Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 67. Jauhkan Tangan Mu


__ADS_3

Kanaya menatap bunga mawar merah yang mekar di taman Restaurant, saat ini Kanaya berada di sebuah restaurant, tak jauh dari perusahaannya. Setelah meninggalkan ruangannya dan juga perusahaannya Kanaya berjalan kaki menuju restaurant yang tak jauh dari perusahaannya itu, dan saat ini dia duduk seorang diri menatap bunga mawar merah hati yang sedang mekar itu lalu tersenyum.


"Bunga yang cantik,"ucapnya. lalu mengalihkan pandangannya saat seorang pelayan restaurant menyapanya.


"Permisi nona, pesanan anda," seraya meletakkan Roti panggang dan juga juice orange.


"Silahkan nona,"ucap pelayan restaurant.


"Makasih mbak,"ucap Kanaya.


"Sama-sama nona, saya permisi,"ucap Pelayan tersebut dengan nada sopan, kemudian berjalan meninggalkan Kanaya.


sepeninggal Pelayan Restaurant itu Kanaya pun mengaduk Juice dalam gelas menggunakan Sedotannya lalu meminum Juice tersebut. sambil mengaduk aduk juice tersebut Kanaya tersenyum mengingat kakaknya dan juga sahabatnya.


"Mereka benar-benar aneh,"ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.


"Wahh senyum mu itu sangat cantik,"ucap sebuah suara bariton. Mendengar suara itu Kanaya mengangkat wajahnya menatap pria yang berdiri di depannya.


"Oh kamu,"ucap Kanaya seraya tersenyum mengejek.


"Bukan sambutan yang baik,"ucap pria itu.


"Eden, si keponakan tuan Kusuma,"ucap Kanaya.


"Ya, Kau masih mengingat ku rupanya, ngomong-ngomong pemberitaan mu dan Edward sangat heboh dan mengguncangkan jagat raya ini, hahahaha,"ucap Eden seraya tertawa, lalu duduk di sebuah kursi kosong di depan Kanaya.


Kanaya hanya menggendikkan bahunya tak acuh, lalu mengambil roti bakar dari piringnya dan menyuapkan pada bibirnya yang mungil.


"Apakah kau se cuek ini pada setiap pria?"tanya Eden.


"Tergantung,"ucap Kanaya sinis.


"Tergantung?"tanya Eden. Lalu berkata lagi.


"Oh ya aku mengerti tergantung dengan siapa kamu berbicara, itu wajar karena ternyata masa lalu mu itu,"ucap Eden menjeda perkataannya lalu berbicara lagi.


"Masa lalu yang pahit karena menjadi korban pria brengsek.

__ADS_1


"Apakah itu benar?"tanya Eden.


"Bukan urusan mu,"ucap Kanaya.


"Lebih baik kau pergi dari sini, kau merusak mood ku saja,"ucap Kanaya dengan nada dingin. Eden yang mendengar perkataan Kanaya hanya tersenyum sinis, menatap Kanaya.


"Aku bukan Edward yang bisa kau perlakukan kasar seperti itu,"ucap Eden seraya menatap tajam Kanaya.


"Dan aku bukan perempuan bodoh yang mau berbicara dengan pria seperti mu,"ucap Kanaya seraya membuka dompetnya, mengambil uang merah dua Lembar dan meletakkannya di bawah gelas orange juice. lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Eden, tetapi langkahnya tertahan ketika tangan Eden memegang tangannya dan menariknya.


"Lepaskan,"ucap Kanaya dingin dan tajam, menatap tangan Eden, lalu menatap wajah Eden.


"Tidak, duduk disini dan temani aku minum kopi,"ucap Eden seraya menatap wajah Kanaya dengan senyum menggoda terulas di bibirnya.


"Aku bukan perempuan bodoh yang tergoda oleh senyum mu itu,"Ucap Kanaya seraya menghempaskan tangan Eden.


"Kau tidak bisa lepas dari ku,"ucap Eden seraya mengeratkan pegangannya pada tangan Kanaya.


"Dan kau pikir aku tidak bisa melepaskan tangan mu itu?"tanya Kanaya tajam seraya tersenyum sinis dengan senyuman yang dipenuhi dengan cemoohan.


"Aku bukan wanita lemah seperti wanita di luar sana,"ucap Kanaya lalu melangkahkan kakinya berlalu meninggalkan Eden.


"Kau wanita lemah Kanaya Bimantara, dan kau terlalu bodoh sehingga tak mampu menghindari Edward, jika kau tidak lemah kau tidak akan terlalu bodoh percaya padanya dan juga mau menikah dengannya,"ucap Eden.


Mendengar perkataan Eden, Kanaya membalikkan tubuhnya dan bersedekap lalu berkata.


"Setidaknya dia lebih gentle dibandingkan pria seperti mu yang hanya mampu mengandalkan nama Kusuma saja,"ucap Kanaya dingin.


"Hahahahaa, kau tidak tahu siapa aku Kanaya,"ucap Eden seraya bangkit berdiri lalu berjalan menghampiri Kanaya dan berkata lagi.


"Apakah karena Edward hebat di ranjang sehingga kau mau menikahinya?"tanya Edward dengan nada mencemooh.


"Jika aku katakan iya, apa yang akan kau katakan?"tanya Kanaya tatapannya yang dingin menatap tajam kedua mata Eden.


"Heh, sehebat apapun Edward tetap kalah dari ku,"ucapnya seraya mengulurkan tangannya ingin menyentuh wajah Kanaya.


"Jauhkan tangan mu, jika tangan mu menyentuh wajah ku maka kau akan tahu akibatnya,"ucap Kanaya.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan?"tanya Eden semakin berani lalu tangannya menyentuh wajah Kanaya, tetapi sebelum menyentuhnya, Kanya telah memegang tangannya, seraya menatap tajam wajah Eden, kedua matanya nyalang lalu berkata.


"Bukankah aku sudah mengingatkan untuk menjauhkan tangan mu dari wajah ku,"ucap Kanaya, lalu dengan keras Kanya meremas jari-jemari Eden, menekannya dan terdengarlah teriakan Eden.


"Ahhhhh, lepaskan Kanaya, jari ku bisa patah jika kau menekan seperti ini,"seru Eden. mendengar perkataan Eden Kanaya semakin menekannya kebelakang.


"Sudah ku peringatkan Jangan pernah berani menyentuhku,"ucap Kanaya dingin.


"Kenapa?"tanya Eden


"Aku bisa lebih dari Edward dan membuat mu tak tidur semalaman,"ucap Eden lalu tangan kirinya, berusaha meraih tubuh Kanaya, sebelum tangan Eden menyentuhnya dengan cekatan Kanaya memelintir tangan Eden.


"Ahhh.. kau..!" seru Eden.


"Aku sudah bilang jangan berani kau menyentuh ku,"ucap Kanaya dengan penuh amarah.


"Brengsek kau Kanaya,"ucap Eden Dengan penuh amarah.


"Dasar pria lemah,"ucap Kanaya lalu mendorong Eden sehingga tersungkur pada meja dan kursi.


"Aku peringatkan kau, jangan pernah sekali pun membuat ku marah,"ucap Kanaya dingin dan tajam.


"Cihhh, wanita murahan seperti mu sangat mudah aku dapatkan,"ucap Eden seraya meludah ketanah, harga dirinya sebagai laki-laki merasa terinjak-injak oleh Kanaya.


Mendengar perkataan Eden, Kanaya menolehkan wajahnya dan berjalan menghampiri Eden lalu menarik kerah baju Eden, kemudian menyeretnya dan menghempaskannya ke lantai ubin restaurant, dengan sangat geram Kanaya menginjak perut Eden dan berkata.


"Apakah tidak salah kau bicara? kau mengatakan ku murahan hah..!seru Kanaya, murahan adalah kau Eden Kusuma, pria yang selalu celup san dan celup sini hanya karena apa? Seru Kanaya, seraya tersenyum mengejek dan mencemooh.


"Hanya karena kau merasa kaya dan tampan, tetapi sebenarnya kau adalah pria miskin yang buruk rupa, wajah mu yang kau anggap tampan itu menjadi murahan karena kelakuan mu sendiri,"ucap Kanaya.


Kemudian melepaskan kakinya dari atas perut Eden dan menendang Eden. Lalu berkata lagi.


"Jangan pernah kau menampakkan wajah mu di depan ku,",ucap Kanaya seraya melangkahkan kakinya keluar dari restaurant tersebut meninggalkan Eden yang berusaha bangkit berdiri.


"Akan ku pastikan, kau akan menjadi milik ku, semakin kau bersikap arogan dan brutal pada ku, semakin aku penasaran pada mu dan semakin bergairah pada mu, hahahahhaa,"ucap Eden seraya tertawa, lalu memegang perutnya dan pinggangnya.


"Sialan wanita itu seperti Samson, pinggang ku serasa ingin patah dan perut ku sakit akibat kakinya itu,"ucapnya geram, lalu dengan susah payah menahan sakit dipinggangnya dia pun menegakkan tubuhnya. lalu berjalan keluar dari restaurant tersebut. sementara itu semua pengunjung yang melihat kejadian Kanaya dan Eden, berseru mencemooh Eden, dan memuji serta berdecak kagum pada Kanaya yang berani melawan dan membuat Eden jatuh tersungkur di lantai ubin restaurant.

__ADS_1


__ADS_2