
Banyak hal yang belum di ketahui oleh keluarga Kanaya, dan mereka tidak menuntut Kanaya untuk menceritakannya. Mereka mengerti kehidupannya yang keras yang dijalaninya selama ini membuatnya tertutup.
Daddy Ded menatap wajah putrinya itu, 10 tahun telah mengubah Kanaya menjadi seperti sekarang ini, wanita yang sukses tanpa bantuan siapapun, hanya mengandalkan dirinya sendiri dan juga kepintarannya serta kemampuannya dalam menciptakan karya yang indah pada sebuah kain, yang membuatnya terkenal di seluruh negeri, hanya saja orang tak tahu bahwa dialah Desainer itu, dan juga pemilik perusahaan besar.
Kemudian Daddy Ded mengalihkan tatapannya pada istrinya yang di balas senyuman oleh istrinya seolah-olah mengerti apa yang ada dipikiran suaminya itu, kemudian Daddy Ded meraih gelas air mineralnya dan meminumnya, bangkit berdiri seraya berkata.
"Daddy berangkat kerja mom,"lalu mengecup kening istrinya. Mommy Lingga pun bangkit berdiri berjalan bersama Daddy Ded, keluar dari ruang makan menuju halaman mansion dimana mobil dan sopirnya telah menanti untuk mengantarkannya berangkat bekerja.
Tak lama kemudian sebuah mobil sport Lamborghini Anvantando, memasuki halaman mansion, Edward memarkirkan mobilnya, lalu membuka pintu, keluar dari mobil, berjalan menuju Mansion Bimantara, sesampainya di depan pintu Edward bertemu dengan Daddy Ded dan juga Mommy Lingga
"Baru mau berangkat om?"tanya Edward.
"Iya nih Ed,"jawab Daddy Ded.
"Masuk aja, Kanaya ada tuh di dalam lagi sarapan,"ucap Mommy Lingga.
"Oke, Tante,"ucap Edward.
Kemudian melangkahkan kakinya berjalan memasuki mansion. Sesampainya di dalam ruang makan, Edward melihat Kanaya sedang mengobrol bersama kakaknya Richard.
"Hem, asyik bener,"ucap Edward.
"Pagi-pagi udah datang, mau numpang sarapan kamu?"tanya Richard.
"Idih sewot aja bawaannya,"jawab Edward dengan nada mengejek. lalu menatap Kanaya dan tersenyum.
"Morning honey,"ucap Edward seraya mengecup kening Kanaya.
"Pagi-pagi udah nyosor adik gue,"ucap Richard.
"Adik elo, calon istri gue,"ucap Richard seraya mendelik kesal.
"Baru calon, belum istri,"ucap Richard dingin.
"Sirik aja loe,"ucap Edward tak kalah dingin.
"Suka-suka gue, ngapain juga gue iri sama elo,"ucap Richard dingin.
"Kalian kenapa sih setiap ketemu ribut Mulu,"ucap Kanaya seraya menggelengkan kepalanya. Lalu bangkit berdiri dari kursinya berjalan keluar dari ruangan makan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Sayang kamu mau kemana?"tanya Richard.
"Mandi,"ucap Kanaya.
"Ehhhh, loe mau kemana,"seru Richard melihat Edward yang akan mengikuti Kanaya.
"Nyari anak gue lah, kemana lagi,"ucap Edward seraya mendelikkan matanya pada Richard.
"Kirain loe mau ikutin adik gue kekamarnya,"ucap Richard sinis.
"Otak loe ngeres aja, udah ah ngeladenin elo nggak akan ada habisnya,"ucap Edward lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang makan, tiba-tiba langkahnya terhenti mendengar Richard berseru.
__ADS_1
"Emang loe tahu ponakan gue sekarang dimana?"
"Dikamarnya lah,"ucap Edward.
"Yakin loe?"tanya Richard.
"Yakin secara dia kan homeschooling,"ucap Edward.
"Ishhh, bodoh di piara, ponakan gue di ruang belajar, noh ruangannya di lantai dua paling ujung,"ucap Richard lalu bangkit berdiri, berjalan keluar dari ruang makan, meninggalkan Edward sendiri, menuju halaman mansion dimana mobilnya di parkir.
Kemudian Edward pun berjalan menaiki anak tangga menuju ruang belajar dimana Gerald berada. Sesampainya di ruang tesebut Edward membuka pintu secara perlahan dan melihat seorang guru wanita yang sedang membelakangi Gerald menulis di white board mengajarkan Gerald beberapa rumus matematika, saking serius dan fokusnya mereka tak menyadari jika Edward telah berada di dalam ruangan tersebut dan menyaksikan proses belajar mengajar tersebut, tiba-tiba kening Edward berkerut, melihat Gerald yang ternyata tidak menyimak setiap pelajaran guru nya itu, Gerald hanya fokus pada Kertas yang di coret-coretnya, lalu saat gurunya bertanya pada Gerald dengan mudah Gerald menjawab semua pertanyaan gurunya tesebut, hingga gurunya membalikkan tubuhnya, lalu tak sengaja melirik kearah pintu dan alangkah terkejutnya, melihat Edward telah berada di dalam ruangan.
"Selamat pagi Tuan,"ucap Guru wanita itu.
"Pagi,"ucap Edward dingin lalu menatap wajah putranya.
"Papi kok ada disini?"tanya Gerald.
"Papi pengen lihat kamu belajar,"ucap Edward.
"Oh,"ucap Gerald ber oh ria. kemudian menatap guru wanitanya yang tak lepas memandang Edward.
"Ibu mau lanjutin belajarnya atau mau tatap Papi aku terus?"tanya Gerlad dengan dingin, menatap Guru wanita tersebut.
"Eh ayo kita lanjutkan,"ucap Guru wanita itu terkejut sehingga berbicara dengan terbata-bata.
Kemudian mereka pun melanjutkan pelajarannya, sementara Edward memperhatikan proses belajar mengajar tersebut. 15 menit kemudian Edward pun keluar dari ruangan itu, setelah menutup pintu, dia pun berjalan menuruni anak tangga. Sesampainya di ruang keluarga Edward duduk termenung.
"Permisi tuan Edward, apakah lamunannya sudah selesai?"tanya Kanaya seraya menjentikkan jarinya di depan wajah Edward.
"lagian kenapa sih ngelamun mulu dari tadi,"ucap Kanaya.
"Gak kenapa-kenapa, ayo,"ucap Edward seraya bangkit berdiri lalu meraih tangan Kanaya, lalu mereka pun berjalan menuju mansion dimana mobil Edward di parkir. Sesampainya di mobil Edward pun membuka pintu mobil mempersilahkan Kanaya masuk.
"Silahkan masuk nyonya Kusuma,"ucap Edward.
"Ishh lebay,"ucap Kanaya seraya mencebikkan bibirnya pada Edward.
"Hehehehe, gak apa-apa dong lebay sama calon istri sendiri,"ucap Edward.
Kanaya hanya tersenyum mendengar perkataan Edward, lalu memasuki mobil. Edward pun menutup pintu mobil lalu berjalan berputar di depan mobilnya dan membuka pintu setelah memasukinya Edward pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Sayang alamat perusahaan mu?"tanya Edward.
"GB Group,"ucap Kanaya.
"Oh.. kamu kerja disana, aku kok gak tau ya?"tanya Edward.
"Kamu gak usah kerja disana lagi ya? kan udah ada aku, aku yang akan tanggungjawab buat kamu dan putra kita,"ucap Gerald.
"Gak mau ah, aku mau kerja,"ucap Kanaya.
__ADS_1
"Kalau gitu kerja di perusahaan aku aja ya,"ucap Edward.
"Ogah, sama aja bohong,"ucap Kanaya.
"Kok gitu sih,"ucap Edward seraya melirik Kanaya.
"Pokoknya nggak ya nggak lah,"ucap Kanaya ketus.
"Kalau di perusahaan aku, kan gak usah kerja keras, kamu cukup suruh orang aja,"ucap Edward.
"Itu namanya bukan kerja, tapi perintah orang,"ucap Kanaya seraya menggelengkan kepalanya.
"Tapi sayang aku kan cuma gak pengen kamu kecapean,"ucap Edward lagi.
"Enakan kerja sendiri,"ucap Kanaya.
"Sayang, udah saatnya kamu istirahat, gak usah kerja, aku yang bertanggungjawab atas hidup mu dan juga putra kita, kamu cukup duduk di mansion aja, lakukan apa yang kamu mau,"ucap Edward.
"Jika seperti itu kamu ngajarin aku malas dong,"ucap Kanaya seraya mencebikkan bibirnya.
"Ishh, kamu kan kerja, ngurus aku sama putra kita,"ucap Edward.
"Ngurus kamu? nikah aja belum, masih satu bulan lagi,"ucap Kanaya.
"Kamu kan bisa ngisi waktu kamu dengan jalan-jalan atau beli apa kek, oh iya kamu bisa belanja sepatu tuh, sekalian pindahin toko sepatunya ke walk in Closet kamu,"ucap Edward.
"Aish udah ah, males bahasnya."ucap Kanaya.
"Tapi Nay,"ucap Edward.
"Gak ada tapi-tapian, untuk saat ini aku harus kerja dan nanti ya gimana nanti aja, kita bicarakan lagi,"ucap Kanaya, menghentikan perdebatan mereka.
"Ya udah kalau gitu, tapi kamu harus pikirin Nay, aku gak pengen kamu kecapean cukup aku yang bekerja untuk menafkahi kalian,"ucap Edward seraya melirik Kanaya.
Kanaya hanya diam, dia tahu perdebatan ini tidak akan ada habisnya. Melihat Kanaya diam Edward pun diam dan fokus pada setir mobilnya.
Setengah jam kemudian mobil pun sampai di depan perusahaan GB gruop kemudian Kanaya membuka pintu mobil dan berkata pada Edward.
"Nanti gak usah jemput aku, kayaknya aku lembur hari ini,"ucap Kanaya.
"Tuh kan aku bilang juga apa,"ucap Edward.
"Maksudnya?"tanya Kanaya seraya mengeryitkan keningnya menatap Edward.
"Kamu lembur ntar kamu kecapean,"ucap Edward.
"Udah biasa,"ucap Kanaya seraya tersenyum.
"Eh tunggu dulu,"ucap Edward lalu berkata lagi.
"Main pergi aja," kemudian menarik tangan Kanaya lalu mengecup kedua pipinya.
__ADS_1
"Itu baru bener,"ucap Edward seraya tersenyum menatap Kanaya yang terbengong melihat Edward lalu menggelengkan kepalanya dan keluar dari mobil. Berjalan memasuki perusahaan, kemudian Edward pun melajukan mobilnya menuju perusahaan, sementara itu Kanaya menuju toilet seperti biasa memakai topengnya, setelah memakai topengnya, Kanaya pun melangkahkan kakinya keluar dari toilet berjalan menuju Lift khusus CEO.
Sementara itu di sebuah mobil, seseorang memegang stir mobilnya dengan sangat kencang, menahan marahnya, seolah-olah setir mobil itu adalah pelampiasannya, wajahnya merah padam. Tanpa Edward sadari, sejak mobil Edward memasuki mansion Bimantara mobil itu telah mengikutinya.