Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 54. Sepasang Mata


__ADS_3

Kanaya yang menyadari menjadi objek tatapan kebencian para wanita, hanya acuh dn tak perduli, melenggangkan kakinya menuju mobil Sport milik Edward. Setelah memasuki mobil. Edward pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kita menjemput Gerald lalu makan siang," ucap Edward seraya melirik Kanaya yang duduk disebelah Edward.


"Ya," ucap Kanaya ketus. Tatapannya fokus memandang jalanan di depan melalui kaca mobil, ada perasaan kesal dalam benaknya.


"Mengapa aku merasakan kesal seperti ini," ucapnya dalam hati.


Kemudian melirik sekilas pada Edward, dan berkata.


"Entah apa yang aku rasakan pada pria yang ada di sebelah ku ini,"


kemudian menolehkan lagi wajahnya menatap jalanan.


"Aku akan membuat mu mencintai ku Nay," ucap Edward yang mengetahui Kanaya meliriknya. Tak lama kemudian, mobil Edward pun sampai di depan gerbang sekolah Gerald.


Kemudian mereka pun membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil, setelah menutup pintu mobil Edward dan Kanaya pun melangkahkan kakinya berjalan menuju halaman sekolah Gerald.


Tak lama kemudian Edward dan Kanaya melihat Gerald berjalan seraya menundukkan kepalanya. Mereka pun mengerutkan keningnya melihat putra mereka. Kemudian mereka menghampiri Gerald dan bertanya.


"Loh kenapa, mukanya kok ditekuk gitu?"


"Papi, Mami," ucap Gerald seraya mengulurkan tangannya dan mencium tangan kedua orang tuanya.


"Kenapa nak?" tanya Edward.


"Aku kesel pada kedua patung berjalan itu, kemana-mana ngikutin, temen-temen aku pada takut mam," ucap Gerald seraya cemberut. Edward dan Kanaya menatap dua pengawal yang ada di belakang putranya.


"Ya sudah nanti kita omongin sama Oma kamu," ucap Kanaya.


"Oke mam," ucap Gerald seraya berjalan mendahului orang tuanya.


"Bapak-bapak pulang aja, Gerald pulang bersama kami," ucap Edward.


"Baik tuan," ucap mereka seraya menundukkan kepalanya dengan hormat, kemudian mereka pun berlalu berjalan keluar dari sekolah. Kemudian tanpa aba-aba Kanaya dan Edward pun tertawa kompak lalu Edward berkata.


"Gimana temen-temen Gerald gak takut wajah mereka menakutkan seperti itu," ucap Edward.


"Kamu ama mereka sama," ucap Kanaya seraya mendelik kemudian tersenyum menatap Edward. Melihat senyum Kanaya. Edward terpaku menatapnya dan berkata.


"Baru kali ini aku melihat mu tersenyum pada ku," ucapnya seraya mendekat pada Kanaya.

__ADS_1


"Jangan coba-coba mendekat, aku tahu yang ada di otak mu," ucap Kanaya seraya mendelik kemudian berlari menuju mobil Edward.


"Sayang jangan lari," ucap Edward seraya mengejar Kanaya. Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap tajam mereka, dengan penuh amarah.


...****************...


Di dalam mobil, Kanaya menoleh pada Gerald.


"Kamu mau makan apa nak?" tanya Kanaya.


"Seafood," ucap Gerald bersamaan dengan Edward.


"Yang ditanya itu anak aku," ucap Kanaya.


"Gak apa-apa dong, lagian Papi juga suka seafood," ucap Edward.


"Bener Pi?" tanya Gerald.


"Iya bener, kalau gak percaya tanya aja Oma sama Opa Kusuma," ucap Edward.


"Aku suka kepiting asam manis, udang tempura, cumi, kerang, ehmmmm yummyyyyy," seru Gerald.


"Apalagi kalau mami yang masak," ucap Gerald.


"Emang mami kamu bisa masak ya?" tanya Edward.


"Jagonya," ucap Gerald.


"Menurut Aunty Cintya mami dulu kerja di restaurant cina di Perancis waktu aku masih kecil banget," ucap Gerald. Mendengar perkataan Gerald, Edward melirik Kanaya, yang sedang membalikkan tubuhnya, seraya tersenyum menatap Putranya yang sangat antusias bercerita tentang makanan favoritnya. Perasaan bersalah menyeruak dalam benaknya, beribu penyesalan tak dapat dikatakannya, tetapi semua telah terlanjur, dan saat ini dia harus menebus semua kesalahannya.


"Mam ntar malam bikinin nasi goreng seafood ya," ucap Gerald.


"Boleh," ucap Kanaya.


"Papi juga mau," ucap Edward.


"Hemm," ucap Kanaya.


"Yesss," seru Gerald.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah restaurant seafood. Dengan gembira Gerald membuka pintu mobil. Kanaya dan Edward pun membuka pintu mobil lalu mereka bertiga berjalan memasuki Restorant tersebut.

__ADS_1


"Aku ingin duduk disana," ucap Gerald seraya menunjuk sebuah kursi di pinggir kolam ikan.


"Oke," ucap Kanaya kemudian mereka berjalan ke meja yang di tunjuk oleh Gerald, setelah duduk di kursi. Seorang pelayan restaurant menghampiri mereka dan menyerahkan buku menu.


Seperti biasa Gerald memesan, Udang tempura, kepiting asam manis, kali ini ditambah dengan Cumi asam manis.


"Kamu yakin bisa ngabisin semuanya?" tanya Kanaya.


"Yakin mam," ucap Gerald.


"Mami pesan apa?" tanya Edward. mendengar kata mami membuat Kanaya termenung, lalu menggelengkan kepalanya dan menjawab.


"Samain aja ama Gerald deh, lebih baik kita pesennya dua porsi aja per menu, takutnya gak habis, lalu nasinya 3 porsi,"ucap Kanaya.


"Minumnya?" tanya Edward.


"Lemon tea aja," ucap Kanaya.


"Aku sama kayak mami," ucap Gerald.


"Oke,"Ucap Edward. setelah mencatat semua pesanan, Pelayan Restaurant pun melangkahkan kaki berjalan menuju dapur menyiapkan menu pesanan keluarga kecil Edward.


Setengah jam kemudian pesanan mereka pun datang, Setelah menyajikannya di atas meja, pelayan restoran pun mempersilahkan mereka menikmati makanannya, kemudian berlalu dari meja mereka.


Dengan sangat antusias Gerald mengambil piring nasi nya dan juga Kepiting serta udang tempura dan juga cumi asam manis, dengan lahap Gerald menyantap makanannya, Kanaya dan Edward hanya tersenyum menatap putra mereka menikmati makanannya dengan lahap.


"Semoga kamu selalu berbahagia seperti ini nak," ucap Kanaya dalam benaknya. Sementara itu Edward menatap Gerald dan Kanaya secara bergantian.


"Kalian adalah hidup ku, aku sadar itu, dan semoga saja di sisa hidup ku ini aku bisa selalu membuat kalian berbahagia," ucap Edward dalam benaknya. Kemudian mengambil sendok dan mengisinya dengan nasi dan sepotong udang diatas nasinya, lalu menyuapkannya pada Kanaya. Mendapatkan perlakuan manis dari Edward, Kanaya menatap wajahnya, kemudian membuka mulutnya, Edward pun menyuapi Kanaya. Tatapan mata mereka pun bertemu, membuat jantung Kanaya berdegub kencang.


"Mengapa jantung ku selalu berdegub kencang seperti ini jika Edward menatap ku? apakah aku telahhh?" tanya Kanaya kemudian menepis semua yang ada dipikirannya. lalu dengan kikuk mengalihkan tatapan matanya pada piring Yanga ada di depannya.


Edward hanya tersenyum menatap kekikukan Kanaya. Sementara itu Gerald hanya menatap kedua orang tua mereka tanpa bicara sedikitpun hatinya di penuhi dengan kebahagiaan, karena telah memiliki orang tua yang lengkap. Dan tanpa mereka sadari di sebuah kursi yang tak jauh dari mereka sepasang mata menatap mereka dengan penuh amarah, tatapnya nyalang, giginya bergemeletuk, tangannya terkepal. Seseorang yang mengikuti mereka sedari tadi, sedari Edward dan Kanaya keluar dari mansion Bimantara. tak pernah sedikitpun sepasang mata itu membiarkan mereka lepas dari pandangannya.


"Kenyangnya," ucap Gerald seraya mengelus perutnya.


Kanaya melihat ciri khas putranya jika kekenyangan lalu tersenyum dan berkata.


"Ayo kita pulang," ucap Kanaya.


"Kalian duluan ke mobil Papi ke kasir dulu bayar bill nya," ucap Edward kemudian bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kasir Restaurant. Sementara itu Kanaya dan Gerald berjalan menuju halaman parkir dimana mobil Edward di parkir.

__ADS_1


__ADS_2