Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 89. Resepsi


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul 6 sore Kanaya yang telah di make up oleh MUA dan juga telah mengenakan sebuah gaun penganti khusus untuk Resepsi pernikahannya terlihat sangat cantik. Gerald yang dari tadi menemani maminya tertegu kagum dan berseru.


"Wahhh...,Mami Cantikkkkkk banget."seraya menatap Maminya.


"Beneran?"tanya Kanaya.


"Bener..!"Seru Gerald.


"Mami aku,"ucap Gerald.


"Istri Papi,"ucap Edward, dari arah pintu menatap takjub Kanaya yang baru saja di nikahinya beberapa jam Yang lalu. Edward yang telah berganti pakaian mengunakan tuksedo berwarna putih, terlihat sangat gagah, selaras dengan gaun yang dikenakan oleh Kanaya gaun berwarna putih yang pas di tubuhnya yang semampai memperlihatkan lekuk tubuhnya yang bak gitar spanyol.


"Kamu cantik banget yang,"ucap Edward seraya menghampiri kanaya senyuman lembut menghias wajahnya.


Lalu mendekati Kanya dan mengecup keningnya.


"Ishhh Papi genit banget..!"seru Gerald.


"Main nyium-nyium mami aku aja,"ucap Gerald lagi.


"Nggak apa-apa kali, mami kan istri Papi,"ucap Edward tak mau kalah.


"Mami aku,"ucap Gerald seraya memeluk maminya.


"istri Papi,"ucap Edward seraya memeluk Kanaya.


"udah-udah sebentar lagi acara di mulai,"ucap Kanaya. menatap mereka satu persatu.


"Ya udah ayo,"ucap Edward. Kemudian menggengam tangan Kanaya, begitu pun dengan Gerald.


Gerald yang malam ini dipenuhi dengan kebahagiaan. Terlihat sangat tampan berpakaian persis seperti Papinya. Mereka melangkahkan kakinya berjalan menuju Lift yang akan membawa mereka menuju Ballrom Hotel Bimantara, dimana Resepsi diadakan. sesampainya di Ballroom yang telah di dekorasi dengan sangat indah, kedua orang tua Kanaya dan juga Edward menyambut mereka dengan senyum bahagia, kedua mempelai melangkahkan kakinya berjalan menuju pelaminan.


Dengan diiringi live music dari seorang penyanyi terkenal. Edward dan Kanaya bagaikan raja dan ratu sehari. Mempelai pria yang terlihat gagah dengan tucxedo nya, mempelai wanita yang tampil sangat cantik dan anggun dibalut gaun yang indah.


Para undangan menatap takjub kedua mempelai mereka terlihat sangat serasi, para tamu berdatangan, para keluarga Bimantara dan juga Kusuma, para kolega bisnis dan juga para pejabat menghadiri pernikahan mereka, pernikahan yang dikatakan sederhana oleh Kanaya, tidak sesederhana yang ada dipikiran orang lain, tetapi sederhana menurut Bimantara dan juga Kusuma adalah sederhana dalam kemegahan yang mereka pikirkan dan ciptakan.


Sementara itu Cintya yang duduk di depan menatap wajah sahabatnya dengan penuh kebahagiaan. Ingatannya menerawang pada saat pertama kali bertemu dengan Kanaya, semua ingatan itu kembali. Bagaimana saat-saat mereka bertemu tanpa sengaja, lalu mereka berjuang bersama-sama membesarkan Gerald, bekerja dan meneruskan kuliah mereka, dua gadis muda yang hanya berbeda usia dua tahun berjuang di negeri orang tetesan keringat tak mereka rasakan. Cintya menghela nafas panjang lalu menghembuskannya.


"Sekarang kamu sudah mendapatkan kebahagian mu dan semoga senyum itu selalu menghias wajah mu Nay."ucap Cintya dalam benaknya.


Richard yang memperhatikan Cintya sedari tadi menatap kagum wajah Sahabat adiknya itu di balik wajah cantik dan dinginnya terdapat kecantikan yang sempurna yang terdapat dalam hatinya.


"Kamu sangat beruntung mendapatkan teman seperti Cintya Nay,"ucap Richard dalam benaknya.


"Daddy dan Mommy benar aku harus segera menikahinya, aku tak ingin pria lain mendapatkannya dia bagaikan berlian yang langka yang sangat sulit didapatkan,"ucapnya lagi dalam benaknya.


Lalu Richard mendekati Cintya dan duduk di sebelahnya.


"Aku perhatikan sedari tadi kamu termenung terus, ada apa?"tanya Richard.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa hanya kagum melihat kedua mempelai itu,"ucap Cintya seraya menolehkan wajahnya pada Richard yang sedang menatapnya.


"Setelah perjalanan panjang akhirnya mereka bersatu dan siapa yang menduga jika kisah cinta mereka diawali dari masa kecil mereka,"ucap Richard seraya tersenyum lembut pada Cintya.


Kedua mata Cintya menatap Richard tak percaya melihat senyum yang terulas di wajah Richard yang jarang sekali ada hanya pada Kanaya dan juga kedua orang tuanya serta Gerlad keponakannya senyuman itu akan terlihat, bagi seorang Richard senyumannya itu sangat mahal.


"Kenapa?"tanya Richard.


"Apakah aku terlihat sangat ganteng?"tanya Richard lagi.


Cintya hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Richard. Cintya akui jika Richard terlihat sangat tampan malam ini, tubuhnya yang tinggi atletis, di balut jas putih seragam para pria Bimantara dan Kusuma.


"Apakah kamu sudah memikirkan apa yang aku katakan pada mu?"tanya Richard lagi.


"Apa?"tanya Cintya.


"Pernikahan,"ucap Richard.


"Aku tahu kamu masih ragu dengan apa yang aku katakan karena aku mengatakannya pada mu secara mendadak saat itu,"ucap Richard.


Kemudian teringat saat Richard mendatangi Cinta yang sedang bekerja, dan tanpa basa basi Richard meminta Cintya untuk menjadi istrinya.


"Aku tidak pandai merangkai kata-kata, tetapi aku pastikan pada mu apa yang aku katakan adalah benar Cin,"ucap Richard. Seraya menatap Wajah Cintya kemudian telapak tangannya meraih telapak tangan Cintya kemudian menautkan jari jemari mereka.


"Kamu lihat tangan mu yang mungil ini begitu serasi di genggaman ku, dan aku sangat ingin menaruh cincin di jari manis mu ini,"ucap Richard. Seraya membelai jari manis Cintya.


"Astaga apakah kamu tidak bisa bersikap romantis sedikit pun?"tanya Cintya, seraya menggelengkan kepalanya kemudian kedua matanya menatap wajah Richard.


"Aku memang tidak bisa romantis tetapi aku berjanji akan berusaha. menjadi romantis untuk mu,"ucap Richard tegas.


"Tidak..! kamu tidak perlu melakukan hal itu, aku menyukai kamu apa adanya tak perlu berubah menjadi orang lain, karena kamu adalah kamu,"ucap Cintya seraya tersenyum lembut pada Richard.


"Lalu?"tanya Richard.


"Apa?"tanya Cintya.


"Jawaban mu?"tanya Richard.


"Hemmm,"ucap Cintya berdehem.


"Cinn,"seru Richard.


"Apa?"tanya Cintya.


"Apakah kau ingin aku mencium mu di depan semua orang yang ada disini?"ucap Richard seraya menatap Cintya dengan tatapan menggoda.


"Enak aja, nggak mau,"jawab Cintya.


"Makanya jawab sekarang atau aku akan melakukannya sekarang juga,"ucap Richard tegas dengan nada mengancam. Kemudian mendekatkan wajahnya pada Cintya.

__ADS_1


"Iya aku mau menjadi istri kamu,"ucap Cintya.


"Apa?"tanya Richard.


"Katakan sekali lagi,"ucapnya.


"Aku mau menjadi istri kamu,"ucap Cintya. Seraya tersenyum menatap Wajah Richard.


Mendengar jawaban Cintya Richard tersenyum lebar penuh kebahagian lalu tanpa di duga oleh Cintya Richard mengecup bibir Cintya dengan Cepat lalu berkata.


"Terima kasih."


Cintya yang mendapatkan kecupan singkat dari Richard tertegun dengan wajah di penuhi keterkejutan sebuah desiran halus menerpa jantungnya yang membuatnya berdetak dengan cepat. lalu dengan gugup Cintya pun berkata.


"Astaga Richard Bimantara kamu main nyosor aja, aishh kau mencuri ciuman pertama ku,"ucap Cintya, seraya memelototkan matanya pada Richard.


"Ciuman pertama mu,"ucap Richard.


"Iya benar,"seru Cintya seraya mendelik sebal pada Richard.


"Betapa beruntungnya aku,"ucap Richard. Kemudian meletakkan tangan Cintya yang digengamnya pada dada bidangnya.


"Dan akan ada ciuman kedua dan ketiga dan seterusnya untuk mu, mulai hari karena sekarang kau milik ku,"ucap Richard.


"Aishh,"ucap Cintya.


Sementara itu tanpa mereka sadari kedua mata Kanaya menatap penuh selidik Cintya dan kakaknya, kedua matanya terbelalak melihat kecupan singkat yang mendarat di bibir Cintya yang dilakukan oleh Kakaknya. Lalu sebuah senyum menghiasi wajah Kanaya dan berkata dalam benaknya.


"Akhirnya kalian menjadi pasangan juga, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan Cin."


...****************...


Malam penuh kebahagian, yang dipenuhi tawa dan senyum. Kedua mempelai bangkit berdiri di dampingi oleh kedua orang tua mereka, menerima ucapan selamat dari para undangan. Dan kini tibalah saatnya pelemparan bunga dengan penuh antusias para undangan maju kedepan pelaminan.


Kanaya dan Edward membalikkan tubuh mereka, tangan mereka menggenggam buket bunga lalu melemparkan bunga tersebut untuk para undangan yang masih berstatus lajang, yang berkerumun berharap mendapatkan lemparan Bunga dari kedua mempelai. sebuah mitos yang mengatakan siapapun yang mendapatkan Bunga akan segera menikah.


"Ahhhhh, Cintya yang dapetin,"seru Mommy Lingga.


"Yess,"seru Daddy Ded.


"Dapat mantu lagi,"ucap Daddy Ded.


Sementara itu Cintya terbelalak mendapatkan bunga yang mendadak mendarat di tangannya.


"Kamu lihat sebentar lagi kamu adalah mempelai wanita yang akan duduk di depan sana nantinya,"ucap Richard. Seraya memeluk Cintya dari belakang tubuhnya lalu jarinya menunjuk Pelaminan, dimana Edward dan Kanaya masih berdiri pandangan kedua mempelai dan juga kedua orang tua mereka menatap Cintya dan Richard.


Mendengar perkataan Richard, wajah Cintya bersemu merah.


Malam pun semakin larut, setelah jamuan makan, para undangan satu persatu berpamitan. Hanya orang terdekat dan juga keluarga serta para kolega bisnis mereka yang tertinggal, kedua mempelai pun turun dari atas pelaminan berjalan menghampiri mereka dan menyapa mereka, hingga satu persatu dari mereka pun berpamitan, hingga menyisakan keluarga inti yang duduk santai di kursi mengistirahatkan tubuh mereka yang telah lelah.

__ADS_1


__ADS_2