Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 95. Miss Key


__ADS_3

Jam 7 pagi di Perancis setelah sarapan pagi, Kanaya dan Edward serta Cintya telah bersiap berangkat ke perusahaan Kanaya.


"Gerald sama Bibi dulu ya,"ucap Kanaya pada putranya.


"Oke mam,"ucap Gerald.


Kemudian Kanaya dan Cintya serta Edward berjalan keluar dari rumah, menuju mobil yang telah di parkir di depan teras rumahnya, dimana sopir pribadinya telah menunggu mereka.


Sepanjang perjalanan, mereka terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lalu Edward melirik Kanaya yang duduk disebelahnya dan bertanya.


"Kamu kenapa yang, dari pagi diem Mulu?"


"nggak kok, nggak kenapa-kenapa cuma bingung aja siapa pengkhianat yang ada di perusahaan ku?"jawab Kanaya.


"Cepat atau lambat kamu akan tahu jawabannya,"jawab Edward. lalu berkata lagi.


"Dunia bisnis itu sangat kejam, meleng sedikit kecolongan,"ucap Edward lagi.


"Bener yang, selama ini laporan Mark baik-baik aja,"ucap Kanaya.


"Mark juga kecolongan, secara perusahaan kamu perusahaan besar dan kamu hanya memantau dari kejauhan bukan,"ucap Edward.


"Banyak yang terjadi pada perusahaan di Jakarta, dan sepertinya mereka mengambil kesempatan ketika aku tidak berada disini,"ucap Kanaya.


"Atau bisa saja mereka sudah menantikan ini sejak dulu, hanya menunggu waktu yang tepat saja,"ucap Cintya.


"Selama ini kita tidak pernah kecolongan seperti ini, apalagi sampai ada yang berani mencuri hasil dari desain mu Nay,"ucap Cinta.


Kemudian Cintya termenung lalu melanjutkan perkataannya.


"Dan anehnya hasil desain yang mereka curi adalah desain mu tahun lalu. Menurut ku itu sangat aneh dan sangat tanggung, kenapa mereka tidak mencuri desain yang saat ini sedang trending dan limited edition. Dari Desian itu kan mereka bisa mengeruk lebih banyak uang lagi kan?"


"Cintya benar,"ucap Edward.


"Aku semakin bingung,"ucap Kanaya.


"Kamu bingung karena masih pengen berlama-lama tuh sama Edward dikamar, hahahaaa,"ucap Cintya seraya tertawa lepas.


"Entar kamu juga rasain Cin,"ucap Kanaya.


"Bilang aja iri,"ucap Edward.


"Idihhh, siapa yang iri coba."ucap Cintya. seraya mendelikkan matanya pada Edward.


"Kamu belum ngalamin namanya surga dunia bukan?"tanya Edward.


Kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Cintya.


"Kau ini Edward,"seru Cintya.


"Cepetan suruh si Richard bawa kamu ke penghulu, kalau perlu Minggu depan,"ucap Edward lagi menggoda Cintya.


"Kalau besok gimana?"tanya Cintya seraya menaik turunkan kedua alisnya menggoda Edward.

__ADS_1


"Ini yang gatel siapa ya? kamu atau si Richard?"tanya Edward.


"Lah katanya sorga dunia?"tanya Cintya.


"Secara logika, mana ada yang nolak sorga duni,"ucap Cintya.


"Iya sorga dunia yang dahsyat, gempor-gempor deh loe hahahahaa,"ucap Kanaya seraya tertawa terbahak.


"Astaga Nay, kamu jadi ketularan gilanya sama laki kamu tuh si Edward,"ucap Cintya seraya menunjuk Edward menggunakan dagunya.


"Idihhh, iri bilang bos,"ucap Edward. Seraya mencium Pipi istrinya Kanaya.


"Siapa juga yang iri,"seru Cintya.


"Nggak enak kan jadi jomblo ngenes,"ucap Edward.


"Aishh..., catet ya aku bukan jomblo ngenes, tapi pacar ngenes, hahahahhaaaa,"ucap Cintya. Seraya tertawa lebar.


"Aishhhh, ada yang ngakuin dirinya sendiri pacar ngenes,"ucap Kanaya.


"Iyalah, secara gitu loh kakak mu, nggak ada romantisnya dikit pun,"ucap Cintya.


"Kasian deh loe,"ucap Edward.


"Lah kayak yang situ romantis aja, kamu sama Richard kan sama aja, nggak ada bedanya,"ucap Cintya.


"Beda dong,"ucap Edward.


"Bedanya apa coba?"tanya Cintya.


"Aishh kayak dirinya sendiri nggak aja, coba tuh liat muka kamu, nggak ada sedikit pun senyumnya,"ucap Cintya.


"Bela aja terusssss,"seru Edward.


"Iya dong di bela, kekasih hati,"ucap Cintya. Seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda Edward


"Yang, dia godain aku tuh,"seru Edward dengan nada manja.


"Wajar dong kekasih bela kekasihnya,"ucap Cintya. Seraya mengedipkan matanya pada Edward.


"Aishh bantuin temennya dia, bukan bantuin suaminya sendiri,"ucap Edward.


"Makasih bestiee kuuu, muachhh deh ah..!"seru Cintya.


"Astaga nggak Richard, nggak pacarnya kerjaannya membuat ku teraniaya deh ah,"ucap Edward. Seraya mengibaskan rambutnya seolah-olah memiliki rambut panjang, mengikuti gaya seorang bencong.


"Hahahahahaaa,"gelak tawa Kanaya dan juga Cintya memenuhi mobil, tak ketinggalan sopir pribadi Kanaya pun ikut tertawa seolah-olah mengerti apa yang mereka ucapkan.


"Kamu mirip banget deh,"ucap Cintya pada Edward, di sela-sela tawanya.


"Nay, kenapa nggak kamu jadiin modelling untuk gaun kita yang baru aja tuh laki kamu,"ucap Cintya pada Kanaya.


"Bisa dipikirkan,"ucap Kanaya. Seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda Edward.

__ADS_1


"Monsieur, notre chauffeur va à la boutique," (Pak sopir kita ke butik saja)ucap Kanaya pada sopir pribadinya.


"Bukannya kita akan ke perusahaan modeling Nay?"tanya Cintya.


"Kita langsung ke butik, hubungi Mark segera temui kita di butik,"jawab Kanaya.


"Oke,"ucap Cintya.


kemudian Cintya menghubungi Mark untuk menemui mereka di butik.


"Kamu tahu Ed, kalau istri kamu udah kayak gini nih, cicak aja nggak berani deh sama dia, atau dia yang lari terbirit-birit."ucap Cintya.


"Lah pastinya dong yang namanya cicak takut sama manusia, yang bikin aku aneh kenapa istri aku harus lari terbirit-birit karena cicak,"ucap Edward.


"Nggak nyambung kali ah,"ucap Edward.


"Nggak nyambung gimana?"tanya Cintya.


"Kalau udah mode on kayak gini cicak setinggi atap juga di tebas ama dia, tapi kalau cicak beneran istri kamu ini pasti lari terbirit-birit,"ucap Cintya.


Kemudian tertawa terbahak-bahak mengingat bagaimana Kanaya jika melihat Cicak, lalu berkata.


"Aku inget waktu kita kerja di restaurant cepat saji, kita sift malam dan saat ganti baju cicak nongol tuh di lemarinya. Istri kamu ini teriak kenceng banget terus meluk aku semua orang kaget lihat dia, aku pikir apaan ternyata cicak. Hahahahaaa,"ucap Cintya.


Seraya tertawa mengingat bagaimana Kanaya memeluk dia dan menyembunyikan wajahnya.


"Bener yang?"tanya Edward. Seraya menatap Kanaya yang cemberut. lalu menjawab pertanyaan Edward.


"Iya bener, aku takut banget sama cicak,"ucap Kanaya dengan mimik wajah cemberut.


"Hahh kok bisa?"tanya Edward.


"Aku jijik aja lihatnya geli gitu,"ucap Kanaya seraya bergidik jijik.


"Jijik sih wajar tapi sampai ketakutan gitu pasti ada penyebabnya kan?"tanya Edward. Seraya menatap wajah Kanaya dengan penuh tanda tanya.


"Aku pernah ditakutin sama kakak kelas aku, pake cicak pas dia ngelemparin cicak itu ke aku, aku menghindar dan jatuh, udah gitu waktu aku berdiri cicak itu ke injek sama aku dan aku jatuh lagi, sampai kepala aku bocor,"jawab Kanaya.


"Ohh jadi karena itu toh?"tanya Edward.


"Iya,"ucap Kanaya.


kemudian melanjutkan perkataannya.


"Kalau aku lihat cicak, aku jadi inget kejadian itu, saat itu aku kan masih kecil yang."


"Usia kamu berapa tahun saat itu?"tanya Edward dengan nada penasaran.


"11 tahun,"jawab Edward.


"Udah cukup besar,"gumam Edward. kemudian terdiam, lalu menatap wajah istrinya.


Tak lama kemudian mobil pun sampai di depan butik Miss Key, Kanaya merogoh tas kerjanya dan mengambil sebuah topeng setelah memakainya, Dia pun berkata.

__ADS_1


"Let's go." lalu membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.


Edward yang melihat istrinya memakai topeng hanya tersenyum, sekarang dia telah mengetahui wanita bertopeng itu adalah istrinya yang sempat menghancurkan beberapa perusahaannya yang berada di Perancis dan Belanda. Tetapi sekarang wanita itu adalah hidupnya. Kemudian Edward membuka pintu mobil lalu keluar dari dalam mobil, melangkahkan kaki berjalan menghampiri istri lalu meraih tangan istrinya dan menggenggamnya. kemudian mereka pun melangkahkan kaki berjalan memasuki butik Kanaya.


__ADS_2