Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab. 14 Kemarahan Kanaya pada Edward


__ADS_3

Minggu pagi yang indah, Kanaya bangun dan segera mempersiapkan diri untuk berlari santai sekitar kompleknya,dengan mengenakan pakaian olah raganya Kanaya berjalan menuju kamar Gerald, kemudian memasuki kamar putranya.


"Udah Siap nak?" tanya Kanaya.


"Iya mom," jawab Gerald.


"Ok.. let's go." ucap Kanaya. kemudian ibu dan anak pun berjalan saling bergandengan tangan menuruni anak tangga.


"Kalian mau kemana?" tanya Richard yang saat itu sudah bangun dan juga memakai pakaian training.


"Olah raga uncle," ucap Gerald.


"Uncle juga ikut," ucap Richard.


Kemudian mereka bertiga berjalan keluar, langkah mereka terhenti ketika melihat sosok pria yang berada di depan pintu, Edward pagi-pagi telah datang mengunjungi mansion BIMANTARA.


"Wahh, pucuk dicinta ulam pun tiba," ucap Richard kemudian menghampiri pria tersebut dan menghajarnya tanpa berpikir panjang. Edward pun hanya diam menerima pukulan demi pukulan hingga sebuah suara berteriak.


"Richard stop," ucap Mommy Lingga.


"Dia tak bisa diampuni mom," ucap Richard.


"Mommy benar stop, apakah kau tidak lihat putra ku disini," ucap Kanaya dengan dingin.


"Its ok mam, aku tahu siapa pria itu," ucap Gerald seraya menatap tajam pria yang ada dihadapannya.


Kanaya, Richard dan juga mommy Lingga terpaku mendengar jawaban Gerald.


"Gerald masuklah," ucap Kanaya.


"Ok mam," ucap Gerald patuh, kemudian melangkah kakinya berlalu meninggalkan para orang dewasa itu.


"Maaf aku datang di pagi buta seperti ini, tapi apakah boleh aku masuk sebentar saja," ucap Edward.

__ADS_1


Richard menatap Edward dengan tajam.


"Kau tidak berhak masuk, ke mansion ini, pergilah sebelum aku mematahkan leher mu," Ucap Richard.


"Dan tunggulah apa yang akan kau dapatkan dari semua perbuatan mu terhadap adik ku," ucap Richard lagi.


Kanaya hanya diam melihat Kakaknya dan dia pun berlalu melewati Edward, berjalan keluar dari mansion dan berlari pagi dengan acuhnya tanpa menghiraukan Edward dan Richard, serta Mommy Lingga yang terheran melihat keacuhan dan kedinginan Kanaya.


"Sepertinya dunia ini sangat sempit," ucap Kanaya seraya terus berlari kecil mengitari komplek tak lama kemudian larinya pun dipercepat dan sangat cepat.


"Ahhhhhh, teriak Kanaya, menghilangkan segala sesak yang ada di dalam dadanya. teringat kembali masa dimana pria itu mencaci dan menghinanya, mempermalukannya, kemudian Kanaya membalikkan tubuhnya dan berlari sekencang mungkin menuju mansion kedua orang tuannya dengan emosi yang sudah di ubun-ubun kepalanya dia pun menghampiri Edward yang sedang berbicara pada kakak dan kedua orang tuanya, dengan sekuat tenaga Kanaya menarik kerah baju Edward dan memberikan pukulan bertubi-tubi meluapkan segala kemarahan akan masa lalunya yang kelam, dengan sekali hentakan Kanaya melemparkan tubuh Edward, sehingga Edward pun terlempar dan jatuh tersungkur di lantai dingin mansion. Daddy Ded, mommy Lingga dan Richard yang menyaksikan kemarahan Kanaya ternganga kaget.


"Astaga apakah putri ku telah berubah menjadi Xena? ucap mommy Lingga dalam hatinya.


Sedangkan Daddy Ded yang telah melihat video rekaman yang diberikan oleh Richard hanya melototkan matanya meneliti setiap gerakan Kanaya.


"Wahhh.. sepertinya ada gerakan yang kurang sempurna tetapi cukup mumpuni juga, aku harus mengajarkannya gerakan yang lebih sempurna lagi, heheheee," ucap Daddy Ded seraya tertawa kecil dalam hatinya.


sementara itu Richard hanya menatap kemarahan adiknya yang sedang memukuli Edward.


"Bangun kau brengsek," ucap Kanaya seraya menarik tubuh Edward dan menghempaskan ya kembali ke dinding tembok mansion.


Edward hanya diam menatap Kanaya yang sedang dalam keadaan emosi yang tak dapat dibendungnya lagi.


"Apakah mulut mu bisu hah?" tanya Kanaya dengan penuh amarah, tangannya memegang dagu Richard dengan kencang dan keras.


"Mana cacian mu dulu? dan untuk apa kau datang kesini?" jawab aku brengsek ucap Kanaya dengan penuh murka yang tak dapat di bendungnya lagi. kemudian dengan sekuat tenaga Kanaya menarik tangan Edward dan menyeretnya keluar dari mansion melemparkannya keluar, dengan nafas tersengal Kanaya berteriak.


"Pergi kau dan jangan menampakkan wajah mu lagi, kau tunggulah balasan dari semua perbuatan mu," ucap Kanaya kemudian melangkahkan kakinya kedalam mansion dan mengambil handphonenya dari dalam saku celana olahraganya, menekan sebuah nomor telpon.


"Hallo," ucap penerima telpon.


"Apakah perusahaan kita melakukan hubungan kerjasama dengan perusahaan perusahaan Kusuma?" tanya Kanaya pada Cintya.

__ADS_1


"Tidak, karena aku tahu mereka penyebabnya kamu seperti ini Nay." ucap Cintya.


"Salah satu klien kita melakukan kerjasama dengan perusahaan Kusuma," ucap Cintya.


"Berikan kerjasama yang baru padanya, dengan syarat Dia harus memutuskan kontrak kerjasama dengan Edward Kusuma, kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" ucap Kanaya.


"Oke, akan aku lakukan," ucap Cintya.


Kemudian Kanaya menutup telponnya tangannya menggenggam erat handphonenya seolah-olah, meluapkan amarah pada Handphone tersebut, pandangan matanya nyalang menatap kedepan, seolah ingin menerkam mangsanya.


"Babak baru akan di mulai, dan kau akan merasakan bagaimana sakitnya hinaan mu pada ku," ucap Kanaya dengan seringai menyeramkan.


Daddy dan mommy serta Richard yang sedari tadi memperhatikan semua yang dilakukan Kanaya ternganga melihat mimik wajah Kanaya, Kanaya yang telah menghilang selama 10 tahun, telah berubah menjadi seorang wanita yang menyeramkan dengan mimik seperti itu, seketika ingatan Daddy Ded kembali ke masa lalu, masa dimana dia masih muda dulu.


"Apakah dia akan mengikuti jejak ku?" tanyanya dalam hati seraya menggendikkan bahunya dan menghampiri Kanaya putrinya.


"Apakah kau tidak apa-apa nak?" tanya Daddy Ded.


"Tidak," jawab Kanaya seraya menolehkan wajah nya pada Daddy Ded.


"Katakan pada ku apa yang kalian bicarakan dengan pria brengsek itu?" tanya Kanaya seraya menatap tajam kedua orang tuanya dan kakaknya.


"Kami memberikan kesempatan 5 menit untuk dia berbicara, dan sebelum dia berbicara kau sudah datang dan memukulinya," ucap Richard, seraya menatap adiknya.


"Dia bagian ku jangan ada yang ikut campur," ucap Kanaya dingin. sementara itu di balik sebuah tembok penghubung ruang tamu dan ruang keluarga, Gerald mendengar semua pembicaraan mereka.


"Kenapa mami sangat membencinya?" tanya Gerald dalam hatinya.


"Aku harus mencari tahu," ucapnya lagi kemudian dengan perlahan Gerald pun meninggalkan tempatnya menguping pembicaraan mereka dengan perlahan.


sementara itu Edward yang berada di halaman mansion keluarga Bimantara bangkit berdiri kemudian menggerakkan tubuhnya dan memegang bibirnya yang sobek akibat pukulan demi pukulan yang diterimanya dari kakak beradik itu.


"Sepertinya lebih baik aku pulang terlebih dahulu," ucap Edward, kemudian melangkah kakinya dengan tertatih sekujur tubuhnya terasa sakit, kaki dan tangannya serasa akan terlepas.

__ADS_1


"Astaga apakah perempuan itu Samson? pukulannya membuat ku tak berdaya dan dia bisa mengangkat tubuh ku yang besar ini dan menghempaskannya ke lantai dan melemparkan ku," ucap Edward seraya menggelengkan kepalanya seolah tak percaya kemudian memasuki mobilnya yang diparkir di depan gerbang mansion keluarga Bimantara.


__ADS_2