Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 51. Mantan Kekasih Edward


__ADS_3

Pagi Pukul 7. Kanaya yang baru saja bangun dari tidurnya terbelalak kaget melihat, sosok Edward yang pagi ini terlihat sangat tampan, stelan jas yang berwarna hitam kemeja putih dan juga dasi senada dengan warna jasnya, rambutnya pendek tertata rapi, membuatnya semakin tampan.


"Morning my wife," Sapa Edward seraya tersenyum menatap Kanaya.


"Sedang apa kau pagi-pagi di kamar ku?" tanya Kanaya dengan nada enggan.


"Membangunkan putri tidur," ucap Edward.


"Ayo bangun, aku sudah menyiapkan sarapan mu dan juga obat mu," ucapnya lagi.


"Dimana Putra ku?" tanya Kanaya.


"Putra kita," ralat Edward.


"Aku sudah mengantarnya sekolah," ucap Edward kemudian duduk di tepi ranjang dan menatap Kanaya.


"Kau bangun atau aku akan mencium mu," goda Edward seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Eh," seru Kanaya seraya bangkit dari tidurnya dan duduk di kasurnya, lalu berkata.


"Minggirlah, aku akan turun dan mandi," ucap Kanaya Ketus.


Edward menatap Kanaya sejenak lalu tersenyum nakal, dan srett, dengan entengnya membopong tubuh Kanaya sehingga Kanaya berseru.


"Turunkan aku Edward Kusuma, kau benar-benar sangat menyebalkan," Tanpa menjawab Kanaya Edward melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan menurunkannya ke dalam Bathtub yang sudah diisinya air hangat dan juga sabun cair beraroma teraphy rempah-rempah, Kanaya mengerutkan keningnya.


"Kau gila ya, aku belum membuka pakaian ku," ucap Kanaya.


"Aku akan membantu mu membuka pakaian mu," ucap Edward tersenyum menggoda.


"Jangan harap, keluar kau sekarang," ucap Kanaya dengan ketus. Edward hanya tersenyum memamerkan giginya yang putih pada Kanaya.


"Darimana kau mendapatkan sabun cair ini?" tanya Kanaya.


"Mandilah, sabun aroma teraphy ini bisa membuat pikiran mu rileks," ucap Edward, tanpa menjawab pertanyaan Kanaya.


Kemudian Edward melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, kemudian memasuki walk in Closet, matanya menatap seluruh isi walk in Closet, kemudian tangannya menggapai, sebuah gaun berwarna peach, kemudian meletakkannya kembali, lalu meraih kembali sebuah gaun berwarna biru muda, lalu tersenyum menatap gaun tersebut, setelah puas memandang seluruh isi walk in closet, Edward pun melangkahkan kakinya menuju koleksi sepatu Kanaya.


"Astaga," seru Edward menatap seluruh sepatu.


"Apakah peri kecil ku memindahkan seluruh toko sepatu ke dalam walk in Closet ini?" tanyanya dalam hati. kemudian mengambil sepatu flatshoes berwarna biru, senada dengan warna gaunnya. Lalu Edward keluar dari walk in Closet tersebut dan menaruh Gaun diatas tempat tidur, dan meletakkan sepatu di lantai. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. terlihatlah Kanaya berdiri di depan pintu dengan menggunakan jubah mandinya.


"Kenapa kau masih berada disini?" tanya Kanaya.


"Keluarlah," ucapnya.


Edward menatap Kanaya, dengan tatapan aneh, melihat tatapan Edward, Kanaya membalikkan tubuhnya ke kamar mandi lalu berseru.


"Keluarlah dari kamar ku,"


Mendengar seruan Kanaya, Edward pun tersentak kaget kemudian menggelengkan kepalanya dan beranjak pergi dari kamar Kanaya.


Lima menit kemudian Kanaya membuka pintu kamar mandi, lalu melihat sekeliling kamarnya.


"Sepertinya dia sudah keluar," ucapnya.

__ADS_1


Lalu berjalan masuk kedalam kamar, melangkahkan kakinya menuju walk in Closet, matanya berkeliling melihat seluruh pakaiannya, memilih pakaian mana yang akan di pakainya.


"Bukankah aku sudah memilihkan pakaian mu," ucap Edward yang tiba-tiba muncul di pintu Walk in closet nya.


"Astaga," Seru Kanaya.


"Kau mengagetkan ku, dan untuk apa kau ada disini lagi hah!" seru Kanaya dengan geram.


"Aku lupa mengatakan pada mu, pakaian mu sudah aku siapkan di atas tempat tidur mu,lengkap dengan sepatu dan setelah berpakaian, harus sarapan dan juga meminum obat, lalu kita akan keluar," ucap Edward.


"Hah..!" seru Kanaya.


"Aku akan keluar sekarang, 5 menit lagi aku akan masuk, eh tidak 10 menit lagi," ucapnya lalu berjalan keluar dari kamar Kanaya.


"Astaga sebentar lagi aku gila," ucap Kanaya seraya menggelengkan kepalanya lalu mengambil pakaian dalamnya dan memakainya, dan memakai jubah handuknya kembali, Kanaya pun berjalan keluar dari walk in Closet, menuju tempat tidurnya. Kemudian memakai gaun yang telah disiapkan oleh Edward, setelah selesai Kanaya pun menghampiri meja riasnya dan memoles wajahnya dengan make up tipis natural, dan memoleskan lipstik berwarna pink dibibirnya yang mungil.


"Rambutku sudah lepet, dan bau apek, selama ini aku belum keramas," ucapnya seraya menatap rambutnya dan berdecak kesal.


"Tidak perlu mengeluh dengan rambut mu peri kecil," ucap Edward seraya berjalan menghampiri Kanaya dan memeluknya dari belakang.


"Kau tetap terlihat cantik tanpa keramas sekalipun,"ucapnya lagi, seraya menatap Kanaya dari Cermin riasnya.


"Astaga, bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk," ucap Kanaya dengan nada ketus.


"Lepaskan tangan mu," ucap Kanaya.


"Tidak, Pagi ini kau seperti bidadari, sangat cantik," ucapnya kemudian mengecup pipi Kanaya, lalu melepaskan pelukannya. lalu berkata lagi.


"Sarapan lah," ucapnya seraya meraih tangan Kanaya dan mendudukkan tubuh Kanaya di di sofa yang ada di kamarnya, kemudian Edward mengambil nampan berisi roti sandwich dan meletakkannya di atas meja.


"Ayo buka mulut mu," ucap Edward, tangNny yang memegang sandwich di arahkan ke mulut Kanaya.


Setelah selesai memakan Sandwich dan obatnya. Edward pun meraih tangan Kanaya dan menggenggamnya.


"Sudah saatnya berangkat," ucap Edward.


"Ayo," ucapnya lagi, seraya menarik tangan Kanaya dengan lembut agar mengikutinya berjalan. Mereka pun keluar dari kamar Kanaya menuruni anak tangga menuju halaman mansion dimana Edward memarkir mobilnya.


"Kalian mau kemana?" tanya Mommy Lingga yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Aku mau ajak princess ke suatu tempat tante, sebelumnya akan ke salon untuk creambath," ucap Edward.


"Oh," ucap Mommy Lingga ber oh ria.


"Besok jadwal buka perban di kening mu kan Nay," ucap Mommy Lingga.


"Iya mom," ucap Kanaya.


"Besok mommy antar kamu,"ucap Mommy Kanaya.


"Gak usah Tan, Kanaya tanggungjawab ku," ucap Edward seraya tersenyum menatap calon mertuanya.


"Kami permisi tan," ucap Edward.


"Hati-hati Ed, inget Kanaya belum pulih benar," ucap Mommy Lingga.

__ADS_1


"Oke Tan,"Ucap Edward kemudian mereka pun berjalan keluar menuju mobil Edward. Sesampainya di mobil, Edward pun membuka pintu mobil seraya menundukkan kepalanya dan berkata.


"Silahkan My Wife,"


"Lebay amat sih," ucap Kanaya.


"Aku belum jadi istri kamu,"ucapnya lagi kemudian memasuki mobil, setelah menutup pintu mobil, Edward pun masuk kedalam mobil dan melajukannya, menuju ke sebuah salon mewah. Sesampainya di salon, Kanaya dan Edward pun turun dari mobil, kemudian melangkahkan kakinya masuki salon tersebut.


"Selamat Pagi tuan, nyonya," ucap pegawai salon.


"Calon istri saya ingin creambath," ucap Edward dengan nada dingin.


"Baik tuan, Mari," ucap Pegawai salon tersebut, kemudian berjalan diikuti oleh Kanaya dan juga Edward.


"Hati-hati dengan perban yang ada di Keningnya," ucap Edward.


"Baik tuan," ucap Pegawai salon.


Kemudian Edward berjalan menghampiri Kanaya yang sedang berbaring di kursi creambath lalu menatap wajahnya seraya tersenyum lembut. lalu menundukkan kepalanya dan mencium pipi Kanaya seraya berkata.


"Aku menunggu mu di lobby," ucapnya lalu melangkahkan kakinya berjalan menuju lobi dan mendudukkan tubuhnya di sofa. Sambil menunggu Kanaya Edward membuka handphonenya dan mengecek email yang dikirim oleh Asisten pribadinya. Tak lama kemudian Seorang Wanita menghampirinya dan berkata.


"Edward,"


"Sayang akhirnya aku menemukan mu," ucapnya lagi. Edward mengangkat wajahnya dan sontak terkejut.


"Kau...!" sedang apa kau disini?" tanya Edward.


"Sayang kamu kemana aja sih?" tanya wanita itu, Seraya duduk di sebelah Edward dan memeluk Edward.


"Menjauhlah dari ku," ucap Edward seraya menepis tangan wanita itu, dan bangkit berdiri.


"Edward kenapa kau seperti ini?" tanyanya lagi.


"Dengar Amelia, pergilah dan jangan menganggu hidup ku lagi," ucap Edward tajam.


"Maaf kan aku Edward, saat itu aku terpaksa melakukannya," ucap Amelia.


"Lupakan itu, aku tidak perduli lagi dan ingat menjauhlah dari ku," ucap Edward seraya menatap tajam wanita yang ada di hadapannya. Wanita itu adalah mantan kekasih Edward.


"Edward dengarkan aku," ucap Amelia lalu mendekat pada Edward dan memeluknya dengan erat. Dengan penuh amarah Edward mendorong tubuh Amelia, sehingga jatuh tersungkur.


"Sayang kau tega melakukan ini padaku?" tanya Amelia dengan tatapan sendu kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Edward kembali.


"Aku tahu kau masih mencintai ku, aku yakin itu," ucap Amelia


"Lihat aku Edward tatap mata ku, aku sangat mencintai mu," ucapnya lagi. Kemudian mendekatkan tubuhnya pada Edward.


"Cihh, aku tidak bodoh Amelia," ucap Edward seraya menghindar dari Amelia.


"Sayang, jangan seperti itu," ucap Amelia seraya menangis tersedu. Kemudian Wanita itu mendekat pada Edward dan merangkulnya, lalu tangannya mengelus dada bidang Edward.


"Dengar lepaskan aku," ucap Edward berusaha melepaskan tangan Amelia. mendapat perlakukan Edward yang berusaha melepaskan tangan dan dirinya, Amelia semakin nekad memeluk Edward dengan Erat, seakan tak ingin dilepaskan lagi. Edward yang telah kehilangan kesabaran, meraih tangan Amelia dan mencengkeramnya dengan keras, sehingga membuat Amelia meringis kesakitan.


"Sudah ku katakan pada mu, untuk menjauh dari ku, tetapi kau berani menyentuh ku, jadi jangan salahkan aku jika aku, memperlakukan mu dengan kasar," ucap Edward kemudian mendorong dengan keras, tatapan matanya tajam dan nyalang.

__ADS_1


"Sekali lagi aku katakan, menjauh dari ku," Ucap Edward.


Tanpa Edward sadari sepasang mata menatapnya sedari tadi, tatapan mata yang meremehkan dan juga mencemooh. Lalu dengan keras bertepuk tangan, sehingga Edward menolehkan wajahnya, lalu terkejut melihatnya.


__ADS_2