Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 79. Terkuaknya Teka-Teki 2


__ADS_3

"Kami mencarinya malam itu, kami menyusuri jurang itu, malam itu sangat gelap, hujan pun tiba-tiba turun dengan sangat deras. berbagai cara kami lakukan, bahkan kami mendirikan kemah berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, tetapi Oma mu tak kami temukan, hingga kami menyerah dan menghentikan pencarian,"ucap Kakek Pratama.


Wanita yang berada di sebelah Pratama Kasendra memeluknya, dia sangat mengerti perasaan suaminya itu.


Sementara itu Kanaya dan juga Cintya serta Mommy Lingga ikut meneteskan air mata, mendengar kisah menggemaskan dari seorang Keila Kasendra.


"Lalu bagaimana Oma ku bisa selamat dan masih hidup saat itu?"tanya Kanaya.


"Bukankah saat itu Beliau tidak di ketemukan?"tanya Kanaya lagi.


"Saat itu aku sedang berkemah bersama teman-teman ku, dan salah satu teman kami pergi mencari kayu bakar karena kami kehabisan kayu bakar, tetapi teman kami tak kunjung juga pulang ke kemah hingga malam tiba, akhirnya kami memutuskan untuk mencarinya, malam itu hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras sekali."ucap sebuah suara bariton.


Kanaya terbelalak dan menoleh ke belakang kearah suara itu.


Seorang pria paruh baya berusia 70 tahun berjalan mendekati mereka.


"Opa" ucap Kanaya. Lalu bangkit berdiri setengah berlari menghampiri pria tersebut. Kemudian memeluknya dengan erat.


"Nay kangen Opa,"ucap Kanaya.


Kemudian menatap wajah tua pria itu yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah tidak muda lagi.


"Pa,"ucap Mommy Lingga.


Lalu bangkit berdiri menghampiri pria tersebut, kemudian memeluknya. Begitupun dengan Daddy Ded menghampiri mertuanya dan memeluknya.


"Akhirnya turun gunung juga,"ucap Daddy Ded seraya terkekeh geli.


"Apakah kau ingin aku tidak menghadiri pernikahan cucu ku ini hah..!"seru Opa Kanaya.


"Opa kelamaan turun gunungnya, Nay sudah berusaha menghubungi Opa tetapi sangat sulit menghubungi Opa,"ucap Kanaya.


Seraya menggembungkan kedua Pipinya ciri khasnya jika merajuk pada Opa kesayangannya.


"Iya nih Papa, susah banget ninggalin hutan,"ucap Mommy Lingga.


Seraya tersenyum menatap Papa nya.

__ADS_1


"Apakah kalian ingin membuat pria tua ini berdiri terus?"tanya Opa.


"Oh iya, ayo Opa duduk disini dekat Nay,"ucap Kanaya seraya menarik tangan Opanya kesebuah kursi.


"Apakabar Mas?"tanya Opa, menghampiri Kakek Pratama.


"Puji Tuhan kabar baik dek Hendra, ternyata kamu betah di hutan itu hahahaha,"ucap Kakek Pratama. seraya tertawa lepas. lalu berkata lagi.


"Senang rasanya berjumpa dengan mu,"ucap Kakek Pratama.


Kemudian mereka berpelukan dan saling menatap sebuah senyum terulas di wajah mereka lalu Opa Hendra melepaskan pelukannya dan menatap wajah seorang wanita yang berdiri di samping Kakek Pratama.


"Apakabar Mbak Ayu,"tanya Opa Hendra.


"Puji Tuhan Baik dek Hendra,"ucap istri Kakek Pratama.


Yang ternyata bernama Ayu, yang sedari tadi diam hanya menjadi pendengar saja sesekali memeluk suaminya berusaha menenangkannya.


"Kenalkan sahabat ku Cintya,"ucap Kanaya. kemudian Cintya bangkit berdiri menghampiri Opa Hendra dan dengan sopan mengulurkan tangannya dan mencium tangan Opa Hendra.


Opa Hendra menatap Cintya dengan tatapan penuh selidik. Lalu berkata.


"Hah.,"seru Cintya dengan wajah melongo dengan mulut terbuka menatap Opa Hendra.


"Tutup mulut mu, jika kau membuka nya terus lalat akan masuk kedalam,"ucap Opa Hendra. Kemudian menatap Cintya dengan mimik wajah lucu.


Mendengar perkataan Opa Hendra Cintya pun menutup mulutnya lalu berkata.


"Nay, apa aku tidak salah dengar?"tanya Cintya.


"Bagaimana Opa mu bisa mendengar gosip itu?"tanya Cintya lagi.


"Gosip cepat beredar di keluarga Bimantara hahahahaa,"ucap Opa Hendra seraya tertawa.


"Dan hanya gosip keluarga kita saja yang sangat sulit beredar,"ucap Kanaya.


Mendengar perkataan Cucunya Kanaya. Opa Hendra menghentikan tawanya dan menatap Kanaya, kemudian seulas senyum tipis menghias wajahnya.

__ADS_1


"Sudahlah kalian duduk lah dulu, apa kalian tidak cape berdiri?"ucap Mommy Lingga.


"Aku permisi ke dapur, sudah saatnya kita makan malam,"ucap Mommy Lingga. kemudian melangkahkan kakinya berjalan menuju dapur, menemui Bi Wati.


"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi,"ucap Kakek Pratama.


"Ya, Mas Pratama benar, sejak istri ku meninggal aku memilih untuk meninggalkan hiruk pikuk Jakarta, dan lebih memilih tinggal di sebuah desa,"ucap Opa Hendra seraya tersenyum sendu.


"Loh bukannya Opa mu tinggal di hutan ya?"tanya Cintya dengan polosnya.


"Hutan itu istilah kami saja Cin, Opa mengabdikan dirinya di sebuah desa terpencil, membuka sebuah lahan perkebunan sayur dan juga buah-buahan serta membuka sebuah klinik kesehatan di desa tesebut,"ucap Kanaya seraya tersenyum bangga menatap Opanya.


"Dan dari hasil perkebunan sayur dan juga buah-buahan itu bisa membuat penduduk di desa itu mendapatkan penghasilan sehingga mereka bisa menghidupi kehidupan keluarga mereka, awalnya ekonomi penduduk setempat sangat mengkhawatirkan tetapi berkat Opa Hendra kehidupan mereka menjadi stabil dan bukan hanya itu saja, listrik dan juga air bersih telah masuk ke desa itu, awalnya desa itu seperti desa yang mati tak ada kehidupan mereka hidup mengandalkan air sungai atau air hujan, dan untuk penerangan mereka menggunakan cempor, dan di desa itu hanya ada bidan atau mantri yang bertugas di sebuah puskesmas yang letaknya sangat jauh,"ucap Kanaya.


"Wah Opa Hendra hebat banget,"ucap Cintya seraya menatap Penuh kagum Opa Hendra.


"Bukan Opa yang hebat tetapi Oma lah yang hebat semua itu awalnya dari rencana Oma, dan Opa hanya membantunya untuk mewujudkannya,"ucap Opa Hendra, dengan nada sendu, teringat mendiang istrinya yang selalu iba melihat kesusahan orang lain.


"Dia memang memiliki sifat yang sangat luar biasa,"ucap Kakek Pratama.


"Dia seperti malaikat, tak bisa tinggal diam melihat kesusahan orang lain dan tanpa pamrih mengulurkan tangannya,"ucap Kakek Pratama lagi. Wajah nya tersenyum mengingat mendiang adiknya.


"Dan hanya karena harta dan tahta membuat sebuah tragedi terjadi, dan membuat kedua keluarga tercerai berai,"ucap Kakek Pratama.


"Aku tidak mengerti maksud Kakek, kedua keluarga?keluarga mana yang kakek maksudkan?"tanya Kanaya menatap kakek Pratama dengan tatapan penuh tandatanya lalu berkata lagi.


"Aku tidak melihat keluarga mana pun saat ini,"ucap Kanaya.


"Keluarga calon suami mu,"ucap Kakek Pratama.


"Maksud Kakek Keluarga Kusuma?"tanya Kanaya.


"Kamu benar Nay,"ucap Kakek Pratama.


"Aku semakin bingung,"ucap Kanaya.


"Takdir mempertemukan lagi kedua keluarga yang sejak dulu telah ada ikatan dan ikatan itu sekarang terjalin berkat kalian berdua,"ucap Kakek Pratama, Lalu berkata lagi.

__ADS_1


*Walaupun takdir itu diawali oleh sebuah jebakan yang tak masuk akal, tetapi jebakan itu berakhir manis walaupun terdapat kerumitan masalah di dalamnya."


"Dan semoga saja apa yang kita kuatirkan tidak terjadi,"ucap Opa Hendra.


__ADS_2