
"Bukankah kau mengatakan kita akan pergi kesuatu tempat?" tanya Kanaya pada Edward, setelah mereka berada dalam mobil.
"Aku berubah pikiran, nanti saja kita kesana,"ucap Edward seraya tersenyum penuh arti.
"Oh," ucap Kanaya ber oh ria.
Kemudian menyandarkan tubuhnya. sementara itu Gerald yang duduk dibelakang bertanya pada Papinya.
"Emang mau kemana Pi?"
"Ada deh," ucap Edward.
"Main rahasia-rahasian kayak anak kecil aja main petak umpet," ucap Gerald seraya mencibirkan bibirnya kearah Papinya.
"Biarin lah, sekali-kali gak apa kan," ucap Edward.
"Ya udah," ucap Gerald seraya mendelikkan matanya kearah Papinya.
Edward hanya tersenyum menanggapi kejutekan putranya. Tak lama kemudian mobil Edward pun memasuki mansion Bimantara sesampainya di halaman mansion Mereka bertiga pun membuka pintu lalu keluar dari mobil, berjalan memasuki mansion. Didalam mansion mereka pun di sambut oleh Papi Edward dan Juga Mami Edward yang sengaja datang berkunjung.
"Opa, Oma," ucap Gerald kemudian mengulurkan tangannya, pada Opa dan Omanya lalu mencium tangan mereka. Tak lama kemudian Mommy Lingga memasuki ruang tamu.
"Kamu kok baru pulang nak?" tanya Mommy Lingga, seraya mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Iya Oma," ucap Gerald dengan wajah cemberut seraya mengulurkan tangannya, dan mencium tangan Omanya.
"Loh mukanya kok di tekuk gitu?" tanya Mommy Lingga.
"Oma, bisa gak patung berjalan Oma jangan ngikutin Gerald terus?" tanya Gerald dengan nada sewot.
"Patung berjalan?" tanya Mommy Lingga. seraya menatap Cucunya dengan penuh tanda tanya.
"Iya patung berjalan, mereka itu nakutin temen aku Oma," ucap Gerald.
"Maksudnya Patung berjalan itu apa sih?" tanya Mommy Lingga.
"Nay, Edward," ucap Mommy Lingga seraya menatap Edward dan Kanaya yang duduk bersebelahan di sofa.
"Pengawal Mommy," ucap Kanaya.
"Ohh, loh mereka kok di bilangin Patung berjalan sih?" tanya Mommy Lingga pada Gerald seraya menatap cucunya.
"Apalagi namanya Oma kalau bukan patung berjalan, mereka berdiri kayak patung didepan kelas aku, kemana-mana aku pergi mereka ngikutin, aku main ngikutin, berdiri dibelakang aku kayak patung, hadeuhhhh, udah kayak dipenjara aja aku Omaaaa," ucap Gerald seraya mencibirkan bibirnya pada Omanya.
"Itu kan tugas mereka," ucap Mommy Lingga.
"Gak perlu juga kayak gitu Oma," ucap Gerald.
"Ya udah nanti Oma bicarakan sama Opa Kamu nak," ucap Omanya.
"Bener ya Oma," ucap Gerald.
"Iya bener," ucap Omanya
"Ya udah kamu makan dulu sana," ucap Omanya.
"Aku udah makan bareng Mami, Papi," ucap Gerald.
"Oh, ya udah ganti baju gih," ucap Mommy Lingga.
__ADS_1
"Oke Oma," ucap Gerald. kemudian bangkit berdiri berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Gerald jangan lari-lari, nanti kamu jatuh," seru Kanaya.
"Its ok mam, gak akan jatuh," ucap Gerald.
Semua yang ada di ruang tamu hanya tersenyum melihat Gerald yang berlarian menaiki anak tangga. kemudian Mami Edward berkata
"Ini daftar tamu yang akan kita undang ke pernikahan kalian."
"Dan untuk besok, kita udah persiapin semuanya," ucap Mami Edward seraya menatap wajah Kanaya.
"Aku ikut aja," ucap Kanaya.
"Oke kalau gitu," ucap Mami Edward.
"I'm so lonely broken angel
"I'm so lonely listen to my heart
Nada dering ponsel Kanaya berbunyi, Kanaya mengambil handphonenya dari tas salempangnya lalu melihat identitas penelpon, ternyata Cintya menghubunginya.
"Hallo cin," sapa Kanaya.
"Hallo Nay, kamu dimana?" tanya Cintya.
"Di mansion, kenapa?" tanya Kanaya.
"Aku otw mansion mu," ucap Cintya kemudian mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Kanaya.
"Aneh," ucap Kanaya seraya memperhatikan ponselnya.
"Kenapa Nay?" tanya Edward.
"Tidak seperti biasanya," ucapnya lagi.
"Mungkin dia sedang terburu-buru," ucap Edward seraya menatap Kanaya yang masih termenung menatap ponselnya.
"Perasaan ku jadi tidak enak," ucap Kanaya kembali.
"Itu hanya perasaan mu saja sayang," ucap Edward seraya tersenyum membelai kepala Kanaya.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti lalu muncullah Cintya, berlari menghampiri mereka.
"Astaga apakah kalian tidak bisa memperkecil mansion ini sehingga jarak antara pintu mansion dan ruang tamu ini tidak jauh," ucap Cintya seraya mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena berlari menghampiri Kanaya.
"Astaga, kamu kenapa sih Cin? siapa juga yang nyuruh kamu berlari-lari kayak gitu kayak di kejar setan aja," ucap Kanaya menatap heran Cintya
"Iya Nay, aku di kejar setan, setan yang tak tau diri dan jika aku melihatnya aku akan mematahkan lehernya hingga tak bernyawa lagi," ucap Cintya, terlihat amarah di wajahnya.
Kanaya yang melihat dan mengetahui benar bagaimana Cintya, menatap wajahnya dan bertanya dengan nada dingin.
"Ada apa, Jelaskan?"
"Nih," ucap Cintya seraya menyerahkan sebuah majalah dan juga Surat kabar, lalu duduk disofa matanya tak lepas menatap wajah Kanaya.
"Sial, mereka melakukannya lagi," ucap Kanaya seraya memejamkan matanya.
Edward yang mendengar perkataan Kanaya mengambil majalah dan juga surat kabar dari tangan Kanaya, lalu membacanya, tangannya meremas majalah dan koran tersebut, kedua matanya tajam dan nyalang, giginya bergemeletuk. Papi Edward dan Juga Mami Edward, serta Mommy Lingga menatap heran wajah Edward. Lalu Papi Edward mengambil Majalah dan Koran yang di remas oleh Edward, kedua matanya terbelalak melihat Foto Kanaya dan Gerald.
__ADS_1
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Papi Edward geram. Mommy Lingga yang dipenuhi tanda tanya mengambil tabloid dan juga surat kabar tersebut, lalu matanya terbelalak, tangannya gemetar menatap foto Kanaya dan Gerald, lalu Mommy Lingga pun jatuh terduduk, tangannya mengambil handphone yang ada di di atas meja, lalu menghubungi Daddy Ded, dan Richard.
"Kami di depan pintu mansion mom," ucap Daddy Ded. Tak lama kemudian mereka pun sampai di ruang tamu dan duduk disebelah Mommy Lingga.
"Bagaimana ini Dad?" tanya Mommy Lingga.
"Tenang mom, Daddy sudah menyuruh orang-orang Daddy untuk menarik semua berita itu," ucap Daddy Ded.
"Cin, selidiki James dan semua sepak terjangnya aku curiga semua yang terjadi disebabkan oleh lelaki sialan itu," ucap Kanaya.
"Kakak sedang mengawasinya dan menurut Kakak bukan mereka pelakunya," ucap Richard.
"Dan aku curiga ini berhubungan dengan masa lalu mu Nay, maaf jika aku mengingatkan masa lalu mu yang buruk," ucap Cintya seraya menghela nafas panjang.
"Apa maksud mu cin?" tanya Kanaya.
"Aku mencurigai sesuatu," ucap Cintya.
"Apa itu?" tanya Kanaya, kemudian menatap tajam Cintya.
"Aku belum bisa mengatakannya jika aku belum mengetahui kebenarannya," ucap Cintya seraya menghela nafas panjang.
"Dad jangan menarik berita tentang ku dan Gerald dari majalah dan surat kabar itu," ucap Kanaya.
"Nay kamu gila ya," ucap Richard.
"Aku tidak gila kak saat pertama berita itu muncul aku yakin ini akan terjadi lagi, dan terus akan terjadi sampai mereka puas dan merasa menang," ucap Kanaya dingin seraya menatap wajah kakaknya Richard, lalu berkata lagi.
"Aku mengambil Resiko ini untuk mengetahui siapa dalangnya, Jika itu berhubungan dengan masa lalu ku berarti dia sangat mengenal ku dan mengetahui masa lalu ku, selama ini tidak ada yang mengetahui bahwa aku adalah Kanaya Bimantara dan Gerald adalah putra ku, aku selalu menutupi identitas ku dan juga identitas Putra ku," ucap Kanaya.
"Dan yang membuat ku bertanya-tanya bagaimana mereka mengetahui bahwa putra ku adalah Gerald, aku yakin mereka mengikuti ku kami tanpa kami sadari," ucapnya lagi.
"Apakah kau tahu bahayanya?" tanya Daddy Ded.
"Aku tahu Dad, aku sudah memikirkannya," ucap Kanaya.
"Bagaimana dengan Gerald nak?" tanya Mommy Lingga.
"Gerald akan mengerti mom, dan untuk sementara waktu aku tidak mengijinkan anak ku keluar dari mansion ini, dan untuk sekolahnya dia akan homeschooling," ucap Kanaya.
"Aku tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk mencari siapa pelakunya, dengan cara ini pelakunya akan muncul dengan sendirinya," ucap Kanaya.
"Cin, kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" tanya Kanaya.
"Yes," ucap Cintya seraya menatap Kanaya kemudian menyeringai licik, Richard yang melihat seringai itu, bergidik ngeri dalam benaknya berkata.
"Astaga si bocah tua itu benar."
"Akan banyak reporter nantinya yang akan datang, aku minta maaf jika aku akan membuat kalian malu dengan pemberitaan yang akan menghebohkan keluarga kita," ucap Kanaya seraya tersenyum sendu menatap kedua orang tuanya.
"Daddy sudah mengatakan pada mu Nay, jangan pernah mengatakan itu lagi," ucap Daddy Ded dengan nada tegas.
Kanaya hanya tersenyum sendu menatap kedua orang tuanya.
Kemudian bangkit berdiri dan duduk ditengah-tengah Daddy dan mommy nya kemudian memeluk mereka berdua dan merebahkan kepalanya di pundak Daddy nya, Mommy Lingga menatap Wajah putrinya, dan mengelus lembut kepala Kanaya.
"Apakah kamu baik-baik saja nak?" tanya Mommy Lingga.
"I'm ok mom," ucap Kanaya seraya memejamkan matanya.
__ADS_1
Edward yang melihat Kanaya menatapnya sendu, menyesali semua perbuatannya dan ketidak berdayaannya dalam mencari Kanaya, sehingga bisa terjadi seperti ini. Seandainya saat itu dia menemukan peri kecilnya itu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini dan mungkin saat ini mereka sudah berbahagia tanpa ada masalah yang menimpa Kanaya dan putranya Gerald.
Dan sekarang semua sudah terlanjur penyesalan pun tak akan mungkin mengembalikan waktu yang lalu, banyak kata seandainya. Seandainya saat itu dia tidak mengusir Kanaya dan memilih jalan lain, seandainya dan seandainya, tetapi kata seandainya itu tak mungkin ada karena seandainya adalah sebuah kalimat yang mengandung arti ketidak pastian dan semua tak akan bisa di ulang kembali, dan saat ini dia hanya bisa memperbaiki semua yang telah terjadi, semua yang telah di rusaknya. Kemudian Edward menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Pikirannya berkecamuk, lalu menatap kembali wajah Kanaya yang masih menyandarkan kepalanya pada bahu Daddy nya seolah-olah meminta perlindungan.