Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 24. Kau Bukan Papi Anak Ku


__ADS_3

Dengan bermalas-malasan Kanaya membuka matanya perlahan dan melihat jam di dinding menunjukkan pukul 8 pagi.


"Astaga sudah siang," ucap Kanaya kemudian bangkit dari atas Kasurnya.


"I'm so lonely broken angel.


"I'm so lonely listen to my heart.


Nada dering ponsel Kanaya berbunyi. Kanaya pun mengambil ponsel yang ada di atas meja riasnya dan melihat identitas penelpon.


"Hallo," ucap Kanaya.


"Hallo nona," ucap si penelpon.


"Katakan," ucap Kanaya tegas dan dingin.


Kemudian tangannya pun menggenggam erat handphonenya, seakan meluapkan segala amarah, wajahnya memerah, tatapannya nyalang, berkilat di penuhi dengan amarah yang ingin segera di luapkan, kemudian dengan geram Kanaya mematikan telponnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada penelpon tersebut.


Lalu dengan tergesa Kanaya memasuki kamar mandi, setelah ritual mandi selesai dengan handuk yang terlilit ditubuhnya Kanaya berjalan keluar menuju walk in Closet dan mengambil pakaian dan juga pakaian dalamnya, lalu mengenakannya, setelah selesai berpakaian Kanaya keluar dari kamarnya dengan tergesa menuruni anak tangga. setengah berlari menuju halaman mansion dimana mobilnya telah diparkir oleh sopirnya.


Tanpa menghiraukan pertanyaan kedua orang tuanya dan juga Richard, Kanaya memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di depan sebuah rumah mewah Kanaya menghentikan mobilnya, dan menatap pintu gerbang berpagar besi berwarna hitam, seketika ingatannya kembali ke masa lalu, tangannya mencengkram setirnya dengan penuh amarah, kedua matanya tiba-tiba berair, dengan sekuat tenaga Kanaya menahan air mata yang ingin menyeruak keluar dari kedua pelupuk matanya, kemudian Kakinya menginjak pedal gas mobil sport nya. Lalu memundurkan mobilnya. Kemudian melajukannya kembali dengan kecepatan tinggi dan bruakkkkkkk, tanpa berpikir panjang Kanaya menabrak gerbang tersebut sehingga membuat pagar besi itu pun rusak dan terbuka, kedua satpam yang berjaga di posnya terkejut melihat mobil Kanaya kemudian mereka pun berlari mengejar mobil Kanaya.


Kanaya menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah mewah itu, dan dengan penuh amarah, dengan sekuat tenaga Kanaya menendang pintu rumah mewah itu dengan keras. Sehingga pintu itu pun rusak, dan terbuka, lalu Kanaya masuk kedalam, satpam yang mengejar Kanaya masuk ke dalam rumah, berusaha menghalangi Kanaya, tetapi sangat naas kedua satpam tersebut mendapatkan pukulan demi pukulan.


"Biarkan dia," ucap Sebuah suara pria.


"Kau bajingan," ucap Kanaya menatap tajam pria tersebut, tatapannya nyalang dan berkilau.


"Aku tahu aku bajingan," ucap pria itu dengan santainya menuruni anak tangga, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya, seraya menatap Kanaya, seulas senyum menghias bibirnya.


"Aku sudah mengatakan pada mu jangan pernah kau menampakkan wajah mu lagi," ucap Kanaya dengan tatapan dingin, giginya bergemeletuk menahan amarah.


"Aku tahu tapi aku harus melakukannya," ucap pria tersebut.


"Plak


"Plak


Dua buah tamparan, mengenai Wajah tampan pria itu. Pria itu hanya tersenyum menatap tamparan Kanaya kemudian menatap wajah Kanaya lalu berkata.

__ADS_1


"Kau semakin cantik jika dalam keadaan marah seperti ini,"


"Buk


"Buk


"Buk


tiga Bogeman mengenai perut pria itu, sehingga pria itu pun jatuh tersungkur kelantai.


"Kau tahu, aku menerima semua pukulan mu ini, karena aku layak mendapatkannya," ucap pria itu.


"Dengarkan aku. Edward Kusuma,"Seru Kanaya dengan lantang. Pria itu adalah Edward Kusuma.


"Sekali lagi kau mendatangi anak ku, maka tamatlah riwayat mu," ucap Kanaya lagi.


"Aku tahu itu," ucap Edward seraya bangkit berdiri seraya meringis menahan sakit diperutnya akibat Bogeman Mentah Kanaya.


"Bahkan aku pun tahu beberapa perusahaan ku bangkrut karena kau, Kanaya Bimantara."Ucap Edward.


"Tetapi kau salah apapun yang kau lakukan tidak akan membuat ku pontang panting hidup dalam kesusahan," ucap Edward dengan nada sinis, kemudian menatap Kanaya tajam.


"Oh ya..!" ucap Kanaya, tatapannya nyalang menatap mata Edward mereka pun saling bertatapan tak ada satu orang pun yang mau mengalah.


"Hallo," ucap Cintya.


"Hancurkan perusahaan Edward Kusuma sekarang juga," ucap Kanaya kemudian menutup telponnya. Edward Kusuma menaikkan sebelah alisnya matanya tak lepas memandang wajah Kanaya. Tak lama kemudian Handphone Edward berbunyi. Edward pun mengambil handphone di saku celana jeansnya tanpa melihat identitas penelpon nya dia pun mengangkat telponnya.


"Hallo." ucap Edward.


"Maaf tuan, bisakah anda datang ke kantor sekarang juga," ucap Si Penelpon.


"Katakan ada apa?" tanya Edward.


"Para investor tiba-tiba menarik dana mereka dari perusahaan kita," ucap Si Penelpon yang ternyata adalah asisten pribadi Edward. mendengar perkataan Asistennya, Edward menatap Kanaya tak percaya.


"Well, selamat para investor anda telah kabur," ucap Kanaya dengan nada santai wajahnya datar tak memperlihatkan ekspresi apapun.


"Menjauh lah dari putra ku," ucap Kanaya tajam, kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah pintu keluar dari rumah mewah itu.


"Aku berhak menemuinya aku adalah Papinya mau kau akui atau tidak aku tetap Papinya," seru Edward.

__ADS_1


"Kau bukan Papi putra ku, anak mu sudah mati aku gugurkan," ucap Kanaya tajam kemudian melangkah kakinya keluar dari rumah itu, memasuki mobilnya. Edward pun berlari mengejar Kanaya kemudian menarik pintu mobil Kanaya, tangannya menarik tangan Kanaya dengan keras, Kanaya yang tidak siap dengan tarikan tangan Edward membuatnya jatuh tersungkur, dengan sigap Edward menahan tubuh Kanaya sehingga tidak terjatuh ke lantai tembok halaman.


Kemudian Edward Menarik tangan Kanaya dan merengkuh tubuh Kanaya dengan erat. Kanaya yang kaget atas perlakuan Edward meronta dengan keras.


"Ku mohon biarkan seperti ini dulu," ucap Edward.


"Aku sudah menantikan saat-saat seperti ini, aku menyesali semua perbuatan ku malam itu, dan saat pagi itu kau pergi, aku tahu kau bukan wanita murahan seperti yang ku katakan pada mu waktu itu, aku terpaksa melakukan semua itu, tetapi sebenarnya, aku menyesali semua yang kukatakan pada mu, tetapi saat itu. aku bingung apa yang harus aku lakukan. hingga kau datang menemui ku dan untuk kesekian kalinya aku melakukan kesalahan besar lagi dengan mencaci maki mu, menghina mu bahkan mempermalukan mu. Maafkan aku," ucap Edward dengan nada memohon.


"Dan aku pun tahu saat di Perancis, di restaurant. Itu adalah kamu Kanaya, dan aku mencari mu di Perancis tetapi aku tidak menemukan mu, dan apapun yang kamu lakukan pada ku, aku tidak perduli, kamu berhak melakukannya pada ku, karena aku tahu hukuman ini tidak sebanding dengan apa yang sudah aku lakukan pada mu, bahkan permintaan maaf ku dan apa yang sudah kau lakukan pada ku, tak akan mampu menebus semua kesalahan ku," ucap Edward dengan nada sendu. Kanaya yang mendengar smua perkataan Edward, dengan keras mendorong Edward sehingga terjengkang jatuh kebelakang.


"Aku tidak perduli apapun yang kau lakukan," ucap Kanaya.


"Dan sekali lagi aku katakan, jangan pernah menemui putra ku, Kau bukan Papi putra ku Edward Kusuma," ucap Kanaya dengan tajam. kemudian memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kencang.


Edward hanya mampu menatap Kanaya tanpa berbicara sedikit pun kemudian dengan kencang dia pun berteriak.


"Ahhhhhhhhhh.., semua pelayan dan satpam penjaga rumah yang sedari tadi melihat drama Kanaya dan Edward ibaratkan melihat sebuah Sinetron, menghampiri Edward dan membantunya berdiri tetapi Edward menepis tangan mereka dan Kemudian berteriak.


"Ahhhhhhhhhhhh, aku memang bajingan,"


"Minggir kalian,"teriak Edward seraya bangkit berdiri kemudian berlari keluar dari halaman. sesampainya di gerbang Edward berhenti, matanya menatap kanan dan kiri, kemudian berjalan beberapa langkah, kemudian ingatannya kembali ke masa 10 tahun yang lalu, dimana Kanaya menghalangi jalannya, Sesungguhnya saat itu, Edward terkejut melihat Kanaya didepan mobilnya, dan sangat terkejut lagi ketika Kanaya menyerahkan hasil testpack, dan dia berpura-pura tidak tahu, tetapi sebenarnya saat itu jantungnya berdegup kencang, tetapi semua harus dilakukannya demi kekasihnya saat itu. saat dia mengingat semua itu tiba-tiba handphonenya bergetar Asisten pribadinya kembali menelpon.


"Tuan anda sudah sampai dimana?" tanya Asisten pribadinya.


"Di rumah, dan aku tidak perduli dengan perusahaan ku," ucap Edward kemudian menutup telponnya. Lalu membalikkan tubuhnya dengan lunglai berjalan kembali masuk kedalam rumahnya.


Sementara itu Kanaya melajukan mobilnya dengan sangat kencang membelah kota Jakarta yang selalu macet. tak lama kemudian dia pun menepikan mobilnya.


"Ahhhhhhh...., dasar pria brengsekkkkkkk," teriak Kanaya. kedua tangannya memukul setir mobilnya.


"Bajingan kauuuuuuu," teriak Kanaya lagi.


"Sepertinya aku harus pergi dari negara ini lagi," ucap Kanaya.


Kemudian ingatannya pun kembali ke masa 10 tahun yang lalu, air matanya pun mengalir deras dari kedua pelupuk matanya, tangisannya pecah, meluapkan segala kesedihannya. setelah puas menangis Kanaya pun kembali melajukan mobilnya, menuju mansion orang tuanya. sesampainya di mansion Kanaya pun turun dari mobilnya. Mommy nya yang sedang berada di halaman depan duduk di sebuah kursi taman, mengeryitkan keningnya melihat bagian depan mobil Kanaya penyok, lalu bangkit berdiri dan berlari menghampiri mobil Kanaya.


"Nay, kamu kenapa?" tanya mommy Kanaya seraya menatap wajah putrinya, tangannya memegang wajah putrinya yang sembab dan kedua matanya bengkak.


"Katakan pada mommy kamu kenapa?" tanya Mommy Lingga dengan nada penuh kekuatiran.


"Nay gak apa-apa kok mom," ucap Kanaya.

__ADS_1


"Kanaya masuk kedalam dulu mom, Kanaya letih," ucap Kanaya seraya berjalan menjauhi mommy nya memasuki mansion dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


sementara itu Mommy Lingga yang kuatir dengan keadaan Kanaya, menelpon Daddy Ded dan putranya Richard. Setelah menelpon Mommy Lingga pun bergegas memasuki mansion, setengah berlari menaiki anak tangga menuju Kamar Kanaya.


__ADS_2