Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 46. Welcome Back Home


__ADS_3

Sesampainya Di kamar Kanaya kembali berbaring, Kepalanya berdenyut sakit. lalu memejamkan matanya. Edward yang tak pernah beranjak dari sisinya menatap Kanaya dan bertanya.


"Kamu kenapa Nay?"


"Gak kenapa-kenapa,"ucap Kanaya ketus.


"Dimana Gerald?" tanya Kanaya.


"Di luar bersama Mami dan yang lainnya," ucap Edward.


"Apakah kamu bisa aku tinggal sebentar Nay?" tanya Edward.


"Pergilah," ucap Kanaya ketus.


"Aku tidak akan pergi walaupun kau mengusir ku, aku hanya ingin mandi sebentar," ucap Edward.


Kemudian membuka Paper bag yang ada di atas meja kecil dan mengambil pakaiannya dan juga handuknya lalu berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dn berpakaian, Edward berjalan keluar dari kamar mandi dan menghampiri Kanaya, menatap wajah Kanaya, walaupun pucat wajah itu terlihat sangat cantik. Kemudian Edward mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Kanaya.


"Kau sangat cantik peri kecil, seandainya aku menemukan mu jauh sebelum kejadian itu, aku yakin kau tidak akan membenci ku, dan Gerald tidak akan lahir dengan cara yang menyakitkan, maafkan aku Peri kecil," ucap Edward, lalu duduk di kursi dan menyandarkan tubuhnya Matanya tak lepas memandang wajah Kanaya yang tertidur.


Seulas senyum menghias wajahnya bayangan masa lalu saat dia berusia 13 tahun, terbayang dipelupuk matanhya. semua ingatan itu masih sangat membekas dipikirannya dan benaknya.


"Sekarang aku menemukan mu peri kecil," ucap Edward kemudian bangkit berdiri dan memperbaiki letak tidur Kanaya, lalu dengan perlahan menggeser tubuh Kanaya sedikit, lalu dia pun berbaring disisi Kanaya dengan cara memiringkan tubuhnya. Tangan kirinya menopang kepalanya sehingga dia leluasa menatap wajah cantik Kanaya. Tak lama kemudian Edward pun memejamkan matanya dan akhirnya ikut tertidur.


Beberapa menit kemudian, Seseorang membuka pintu, menyaksikan Edward terbaring di sisi Kanaya kedua matanya terbelalak kaget melihatnya.


"Biarin aja Aunty," ucap Gerald.


"Loh kok biarin," ucap Cintya. Yang masuk kedalam kamar Kanaya adalah Cintya, lalu menyusul Gerald mengikutinya dari belakang.


"Lebih baik kita keluar aja," ucap Gerald. lalu berbalik dan berjalan keluar dari kamar Kanaya, diikuti oleh Cintya.


"Om, Tante, mereka kok bisa akur gitu?" tanya Cintya pada Daddy Ded dan Mommy Lingga.


"Ceritanya panjang Cin, dan di bilang akur sih belum, cuma si Edward aja yang nyosor Mulu," ucap Richard.


"Udahlah kita liat nanti," ucap Daddy Ded.


"Daddy ke kantor dulu mom," ucap Daddy Ded


"Aku juga mom," ucap Richard. Lalu mereka pun beranjak pergi meninggalkan Mommy Lingga dan Juga Cintya serta Gerald. Sedangkan Mami Edwar dan juga Papi Edward, telah berpamitan sejak tadi karena ada urusan mendadak yang harus di selesaikannya.


"Aku penasaran gimana ceritanya si Edward itu lengket sama Kanaya?" tanya Cintya


"Mereka mungkin berjodoh Cin," ucap Mommy Lingga lalu menceritakan semua yang terjadi pada Kanaya dan juga Edward bagaimana Edward mendonorkan darahnya, menjaga dan merawat Kanaya, semuanya tak ada cerita yang tertinggal, termasuk cerita tentang Peri kecil yang entah bagaimana asal muasalnya. Mendengar cerita dari Mommy Lingga Cintya membelalakkan matanya tak percaya.


"Peri kecil?" tanya Cintya.


"Tante juga gak tahu cerita itu yang tahu hanya mereka berdua dan juga kedua orang tua Edward." ucap Mommy Lingga.


Waktu pun terus berlalu tak terasa satu Minggu Kanaya berada di rumah sakit dan tak sedikit pun Edward beranjak dari sisi Kanaya, Edward merawat Kanaya dengan sangat telaten, walaupun Kanaya selalu bersikap ketus padanya, tetapi dia hanya tersenyum melihat keketusan Kanaya.


"Mom, aku ingin pulang," ucap Kanaya merajuk ada mommy nya.


"Nanti Nay, jika dokter sudah mengijinkan kamu pulang," ucap Mommy Lingga menatap gemas putri kesayangannya.

__ADS_1


"Oke kalau dokter gak ijinin aku pulang, aku kabur aja," ucap Kanaya seraya menatap Mommynya.


"Pilih mana mom?" tanya Kanaya.


"Astaga kamu ini kayak anak kecil aja sih," seru Mommy Lingga seraya memelototkan matanya pada Kanaya.


"Kabur? gimana mau kabur, Kanaya udah boleh pulang hari ini, aku udah bicara sama dokter dan dia ngijinin pulang," ucap Edward dari arah pintu seraya berjalan mendekati Kanaya.


"Sekarang kita bisa siap-siap pulang,"ucap Edward.


"Ya udah Mommy beresin administrasinya dulu," ucap Mommy Lingga.


"Gak usah tante, aku udah beresin semuanya," ucap Edward yang kini memanggil Mommy Lingga dengan sebutan Tante.


"Ya udah, Mommy telpon Daddy dulu," ucap Mommy Lingga, kemudian mengambil handphonenya dan menghubungi suaminya serta Richard. setelah menelpon suami dan putranya. Mommy Lingga pun membantu Edward mempersiapkan kepulangan Kanaya.


Setengah jam kemudian Daddy Ded dan Richard memasuki kamar Kanaya.


"Pulangnya kok mendadak mom?" apa Dokter udah ngijinin dan bagaimana kondisi Kanaya?" Tanya Daddy Ded.


"Dokter udah ngijinin Kanaya pulang kok, aku udah bicara dengan dokter dan kondisinya juga udah baik, gak ada yang perlu ditakutkan lagi, dan dia harus cek up ke dokter dan mengganti perban yang ada di keningnya saja," ucap Edward menjelaskan.


"Kamu yakin?" tanya Daddy Ded seraya menatap tajam Edward.


"Ya, aku yakin," ucap Edward. seraya menatap Daddy Ded.


"Awas kalau kau bohong," ucap Daddy Ded.


"Astaga Daddy Mertua, aku tidak mungkin bohong, apalagi mengenai Kanaya," ucap Edward.


"Nona Kanaya sudah bisa pulang," ucap Dokter lagi seraya tersenyum.


"Lalu bagaimana dengan lukanya Dok?" tanya Daddy Ded.


"Tidak ada yang perlu di kuatirkan lukanya sudah membaik, hanya saja luka sobek di keningnya mungkin akan meninggalkan sedikit bekas,"Ucap Dokter.


"Masalah luka itu tidak apa-apa dok, yang terpenting putri saya sembuh," ucap Mommy Lingga.


"Anda benar nyonya," ucap Dokter.


"Terima kasih banyak Dokter," ucap Mommy Lingga.


"Sama-sama nyonya, obatnya jangan lupa di habiskan biasanya pasien jika sudah merasa sembuh dia akan melupakan obatnya," ucap Dokter seraya terkekeh.


"Baiklah saya permisi tuan, nyonya. Nona Kanaya," ucap Dokter seraya menghampiri Kanaya yang duduk di tepi tempat tidur.


"Semoga kita tidak bertemu lagi dirumah sakit ini," ucap Dokter lagi seraya tersenyum pada Kanaya.


"Dokter hati-hati dengan mata mu," ucap Edward tajam.


"Astaga mulai lagi nih bocah tua," ucap Richard mengejek Edward.


"Terima kasih Dok," ucap Kanaya seraya tersenyum pada Dokter.


Melihat senyum Kanaya pada Dokter, Edward mendekat padanya, dan tanpa pikir panjang dia meraih Kanaya dan menggendongnya ala bridal style.

__ADS_1


"Apa-apaan sih kamu, turunin," ucap Kanaya.


"Gak akan, pegang erat-erat, kita pulang," ucap Edward tegas kemudian melangkahkan kakinya berjalan keluar meninggalkan Dokter dan yang lainnya dengan terbengong-bengong menatap Edward yang menggendong Kanaya.


"Astaga mimpi apa aku melihat bocah tua itu," ucap Richard kemudian mengambil dua buah koper yang teronggok di lantai, dan melangkahkan kakinya meninggalkan Dady Ded dan Mommy Lingga beserta Dokter yang terheran-heran melihat kebucinan Edward.


"Maafkan anak-anak saya Dok," ucap Daddy Ded.


"Tidak apa-apa tuan," ucap Dokter.


"Kalau begitu saya permisi," ucap Dokter. Kemudian dokter pun meninggalkan Daddy Ded dan Mommy Lingga.


"Ayo Mom, kita pulang," ucap Daddy Ded seraya meraih tangan Mommy Lingga dan menggenggamnya, menggiringnya kuar dari kamar.


Satu jam kemudian Mobil Sport Edward dan mobil Merci keluaran terbaru milik Daddy Dad sampai di mansion Bimantara. Dengan tergesa Edward keluar dari mobil, lalu membuka pintu mobil.


"Aku bisa berjalan sendiri," ucap Kanaya ketus.


"No," ucap Edward kemudian membungkukkan tubuhnya dan meraih tubuh Kanaya, menggendongnya lalu berjalan menuju mansion. Daddy Ded dan Mommy Lingga serta Richard yang melihat Edward dan Kanaya, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sesampainya di depan pintu mansion, Richard pun membuka pintu.


"Welcome back home mami," teriak Gerald.Menyambut kepulangan maminya.


Kemudian Gerald mendekat pada maminya dan memberikan buket bunga pada Kanaya, dengan satu tangannya Kanaya meraih Buket bunga dari tangan putranya.


"Makasih Nak," ucap Kanaya terharu. Lalu menatap sekeliling ruang tamu mansion yang di dekorasi indah dan tulisan yang tergantung, 'welcome back home mami '


Lalu Edward melangkahkan kakinya menuju ruang tamu,


"Apakah kau akan mengendong ku terus seperti ini? turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri," ucap Kanaya dengan jutek seraya menatap Edward dengan tajam.


Tanpa mengacuhkan kejutekan dan tatapan tajam Kanaya, Edward pun berjalan dan mendudukkan Kanaya di sofa ruang tamu, lalu dia pun ikut duduk disebelah Kanaya. Cintya yang sudah tidak aneh melihat Edward seperti itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu menghampiri Kanaya dan memeluknya.


"Kamu sudah benar-benar sehat Nay?" tanya Cintya.


"Iya Cin," ucap Kanaya.


"Maaf Nay, waktu kejadian aku gak sempat nengok kamu," ucap Cintya, saat kecelakaan Kanaya, Cintya berada di Singapura mewakili Kanaya untuk mengurus cabang perusahaannya disana.


"Gak apa-apa Cin, toh akhirnya kamu jenguk aku juga, tapi kita gak sempet ngobrol banyak," ucap Kanaya seraya menatap tajam Edward.


"Gimana perusahaan Cin?" tanya Kanaya.


"Semua berjalan dengan baik Nay," ucap Cintya.


"Tidak ada perusahaan atau pekerjaan yang dibicarakan, saatnya kamu istirahat," ucap Gerald kemudian menghampiri Kanaya dan menggendongnya kembali.


"Turunin aku, kamu tuh ya, dikasih hati mau jantung," bentak Kanaya.


"Semakin kamu marah, kamu semakin cantik honey," ucap Edward seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda Kanaya.


Kanaya membelalakkan matanya, lalu berkata.


"Astaga apakah kau sudah gila?" tanya Kanaya.


Gerald yang menyaksikan Maminya dan Edward Papinya terkikik geli, sementara yang lain hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Udah bawa Kanaya ke kamarnya jika berada disini terus dia akan mendesak Cintya bertanya pekerjaan, kali ini Daddy setuju dengan Edward," ucap Daddy Ded


__ADS_2