
Tanpa menggubris protes Kanaya Edward pun menaiki anak tangga menuju lantai dua. Sesampainya di lantai dua Edward pun celingukan menoleh ke kiri dan kanan.
"Belok kiri, pintu kedua," ucap Gerald dari belakang Edward yang sedari tadi mengikuti Edward yang menggendong maminya.
"Oke," ucap Edward. Kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Kanaya.
Sesampainya di depan pintu kamar Kanaya Gerald membuka pintu tersebut, lalu Edward pun memasuki kamar Kanaya dan membaringkannya di atas tempat tidur. sedangkan Gerald menaiki kasur maminya dan berbaring disamping maminya seraya memeluk Kanaya.
Setelah membaringkan Kanaya, Edward pun berjalan menuju sofa yang ada diruangan Kanaya matanya menatap sekeliling kamar tersebut, kemudian matanya menatap sebuah album yang berada diatas meja, Edward pun mengambil album tersebut dan membukanya, senyum merekah di wajahnya melihat foto-foto Kanaya saat masih kecil, kemudian membalikkan, lembar demi lembar album tersebut, tangannya berhenti membalikkan album, matanya tak lepas menatap sebuah foto saat Kanaya berusia 7 tahun, memakai gaun berwarna pink, rambut di ikat dua kiri dan kanan, senyumnya merekah, Edward meraba foto tersebut.
"Kau benar-benar peri kecil ku," ucapnya dalam benaknya lalu menolehkan Wajahnya dan menatap Kanaya dan putranya yang sedang berbaring seraya berpelukan melepaskan kerinduan mereka.
Kemudian mengalihkan pandangannya kembali menatap foto tersebut. Setelah puas melihat foto itu. Edward pun bangkit berdiri kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Kanaya dan putranya yang tertidur.
Kemudian melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.
"Astaga ternyata sudah siang," ucapnya kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup kening Kanaya dan juga putranya.
"Selamat tidur peri kecil ku," ucapnya, lalu menatap Putranya dan berkata lagi.
"Selamat tidur my boy, mimpi yang indah," ucapnya kemudian mengelus rambut putranya, setelah puas memandangi wajah Kanaya dan Gerald, Edward pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kanaya seraya menutup pintu perlahan.
Gerald membuka matanya, dan bangkit perlahan dari tidurnya dan menatap pintu kamar yang telah ditutupnya lalu berkata.
"Makasih Papi," Ucap Gerald. Kemudian turun dari kasur Kanaya, dan berjalan keluar kamar Maminya. Sementara itu Edward yang telah berada di ruang tamu, menghampiri Daddy Ded dan juga mommy Lingga serta Richard dn Cintya.
"Aku permisi pulang," ucap Edward.
"Kanaya sudah tertidur, bersama dengan Gerald," ucap Edward.
"Sepertinya obat yang di minum Kanaya membuatnya menjadi putri tidur," ucap Daddy Ded, seraya tersenyum.
"Biarkan saja dia harus banyak istirahat agar tidak memikirkan pekerjaan terus menerus," ucap Mommy Lingga.
"Iya benar Tante," ucap Cintya.
"Baiklah, saya permisi, menjelang malam saya akan kembali kesini lagi," ucap Edward.
"Hati-hati Ed," ucap Mommy Lingga.
"Gak usah balik lagi," ucap Richard. Mendengar perkataan Richard Edward hanya mendelikkan mata pada Richard kemudian melangkahkan kakinya berjalan menuju halaman mansion dimana mobilnya di parkir. sesampainya di depan mobil, Edward membuka pintu mobil.
"Tunggu," seru Gerald. Mendengar seruan putranya Edward pun tak jadi membuka pintu mobil lalu membalikkan tubuhnya menghadap Gerald.
"Bukannya kamu tadi tidur bersama mami mu?" tanya Edward.
"Apakah kau tidak ingin memeluk ku?" tanya Gerald tanpa menjawab pertanyaan Edward.
"Papi," ucap Gerald.
Mendengar perkataan Gerald seketika Edward tercenung, selama ini sebuah kalimat 'Papi' yang diharapkannya keluar dari mulut putranya itu sangat dinantikan dan dirindukannya, dan saat ini, Kalimat itu keluar dari mulut putranya, dengan langkah perlahan Edward menghampiri Gerald, tatapannya tak lepas dari wajah Gerald tatapan yang tak percaya mendengar perkataan putranya.
"Katakan sekali lagi nak," ucap Edward.
__ADS_1
"Papi," ucap Gerald, menatap wajah Papinya, dengan mata berkaca-kaca.
Edward merentangkan tangannya, seraya berjongkok bertumpu pada lututnya, mensejajarkan tubuhnya, dengan tinggi tubuh putranya. lalu memeluk Gerald dengan erat.
"Katakan sekali lagi," ucap Edward.
"Papi," ucap Gerald.
"Lagi," ucap Edward
"Papi," ucap Gerald.
Kemudian mereka pun berpelukan dengan sangat erat menumpahkan sebuah asa dan kerinduan yang mendalam, setelah perjuangan mereka untuk dapat memeluk satu sama lain, seorang anak yang memendam perasaan karena tertanam suatu kebencian, melihat tangisan ibunya, kini menghilang sudah rasa ego dan gengsi di hari seorang anak tak akan bertahan lama, ketika merasakan suatu kerinduan yang ingin menyeruak walaupun di tahan akhirnya, dengan sendirinya sirna karena perbuatan tulus yang dirasakannya.
Hari-hari kebersamaan yang di lewati bersama, menjebol semua benteng pertahanan yang di buatnya, dan membuatnya mengejar keinginannya untuk memiliki seorang Papi, seperti teman-temannya, kerinduan di peluk Papinya mengalahkan semuanya dan akhirnya disinilah seorang anak berusia 10 tahun di pelukan Papinya.
"Terima kasih nak," ucap Edward lalu merenggangkan pelukannya dan menatap wajah putranya. Dengan susah payah menahan air mata yang ingin menyeruak dari kedua pelupuk matanya.
Gerald tak menjawab hanya memandang wajah Papinya kemudian memeluknya lagi dan akhirnya tangisnya pecah, selama ini dia sangat merindukan pelukan Papinya, terkadang berkhayal dan bermimpi memeluk Papinya dan saat ini, semua itu bukanlah khayalan dan juga mimpi, tetapi kenyataan yanng membuatnya sangat bahagia.
"Jangan tinggalkan aku lagi," ucap Gerald seraya terisak.
"Tidak Papi tidak akan pernah meninggalkan mu, apapun yang terjadi Papi tidak akan meninggalkan mu, itu janji dan sumpah Papi," ucap Edward.
"Bukankah Papi sudah mengatakan pada mu dan mami mu akan menebus kesalahan Papi dengan sepanjang sisa usia Papi," ucap Edward lagi. lalu merenggangkan pelukannya dan menatap kedua mata putranya, kedua tangannya menghapus air mata Gerald seraya tersenyum.
"Terima kasih Papi sudah kembali," ucap Gerald.
"Tidak kamu tidak boleh mengatakan itu, seharusnya, Papi melakukan ini sejak 10 tahun yang lalu, maafkan Papi nak," ucap Edward penuh penyesalan.
Mendengar Putranya mengatakan bahwa dia membencinya dan bagaimana Kanaya menatapnya dengan penuh kebencian dan mengatakan itu tepat ditelinganya, saat itu hari Edward benar-benar hancur, sangat hancur, mereka tidak mengetahui bagaimana Edward menjalani hari-harinya, dan akhirnya membulatkan tekad membangun kembali semua yang telah hancur dan kembali untuk berjuang mendapatkan hati dan hidupnya yaitu Kanaya dan Gerald, dan sekarang dia sudah mendapatkannya, alangkah bodohnya jika dia melepaskannya, Edward menatap Putranya lalu merengkuhnya kembali, asa, kebahagian, dan cinta saat ini ada di genggamannya, ingin rasanya dia berteriak pada semua orang, bahwa Gerald adalah putranya, lalu Edward melepaskan pelukannya, dan membalikkan punggungnya, lalu berkata.
"Naiklah ke punggung Papi," ucap Edward.
"Untuk apa?" tanya Gerald.
"Naik saja Papi akan mengendong mu," ucap Edward
"Tapi aku sudah besar, aku tidak perlu di gendong lagi," ucap Gerald
"Naiklah nak, Papi ingin merasakan menggendong mu," ucap Edward kekeuh.
Setengah ragu Gerald pun naik kepunggung Papinya.
"Pegang Papi erat-erat agar kau tidak terjatuh," ucap Edward.
Lalu Gerald pun melakukan yang di pinta oleh Papinya. Edward pun berdiri lalu berlari keluar mansion, semua orang yang ada di mansion, Pelayan, satpam, tukang kebun, sopir, menatap Edward yang menggendong Gerald seraya berlari, dengan pandangan aneh dan penuh tanda tanya, mereka pun mengikuti Edward.
Begitu pun Mommy Lingga, Daddy Ded, Richard dan juga Cintya. saat melihat Gerald berlari keluar dengan terburu-buru, mereka sangat penasaran lalu mengikuti Gerald dan saat menyaksikan drama anak dan Papinya mereka sangat terharu, dan trenyuh, air mata mereka berlinang. Dan saat ini mereka penasaran apa yang akan dilakukan Edward, mereka pun mengikutinya dengan penuh tanda tanya di benak mereka tetapi alangkah terkejutnya saat telah sampai di luar pagar mansion, Edward berteriak dan berkata pada semua orang yang lalu lalang di jalan.
"Hai kalian lihat yang aku gendong ini dia putra ku,"
"Hai kamu, dia putra ku," teriaknya lagi.
__ADS_1
"Gerald Bimantara adalah putra ku kalian tahu itu, Dia Putra ku," teriak Edward dengan tawa penuh kebahagiaan seorang Papi yang telah menemukan putranya.
"Hai kalian dia putra ku," ucap nya lagi.
Semua orang yang lewat dijalan menatap Edward dengan penuh tanda tanya dan menggelengkan kepalanya, menganggap Edward telah gila. Papi dan anak itu hanya tertawa melihat mereka mengatakan seperti orang gila, lalu Edward berkata.
"Ya aku sudah gila karena aku sudah menemukan putra ku," ucap Edward.
"Edward stop..! apakah kau tidak malu pada semua orang yang mengatakan kalian gila hah?" tanya Richard.
"Tidak," ucap Edward.
"Kau belum tahu rasanya bukan? bagaimana memiliki anak lalu kehilangannya dan akhirnya menemukannya, bahkan jika saat ini kau membuatku bangkrut lagi, aku tidak perduli, karena aku telah menemukan harta yang paling berharga yang tak bisa di nilai oleh apapun bahkan harta mu dan harta orang tua mu tak bisa membelinya," Ucap Edward seraya menatap Richard.
Semua keraguan pada Edward akhirnya sirna lalu Daddy Ded berkata.
"Bawalah kedua orang tua mu, dan lamarlah putri ku, persiapkan pernikahan kalian," ucap Daddy Ded.
"Tujuan kepulangan ku tadi, aku bermaksud membawa Papi dan Mami ku malam ini, aku sudah menghubungi mereka dan saat ini mereka telah mempersiapkan segalanya," ucap Edward seraya tersenyum pada Daddy Ded.
"Hah..! kau bergerak cepat juga," ucap Richard.
"Aku sudah katakan bukan? setelah Kanaya sembuh aku akan menikahinya," ucap Edward. dengan nada tegas.
"Dan jangan coba-coba kau menghalangi ku," ucap Edward tajam kedua matanya menatap wajah Richard.
"Aku tidak akan menghalangi mu jika kau mencintai adik ku, princess ku," ucap Richard tajam, matanya menatap Richard dingin dan tajam.
"Sudah ku katakan aku, mencintainya sejak dia berusia 7 tahun," ucap Edward.
"Dialah wanita yang aku cari selama ini," ucap Edward lagi.
"Dan bagaimana dengan mantan kekasih mu itu?" tanya Richard.
Mendengar pertanyaan Richard Edward menatap Calon kakak iparnya itu.
"hubungan kami berakhir, sebelum aku bersama Kanaya malam itu," ucap Edward.
"Bagaimana bisa?" tanya Richard.
"Demi dia kau menghina adikku dan mempermalukannya, dan kau menyuruhnya melakukan sesuatu di luar nalar manusia," ucap Richard lagi.
"Sudah ku katakan saat itu aku terpaksa, aku tahu bagaimana mantan kekasih ku, jika aku tidak melakukannya maka aku tidak tahu apa yang terjadi pada Kanaya ku, terlebih lagi saat aku mengetahui dia adalah peri kecil ku, aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya, yang akan aku sesali seumur hidup ku, aku lebih baik melihatnya membenci ku, daripada aku kehilangannya," ucap Edward dengan nada sendu teringat bagaimana dia mengusir Kanaya, menghinanya, mempermalukannya bahkan memintanya untuk menggugurkan kandungannya.
"Aku tahu bagaimana adik mu, wanita seperti dia tidak akan pernah mau melakukan kesalahan sedikit pun, dan saat semua masalah ku selesai dengan wanita itu, aku akan mencarinya, tetapi ternyata dugaan ku salah, Kanaya sangat sulit dicari dan aku kehilangan jejak," ucap Edward.
Kemudian pandangannya beralih dan menatap Cintya.
"Dan kau salah satu biangnya sehingga aku kehilangan Kanaya ku dan juga putra ku," ucapnya seraya menatap tajam Cintya.
"Itu salah mu sendiri, karena kau pengecut," ucap Cintya seraya menatap tajam Edward.
"Cihhh, hanya karena wanita brengsek yang tidak tau diri seperti itu, kau mengorbankan sahabat ku," ucap Cintya lagi dengan tajam, lalu berkata lagi.
__ADS_1
"Jika kau melakukannya lagi, kau akan lihat bagaimana aku membawanya pergi."