Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 56. Siasat Kanaya


__ADS_3

"Lebih baik kamu istirahat Nay," ucap Edward dengan lembut.


"Biarkan kami yang menyelesaikan ini,"ucap Edward lagi.


Mendengar perkataan Edward Kanaya membuka matanya dan tersenyum sendu.


"Biarkan aku seperti ini,"ucapnya kemudian memejamkan matanya, lalu matanya terbuka kembali dan berkata.


"Ratih," lalu memejamkan matanya ingatannya kembali pada saat pesta ulang tahun itu, lalu tersungging lah sebuah senyum, dalam benaknya berkata.


"Aku tidak sedungu dulu,"


Lalu memandang wajah Edward dan bertanya.


"Apakah kau tahu keberadaan mantan kolega bisnis mu yang menjebak mu saat itu?"


"Aku telah memberikannya pelajaran dan saat ini entah berada dimana dia," ucap Edward geram.


"Tapi kau tidak berhasil bukan? karena mereka masih berkeliaran," ucap Richard.


"Hah..! bagaimana kau bisa tahu?" tanya Edward.


"Bukankah aku sudah mengatakan pada mu bahwa mata ku ada dimana-mana?"jawab Richard dengan nada mengandung pertanyaan.


"Wanita itu sudah biasa melakukan hal-hal seperti itu, ayahnya menggunakannya sebagai wanita penggoda untuk memenangkan tender dan juga untuk menjerat para pebisnis agar mereka dapat bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar." ucap Richard.


"Dan saat ini yang menjadi sasaran adalah Bimantara Group dan Juga G B Group,"ucap Richard lagi seraya melirik adiknya dan juga Cintya.


"Oh ya?"ucap Cintya seraya menaikkan sebelah alisnya, menatap Richard, kemudian melirik Kanaya.


"Ya itu benar, aku telah menyelidiki tentang mereka semua dan hampir saja aku menghabisi mereka, tetapi aku menahan diri aku ingin melihat permainan apa yang akan mereka lakukan,"ucap Richard seraya menyeringai licik.


"Wowww,"ucap Kanaya.


"Jangan kau katakan bahwa kau akan membuat perempuan itu tidak memakai baju kak,"ucap Kanaya seraya menatap Kakaknya yang sedang menyeringai licik itu.


"Menurut mu?"tanya Richard.


Tak lama kemudian, Satpam berlari memasuki mansion menghampiri mereka.


"Permisi Tuan, nyonya, di depan banyak wartawan dan reporter, mereka mencari nona Kanaya,"ucap Satpam panik.


"Biarkan saja mereka dan jangan di buka gerbangnya,"ucap Kanaya.


"Astaga kenapa jadi seperti ini,"seru mami Edward.


"Justru inilah yang ku tunggu, maaf Mom, Dad terpaksa kali ini, Nay membuat keluarga kita malu,"ucap Kanaya seraya menatap Daddy Ded dan juga Mommy Lingga.


"Stop Princess, jangan katakan itu lagi," ucap Daddy Ded tegas seraya menatap Wajah Kanaya.


"Thanks Dad,"ucap Kanaya.


"Apa yang akan kau lakukan Nak?"tanya Daddy Ded.


"Membuat mereka muncul tanpa menggunakan tenaga dan waktu,"ucap Kanaya.


Tak lama kemudian Gerald menurunkan anak tangga lalu berseru.

__ADS_1


"Mam apa yang terjadi di luar?" tanya Gerald.


"Bukan apa-apa Nak, mereka hanya wartawan iseng saja,"ucap Kanaya.


"Sini," ucap Kanaya seraya bangkit berdiri dan duduk di sofa sebelah Edward, lalu menepuk sofa tersebut meminta Gerald duduk di tengah-tengah mereka. Kemudian Gerald pun melakukan apa yang dikatakan oleh maminya.


"Kamu tahu yang terjadi diluar?" tanya Kanaya.


"Yang aku tahu mereka sangat berisik,"ucap Gerald.


"Apakah kamu tahu yang mereka ributkan?"tanya Kanaya.


"Tidak mam,"ucap Gerald.


"Mereka meributkan kita berdua,"ucap Kanaya seraya mengambil majalah dan surat kabar dari atas meja dn memberikannya pada Gerald.


"Nay,"seru Mommy Lingga.


"Its ok Mom, aku tidak ingin dia mendengar dari orang lain atau mencari tahu sendiri, aku tahu bagaimana putra ku Mom,"ucap Kanaya.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Kanaya, tak sedikit pun Gerald menampakkan wajah kaget atau marah atau apapun, dan dengan entengnya berkata.


"Mereka kurang kerjaan, untuk apa mereka mengurusi hidup orang lain, belum tentu hidup mereka juga benar."ucap Gerald.


"Berita sampah,"ucapnya lagi dengan nada dingin.


Edward menatap putranya begitu pun dengan semua orang yang berada di ruang tamu tersebut.


"Apakah dia putra ku yang berusia 10 tahun itu?"tanya Edward dalam benaknya. seraya menatap tak percaya putranya itu.


"Kita akan mengetahuinya sebentar lagi, dan untuk sementara, kamu homeschooling,"ucap Kanaya. Gerald menatap maminya kemudian berkata.


"Ok Mam."


"Dan maaf Tan untuk masalah lamaran lebih baik di undur terlebih dahulu,"ucap Kanaya pada Mami Edward.


"Sepertinya itu baik juga, setelah masalah ini selesai, kita akan membicarakannya,"ucap Papi Edward.


"Sepertinya semua sudah sepakat, untuk saat ini kita biarkan saja mereka."ucap Kanaya.


"Sampai kapan Nay?"tanya Edward.


"Jangan bertanya jika kamu sudah mengetahui jawabannya,"ucap Kanaya seraya menatap tajam Edward.


Mendengar perkataan Kanaya Edward hanya menaikkan sebelah alisnya dan menggendikkan bahunya tak acuh.


"Sepertinya sudah sore."ucap Kanaya seraya melihat jam dipergelangan tangannya.


"Diluar juga sepertinya sudah tidak ada orang,"ucap Kanaya lagi.


"Daddy menyuruh sudah menyuruh orang-orang Daddy mengusir mereka,"ucap Daddy Ded.


"Eh kapan Daddy melakukannya?"tanya Kanaya.


"Udah dari tadi,"ucap Daddy Ded dengan tak acuh, lalu berkata lagi.


"Berisik Nay."

__ADS_1


"Iya betul mengganggu saja,"ucap Papi Edward.


"Baiklah sepertinya kami harus segera pulang,"ucap Mami Edward. Seraya bangkit berdiri dari sofa yang didudukinya diikuti oleh Papi Edward.


"Kamu gak pulang Ed?"tanya Papi Edward.


"Pulang Pi," ucap Edward.


"Ya sudah kalau gitu kami duluan,"ucap Mami Edward. Kemudian mereka pun melangkahkan kaki mereka Berjalan menuju pintu diikuti oleh Mommy Lingga dan juga Daddy Ded.


"Kami permisi Besan,"ucap Mami Edward seraya tersenyum.


"Hati-hati dijalan Besan,"ucap Mommy Lingga kemudian kedua wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu di usianya tak muda lagi, tertawa kompak bersama-sama. Kemudian Mami Edward dan Papi Edward pun memasuki mobil mereka lalu sopir keluarga mereka melajukan mobilnya keluar dari mansion Bimantara.


"Mommy sama Mami Edward ngetawain apa?"tanya Daddy Ded.


"Lucu aja Pi, dengan sebutan Besan, gak nyangka bentar lagi kita bakal punya mantu heheheee,"ucap Mommy Lingga.


"Ayo kita masuk,"ucapnya lagi seraya menarik tangan Daddy Ded dengan mesra.


"Gak tua, gak muda semuanya sok mesra,"celetuk Richard.


"Iri bilang bos,"ucap Daddy Ded seraya memeluk Mommy Lingga.


"Berasa obat nyamuk gue,"ucap Richard.


"Tuh nganggur,"ucap Mommy Lingga seraya menunjuk Cintya.


"Nganggur apaan Tante?"tanya Cintya pura-pura tidak mengerti.


"Ciyeeeee, calon mantu pura-pura gak tahu,"ucap Daddy Ded.


"Eh bujang lapuk, kelamaan ngangurin cewek cantik kayak dia, disamber orang baru nyaho loe,"ucap Daddy Ded pada Richard.


"Daddy doainnya jelek gitu,"ucap Richard.


"Coba aja kalau berani,"ucap Richard seraya menatap Cintya penuh arti.


"Kalian ini bicara apa sih?"tanya Cintya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Tuh tanyain sama si Richard tuh,"jawab Daddy Ded. Sementara itu Edward dan Kanaya serta Gerald hanya menjadi pendengar setia, sambil menatap mereka secara bergantian, dan tersenyum lucu akan kelakuan mereka.


"Uncle, kenapa gak langsung lamar aunty 'Cintya aja,"celetuk Gerald.


"Heh..,!"seru Cintya.


"Geralddddd,"Seru Cintya seraya melototkan matanya pada Gerald.


"Mam, tolong aku,"ucap Gerald seraya menggeserkan tubuhnya pada maminya dan menyembunyikan wajahnya pada lengan maminya. Lalu berkata lagi.


"Aunty kan masih jomblo, Uncle Richard juga sama masih jomblo."


"Astaga Geraldddddd,"seru Cintya seraya memelototkan kedua matanya pada Gerald lalu menghampirinya. Melihat gelagat tidak baik Gerald berlari menghampiri Uncle nya.


"Uncle tolong aku,"ucapnya seraya duduk disebelah Richard lalu menyuruh Richard memajukan tubuhnya hingga posisi duduknya hanya ditepian sofa, lalu Gerald menyusup berdiri di belakang tubuh Richard yang sedang duduk.


"cekk, curang,"ucap Cintya seraya berdiri dan bertolak pinggang. Richard hanya tersenyum menatap Cintya penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2