Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 68. Rumah Kedua Dan Rumah Pertama Ku


__ADS_3

Kanaya memasuki perusahaannya, dengan wajah yang masih menampakkan kekesalan, dia memasuki lift yang akan membawanya ke lantai atas dimana ruangannya berada. Sesampainya di dalam ruangan, ternyata Richard dan Cintya masih berada di dalam, melihat Kanaya memasuki ruangannya dengan wajah kesal, mereka menatapnya seraya mengerutkan keningnya dan tatapan penuh tanda tanya.


"Kamu kenapa Nay?"tanya Richard.


"Nggak kenapa-kenapa kak,"jawab Kanaya.


"Gak mungkin,"jawab Cintya.


"Ada apa ceritain?"tanya Cintya.


"Nggak apap-apa hanya ada sedikit gangguan aja, kuman yang harus di enyahkan,"ucap Kanaya.


"Siapa?"tanya Cintya.


"Eden,"jawab Kanaya.


"What..!"seru Richard.


"Dimana kamu bertemu pria brengsek itu?"tanya Cintya.


"Direstaurant sebelah,"jawab Kanaya.


"Ngapain kamu kesana Nay?"tanya Richard.


"Jenuh nunggu kalian,"jawab Kanaya seraya menatap Cintya dan Richard bergantian lalu menampakkan cengiran saat Cintya dan Richard menatapnya tajam.


"Kakak pulang sana gih,"ucap Kanaya.


"Idihhh ngusir,"ucap Richard.


"Kita gak akan kerja-kerja kalau kakak gak pulang-pulang,"ucap Kanaya.


"Kerja aja, kakak masih mau disini, sekali-kali liat adek sendiri kerja,"ucap Edward.


"Liat adek sendiri atau liat calon pacar,"ucap Kanaya.


"Dua-duanya,"ucap Richard lalu bangkit berdiri berjalan menuju sofa, lalu membaringkan tubuhnya diatas sofa. Kanaya menatap kakaknya lalu menggelengkan kepalanya, kemudian mengambil beberapa kertas dan pensil, lalu dengan lihai tangannya membuat gambar desain gaun yang akan di tampilkan di peragaan busana nanti.


Beberapa jam kemudian desain-desain tersebut telah selesai, Kanaya menatapnya lalu tersenyum puas.


"Woww, seperti biasa tangan mu yang mungil itu mampu menciptakan maha karya yang sangat indah dalam sekejap,"ucap Cintya


"Kamu terlalu memuji Cin,"ucap Kanaya.


"Kenyataan yang harus diterima,"ucap Cintya.


"Aku lapar,"ucap Kanaya lalu berkata lagi.


"Bangunin tuh," seraya menunjukkan dagunya pada Richard yang tertidur disofa.


"Tuan Richard yang terhormat, bangun dong, kita mau makan siang nih,"ucap Cintya, seraya mengguncang-guncang lengannya.


"Kakak kamu kebo juga ya,"ucap Cintya.


"Seperti itulah,"ucapnya lalu melangkah kakinya berjalan menghampiri Richard, lalu dengan jahil berteriak di telinga kakaknya.


"kebakaran-kebakaran."


"Apa? kebakaran?"tanya Richard terkejut lalu bangkit berdiri meraih tangan adiknya dan Cintya.

__ADS_1


"Ayo cepat kita keluar dari ruangan ini,"seru Richard dengan wajah panik.


Kanaya dan Cintya tertawa terpingkal-pingkal melihat Richard yang panik.


"Princess, kau,"ucapnya lalu Kanaya berlari menghindar dari Richard. Mereka pun berkejaran seperti anak kecil. Cintya yang melihat mereka hanya menggelengkan kepala dan tersenyum lebar, dalam benaknya berkata.


"Kamu benar Nay, hati di ibaratkan sebuah rumah, dan kamu kembali ke rumah mu karena rumah mu adalah tempat bernaung dan berlabuh, suatu tempat dan ruang yang akan membuat mu tertawa sejauh apapun kamu melangkah menghindar pergi menjauh kamu akan kembali, dan sekarang kamu sudah kembali ke rumah, dimana orang-orang yang mencintai mu selalu ada untuk mu, dan juga sebuah rumah yang akan membuat lebih bahagia lagi yaitu Edward Kusuma."


"Hemm."suara deheman yang keras dari arah pintu terdengar, Edward berdiri di sana dengan tatapan dingin menatap Richard lalu melangkahkan kakinya menghampiri Richard dan Kanaya, kemudian menatap Wajah mereka secara bergantian lalu tangannya meraih tangan Kanaya.


"Lepaskan tangan mu,"ucap Edward ketus pada Richard.


"Cihh, kenapa aku harus melepaskan tangan adik ku?"tanya Richard ketus.


"Dia calon istri ku,"jawab Richard tak kalah ketusnya.


"Dia adik ku,"ucap Richard tak mau kalah.


"Dia istri ku,"ucap Edward tak mau kalah.


"Stop,"seru Kanaya. seraya melepaskan tangannya dari Edward. lalu berjalan keluar dari ruangannya menuju pintu seraya berseru.


"Ayo Cin." lalu Cintya pun berjalan menghampiri Kanaya Kemudian mereka berjalan beriringan menuju pintu lift.


Melihat Cintya dan Kanaya telah pergi, Edward dan Richard pun berlari seperti anak kecil menyusul mereka.


Lalu mereka pun bersama-sama keluar dari perusahaan Kanaya.Sesampainya di parkiran Edward pun berkata.


"Kita satu mobil aja."


"Boleh tapi awas kalau berantem lagi,"ucap Kanaya dengan dingin dan tajam menatap kakak dan kekasihnya itu.


"Lah dia yang mulai duluan,"ucap Richard.


"Kamu tuh yang mulai duluan,"ucap Edward.


"Astaga kalian ini bisa berhenti nggak sih?"tanya Cintya seraya menggelengkan kepalanya. lalu menarik tangan Kanaya memasuki mobilnya.


"Eh tunggu,"seru Richard kemudian menyusul Kanaya dan Cintya, diikuti oleh Edward. mereka berempat pun masuk kedalam mobil Cintya lalu Cintya melajukannya menuju sebuah restaurant favoritnya, yaitu Restaurant cita rasa Indonesia yang bernuansa santai dan siapapun yang masuk kedalam restaurant tersebut akan merasakan kenyamanan dan pemandangan keindahan taman, dan bagi pelanggan yang ingin makan dengan santai dan duduk secara lesehan di saung itu dan di bawah saung itu terdapat sebuah kolam yang luas yang menampakkan ikan-ikan yang berenang bebas.


Kanaya dan Cintya memilih sebuah saung yang berada di tangan kolam dengan santai mereka duduk, seorang pelayan restaurant tersebut menghampiri mereka dan memberikan buku menu.


"Makan apa Nay?"tanya Cintya.


"Gurame goreng, kangkung cah udang, minumnya air mineral,"ucap Kanaya.


"Aku bawal bakar deh, sama capcay,"ucap Cintya


"Kalian?"tanya Cintya.


"Aku samain aja sama kamu Cin,"ucap Richard.


"Aku samain aja sama Kanaya,"ucap Edward.


"Oke deh,"ucap Kanaya.


"Kamu gak pesen nasinya cin?"tanya Richard.


"Nasinya gratis,"ucap Cintya.

__ADS_1


"Yang bener aja hari gini nasinya gratis."ucap Richard.


setelah mencatat semua pesanan, pelayan restaurant meninggalkan mereka. Edward yang duduk di depan Kanaya menatap penuh selidik padanya, lalu berkata.


"Kamu kenapa gak cerita?"tanya Richard.


"Cerita apa?"tanya Kanaya seraya mengerutkan keningnya menatap Edward dengan penuh tanda tanya.


"GB group perusahaan mu bukan?"tanya Edward.


"Ya benar,"ucap Kanaya.


"Kenapa gak cerita?"tanya Edward.


"Maaf,"ucap Kanaya.


"Lain kali jangan menyembunyikan sesuatu pada ku, sebentar lagi kita akan menikah dan tidak baik jika ada yang bisa kita sembunyikan,"ucap Edward dengan nada tegas.


"Aku hanya berharap kamu percaya pada ku,"ucap Edward lagi.


"Kamu belum tahu siapa adik ku, dan aku yakin kamu akan terkejut jika mengetahuinya,"ucap Richard.


"Benarkah Nay?"tanya Edward.


kemudian Edward mengingat saat mencari Kanaya ke GB Group, resepsionis mengatakan tidak ada karyawan Yang bekerja di GB Group bernama Kanaya Bimantara., yang ada hanya Kanaya saja dan itu pun bukan Karyawan tetapi Pemilik perusahaan. Dan dengan rasa penasaran yang besar Edward pun menyiasati Resepsionis tersebut sehingga dapat naik kelantai atas menuju ruangan pemilik perusahaan, dan alangkah terkejutnya saat membuka pintu dan melihat Kanaya memakai sebuah topeng, dalam benaknya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.


"Perancis,"ucap Edward seraya tersenyum pada Kanaya dan berkata lagi.


"Kamu pemilik GB Group dan juga yang menghancurkan perusahaan ku dan juga salah satu perusahaan Kusuma Group di Perancis dan juga Belanda serta yang lainnya."


"Kau benar, memang aku,"ucap Kanaya dingin seraya menatap Edward tajam.


Edward hanya tersenyum menatap Kanaya dan berkata.


"Semua hanya masa lalu, dan biarkan masa lalu itu menjadi kenangan semua yang pahit biarkan pergi terbawa angin walaupun aku tahu akan sulit bagi mu Nay,"ucap Edward seraya meraih tangan Kanaya dan menggenggamnya.


"Sekarang kita adalah satu dan jangan ada lagi yang disembunyikan, kita mulai semua dari awal,"ucap Edward lagi.


Mendengar perkataan Edward Kanaya hanya menatapnya, mereka pun saling menatap, lalu terdengarlah sebuah suara Richard yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Edward dan juga Kanaya.


"Kali ini Edward benar Nay, seperti yang kau katakan pada ku dan Cintya, bahwa. sebelum selesai Richard berbicara, Kanaya menyelanya.


"Aku tahu kak, dan saat aku memutuskan menerima Edward menjadi suami ku, Karena aku tahu bahwa dia adalah rumah ku,"ucap Kanaya seraya tersenyum manis pada Edward.


"Rumah kedua dan pertama,"ucap Kanaya.


"Maksud mu?"tanya Edward.


"Rumah pertama ku dan akan selamanya menjadi rumah ku, adalah rumah yang terdapat kedua orang tua ku, rumah yang ada sejak aku belum di lahirkan kedunia, rumah yang akan selalu membuat ku pulang dan merindukan mereka sampai kapan pun bahkan sampai aku mati."ucap Kanaya kemudian menghela nafas panjang.


"Dan rumah itu akan tetap menjadi yang pertama bukan yang kedua,"ucap Kanaya lalu berkata lagi.


"Dan kau rumah kedua ku, dan rumah pertama ku, karena kau adalah orang kedua dan yang akan menjadi yang pertama tempat aku menyandarkan hidup ku, sampai aku mati."


"Terima kasih Nay,"ucap Edward. Lalu berkata lagi.


"Aku berjanji pada mu, aku akan menjadi rumah ternyaman mu, sepanjang hidup mu, sehingga kau tidak akan pernah merasakan rumah itu kosong, aku sangat mencintai mu, kau dan Gerald adalah nyawa ku dan hidup ku, aku membutuhkan cinta mu, kebahagian mu dan juga kebahagian putra kita,"ucap Edward seraya menatap lembut Kanaya.


"Hemm, bermesraannya jangan di tempat umum,"ucap Cintya menatap Edward tajam.

__ADS_1


"Dan harus kau ingat, pegang semua janji mu pada Kanaya, dia bukan hanya sahabat ku tetapi aku sudah menganggapnya seperti adik ku, jika kau menyakitinya maka orang pertama yang akan memberi pelajaran pada mu, adalah aku,"ucap Cintya dengan nada penuh peringatan dan ancaman.


__ADS_2