Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 82. Kisah Peri Kecil


__ADS_3

Setelah Gerald tak bersama mereka. Kakek Pratama Menatap Papi Edward dan Juga Mami Edward, lalu beralih menatap Edward. Kemudian menghela nafas berat.


"Putra Kusuma,"ucap Kakek Pratama.


"Iy benar Paman,"ucapnya seraya tersenyum menatap kakek Pratama.


"Bukankah Paman yang menghubungi ku kemarin?"tanya Papi Edward.


"Ya benar,"ucap Kakek Pratama.


"Putra dari Dino Kusuma dan Karmila,"ucapnya lagi.


Kemudian tersenyum menatap Putra Kusuma ternyata walaupun Dino Kusuma tak berjodoh dengan Keila Kasendra, tetapi putra kalianlah yang meneruskan perjodohan ini. Lalu mengeluarkan sebuah liontin berbentuk hati. kedua mata Edward terbelalak menatap liontin tersebut lalu bertanya


"Mengapa liontin itu sangat mirip dengan liontin ku?"


"Liontin ini sepasang, liontin yang di buat oleh kakek buyut kalian untuk mempersatukan dua keluarga besar Kasendra dan juga Kusuma,"jawab Kakek Pratama.


"Bukankah liontin itu yang diberikan oleh kakek mu saat beliau masih hidup?"tanya Kakek Pratama.


"Benar,"ucap Edward kemudian mengambil liontin berbentuk hati dari saku celananya.


"Saat itu kakek memanggil ku dan memberikan liontin ini dan dia meminta ku untuk memberikannya pada wanita yang akan menjadi istri ku,"ucap Edward. Teringat pada kakeknya saat dia memberikan kalung liontin itu padanya dan berkata.


"Berikanlah kalung ini untuk wanita yang menjadi istri mu kelak, sepertinya kalung berliontin ini tidak memiliki takdir bertemu dengan pasangannya."


Kemudian Kakek Edward tersenyum lalu berkata lagi.


"Jika takdir mempertemukan pasangan liontin itu berarti dia menemukan jodohnya tetapi jika takdir tidak mempertemukan pasangan kalung itu, maka takdir memang benar-benar tidak merestui kalung itu sedari dulu."


"Awalnya aku tidak mengerti apa yang kakek katakan pada ku, tetapi ketika aku mendengar tentang masa lalu Keluarga ku sekarang barulah aku mengerti,"ucap Edward. Kemudian tersenyum menatap Kanaya. Lalu matanya menerawang mengingat semua kejadian di masa lalu.


...****************...


Flash Back


"Hei kamu sedang apa?"tanya seorang anak perempuan berumur tujuh tahun seraya duduk di sebelah Edward, yang saat itu duduk termenung di pinggir danau.


"Nama ku Kanaya,"ucap Kanaya memperkenalkan dirinya lalu mengulurkan tangannya pada Edward.


Anak perempuan itu adalah Kanaya yang saat itu berusia 7 tahun. Saat dia jenuh di villa nya dia mengajak pengasuhnya untuk bermain di tepi danau, tak sengaja Kanaya kecil melihat seorang anak laki-laki berusia 12 tahun duduk termenung di tepi danau seraya melemparkan kerikil-kerikil ke tengah danau.


"Nih,"ucap Kanaya. Lalu mengulurkan tangannya dan memberikan sebatang coklat padanya. Edward hanya menatap coklat itu lalu menatap wajah Kanaya.


"Ambil gak usah malu-malu,"ucap Kanaya lagi. Lalu terdengar sebuah suara memanggil Kanaya.

__ADS_1


"Nona Kanaya ayo kita pulang, sebenatar lagi sore."


"Aku pulang dulu ya, besok aku kesini lagi, dan jangan lupa coklatnya dimakan,"ucapnya lalu berlari menghampiri pengasuhnya.


Sementara itu Edward yang masih duduk ditepi danau membalikkan tubuhnya menoleh pada Kanaya yang berjalan bergandengan tangan dengan pengasuhnya. Kemudian menatap coklat yang teronggok di sebelahnya lalu mengambil coklat tersebut, menatap sejenak dan membuka bungkusnya kemudian memakan coklat pemberian Kanaya.


Keesokan paginya Edward keluar dari Villanya dan berjalan menyusuri kawasan Villa tersebut dan langkahnya terhenti di sebuah gerbang Villa yang tampak megah berdiri. seorang anak perempuan kecil berumur tujuh tahun berlarian di taman villa tersebut mengejar kupu-kupu yang beterbangan.


Edward memperhatikan wajah anak perempuan itu lalu berkata dalam hatinya.


"Bukankah anak perempuan itu, anak yang memberikan ku coklat?"


"Iya benar dia anak itu Kanaya." Lalu Edward tersenyum melihat Kanaya kemudian mengambil camera yang di bawanya dari mansion dan memotret Kanaya.


Kemudian melangkahkan kakinya kembali pulang menuju Villanya.


Seperti kebiasaannya menjelang sore Edward selalu ke tepi Danau, entah apa yang dicarinya di danau tersebut kedua orang tuanya sangat heran melihat putra semata wayangnya itu, yang sangat senang sekali pergi ke danau itu, apabila mereka berlibur di Villa mereka. Saat mereka bertanya apa yang dia cari di danau itu, Edward hanya menjawab tidak mencari apapun dia hanya senang berada di tempat itu dia pun tak mengerti mengapa dia sangat menyukai danau itu.


Dan seperti janjinya pada Edward Kanaya pun datang ke tepi Danau itu. Dan saat melihat Edward berada duduk di tepani danau, sebuah senyum manis terulas di wajahnya lalu Kanaya berjalan menghampiri Edward. Sejak saat itu mereka berteman akrab dan setiap sore mereka selalu pergi ke danau itu.


...****************...


Suatu hari Kanaya berlari menghampiri Edward seraya membawa sebuah cincin dari rumput liar.


"Edwarddd,"seru Kanaya.


"Nay, hati-hati jangan berlari kamu jalan aja,"seru Edward. Lalu bangkir berdiri dan menghampiri Kanaya.


"Kamu kenapa berlarian sih?"tanya Edward.


"Aku akan memberikan ini pada mu, mana tangan mu,"ucap Kanaya.


Lalu Edward memberikan tangannya pada Kanaya. Kemudian Kanaya menyematkan cincin yang di buatnya dari rumput liar itu, dan berkata pada Edward.


"Aku membuatnya sendiri tapi aku tidak bisa membuat permata diatas cincin ini,"ucap Kanaya lalu berkata lagi.


"Nanti saat aku dewasa aku akan menikahi mu, dan kamu harus berjanji untuk menunggu ku hingga dewasa."


"Apakah Kamu melamar ku?"tanya Edward.


"Iya aku melamar mu,"jawab Kanaya.


"Oke kalau begitu aku akan menerima lamaran mu,"ucap Edward. Lalu mereka berdua tertawa gembira.


Kemudian mereka duduk di tepi danau dan Kanaya pun menceritakan sebuah dongeng pada Edward tentang Peri kecil yang berlarian di taman mengejar kupu-kupu yang cantik dan bagaimana peri kecil itu menolong seorang pangeran yang terjatuh, lalu mereka berteman dan tak lama kemudian peri kecil itu pergi meninggalkan Pangeran. Sehingga membuat pangeran itu bersedih dan pergi mencarinya kemana-mana.

__ADS_1


Tetapi Pangeran tak juga menemukan peri kecil itu hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu Pengeran itu bersedih dan mengurung diri di kamarnya hingga suatu hari Pangeran itu menemukan Peri Kecil itu dan akhirnya mereka menikah.


"Itu cerita mu atau cerita dongeng?"tanya Edward.


"Ini cerita dongeng,"jawab Kanaya.


"Emang cerita dongeng ada yang seperti itu ya?"tanya Edward.


"Ada dong,"jawab Kanaya lalu tersenyum menatap Kanaya.


"Kamu peri kecil itu dan aku Pangeran itu,"ucap Edward lalu tertawa.


"Kamu benar,"ucap Kanaya Lalu bangkit berdiri dan berlari kemudian berhenti melebarkan tangannya dan berputar-putar seraya tertawa gembira.


"Kanaya jangan seperti itu nanti kepala mu pusing,"seru Edward kemudian berlari menghampirinya. Kemudian Kanaya berhenti memutarkan tubuhnya.


"Aku tidak pusing,"ucap Kanaya seraya menatap Edward.


"Aku ingin memberi mu ini,"ucap Edward lalu merogoh saku kemejanya dan mengambil sebuah liontin berbentuk hati.


"Ini untuk mu,"ucap Edward.


"Wahhh ini sangat cantik,"ucap Kanaya lalu berkata lagi.


"Apakah kamu yakin ini untuk ku? apakah Mami dan Papi mu tidak akan memarahi mu?"tanya Kanaya lalu menatap wajah Edward.


"Tidak, kakek yang memberikannya pada ku,"ucap Edward.


"Ini ambil lah, aku sudah memberi foto di dalam liontin ini,"ucap Edward.


Kemudian membuka Liontin tersebut dan terlihatlah foto Kanaya memakai baju pink di taman Villa nya dengan wajah yang tersenyum manis.


"Dari mana kamu mendapatkan foto ini?"tanya Kanaya kecil.


"Aku memotret mu saat aku lewat di depan Villa mu dan kamu sedang mengejar kupu-kupu di taman itu, kamu sangat cantik dan aku langsung memotret mu, kamu seperti peri kecil di dalam dongeng mu,"ucap Edward.


"Mulai saat ini aku akan memanggil mu peri Kecil,"ucap Edward seraya tersenyum gembira khas anak-anak.


"Oke,"ucap Kanaya.


"Tapi aku tidak bisa menerima itu, kamu boleh memberikannya nanti saat aku sudah dewasa,"ucap Kanaya.


"Baiklah,"ucap Edward lalu berkata lagi.


"Aku kan menyimpannya untuk mu dan setelah kita dewasa aku akan memberikannya pada mu."

__ADS_1


"Janji?"tanya Kanaya.


"Aku berjanji pada mu,"jawab Edward seraya memberikan jadi kelingkingnya pada Kanaya kemudian mereka pun berjanji seraya menautkan jari kelingking mereka.


__ADS_2