
"Mam aku kekamar ku dulu ya mam," ucap Gerald, sesampainya mereka di mansion.
"Kamu gak apa-apa kan nak?" tanya Kanaya.
"Aku gak kenapa-kenapa kok mam," Jawab Gerald seraya menatap wajah maminya.
"Baiklah," Ucap maminya. seraya menghela nafas panjang.
Kemudian Gerald melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sedangkan Kanaya dan kedua orang tuanya mendudukkan tubuh mereka di sofa ruang keluarga seraya menatap Gerald yang berjalan menaiki anak tangga dengan wajah yang tertunduk.
"Kamu lihat Nay, Gerald seperti tertekan tetapi dia menyembunyikannya dari kita," ucap Mommy Lingga.
"Mommy benar," ucap Kanaya seraya menghembuskan nafasnya dan menyandarkan tubuhnya ke belakang sofa yang di dudukinya. kemudian memejamkan matanya pikirannya dipenuhi berbagai macam beban mengenai putranya. akhir-akhir ini putranya begitu pendiam dan terkadang melamun sendirian, menjauhkan diri dari orang-orang terdekatnya. Lalu Kanaya membuka matanya dan menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Kanaya keluar sebentar Mom, Dad," ucap Kanaya.
"Kamu gak kerja Nay?" tanya Daddy nya
"Gak Dad," ucap Kanaya kemudian melangkahkan kakinya berjalan keluar menuju halaman rumahnya, tak lama kemudian dari arah pintu gerbang mobil Kanaya dan juga mobil Daddy nya yang ditinggalkan di halaman sekolah, memasuki halaman mansion. Kanaya pun berjalan menghampiri mobilnya yang di kendarai oleh sopirnya Pak Iwan.
"Nona mau saya antar?" tanya Pak Iwan, yang sudah keluar dari dalam mobil.
"Gak usah Pak," ucap Kanaya seraya mengambil kunci mobil dari Tangan Pak Iwan.
"Nona maaf, boleh saya mengatakan sesuatu?" tanya Pak Iwan.
"Silahkan Pak, ada apa?" jawab Kanaya.
"Mengenai Tuan kecil Gerald nona," ucap Pak Iwan.
"Saya sering mendapati Tuan kecil menangis di sana," ucap Pak Iwan seraya menunjuk Pendopo yang ada di ujung halaman depan mansion.
"Bagaimana Bapak tahu kalau Gerald menangis di sana Pak?" tanya Kanaya.
Kemudian Pak Iwan menghela nafas panjang, seraya berkata.
"Saya penasaran tuan Gerald sering sekali duduk menyendiri disana, saya menghampirinya secara diam-diam dan ternyata Tuan Kecil sedang terisak menangis, saya tidak tahu apa yang di tangisi nya," ucap Pak Iwan.
"Nona luangkanlah waktu untuk Tuan kecil, kasihan Tuan Kecil nona," ucap Pak Iwan.
"Apakah Bapak punya seorang anak?" tanya Kanaya.
"Iya nona, saya memiliki Seorang Putra, usianya sebaya dengan Tuan Kecil," ucap Pak Iwan.
"Ajaklah dia kemari agar mereka bisa bermain bersama," ucap Kanaya.
"Semoga mereka bisa berteman dan anak saya tidak kesepian lagi," Ucap Kanaya.
"Baiklah nyonya, saya akan membawa anak saya besok," ucap Pak Iwan.
"Terima kasih Pak," ucap Kanaya kemudian memasuki mobilnya dan melajukan mobil tersebut keluar dari halaman mansion.
sepanjang perjalanan Kanaya terus berpikir tentang perkataan Mommy nya dan Pak Iwan.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ini?" tanyanya dalam hati, terbayang dalam ingatannya mimik wajah sedih putranya. Seraya menghela nafas panjang Kanaya pun membelokkan mobil sportnya.
Tak lama kemudian Kanya menghentikan mobilnya di depan sebuah mansion mewah berpagar tinggi. Melihat sebuah mobil berhenti di depan pagar, satpam penjaga mansion tersebut membuka pintu pagar dan menghampiri mobil Kanaya. Kanya pun membuka kaca mobilnya, seraya berkata.
__ADS_1
"Saya ingin bertemu dengan Nyonya Kusuma," ucap Kanaya.
"Apakah anda sudah buat janji?" tanya Satpam.
"Belum, katakan saja padanya Kanaya ingin bertemu dengannya," ucap Kanaya.
"Baik nyonya, harap menunggu sebentar," ucap Satpam, seraya melangkahkan kakinya menuju pos jaga.
Lima menit kemudian Satpam tersebut menghampiri Kanaya dan mempersilahkan masuk, Kanaya pun melajukan mobilnya memasuki halaman mansion. setelah memarkirkan mobilnya, Kanaya pun keluar dari mobil dan melangkah kakinya menuju pintu mansion sebelum memencet bell, pintu tersebut telah terbuka. muncullah wanita seusia mommynya dengan wajah penuh senyum menyapa Kanaya.
"Akhirnya kamu datang juga nak," ucapnya, seraya menatap Kanaya dengan penuh kagum.
Kanaya yang mendengar perkataan Mami Edward menaikkan sebelah alisnya, menatap wajah mami Edward tanpa ekspresi sedikit pun. Tanpa memperdulikan Tatapan Kanaya mami Edward menarik tangan Kanaya masuk kedalam mansionnya.
"Ayo silahkan duduk jangan sungkan," ucap Mami Edward dengan ramah.
Kemudian Kanaya pun duduk di sofa yang ada di ruangan tamu, dan berkata.
"Maaf nyonya kedatangan saya kesini hanya ingin mengatakan satu hal," ucap Kanaya.
"Jangan menemui Putra ku lagi," ucap Kanaya dengan nada tegas dan dingin.
"Sudah ku duga kamu akan mengatakan itu Nak Kanaya, maafkan putra mami yang telah membuat sengsara dan hidup mu menjadi susah," ucap Mami Edward seraya menatap Kanaya dengan sendu
"Mami tahu, perbuatannya tidak bisa di maafkan, tetapi tidak adakah pintu maaf buat nya? setidaknya untuk mami yang sudah tua ini," ucap Mami Edward.
"Maaf, saya datang kesini hanya ingin mengatakan itu saja, sekali lagi saya tegaskan Jangan temui putra ku lagi," ucap Kanaya. kemudian bangkit berdiri melangkahkan kakinya menuju pintu mansion keluarga Kusuma, langkahnya terhenti mendengar suara mami Edward.
"Mami tahu semua yang terjadi, dan mami pun setuju dengan semua yang kamu lakukan pada Edward, itu adalah hukuman buat laki-laki pengecut seperti dia, dan sekarang dia sedang menanggung balasan dari semua perbuatannya," ucap Mami Edward.
"Tetapi tidak bisa kah kamu membiarkan mami dekat dengan Gerald cucu ku?" tanya Mami Edward.
"Maafkan saya nyonya Kusuma, saya tahu anda dan Tuan Kusuma adalah orang-orang baik, hanya saja aku tidak bisa memaafkan putra anda yang bajingan itu," ucap Kanaya dalam hati. Kemudian dia pun melajukan Mobil sportnya dengan kencang.
Sementara itu Edward yang berada di Singapura, berjalan mondar mandir di apartemennya. Tak lama kemudian bell apartemennya berbunyi, Edward pun berjalan dan membuka pintu apartement.
"Apakah anda sudah siap Tuan?" tanya Asisten pribadinya.
"Aku tunggu kau di bawah,"ucap Edward kemudian melangkahkan kakinya keluar dari apartemennya menuju Lift. Sedangkan Asistennya yang bernama Jerry memasuki Apartement Edward mengambil koper-koper Edward. Sesampainya di lobi Edward telah menunggunya. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti didepan Edward dan asistennya. Lalu mereka pun memasuki mobil tersebut, mobil pun melaju menuju bandara Changi Singapura.
Sementara itu Kanaya yang telah sampai di mansion orang tuanya dengan langkah lesu memasuki mansion.
"Dari mana Nay?" tanya Richard yang sedang duduk di sofa ruang keluarga bersama kedua orang tuanya.
"Nyari angin Kak," ucap Kanaya seraya duduk di sofa.
"Angin kok di cari Nay," ucap Richard.
Kanaya hanya menggendikkan bahunya tak acuh.
"Edward Kusuma akan kembali ke Indonesia," ucap Richard.
"Oh," ucap Kanaya.
"Hanya itu Nay?" tanya Kanaya.
"Lalu aku harus ngomong apa dong?" tanya Kanaya.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu rencanakan?" tanya Richard.
"Aku malas membahasnya kak," ucap Kanaya.
"Bukankah kita semua sudah mengetahuinya? untuk apa lagi di bahas," ucap Kanaya.
"Aku lelah berurusan dengan Kusuma itu, aku berencana akan kembali ke Perancis," ucapnya lagi.
"Tidak, kamu tidak boleh kemana-mana lagi," ucap Mommy Lingga.
"Maaf mom, kali ini aku harus melakukannya," Ucap Kanaya.
"Cepat atau lambat mereka akan mengetahui semuanya dan aku tak ingin mengambil resiko mom, aku memiliki perasaan yang tidak enak sejak berita di majalah itu, dan juga sejak nyonya Kusuma menemui putra ku," ucap Kanaya.
"Kemana pun kamu berlari mereka akan tetap mengejar mu," ucap Daddy Lingga seraya menatap Kanaya.
"Masalah majalah itu sudah selesai," ucap Daddy Ded.
"Belum selesai Dad," ucap Kanaya.
"Jika kami disini terus aku takut hal ini berdampak pada putra ku," ucap Kanaya.
"Putra mu adalah cucu ku, dan aku akan melakukan apapun untuk cucu ku," ucap Daddy Ded.
"Dengan cara apa Dad? majalah itu dan pelakunya mungkin sudah ditemukan dan aku yakin kalian entah membuangnya kemana, lalu dengan Kusuma apa yang akan kita lakukan? dengan menghancurkan mereka kembali? perusahaan Kusuma telah bangkrut tetapi mereka berhasil bangkit kembali lalu kita menghancurkannya lagi, lalu mereka bangkit lagi, akan seperti itu terus, dan aku telah lelah menjalani semua itu, terlebih melihat wajah putra ku saat ini," ucap Kanaya.
"Dan bukan itu saja, apakah kalian ingat apa yang dikatakan oleh Cintya?" tanya Kanaya.
"Ya kami masih mengingatnya," ucap Daddy Ded dan mommy Lingga.
"Aku memiliki firasat yang sangat tidak baik pada mereka, dan aku yakin Kasus majalah itu berhubungan dengan mereka," ucap Kanaya.
"Semua terasa semakin sulit dan semua berhubungan dengan keluarga Kusuma, aku tahu mereka adalah keluarga yang baik. tetapi mereka sangat sial karena memiliki penerus yang tak beradab," ucap Kanaya.
"Kami sudah menyelidiki semua itu Nay, aku berbicara dengan Cintya dan dia sudah menjelaskan semuanya," ucap Richard.
"Percayalah pada kakak mu ini, tidak akan terjadi apapun pada kalian," ucap Richard lagi, seraya menatap Kanaya.
"Apakah dengan kamu pergi, masalah mu akan selesai Nay?" tanya Richard.
"Dengan kamu melarikan diri, masalah tidak akan selesai juga bukan?" ucap Richard lagi.
"Benar apa yang dikatakan kakak mu Nay, dan jangan coba-coba kamu pergi lagi," ucap Mommy Lingga dengan nada tegas.
"Entahlah akan aku pikirkan lagi mom," ucap Kanaya.
"Mam aku tidak ingi pergi dari sini," ucap Gerald, Seraya menghampiri maminya lalu duduk di samping maminya.
"Please mam," ucap Gerald menatap sendu maminya.
"Kamu yakin ini yang kamu inginkan?" tanya Kanaya.
"Dan apakah kamu mau mengatakan pada mami apa yang terjadi pada mu akhir-akhir ini?" tanya Kanaya, seraya menatap Gerald dengan tatapan lembut seorang ibu.
"Katakan apa yang terjadi," ucap Kanaya sekali lagi pada Gerald.
"Berjanjilah pada ku mami tidak akan melakukan apapun pada mereka," ucap Gerald. kemudian menatap Oma, Opa dan uncle nya dengan tatapan memohon.
__ADS_1
"Oke, kami berjanji," ucap mereka bersamaan.