
Setelah kejadian di taman itu Edward benar-benar membuktikan perkataannya. siang malam tanpa mengenal waktu, dia bekerja berusaha memulihkan keadaan perusahaannya yang hampir bangkrut, tanpa sedikit pun kata lelah Edward pun berusaha mencari investor yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya. walau tak semudah yang dibayangkan tetapi Edward terus berusaha. Waktu pun terus berjalan, tak terasa 6 bulan berlalu.
Sementara itu Kanaya, yang tak pernah lagi ditemui oleh Edward menjalani hari-harinya bersama putranya dengan tenang dan damai. hingga suatu hari, ketenangannya kembali terusik dengan sebuah berita mengenai dirinya dan juga putranya.
"Sialan, siapa yang melakukan ini?" ucapnya dengan geram.
"i'm so lonely broke angel
"i'm so lonely listen to my heart
Nada dering ponsel Kanaya berbunyi. dengan cepat Kanaya mengangkat telponnya.
"Hallo," ucap Kanaya.
"Hallo Nay," jawab si penelpon. ternyata Cintya yang menelpon.
”Kamu udah lihat berita di majalah Nay?" tanya Cintya.
"Udah cin, selidiki siapa yang menyebarkan berita itu dan ambil alih semua berita di majalah, cari sumbernya dan juga aku ingin pemilik majalah tersebut gulung tikar, jangan sampai Putra ku mengetahuinya,"ucap Kanaya. seraya menutup telponnya.
Tak lama kemudian Daddy Ded dan juga mommy Lingga memasuki kamar Kanaya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Nay kamu gak apa-apa nak?" tanya mommy Lingga.
"Gak mom," Jawab Kanaya.
Daddy Ded menatap wajah Kanaya penuh selidik.
"Kamu yakin kamu gak apa-apa?" tanya Daddy Ded.
"Gak kok Dad," jawab Kanaya menyembunyikan perasaannya ada Daddy dan mommy nya.
Tak lama kemudian Handphone Daddy Ded pun berdering, Daddy Ded melihat penelpon tersebut dan mengangkatnya.
"Hallo," ucap Daddy Ded.
"Hallo tuan, kami sudah melakukan apa yang tuan minta, dan majalah tersebut telah kami tarik dari peredaran dan saat ini kami pun sudah menutup perusahaan penerbit majalah tersebut," ucap si penelpon.
"Bagus, pastikan pelakunya di temukan dalam waktu 24 jam, aku sudah harus mendapatkan kabar baik," ucap Daddy Ded dengan dingin dan tajam, kemudian tanpa menunggu jawaban dari si penelpon, Daddy Ded pun menutup telponnya.
"Tidak akan ada yang bisa menganggu putri ku, siapapun menganggu ketenangannya maka akan berhadapan dengan ku, Deddy Bimantara," ucapnya dalam hati, seraya menyeringai, bak singa lapar yang siap menerkam mangsanya. Mommy Lingga dan Kanaya yang menyaksikan itu bergidik ngeri menatap Daddy Ded.
"I'm so lonely broken angel
"i'm so lonely listen to my heart
Nada dering ponsel Kanaya berbunyi.
"Hallo Cin," ucap Kanaya.
"Hallo Nay, aku tidak perlu melakukan apapun sekarang bukan?" tanya Cintya.
"Ada yang perlu kamu ketahui Nay," ucap Cintya.
"Sekarang aku diperjalanan menuju mansion mu," ucap Cintya.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Kanaya.
"Ada apa Nay?" tanya Daddy Ded.
"Entahlah Dad," ucap Kanaya.
Tak lama kemudian Bi Wati mengetuk pintu kamar Kanaya yang terbuka.
"Permisi tuan, nyonya, ada nona Cintya mencari nona Kanaya," ucap BI Wati.
"Makasih Bi," ucap Kanaya kemudian bangkit berdiri dari sofanya dan berjalan keluar kamarnya menuruni anak tangga, menuju ruang tamu. Di ruang tamu Cintya duduk di sofa dengan gelisah.
"Ada apa cin?" tanya Kanaya seraya duduk disofa sebelah Cintya. Daddy Ded dan mommy Lingga yang penasaran melihat wajah Cintya mengikuti Kanaya duduk di sofa berhadapan dengan Cintya.
"Eden telah keluar dari penjara, orang tuanya yang menjaminnya sehingga bisa bebas," ucap Cintya.
"Ohh," ucap Kanaya.
"Kamu gak akan bisa bilang oh, jika kamu mengetahui semuanya," ucap Cintya menatap wajah Kanaya.
"Kau tahu bukan nama Eden?" tanya Cintya.
"Ya, Eden Wijaya Kusuma, Keponakan dari Putra Kusuma paman yang dibanggakannya itu," ucap Kanaya.
"Ya dan Kau ingat James?" tanya Cintya.
"Ya si James Lawrence pria bajingan itu," ucap Kanaya.
"Astaga kau sangat berbelit-belit, katakan pada ku inti masalahnya," ucap Kanaya seraya menatap tajam Cintya.
"What? bagaimana bisa si Eden dan si James sepupu?" tanya Kanaya.
"Ibu James memiliki darah Indonesia. nama sebenarnya adalah Michell Wijaya Lawrence, tapi semenjak menikah dengan Mich Lawrence nama Wijaya dihilangkannya. Sedangkan nama nenek James adalah Ratri Wijaya, saudara dari nenek Eden yang bernama Sisil Wijaya," ucap Cintya.
"Sitt, kenapa dunia ini sangat sempit," ucap Kanaya.
"Ya betul sekali Nay," ucap Cintya.
"Dan ketiga sepupu itu memiliki masalah yang sama dengan mu," ucap Cintya lagi.
"Apakah Daddy tidak salah dengar? Mich Lawrence yang kalian perbincangkan itu bukankah seorang pengusaha ternama di Perancis dan 3 setengah tahun yang lalu dia mengalami kebangkrutan, menurut rumor yang beredar kebangkrutan mereka disebabkan oleh cinta anaknya yang ditolak oleh seorang wanita perancang busana kalangan menengah," ucap Daddy Ded.
"Hah..!" perancang busana kalangan menengah," ucap Cintya kemudian sontak tertawa. melihat Cintya Tertawa Daddy Ded dan mommy Lingga menatap Cintya dengan penuh tanda tanya.
"Perancang Busana kalangan menengah yang om katakan itu adalah putri om sendiri," ucap Cintya.
"Maksud kamu?" tanya Daddy Ded. Kemudian jarinya telunjuknya menunjuk Kanaya.
"Iya benar om, putri om," ucap Cintya. kemudian Cintya pun menceritakan kejadian James dan Kanaya beberapa tahun yang lalu.
Daddy Ded yang mendengar cerita dari Cintya tentang putrinya itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya lalu berkata.
"Berani benar mereka mengatakan putri ku perancang busana kelas menengah," ucap Daddy Ded. seraya menatap Kanaya kemudian berkata lagi.
"Kamu pantas melakukan itu pada mereka karena mereka telah menghina kamu dengan mengatakan perancang busana kelas menengah." ucap Daddy Ded. Mommy Lingga yang mendengar perkataan Suaminya hanya bisa menepuk keningnya seraya menggelengkan kepalanya. Dan berkata.
__ADS_1
"Dad, bercanda itu ada waktunya," ucap Mommy Lingga seraya mencubit lengan Suaminya.
"Aww.., sakit mom," ucap Daddy Ded. seraya mendelik pada mommy Lingga.
"Rasain, orang lagi serius malah becanda Mulu kerjaannya," ucap Mommy Lingga seraya melototkan matanya pada Daddy Ded.
"Mommy mau Daddy cepet tua gara-gara terlalu serius," ucap Daddy Ded.
"Yeyyy, emang udah tua juga," ucap Mommy Lingga.
"Siapa bilang udah tua, umur masih 17 tahun juga," ucap Daddy Ded seraya tersenyum menggoda.
"Astagaaaa," seru Mommy Lingga seraya memegang kening Daddy Ded kemudian berkata.
"Gak panas tuh, normal-normal aja," ucap Mommy Lingga.
Cintya hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua orang tua Kanaya.
"Selidiki saja mereka, sudah ku bilang sejak awal aku memiliki perasaan yang tidak baik pada Eden itu," ucap Kanaya.
"Kamu benar Nay," ucap Cintya.
"Dan semoga saja hasilnya tidak berhubungan dengan keluarga Kusuma itu, jika sampai itu terjadi entah apa yang akan terjadi," ucap Cintya dalam hatinya.
"Walaupun Keluarga Kusuma mengalami keterpurukan tetapi rumor mengatakan bahwa mereka berangsur memulih, entah siapa yang membantu mereka, dan aku berharap keluarga Bimantara tak mengetahuinya, kasian Gerald jika hidup dalam dendam keluarga, yang tak berkesudahan," ucap Cintya lagi dalam hatinya.
Kemudian Cintya teringat akan pembicaraannya dengan Gerald yang membuat Cintya merasa iba dan kasihan pada Gerald. Lalu Cintya pun menatap wajah Kanaya dan juga kedua orang tua Kanaya. lalu kembali menatap Kanaya, sahabatnya sekaligus bosnya itu, di wajah Kanaya terlihat suatu rasa yang masih dipendamnya.
Sementara itu Kanaya menghela nafas panjang kemudian bangkit berdiri dari sofanya, melangkahkan kaki menuju taman belakang mansion kedua orang tuanya. lalu dia pun duduk di kursi taman tatapan matanya lurus kedepan. Cintya yang melihat Kanaya pergi ke taman belakang mansion mengikutinya dan benar saja dugaannya Kanaya duduk sendiri termenung seolah merasakan beban yang sangat berat.
"Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang tidak baik, suatu firasat yang membuat ku ketakutan, entah perasaan apa ini ucapnya dalam hati.
"Kenapa Nay?" tanya Cintya. seraya duduk di samping Kanaya.
"Entahlah Cin, aku merasakan sesuatu akan terjadi pada putra ku," ucap Kanaya.
"Sepertinya seseorang sedang memata-matai ku," ucap Kanaya lagi.
"Dari mana mereka tahu tentang ku dan juga Gerald putra ku?" ucap Kanaya lagi.
"Tenanglah Nay, tidak akan terjadi apapun pada Gerald," ucap Cintya.
"Daddy mu sudah menutup perusahaan majalah itu dan juga telah menarik seluruh peredaran majalah tentang kalian," ucap Cintya.
"Tidak hanya itu saja Cin, entahlah aku seperti merasakan sesuatu yang sulit aku katakan," ucap Kanaya. Seraya merebahkan kepalanya pada bahu Cintya.
"Sepertinya aku dan Gerald harus kembali ke perancis atau mungkin ke negara lain," ucap Kanaya.
"Kamu salah Nay, kamu tidak mungkin selamanya bersembunyi, apapun yang terjadi nanti, kamu harus berani menghadapinya, Jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh orang lain," ucap Cintya
"Yang menjalani semuanya adalah kamu bukan mereka," ucap Cintya lagi.
"Ya kamu benar Cin." ucap Kanaya.
"Semuanya menjadi sangat rumit buat ku," ucap Kanaya lagi seraya menghela nafas panjang kemudian memejamkan matanya.
__ADS_1