Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 25. Kehancuran Edward Kusuma di Mulai


__ADS_3

Sesampainya di kamarnya Kanaya duduk di sofa yang ada di kamarnya. Matanya terpejam, air matanya mengalir, rasa sakit itu masih sangat menyiksa hati dan batinnya. Semuanya masih terngiang di telinganya dan teringat bagaimana pria itu dengan sombongnya menghina dan mempermalukannya.


Kehidupan yang tidak mudah dijalaninya. Jauh dari keluarganya, di usianya yang masih muda, dalam keadaan mengandung harus bekerja keras, demi menghidupi dirinya dan juga janin yang ada di dalam kandungannya. Melahirkan tanpa seorang suami mendampinginya, merawat bayi yang baru lahir, tak pernah sedikitpun mengeluh akan rasa lelahnya, terkadang ingin menyerah dengan keadaannya, tetapi tak bisa dilakukannya karena memiliki seorang anak yang harus dipertanggungjawabkan, di rawat dan dijaganya.


Beruntunglah dia memiliki sahabat yang selalu memberinya dukungan dan bantuan, dikala sudah sangat lelah dengan pekerjaannya, kuliahnya, dan juga rutinitasnya sebagai ibu muda tanpa suami, sahabatnya selalu berada di sampingnya.


"Nay," Sebuah suara lembut terdengar di telinganya. Suara mommy Lingga yang datang menghampiri dan duduk disebelahnya.


"Ada apa nak, ceritakan pada mommy?" tanya Mommy Lingga seraya menatap wajah putrinya Kanaya.


"Eh mommy," ucap Kanaya seraya membuka matanya.


"Nggak ada apa-apa kok mom," jawab Kanaya.


"Kenapa wajah mu seperti ini, jika tak ada apa-apa?" tanya mommy Lingga kemudian kedua kedua tangannya menghapus air mata Kanaya.


"Ceritakan lah jangan dipendam," ucap Mommy Lingga dengan nada lembut dan tegas.


Kanaya menghela nafas panjang, pandangan matanya kosong menatap mata mommy nya. kemudian menceritakan semua yang terjadi. air matanya pun menetes deras kemudian Kanaya merebahkan kepalanya di pelukan mommy nya.


"Mom, aku letih, aku sakit mom, sepertinya keputusan ku kembali ke negara ini adalah keputusan yang salah, aku tidak bisa melupakan kejadian itu," ucap Kanaya seraya terisak.


"Tidak keputusan mu tidak salah princess, disini rumah mu, dan disini keluarga mu," ucap Sebuah suara dengan nada tegas kemudian menghampiri Kanaya dan duduk disebelahnya kedua tangannya meraih Kanaya.


"Lihat Daddy nak," Ucap Daddy Ded, seraya menatap Wajah putri kesayangannya.


"Tatap mata Daddy," ucapnya lagi, kedua tangannya memegang lembut wajah Kanaya.


"Kau Putri ku dan tidak akan ada yang bisa menyakiti mu lagi, termasuk si Kusuma itu," ucap Daddy Lingga.


"Tempat mu adalah disini dan jangan pernah kau mengatakan akan pergi dari sini lagi, ingat itu Nay," ucap Daddy Ded, kemudian memeluk Kanaya. Sementara itu Richard yang menyaksikan kerapuhan adiknya menghela nafas panjang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kanaya, kemudian menuruni anak tangga menuju dapur dan mencari pelayan.


"Ada yang bisa saya bantu tuan muda?" tanya Seorang pelayan.


"Katakan pada Pak Iwan untuk menjemput Gerald," Jawab Richard.


"Baik tuan," ucap Pelayan tersebut.


"Dan suruh Bi Wati menyiapkan makanan untuk Kanaya dan bawa ke kamarnya, dia belum makan dari semalam," ucap Richard. kemudian berlalu berjalan keluar dari dapur, menuju halaman mansion, dimana mobilnya diparkir.


"Aku harus menemui si Edward brengsek itu," ucap Richard lalu memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kencang. sesampainya di rumah mewah milik Edward Kusuma dia pun turun dari mobilnya dan memasuki rumah mewah itu, tangannya terkepal, amarahnya tak dapat di bendung lagi, matanya mengedar, kemudian dengan langkah tergesa menghampiri Edward yang sedang duduk termenung di sofa ruang tamunya, tanpa berpikir panjang, Richard menarik dan menyeret Edward dan melemparkannya ke dinding tembok ruang tamu tersebut, tanpa bicara sepatah katapun Richard menghajar Edward habis-habisan. setelah merasa puas memukulinya Richard pun menatap tajam Edward yang terbaring tak berdaya di lantai dingin rumahnya itu.

__ADS_1


"Jauhi keponakan ku, dan juga adik ku," ucap Richard dingin dan tajam tatapannya nyalang menatap Edward yang tak berdaya.


"Dan akan aku pastikan kau dan keluarga mu akan menerima akibatnya," ucap Richard lagi. kemudian melangkah kakinya berjalan keluar dari rumah itu. langkahnya terhenti mendengar teriakan Edward.


"Aku tahu aku salah tetapi aku tidak sepenuhnya bersalah, malam itu aku di jebak oleh salah satu klien perusahaan ku," ucap Edward seraya bangkit berdiri dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Cihhhh.. jangan pernah kau membela diri mu sendiri bajingan, aku telah menyelidiki semuanya," ucap Richard. kemudian berlalu dari rumah Edward memasuki mobilnya dan mengendarainya dengan kencang.


Setelah mengetahui bahwa Edward Kusuma pelaku yang menodai adiknya, Richard mengerahkan semua orang terbaiknya untuk menyelidiki malam naas yang menimpa Kanaya, dan saat dia mendapatkan informasi tersebut, maka pelaku yang menjebak Edward dengan obat perangsang itu, telah di hajar habis-habisan oleh Richard dan seperti yang sudah dilakukannya pada pria yang menaruh obat tidur pada minuman Kanaya, Richard pun melakukan itu pada wanita anak si klien Edward Kusuma.


"Cihh.. pria lemah memberikan pelajaran pada wanita murahan dan keluarganya saja tidak mampu, mereka masih berkeliaran bebas. sedangkan adik ku menderita akibat perbuatan kalian," ucap Richard dalam hatinya.


"Dan sekarang dengan alasan tidak sepenuhnya bersalah kau ingin mengganggu adik ku kembali, tak kan pernah ku biarkan," ucap Richard lagi dengan geram, kemudian melajukan mobilnya dengan sangat kencang.


Sementara itu Kanaya yang sudah sedikit tenang akhirnya tertidur di pelukan Daddy nya , kemudian Daddy Ded mengangkat tubuh Kanaya dan memindahkannya di kasur empuk nya.


"Bagaimana dengan putri ku Dad?" tanya mommy Lingga.


"Dia belum bisa melupakan masa kelamnya mom," Jawab Daddy Ded. Seraya menatap wajah putrinya yang tertidur pulas.


Tak lama kemudian Gerald pun memasuki kamar maminya dan menatap Oma dan Opa nya lalu menghampiri maminya yang sedang tertidur dan menatap wajah maminya yang sembab akibat menangis.


"Mami ku kenapa Oma, Opa?" tanya Gerald seraya menatap Oma dan Opanya bergantian.


"Tapi kenapa wajahnya seperti habis menangis?" tanya Gerald.


"Apakah kalian membuat mami ku menangis?" tanya Gerald seraya menatap Oma dan Opanya dengan tajam.


"Hah.., Bagaimana bisa Opa dan Oma membuat mami mu menangis," jawab Opanya seraya menatap Gerald seraya tersenyum.


"Awas kalau kalian membuat mami ku menangis, aku akan membawa mami ku pergi dari sini," ucap Gerald dengan nada tegas khas anak berusia 9 tahun, yang sebentar lagi menginjak usia 10 tahun.


Oma dan Opanya yang mendengar ancaman Gerald hanya mengulum senyum lucu melihat mimik Gerald. Kemudian Omanya berbicara.


"Lebih baik kamu ganti baju dan makan siang, dan biarkan mami mu istirahat," ucap Omanya.


Tak lama kemudian Bi Wati kepala pelayan keluarga Bimantara pun masuk kedalam kamar Kanaya membawa nampan berisi makanan.


"Permisi Tuan, Nyonya," ucap Bi Wati.


"Simpan di atas meja aja Bi," ucap Mommy Lingga.

__ADS_1


"Baik nyonya," ucap Bi Wati, Kemudian menaruh nampan makanan Kanaya diatas meja lalu beranjak keluar dari kamar Kanaya. begitu pun dengan Daddy Ded dan Mommy Lingga dan juga Gerald keluar dari kamar Kanaya.


Sementara itu Edward yang tergeletak di di ruang tamu rumahnya, hanya bisa diam dilantai yang dingin dengan wajah babak belur dan juga sekujur tubuh yang lebam akibat pukulan dan tendangan Richard, beberapa pelayan menghampiri Edward dan membopong nya keluar dari rumah menuju mobil. Lalu Mobil pun melaju menuju rumah sakit terdekat. sesampainya di rumah sakit dengan tergesa Satpam dan kedua pelayan membopong tubuh Edward seraya berteriak memanggil Dokter dan Suster. suster yang melihat Edward di bopong bergegas mengambil Brankar dan meminta Satpam dan Pelayan tersebut meletakkan Edward di brankar tersebut dan mendorong brankar tersebut kedalam ruangan UGD.


Tak lama kemudian dari arah depan Putra Kusuma dengan tergesa-gesa, setengah berlari menghampiri satpam dan juga pelayan rumah Edward.


"Apa yang terjadi pada putra ku?" tanya Putra Kusuma.


Kemudian Satpam pun menceritakan semua yang terjadi pada Edward. Mendengar penjelasan dari satpam tersebut, Putra Kusuma pun menghela nafas panjang seraya mendudukkan tubuhnya di kursi depan ruang UGD rumah sakit tersebut.


"Sudah ku duga ini akan terjadi," ucapnya dalam hati, seraya mengusap wajahnya. tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruang UGD.


"Bagaimana keadaan putra ku dok?" tanya Papi Edward seraya bangkit berdiri menatap Dokter.


"Untunglah tidak ada patah tulang tuan, hanya memar dan lebam saja, sebentar lagi putra anda akan dipindahkan ke kamar," ucap Dokter tersebut


"Terima kasih dok," ucap Papi Edward.


"Sama-sama tuan, Saya permisi," ucap Dokter.


Sepeninggal dokter Papi Edward pun memasuki Ruang UGD dan melihat kondisi putranya yang di penuhi oleh lebam di wajah dan sekujur tubuhnya.


"Sekarang kau sudah merasakan bukan? akibat dari semua perbuatan mu, bukan hanya seluruh tubuh mu yang lebam tetapi perusahaan yang kau bangun pun hancur tak tersisa," ucap Papi Edward seraya menghela nafas panjang. kemudian melangkah kakinya keluar dari ruang UGD tersebut.


" Kalian pulanglah," ucap Papi Edward kepada satpam dan juga Pelayan rumah Edward.


"Dan ingat jangan sampai mami Edward tahu yang terjadi pada putranya," ucapnya lagi.


"Baik tuan," ucap Satpam dan juga pelayan tersebut. Kemudian mereka pun beranjak pergi, pulang kerumah Edward. Sedangkan Putra Kusuma terduduk lesu di kursi tunggu ruang UGD.


"Sepertinya Bimantara telah bergerak secara terang-terangan," ucapnya dalam hati kemudian menengadahkan kepalanya, lalu menyenderkan kepalanya ke belakang kursi.


"Semua sudah terjadi, dan penyesalan pun tak ada gunanya, putra ku yang brengsek itu menjadi seorang pengecut demi seorang wanita brengsek yang hanya menginginkan hartanya saja, tetapi sekarang hartanya pun tak bisa menolongnya dari seorang Kanaya Bimantara. Semua telah hancur dalam sekejap," ucapnya lagi. Kemudian menghela nafas panjang.


"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu sebelum ada penyesalan di kemudian hari," ucapnya lagi.


Sementara itu Daddy Ded didalam ruangan kerjanya, duduk terdiam di kursi Kebanggaannya, giginya bergemelutuk menyaksikan kerapuhan putrinya dan juga tangisan putrinya yang menyayat hatinya, sebagai seorang ayah tak akan pernah menerima semua perbuatan Edward di masa lalu, dan sekarang dengan beraninya dia mendekati cucunya. Kemudian tangannya mengambil handphonenya di atas meja kerjanya lalu menghubungi seseorang.


"Hallo tuan," ucap si penerima telpon.


"Ubah rencana, hancurkan sekarang juga perusahaan Kusuma Group," ucap Daddy Ded dengan tajam dan dingin.

__ADS_1


"Dan ingat, aku tidak ingin sedikit pun ada kegagalan, dan kesalahan," ucapnya lagi dengan penuh penekanan. Kemudian menutup telponnya tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya.


__ADS_2