
Sementara itu Cintya dan Gerald bersama Bi Wati telah sampai di rumah sakit, dengan tergesa-gesa, mereka berjalan menuju ruang VVIP room. Sesampainya di ruangan tersebut Mereka pun memasukinya di dalam ruangan tersebut Kanya terbaring dengan wajah pucat dan selang infus ditangannya.
"Bagaimana keadaan Mami ku Oma?" tanya Gerald.
"Mami mu baik-baik saja hanya membutuhkan istirahat saja nak," jawab Mommy Lingga.
"Benarkah?" tanya Gerald. Kemudian mendekati tempat tidur rumah sakit, menatap wajah Maminya.
"Mam," ucap Gerald dengan nada sendu, kedua matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Oma kenapa Mami ku tidak membuka matanya?" tanya Gerald.
"Mami mu sedang tertidur dokter baru saja memberinya obat," jawab Omanya.
"Benarkah?" tanya Gerald.
"Iya benar nak," ucap Mommy Lingga.
Kemudian Mereka pun diam hening tanpa ada yang berbicara. Duduk di sofa dengan pikiran masing-masing.
Sementara itu seorang pria yang telah berada di dalam mobilnya duduk terdiam pikirannya berkecamuk, kemudian membuka pintu mobilnya dan berjalan masuk kedalam rumah sakit, menuju lift. Tak lama kemudian pintu lift pun terbuka, pria tersebut memasuki lift yang membawanya ke lantai atas rumah sakit dimana Kanaya berada. Sesampainya di lantai atas, pria itu pun keluar dari lift dan menyusuri Lorong rumah sakit mencari kamar Kanaya, setiap ruangan di bukanya secara perlahan agar tak ketahuan oleh penghuni kamar.
"Dimana kamarnya suster itu tak mengatakan nomor ruangan tersebut," ucap Pria itu dalam hatinya.
"Tunggu bukankah rumah sakit ini salah satu rumah sakit milik Deddy Bimantara, berarti kamar Kanaya kamar yang disiapkan khusus untuk pemilik rumah sakit," ucapnya dalam hati.
kemudian dia pun melangkahkan kakinya dan berbelok ke kiri, lalu berhenti di sebuah kamar, dengan sangat perlahan membuka sedikit pintu dan mengintip dari luar melihat keadaan kamar tersebut. Tak lama kemudian pria itu pun menutupnya kembali.
"Mereka semua ada di dalam dan aku tidak mungkin masuk kedalam melihatnya," Ucapnya dalam hati. Kemudian menutup pintu secara perlahan dan melangkahkan kakinya meninggalkan Kamar Kanaya. Tak lama kemudian Pria itu pun sampai di halaman parkir rumah sakit, lalu membuka pintu mobilnya dan memasukinya, di dalam mobil dia termenung.
"Lebih baik aku pulang dulu dan kembali lagi saat mereka sudah tidak ada dalam ruangan itu," ucap Pria itu kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit tersebut.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Kanaya yang baru saja terbangun melihat sekelilingnya dan matanya melihat ke sofa dimana Gerald tidur beralaskan paha mommy nya.
"Mom," ucap Kanaya perlahan.
"Nay kamu sudah bangun?" tanya Mommy Lingga kemudian meletakkan kepala Gerald di sofa beralaskan bantal sofa. lalu melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Kanaya.
__ADS_1
"Kenapa Gerald Mommy biarkan datang kesini mom? rumah sakit tidak baik untuknya," ucap Kanaya.
"Mommy, Daddy dan juga Richard sudah membujuknya untuk pulang tetapi Gerald tidak mau pulang, dia kekeuh ingin menemani mu disini," ucap Mommy Lingga.
"Bagaimana keadaan mu nak?" tanya Mommy Lingga seraya memegang kening Kanaya.
"Aku tidak apa-apa Mom," ucap Kanaya seraya tersenyum menatap Mommynya.
"Apakah kamu ingin sesuatu?" tanya Mommy Lingga.
"Tidak mom," ucap Kanaya.
"Daddy dan Kakak kemana?" tanya Mommy Lingga.
"Mereka pulang sebentar, begitu pun dengan Cintya," ucap Mommy Lingga.
"Mommy pulang saja dengan Gerald," ucap Kanaya.
"Mana bisa Mommy tinggalin kamu Nay," ucap Mommy Lingga seraya tersenyum menatap putri kesayangannya itu.
"Tapi kasihan Gerald, Kalau Mommy tidak pulang bersama Gerald, Kanaya takut Gerald sakit, ini rumah sakit mom," ucap Kanaya.
"Mommy aku tidak apa-apa," ucap Kanaya.
"Baiklah kalau begitu, tapi menunggu Daddy mu kembali oke," ucap Mommy Lingga. Tak lama kemudian Daddy Ded masuk kedalam kamar Kanaya.
"Kamu sudah bangun Nay?" Tanya Daddy Ded seraya mendekati Kanaya kemudian memegang kening Kanaya.
Kanaya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Daddy nya.
"Mommy dan Gerald pulang saja, sopir sudah menunggu Mommy di parkiran," ucap Daddy Ded, seraya menghampiri Cucunya kemudian menggendong Gerald.
"Daddy mengantarkan Mommy dan Gerald ke mobil, kamu bisa kan Daddy Tinggal sebentar?" Tanya Daddy Ded.
"Bisa Dad, lagi pula di rumah sakit ini ada suster bukan?" ucap Kanaya seraya tersenyum menatap Daddynya.
"Baiklah, dan jangan coba-coba kamu kabur dari rumah sakit ini," ucap Daddy Ded dengan nada mengancam.
__ADS_1
Daddy Ded sangat mengenal putrinya yang sangat benci dengan rumah sakit, bahkan Kanaya pernah kabur dari rumah sakit saat dia di opname dulu. membuat semua orang panik.
Sepeninggal Daddy dan Mommy nya Kanaya memejamkan matanya kepalanya berdenyut sakit. Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka masuklah seorang pria.
"Dad kok udah balik lagi?" tanya Kanaya dengan mata yang masih terpejam. Karena tak terdengar suara, Kanaya pun membuka matanya dan alangkah terkejutnya saat melihat sosok yang paling di bencinya berdiri dihadapannya.
"Mau apa kau kesini hah?" tanya Kanaya dengan nada dingin menatap tajam pria yang ada di hadapannya.
"Kebetulan aku lewat dan melihat pintu terbuka jadi aku masuk untuk melihat mu," ucap Pria tersebut.
"Cihh kau pembohong pintu itu tidak terbuka, Daddy ku menutupnya saat dia akan keluar," ucap Kanaya dengan tajam.
"Maaf Nay, aku memang sengaja ingin melihat mu," ucap Pria itu.
"Dengar Edward Kusuma, aku sudah mengatakan pada mu untuk menjauh dari hidup ku, pergilah sekarang," ucap Kanaya.
Pria itu adalah Edward Kusuma, pria yang tak sengaja melihat keluarga Bimantara berjalan tergesa-gesa mengikuti dokter dan suster yang mendorong brankar rumah sakit menuju ruang UGD, dan juga bertanya pada suster serta mencari kamar dimana Kanaya berada dan kembali untuk menemui Kanaya.
"Aku tidak akan pergi, sebelum aku tahu kamu baik-baik saja," ucap Edward.
"Aku tidak baik-baik saja, jika kau ada di sekitar ku. Sekarang pergilah aku muak melihat mu," ucap Kanaya.
"Setiap aku melihat wajah mu, aku ingin muntah jadi pergilah, dan jangan pernah kembali," ucap Kanaya lagi.
"Tidak bisakah kita bicara baik-baik Nay?" tanya Edward.
"Tidak dan tidak akan pernah," ucap Kanaya dengan tajam.
"Kau keluar atau aku akan melempar mu kebawah," ucap Sebuah suara bariton. Daddy Ded berdiri di depan pintu kamar Kanaya, seraya menghampiri Edward dengan tatapan nyalang di penuhi dengan kebencian.
"Keluar sekarang," bentak Daddy Ded, kemudian tangannya mencengkram kerah baju Edward dan menyeretnya keluar kamar Kanaya.
"Enyahlah dan jangan pernah kembali lagi," ucap Daddy Ded, kemudian masuk kedalam kamar Kanaya dan menutup pintunya.
Sementara itu Edward hanya diam menatap pintu tersebut dan berkata dalam hatinya.
"Mengapa terlalu sulit untuk menebus sebuah kesalahan," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
"Sangat sulit menaklukannya, dan aku tak mungkin bertindak gegabah jika aku melakukan kesalahan lagi, maka saat itu riwayat ku akan tamat," ucapnya lagi kemudian melangkah kakinya meninggalkan kamar yang di huni sementara oleh Kanaya.