
"Permisi Nona," ucap Bi Wati
"Di luar ada yang mencari nona namanya Jeni," ucap BI Wati lagi.
"Suruh masuk Bi," ucap Kanaya.
"Baik nona," ucap BI Wati. kemudian berlalu dari hadapan Kanaya.
"Aunty Cintya," seru Gerald seraya berlari menuruni anak tangga.
"Gerald jangan lari," seru Cintya.
"Astaga, bagaimana kalau kamu jatuh dari anak tangga itu," ucap Cintya.
"Hehehee, tawa Gerald kemudian memeluk Cintya.
"Duduk cyn," ucap Kanaya.
"Kamu kapan nyampe?" tanya Kanaya.
"Semalam," ucap Cintya.
"Besok mulai kerja," ucap Cintya lagi.
"istirahat aja dulu, gak perlu terburu-buru," ucap Kanaya.
"Kelamaan diem juga, bete kali Nay," ucap Cintya.
"Ada beberapa hal yang harus kita perbaiki di beberapa resort kita, dan ini membutuhkan kerja keras untuk membenahinya, dan siapapun orang itu, akan aku beri pelajaran," ucap Kanaya.
"Apakah kamu sudah mengetahui dalangnya?" tanya Cintya.
"Yupz.., ucap Kanaya.
Tak lama kemudian Richard bersama seorang pria datang menghampiri Kanaya.
"Siapa Nay," tanya Richard menatap Cintya.
"Dia Cintya, yang aku ceritakan," ucap Kanaya.
"Cin dia kakak ku Richard," ucap Kanaya.
Richard menatap Cintya dengan seksama, saraya mengulurkan tangannya.
"Cantik," ucap Richard.
"Cintya pun menyambut uluran tangan Richard seraya berkata.
"Cintya," keningnya berkerut kemudian
"Hemm, seraya menarik tangannya.
"Sorry," ucap Richard.
"Oh ya.., kenalin Nay ini Edward temen kakak, yang baru ketemu setelah puluhan tahun," ucap Richard.
Kanaya menoleh pada Edward teman yang dikatakan oleh kakaknya dan seketika matanya pun terbelalak kaget. Cintya yang melihat ekspresi wajah Kanaya spontan menatap penuh selidik pada Edward.
"Dimana aku pernah melihat dia?" tanya Cintya dalam hati.
"Sittt...., kau pria bajingan itu," ucap Cintya kemudian tangannya dengan keras menampar wajah Edward. Edward pun terbelalak melihat Kanaya dan sekaligus kaget karena mendapatkan tamparan dari Cintya.
__ADS_1
"Stoppp.., cin," ucap Kanaya dingin dan tajam, tatapannya tak lepas memandang tajam wajah Edward.
"Biiii," teriak Kanaya memanggil Bi Wati.
"Gerald pergilah ke kamar mu bersama dengan Bi Wati," ucap Kanaya dengan tegas.
sedangkan Richard Yang bingung dengan keadaan ini menatap Kanaya dan Cintya dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa Nay?" tanya Richard, setelah Gerald pergi bersama Bi Narsih.
"Cihh, anda masih bertanya tuan Richard, kau memelihara teman seperti ini," ucap Cintya.
"Pergilah dari rumah ku dan jangan pernah kau menampakkan wajah mu lagi, jika kau menginjakkan kaki di rumah ini lagi, akan kupatahkan leher mu," ucap Kanaya dengan dingin dan tajam, tatapannya nyalang, berkilat dipenuhi amarah pada teman kakaknya itu.
"Kau," Ucap Edward.
"Pergiiii.., teriak Kanaya menggelegar di mansion kedua orang tuanya.
"Cintya, lempar pria itu keluar atau aku akan hilang kendali," ucap Kanaya nafasnya naik turun menahan amarah di dadanya.
"Tunggu ada apa sebenarnya ini?" tanya Richard.
"Buk
"Buk
"Buk
tiga pukulan dengan sangat keras mengenai wajah Edward.
"Sudah ku bilang pada mu untuk pergi,tetapi kau masih berdiam di sini seperti orang bodoh tak tahu diri," ucap Kanaya. kemudian dengan gerakan cepat sebuah tendangan berputar mengenai tubuh Edward dengan sehingga tak pelak lagi Edward jatuh tersungkur ke lantai yang dingin mansion keluarga Bimantara.
"Cintya, bawa dia keluar sebelum aku membunuhnya," ucap Kanaya.
Kemudian Cintya pun menyeret tubuh kekar Edward, yang tak berani melawan Kanaya dan Cintya dalam benaknya bertanya-tanya, siapa sebenarnya Kanaya.
"Nay," ucap Richard menatap Kanaya dengan penuh tanda tanya, wajah Kanaya yang merah mengarah amarah, kedua tangannya terkepal, dengan langkah tergesa dia pun berlari menuju mobil sportnya.
"Nay.., seru Cintya seraya mengejar Kanaya yang memasuki mobil sport nya kemudian mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi meluapkan semua amarahnya.
"Nay," teriak Cintya seraya berlari mengejar Kanaya, kemudian berbalik lagi dan memasuki mobilnya, Richard yang kebingungan, ikut memasuki mobil Cintya, kemudian Cintya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi mengejar mobil Kanaya.
"Sitttt, sial kita kehilangan jejak," ucap Cintya.
"Jelaskan pada ku apa yang terjadi," ucap Richard tegas dan dingin seraya memiringkan tubuhnya dan menatap Cintya, kemudian Cintya menepikan Mobilnya dan keluar dari mobil seraya menyandarkan tubuhnya pada mobilnya. Richard pun mengikuti Cintya keluar dari mobil dan menghampiri Cintya kemudian menatapnya.
"Jelaskan," ucap Richard seraya menatap Cintya tajam. Cintya balas menatap Richard dengan tajam, mereka pun saling menatap kemudian Cintya berkata.
"Dia adalah pria bajingan yang merusak hidup Kanaya," ucap Cintya.
"Apa?" seru Richard.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Richard.
"Saat diperancis aku tak sengaja menemukan Kartu identitas Pria brengsek itu, di salah satu laci milik Kanaya, kemudian aku mencari tahu semua tentang pria itu,"Ucap Cintya
"Edward Kusuma, Putra tunggal dari Putra Kusuma pebisnis handal setelah Bimantara group dan GB gruop," ucap Cintya.
"Sialllllll, Brengsekkkkkk, bajingannnnnn," teriak Richard kemudian mengambil handphone dan menghubungi asisten pribadinya.
"Leo.. tarik semua saham kita dari Perusahaan Kusuma Group." ucap Richard kemudian memasuki Mobil Cintya dan berkata.
__ADS_1
"Apakah kau akan tinggal dijalan?" tanya Richard dengan dingin. mendengar perkataan Richard, Cintya pun tersentak kaget kemudian memasuki mobilnya, dengan kecepatan tinggi Richard mengendarai mobil Cintya hingga sampailah mereka di sebuah perumahan elite, dengan geram Richard menabrak pintu pagar besi rumah itu sehingga pagar tersebut rusak, satpam yang melihat itu kaget dan mengejar mobil Cintya yang memasuki halaman.
"Ckittttttttt..., Richard menginjak rem mobil Cintya dengan bringas Richard keluar dari mobil kemudian dengan keras menendang pintu rumah Edward sehingga pintu rumah itu pun rusak.
"Edwarddddd.., keluar kau", teriak Richard dengan geram kemudian menaiki anak tangga menunu kamar Edward dengan satu kali sentakan yang keras Richard menendang pintu kamar Edward, sehingga pintu itu rusak dan terbuka.
"Dimana kau brengsek," teriak Richard seraya mencari Edward, setelah tak menemukan di dalam kamar tersebut, Richard pun keluar dan mencari ke semua kamar dan semua sudut rumah mewah tersebut, semua pelayan yang ada dirumah itu berusaha menghalangi Richard tetapi mereka tak mampu dengan brutal Richard menghajar siapapun yang menghalanginya mencari Edward, setelah tak menemukan Edward dia pun mengamuk di rumah besar tersebut, memporak porandakan semua barang yang ada di rumah tersebut.
"Richardddd, stopppp..., cukup tidak ada gunanya kau mengamuk seperti itu, lebih baik kita mencari adik mu," bentak Cintya. mendengar bentakan Cintya seketika Richard berhenti memporak porandakan rumah Edward dan dengan nafas tersengal penuh amarah Richard pun menatap Cintya.
"Ayo," ucap Cintya seraya beranjak pergi dari rumah besar itu.
Sementara itu Kanaya yang dipenuhi dengan amarah menepikan mobilnya, amarah belum mereda dengan kencang dKanaya mencengkram setir mobilnya, dan berkali-kali menghela nafas panjang.
Tak sedikit pun ada air mata, yang ada hanya kebencian pada pria itu.
"Aku harus mengendalikan diri ku, aku tak boleh terlihat rapuh di depan putra ku," ucap Kanaya. kemudian mengendarai mobilnya kembali, dengan kecepatan sedang dia pun kembali menepikan mobilnya di sebuah restaurant Italia, kemudian Kanaya keluar dari mobilnya, berjalan kedalam restaurant kemudian matanya mengedar mencari tempat duduk dengan santai dan tenang seraya mengontrol emosinya yang masih belum reda Kanaya pun duduk di kursi pojok.
Tak lama kemudian seorang waitress menghampirinya dan memberikan menu pada Kanaya.
"Orange juice," ucap Kanaya tanpa melihat menu.
"Margherita dua dan Neapolitan dua, semuanya di bungkus." ucap Kanaya lagi.
"Baik nyonya," ucap Waitress tersebut seraya meninggalkan meja Kanaya.
Tak lama kemudian orange juice pun datang setelah waitress menyajikannya di meja Kanaya pun menyeruputnya hingga hampir tandas.
"Sendirian?" tanya Seorang pria menghampirinya dengan nada menggoda. Kanaya hanya diam dan tak acuh.
"Sombong amat sih," ucap pria tersebut seraya mengedipkan sebelah matanya dan tanpa permisi pria tersebut duduk di kursi di depan Kanaya, kemudian tangannya dengan tidak sopan, memegang tangan Kanaya. dengan geram Kanaya kembali memegang tangan pria tersebut dan meremasnya dengan sangat kencang.
"Kau tahu tuan, aku sangat benci dengan pria brengsek seperti mu," ucap Kanaya seraya kemudian memelintir tangan pria tersebut.
" wanita sialan lepaskan tangan ku," seru pria tersebut dengan meringis menahan sakit.
"Kau tahu, kau sudah membangunkan singa yang sedang meredam amarahnya," ucap Kanaya kemudian dengan sekali sentakan, Kanaya mendorong pria tersebut dengan keras sehingga pria tersebut jatuh tersungkur kemeja pelanggan yang lainnya, tak sampai disitu, Kanaya menghampiri pria tersebut dan menariknya dan melemparkannya, sehingga pria tersebut jatuh tersungkur kelantai restaurant. Semua mata memandang Kanaya dengan ngeri, wajah cantik dengan tubuh semampai memiliki tenaga seperti Samson dan tatapan mata yang tajam dan dingin seakan ingin menelan musuhnya.
"Wanita Brengsek," ucap Pria itu seraya bangkit berdiri, menerjang Kanaya dengan brutal dan dengan gerakan yang gesit Kanya menghindari pukulan demi pukulan pria tersebut.
"Hanya ini kemampuan mu?" tanya Kanaya seraya berjalan perlahan menghampiri pria tersebut dan dengan geram Kanaya melayangkan bogemnya kewajah pria itu.
"Kini giliran ku," ucap Kanaya kemudian tangannya kembali memberikan Bogeman pada Pria itu, sehingga pria tersebut jatuh tersungkur kembali. Kemudian Kanaya menarik tangan pria tersebut dan mendorongnya kemeja salah satu pelanggan kemudian kepala pria tersebut dibenturkannya di atas meja kemudian kepalanya ditekan kemeja.
"Kau tahu aku paling benci pria brengsek seperti mu," ucap Kanaya dingin sedingin es. kemudian tangannya yang satu mengambil tangan pria itu.
"Dan tangan ini yang memegang ku bukan?" ucap Kanaya, kemudian tanpa ada yang mengetahui Kanaya mengambil pisau makan yang berada di meja pelanggan itu kemudian Kanaya menancaopkannya pada tangan pria tersebut dan menekannya dengan kencang.
"Ahhhhhhhhhhh,' teriak pria tersebut menjerit kesakitan.
"Nay stoppp," Seru Cintya seraya berusaha melepaskan tangan Kanaya pada pria tersebut. Richard yang melihat Kanaya mengamuk seperti itu, sontak kaget kemudian menghampiri Kanaya.
"Princess.., stoppp," ucap Richard.
"Dengar brengsek, kali ini kau selamat," ucap Kanaya seraya melepaskan tangannya.
"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran," ucap Kanaya dengan dingin.
kemudian pria itu pun pergi seraya memegangi tangannya yang terluka, dan menahan sakit di sekujur tubuhnya. Semua mata pengunjung yang ada di restaurant itu, memandang Kanaya dengan tatapan ngeri Dan ada juga yang memandang dengan kagum.
"Tenangkan adik mu, aku akan mengurus semua kekacauan ini," ucap Cintya kemudian berlalu dari hadapan Kanaya dan juga Richard.
__ADS_1