
Tak lama kemudian Mommy Lingga datang menghampiri mereka dan mempersilahkan mereka menuju ruang makan untuk makan malam. Lalu mereka bangkit berdiri dari sofa yang di dudukinya, berjalan menuju ruang makan, kemudian duduk di kursi makan setelah mengambil piring dan menyendok nasi dan juga lauk pauk dan meletakkannya di atas piring mereka masing-masing, mereka pun menyantap hidangan yang disajikan oleh Mommy Lingga.
"Aku tidak melihat Richard, kemana dia?"tanya Opa Hendra.
"Richard pulang agak terlambat hari ini, banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya, sebelum menjelang hari pernikahan Kanaya dan juga Edward,"ucap Daddy Ded.
"Yang menikah Richard atau Kanaya?tanya Opa Hendra.
"Jelas Kanaya Lah Pa, hanya saja kami berencana untuk mengikuti pengantin baru ini berbulan madu, kami akan menganggu bulan madu mereka, hahahahaa,"ucap Deddy Ded. Seraya tertawa lebar.
"Astaga,"ucap semua yang ada di meja makan.
Seraya menepuk jidat mereka lalu menggelengkan kepalanya.
Kemudian mereka pun kembali menyantap makanan mereka dengan nikmat.
Setelah selesai makan malam, lalu mereka bangkit dari kursi dan berjalan keluar menuju ruang tamu. Kemudian Mereka duduk di sofa.
"Katakan Apa sebenarnya yang terjadi?"tanya Kanaya menatap Kakek Pratama.
"seperti yang kakek telah katakan bahwa Oma mu adalah saudara perempuan kakek, dan karena Ayah kami yaitu kakek buyut kalian Budi Kasendra mewariskan Hartanya kepada Keila Kasendra membuat adik laki-laki ku marah dan menaruh benci padanya. Kemudian Kakek Pratama merenung ingatannya kembali ke masa lalu dimana, bagaimana adiknya yang bernama Wahyu bertengkar dengan ayahnya, kemudian menghela nafas panjang dan menatap Kanaya.
...****************...
Flash Back
"Kenapa Ayah pilih kasih pada kami?"tanya Wahyu
"Aku tidak pilih kasih pada kalian,"ucap Ayahnya
"Dek kamu dengar dulu alasan ayah,"ucap Pratama Kasendra.
"Untuk apa mendengarkan perkataan tua bangka ini dan kau manusia bodoh yang hanya menjadi kacung Ayah,"teriak Wahyu.
"Wahyuuuu, jaga ucapan mu, dasar tidak tahu diri ku pungut kau dan ku besarkan, ku didik bukan untuk menjadi pria yang rakus seperti sekarang ini,"teriak Ayahnya.
Kemudian mengangkat tangannya dan menampar Wahyu. Mendapatkan tamparan dari ayahnya kedua mata Wahyu menatap nyalang wajahnya ayahnya.
"Kau berani menampar ku Pak tua? sekarang kau sudah menampakkan sifat asli mu, aku menyesal telah menjadi anak pungut mu,"ucapnya.
"Hentikan ucapan mu Wahyu,"ucap Pratama.
"Keila berhak mendapatkan harta itu, karena itu memang amanat dari mendiang ibu kita,"ucap Pratama lagi.
"Mendiang ibu hahahahaaaa,"seru Wahyu lalu tertawa keras.
"Ibu yang sudah membuat ku seperti sekarang ini hah..!"serunya
"Apa yang dimiliki ibu? dia hanya seorang wanita miskin yang di nikahi oleh Ayah,"seru Wahyu.
"Apa maksud mu hah?"tanya Pratama.
"Kau sangat lancang tidak tahu diri,"ucap Pratama.
"Aku yang tidak tahu diri atau Kalian yang tidak tahu diri?"tanya Wahyu dengan nada kerasa membentak Pratama lalu menunjuknya dan juga ayahnya.
Kemudian Ayahnya menghampirinya dan menamparnya kembali, lalu membentak Wahyu.
"Kau lancang menghina istri ku, kau tidak tahu apa-apa, jika bukan karena ibu mu aku tidak akan pernah mau memungut mu dari tempat itu, sifat serakah mu itu telah membutakan mu sehingga kau bertingkah laku seperti ini, aku tidak pernah mendidik mu untuk menjadi kurang ajar seperti ini, percuma aku membesarkan mu , menyekolahkan mu, memenuhi semua kebutuhan mu, jika aku tahu kau akan seperti ini, aku tidak akan pernah mau melakukannya,"ucap Ayah Budi. Menatap tajam Wahyu.
"Sekarang kau menyesal dengan semua yang kau lakukan pada ku? bagus sekarang kita tidak memiliki hutang Budi apapun,"ucap Wahyu. Lalu menatap tajam Ayahnya dan berkata.
"Mulai saat ini kau bukan siapa-siapa ku."
"Dan kau,"
Seraya menunjuk Pratama bukan lagi kakak ku, hubungan kita putus sampai disini,"ucap Wahyu.
"Wahyu apa yang kau katakan,"bentak Pratama.
"Aku mengatakannya dengan jelas,"jawab Wahyu dengan nada mengejek dan mencemooh.
"Biarkan dia pergi,"ucap Ayah Budi.
__ADS_1
"Dia akan merasakan bagaimana hidup di jalanan,"ucapnya lagi.
"Kau salah Pak tua tanpa kalian aku bisa hidup di luar sana,"ucap Wahyu dengan nada sombong, kemudian melangkahkan kakinya berjalan keluar dari ruangan Ayahnya langkahnya terhenti ketika mendengar seruan Ayah Budi.
"Berhenti."
"Apalagi yang kau inginkan?"tanya Wahyu.
"Semua yang kau miliki tinggalkan dan jangan membawa apapun dari rumah ini,"ucap Ayah Budi.
"Tanpa Kau katakan, aku tidak akan pernah membawa apapun dari rumah ini,"ucap Wahyu.
Kemudian melangkahkan kakinya berjalan kekuar dari ruangan Ayahnya, lalu tanganya menutup pintu dengan cara membantingnya dengan sangat keras.
"Mengapa Ayah membiarkannya pergi?"tanya Pratama.
"Biarkan dia, agar dia belajar hidup di luar sana tanpa apapun, sehingga di mengetahui bagaimana menghormati sesorang, dan juga bagaimana susahnya hidup tanpa uang dan nama besar kita,"ucap Ayah Budi.
"Semoga saja dengan cara ini dia jera dan tidak melakukan kesalahan demi kesalahan lagi,"ucap Ayah Budi seraya menghela nafas berat, Lalu berkata lagi.
"Aku terpaksa melakukan ini, sebenarnya aku tidak tega berbuat seperti ini, walau bagaimana pun dia sudah ku anggap seperti anak kandung ku sendiri, tetapi sifatnya yang serakah itulah yang membuatnya seperti itu,"ucap Ayah Budi lagi.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya sifat tamaknya itu seperti sifat kedua orang tuanya, itulah penyebab mereka merenggangkan nyawa hanya karena memperebutkan harta yang bukan milik mereka,"ucap Ayah Budi. Seraya menghela nafas berat kemudian duduk di sofa Lalu berkata lagi.
"Mulai saat ini jagalah adik mu Keila."
"Yang aku takutkan hanya satu, dia bertindak nekad,"ucap Pratama lalu berkata lagi.
"Ayah tahu sendiri bukan? bagaimana Wahyu."
"Dor
"Dor
Suara dua buah tembakan terdengar.
"Bukankah itu suara tembakan?"tanya Ayah Budi.
Kemudian bangkit berdiri dari kursi dan berlari keluar dari ruangan Ayahnya, begitupun dengan Ayah Budi, mereka berlari mencari tahu apa yang terjadi di luar halaman rumah besar mewah mereka.
Sesampainya di halaman, Ayah Wahyu dan juga Pratama terkejut, kedua matanya terbelalak, lalu berlari menghampiri Keila yang menangis melihat Kucing dan anjing peliharaannya mati bersimbah darah.
Lalu mereka menatap Wahyu yang tertawa terbahak-bahak menertawakan Keila yang menangisi Bintang peliharaannya.
"Bajingan kauuuuuu,"teriak Pratama.Lalu menerjang Wahyu dan melayangkan bogem yang bertubi-tubi tak memberi sedikit pun kesempatan pada Wahyu untuk membalasnya.
Setelah Wahyu terkapar tak berdaya di tanah, Pratama menghentikan pukulannya dan berkata dengan penuh amarah.
"Kau berani menyakiti adik ku, manusia tidak tahu balas budi, kau di besarkan oleh Ayah ku setiap perbuatan yang salah adik ku selalu membela mu di hadapan ayah dan ibu ku, dasar manusia sampah, seumur hidup mu hanya kesalahan yang kau lakukan dan kami selalu menutupi semua kesalahan dan kebejatan mu,"ucap Pratama.
Kemudian mencengkram tangan Wahyu dan menyeretnya lalu melemparkannya keluar dari gerbang rumah besar itu.
"Mas Pratamaaa, lepaskan Mas Wahyu, aku yang bersalah,"seru Keila mengejar Pratama.
Kemudian berlari menghampiri Wahyu dan menangisinya.
"Mas bangun ayo kita masuk kedalam,"ucap Keila seraya terisak. lalu berusaha membuat Wahyu berdiri.
Melihat Keila terisak menangis dan berusaha membantunya berdiri Wahyu tertawa keras kemudian berteriak dan membentak Keila lalu tertawa.
"Kau puas hah..! kau sudah membuat ku seperti ini, mereka membenci ku hanya karena kau hahahahahaaa..!"
"Mas aku tidak seperti itu,"ucap Keila.
"Pergi kauuuu, aku muak melihat mu, aku membenci mu kau bukan adik ku,"ucap Wahyu.
"Keila ayo kita masuk biarkan dia seperti ini, dia harus belajar menghargai orang lain, terutama keluarganya sendiri,"ucap Pratama seraya menarik tangan Keila.
"Tidak Mas Pratama, jangan biarkan Mas Wahyu pergi,"ucap Keila.
"Keila masuk,"ucap Ayahnya dengan nada tegas.
"Tapi Ayah,"ucap Keila.
__ADS_1
"Masuk,"ucap Ayahnya lagi.
"Baik Ayah,"ucap Keila.
Kemudian melangkahkan kaki berjalan menuju kedalam rumah diikuti oleh Pratama. Meninggalkan Ayahnya bersama dengan Wahyu.
Ayah Budi menatap Wahyu yang babak belur dan tak berdaya dengan tatapan iba dalam benaknya ingin sekali memeluknya dan mengobati lukanya, tetapi dia harus tega melakukan ini demi kebaikan Wahyu putranya itu. Telah banyak kesalahan yang dilakukannya tetapi karena rasa sayangnya pada Wahyu dia berusaha menutupi setiap kesalahan yang dilakukannya sehingga Wahyu terbebas dari setiap permasalahan yang di lakukannya.
Dan malam ini semua tak bisa diampuninya bukan hanya karena pertengkaran mereka tetapi karena salah satu kesalahan fatal yang dibuatnya. Kemudian Ayah Wahyu menyuruh penjaga dan pelayan mereka untuk mengobati Wahyu.
"Kalian obati dia dan rawat dia hingga pulih setelah itu biarkan dia pergi kemanapun dia suka,"ucap Ayah Budi.
"Ayo lakukan bentak Ayah Budi pada penjaga dan pelayannya yang terlihat enggan membantu Wahyu. semua orang di rumah besar itu tidak menyukai Wahyu karena sifat sombong dan tak segan-segan memukuli para pelayan atau para penjaga hanya karena mereka salah sedikit atau meluapkan kemarahannya, bahkan para pelayan yang masih muda tak jarang mendapatkan pelecehan darinya. sehingga pelayan-pelayan tersebut tak betah dan kabur dari rumah besar tersebut.
...****************...
flash Back
Waktu pun terus berganti sebulan sejak kepergian Wahyu, rumah besar keluarga Kasendra tenang dan damai hingga suatu kejadian menghebohkan seluruh rumah itu.
Saat itu Pratama dan juga Ayahnya serta Keila pergi menghadiri undangan pesta salah satu kolega bisnis Klan Kasendra.
Dan mereka sangat terkejut saat pulang, mereka melihat seluruh isi rumah porak poranda dan beberapa pelayan dan penjaga terbujur kaku di lantai dingin rumah besar tersebut. Kemudian Pratama berteriak memanggil para pelayan dan juga para penjaga mereka berpencar mencari hingga pelayan-pelayan tesebut keluar dari tempat persembunyian mereka dan menceritakan bagaimana Wahyu datang bersama para anak buahnya mengamuk dan memasuki ruangan Ayah Budi. Mengobrak abrik ruangan tersebut.
Lalu memasuki kamar Pratama dan juga Keila, mengobrak abrik seluruh isi kamar tersebut, setelah tidak mendapatkan apa yang di carinya dia pun menghancurkan seluruh ruangan dan siapapun yang berani mendekat dan mencegah mereka akan mendapatkan tembakan.
Suatu malam Ayah Budi memanggil Pratama. Mereka duduk berhadapan kemudian dengan nafas berat Ayah Budi menyerahkan sebuah liontin padanya dan berkata.
"Liontin ini adalah pemberian dari mendiang Ibu mu, yang akan di berikan pada adik mu, jaga Liontin ini sebab Liontin ini adalah simbol dari dua keluarga, hanya orang terpilihlah yang dapat menerima Liontin ini."Kemudian menyerahkan liontin emas berbentuk hati pada Pratama.
"Apa arti Liontin ini?"tanya Pratama seraya memperhatikan Liontin itu.
"Liontin itu memiliki pasangan dan salah satu liontin di berikan pada keluarga Kusuma. Sejak dari jaman buyut kalian masih hidup ikatan itu telah mereka ikrarkan tetapi karena ketamakan kedua orang tua Wahyu sehingga kedua keluarga terpisah dengan sangat menyakitkan"ucap Ayah Budi.
"Mengapa begitu ayah?"tanya Pratama.
"Orang tua Wahyu adalah salah satu kerabat dari keluarga Kusuma, dan karena ketamakannya ingin menguasai seluruh harta kekayaan mereka sehingga segala cara mereka lakukan, dan melakukan siasat licik sehingga terjadi kesalahpahaman pada keluarga mereka dan akhirnya membuat kedua orang tua Wahyu meninggal dengan mengenaskan bersama racun yang di raciknya untuk meracuni paman dan bibinya sendiri."ucap Ayah Budi lagi.
Kemudian menghela nafas berat lalu berkata.
"Untuk sementara waktu pergilah dan bawalah adik mu sejauh mungkin."
"Tapi kenapa Ayah?"tanya Pratama.
"Apa yang kita lakukan pada Wahyu tidak membuatnya jera tetapi malah semakin menjadi dan ayah yakin dia akan datang kembali kesini dan meminta haknya."jawab Ayah Budi.
"Hak? hak apa yang dia inginkan? dia sedikit pun tidak memiliki hak apapun,"ucap Pratama.
"Walaupun kenyataannya seperti itu bagi Wahyu, dia berhak memiliki semua yang kita miliki,"ucap Ayah Budi.
"Cih buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, sifat tamak kedua orang tuanya menurun padanya,"ucap Pratama.
Kemudian Pratama teringat apa yang dilakukan kedua orang tua Wahyu dulu pada Ibunya dan bagaimana mereka berusaha menggoda Ayahnya. Lalu menggelengkan kepalanya berusaha menepis semua kenangan pahit itu.
"Keluarga kita telah bersahabat lama dengan mereka,"ucap Ayah Budi.
"Ya betul, tetapi sejak kejadian itu hubungan kita renggang,"ucap Pratama.
"Tetapi Rahmat Kusuma dan Ningsih Kusuma yang merasa kasihan pada Wahyu menitipkannya pada Ayah dan juga Ibu,"ucap Ayah Budi.
Seraya tersenyum sendu dan sedih karena merasa tak berhasil mendidik Wahyu dengan baik.
"Ayah tak perlu menyesali semuanya,"ucap Pratama. Seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh Ayahnya.
"Dan jika saatnya tiba sesuai janji kakek buyut mu, nikahkan adik mu dengan salah satu putra dari Kusuma,"ucap Ayah Budi.
"Bukankah ayah yang seharusnya menikahkan mereka?"tanya Pratama.
"Lakukan saja apa yang ayah katakan, ayah merasakan sesuatu akan terjadi dan jika ayah masih ada maka ayah yang akan menikahkan mereka, tetapi jika ayah sudah tidak ada maka tanggungjawab itu ayah serahkan pada mu,"jawab Ayah Budi.
"Ingatlah apa yang ayah katakan kau sudah paham semuanya bukan?"tanya Ayah Budi.
"Iya ayah aku paham,"jawab Pratama.
__ADS_1