk melakukan sesuatu yang akan membuat mereka menyesal jika sesuatu terjadi pada cucu ku."


kemudian kedua matanya menatap satu persatu yang berada di ruang keluarga, lalu sebuah senyum terlihat lagi di wajahnya kemudian melanjutkan perkataannya.


"kalian bersiaplah aku yakin jika dia gagal mendapatkan Kanaya maka kita akan berhadapan dengan seluruh keluarga Lawrence dan aku yakin jika itu terjadi akan menjadi peperangan yang sangat besar."


"Aku tahu Paman, aku sudah menyelidiki mereka sejak adikku mengatakan tentang pria bajingan itu, dan aku sudah menyiapkan segala kemungkinannya,"ucap Richard.


"Dan dengan bantuan Paman Bernie aku yakin jika kemungkinan itu terjadi maka kita akan melumpuhkan mereka secepat mungkin,"ucap Richard lagi.


"Hemm,"ucap Mami Edward berdehem seraya menatap wajah-wajah yang tegang lalu berkata.


"Nasib memiliki menantu dan putri yang cantik jelita harum mewangi bak bidadari turun dari mobil,"seraya tersenyum lebar lalu melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Jangan terlalu tegang nanti urat-urat kalian putus mendadak sebelum menyelamatkan cucu kesayangan ku itu."


"Kamu benar jeng kita memang sedang mengkuatirkan cucu kita tetapi ingat kalian pun harus tenang karena nyawa cucu kita ada ditangan pria itu,"ucap Mommy Lingga. Seraya tersenyum menatap wajah sang suami dan putra sulungnya. Berusaha menenangkan mereka walaupun sebenarnya saat ini hati dan batinnya merasakan kesedihan dan kecemasan akan cucu semata wayangnya dalam benaknya berkata.


"Bertahanlah nak, kami akan menyelamatkan mu, bersabarlah Oma yakin kamu adalah anak yang kuat bersabarlah sebentar lagi."kemudian menghela nafas panjang.


...****************...


Sementara itu Kanaya yang telah berada di dalam kamarnya duduk di tepian tempat tidur ditemani oleh Edward dan juga Cintya. lalu Edward berkata.


"Tidurlah yang."


Mendengar perkataan sang suami, Kanaya menatap wajahnya dengan dengan tatapan sendu.


"Edward benar tidurlah Nay,"ucap Cintya.


kemudian Kanaya menatap wajah Cintya. lalu menganggukkan kepalanya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya.


"Cin, aku titip istri ku,"ucap Edward.


"Ya Ed, percayakan padaku,"ucap Cintya.


"Makasih Cin,"ucapnya. lalu menundukkan wajahnya mengecup kening sang istri seraya berkata.


"Istirahatlah sayang."


Kanaya hanya menatap wajah Edward dengan tatapan sendu lalu menganggukkan kepalanya. kemudian memejamkan kedua matanya. Lalu Edward bangkit berdiri dan keluar dari kamarnya melangkahkan kakinya berjalan menuruni anak tangga menuju ruang keluarga di mana keluarga besarnya duduk.


sesampainya di ruang keluarga Edward mendudukkan tubuhnya di sofa di sebelah Richard.


"Bagaimana keadaan Kanaya?"tanya Daddy Ded.


"Dia benar-benar terpukul, baru kali ini aku melihatnya seperti ini,"jawab Edward seraya menghela nafas panjang.


"seorang ibu akan seperti itu jika mengetahui putranya dalam bahaya,"ucap Mommy Lingga. seraya menghela nafas panjang.


"Benar sekali,"ucap Mami Edward.

__ADS_1


"Bahkan hati kami hancur berkeping-keping,"ucap Mami Edward lagi. kemudian menghembuskan nafas beratnya dalam benaknya sangat cemas terhadap cucunya. kemudian mengerjapkan kedua matanya menahan air mata yang berusaha menyeruak keluar.


Kemudian mereka pun terdiam dengan pikiran masing-masing, berharap cemas menunggu informasi keberadaan Gerald.


__ADS_2