
"Dan anda-anda semua belum mengetahui bagaimana akhirnya Nona Kanaya dan juga Tuan Edward dapat menghabiskan satu malam bersama di dalam sebuah ruang VVIP itu bukan?" tanya Seorang wanita yang datang bersama Ratih, seraya menatap Mereka semua, lalu matanya menerawang mengingat semuanya.
"Saat itu aku bekerja di hotel tersebut sebagai seorang waitress, saat itu nona Bella datang menghampiri ku, dan meminta ku membawakan Minuman yang telah dipesannya pada bartender, lalu dia menyerahkan sebuah botol kecil, untuk mencampur obat dalam botol itu kedalam minuman Tuan Edward.
"Awalnya aku menolak tetapi dia mengancam ku, dan bodohnya aku saat itu aku ketakutan akan ancaman itu, hingga aku memenuhi permintaannya, dan saat aku mengantarkan minuman itu, tanpa curiga Tuan Edward meminumnya. Lalu aku keluar dari ruangan itu, aku merasa ketakutan tetapi aku pun merasa sangat bersalah, lalu secara diam-diam aku kembali ke ruangan itu tetapi saat aku, hampir sampai pintu aku melihat nona Bella keluar dan berjalan, aku mengikutinya dan dia menuju resepsionis memesan sebuah kamar, dan di resepsionis tersebut aku melihat seorang wanita menghampirinya, aku curiga pada wanita itu lalu aku pun menguping pembicaraan mereka secara diam-diam, dan saat aku mengetahui rencana mereka aku sangat terkejut ternyata mereka bersekongkol untuk menjebak tuan Edward, untuk meniduri wanita itu.
"Dan saat aku mengetahui itu aku sangat menyesal tetapi aku tidak berani berbuat apapun, hingga akhirnya aku kembali ke ruangan itu dan berusaha ingin memberitahu tuan Edward tentang rencana mereka, tetapi aku melihat Tuan Edward telah di bawa oleh seorang pria, lalu aku mengikuti mereka dan melihat mereka membawanya kesebuah kamar VVIP room,"ucap pelayan itu.
"Apakah anda tahu siapa yang membawa Tuan Edward nona?"tanya Seorang Reporter.
"Aku,"ucap Seorang pria seraya melangkah kakinya menuju podium. Semua mata memandang Pria yang berjalan ke podium itu.
"Aku Asisten Tuan Edward, saat aku mendapatkan Pesan dari Tuan Edward aku langsung menuju hotel dan untunglah aku menemukannya tepat pada waktunya dan membawanya keluar dari ruangan lounge tersebut, tetapi sangat disayangkan aku salah membawa Tuan Edward ke kamar yang sudah aku pesan, entah bagaimana nomor kamar itu bisa tertukar, Aku memesan kamar 607, dan kamar nona Kanaya 609, aku pun tidak tahu mengapa bisa tertukar, yang aku ingat saat itu hanya berusaha untuk menyadarkan Tuan Edward,"ucap Asisten Edward.
"Bagaimana nomor kamar bisa tertukar?"tanya seorang wartawan.
"Entahlah, hanya satu jawabannya keteledoran pihak hotel yang tidak pernah memperhatikan kondisi hotel tersebut."ucap Edward, Lalu berkata lagi.
"Saat itu aku membaringkan Tuan Edward di sofa dan keluar mencari dokter untuk mengobatinya dari pengaruh obat perangsang itu." Kemudian menolehkan wajahnya menatap Kanaya.
"Saya minta maaf nyonya, seandainya saya tahu malam itu anda adalah korban jebakan, saya tidak akan membiarkan semuanya terjadi,"ucapnya pada Kanaya.
Lalu menolehkan wajahnya pada semua orang dan berkata lagi
"Malam itu saat aku kembali ke kamar bersama seorang dokter, aku melihat tuan Edward bersama seorang wanita, aku berpikir Tuan Edward menghubungi pihak hotel mencarikan seorang wanita untuk menuntaskan hasratnya akibat obat perangsang itu, lalu aku pun keluar dari kamar itu dan mengantarkan dokter itu kembali."
"Sandiwara apa ini hah?"Tanya seorang wanita dengan penuh amarah, wanita yang menurut temannya itu adalah korban.
__ADS_1
"Mereka semua bohong jangan dengarkan mereka, dia bukanlah korbannya tetapi akulah korbannya,"ucap Wanita itu lagi. Kanaya yang mendengar itu hanya tersenyum tipis lalu berbicara.
"Anda korbannya?"tanya Kanaya seraya berjalan menuruni podium dan mendekati Wanita itu.
"Benarkah nona?"Tanya Kanaya lagi.
"Bagaimana anda menjadi korban sedangkan anda yang menjebak Edward nona Bella,"Ucap Kanaya dengan dingin dan tajam lalu Kanaya menatap kembali wanita yang berada disebelah wanita yang bernama Bella.
"Sebenci apa kau pada ku sehingga kau rela menjebak ku dan rela menyakiti saudara mu sendiri?"tanya Kanaya.
"Apakah bayaran mu sangat kurang dari pria yang kau panggil om itu?"tanya Kanaya seraya menunjuk Seorang pria yang duduk di kursi pojok. Lalu berkata lagi.
"Aku kasihan pada mu, dan aku berusaha baik pada mu, tetapi sayang sekali air susu dibalas air tuba, dengan kejamnya kau bekerjasama dengan Septiyansah Budiman itu, menjebak ku dan berusaha menjatuhkan ku dengan cara licik dan kejam.
"Lalu kau dengan tega meminta pria itu, untuk mengancam saudara mu dan menyakitinya, hanya karena ingin menyelamatkan ku?"tanya Kanaya.
"Atau karena om mu itu yang kurang menjamin mu dengan uangnya? atau karena kau adalah ibu tiri dari nona Bella yang cantik ini atau korban dari tuan Edward Kusuma?"tanya Kanaya seraya menatap kedua wanita yang ada di hadapannya itu dengan pandangan meremehkannya.
"Jangan dengarkan dia, kalian tahu dia itu adalah ular berbisa,"seru wanita yang bernama Bella.
"Benar dia adalah ular berbisa, semua yang dikatakannya adalah sebuah kebohongan,"ucap Bella.
"Oh ya..!" seru Kanaya menatap kedua wanita itu. lalu mengangangkat tangannya dan menjentikkan jarinya. Tak lama kemudian muncullah sebuah drama, di layar proyektor yang menempel di dinding Ballroom, menampilkan sebuah adegan dan pembicaraan mereka, pertengkaran sepuluh tahun yang lalu.
kecaman demi kecaman mewarnai pertengkaran mereka, mengecam kegagalan mereka untuk menjatuhkan Bimantara Group dan Kusuma Group, bagaikan sebuah film yang disutradarai dengan apik, lalu drama tersebut menampilkan drama masa kini, drama perencanaan melanjutkan pembalasan dan juga menjatuhkan kedua perusahaan, dan drama yang paling menjijikkan semua yang hadir drama dimana menampakkan sepasang manusia yang tak menggunakan pakaian, mendesah dan menikmati setiap adegan yang tak pantas dipertontonkan, adegan demi adegan panas yang membuat semua orang menatap kedua perempuan itu dengan tatapan jijik dan mencemooh, lalu mengecam mereka berdua, kemudian seorang pria berteriak.
"Hentikan itu, semua itu tidak benar aku tidak mungkin melakukannya, aku cukup kaya dan tak mungkin melakukan itu."
__ADS_1
"Hentikan Kanaya Bimantara kau pelacur murahan yang tak tahu diri,"ucap Bella dan wanita yang disebelahnya. Mendengar perkataan Bella, semua yang ada di ruangan itu berteriak padanya.
"Dasar tak tahu diri kau yang murahan lalu kau mengatakan itu pada Nona Kanaya,"ucap para reporter dan wartawan.
"Maling teriak maling,"ucap mereka lagi lalu berseru dan berkata.
"Huuuuuuuuu, dasar perempuan murahan, pe***cur."
Lalu seorang pria berlari menuju podium dan berusaha mencari alat pemutar proyektor itu, untuk mematikannya.
"Apakah ini yang kau cari?"tanya Cintya seraya menatap tajam pria itu. Pria itu pun menerjang Cintya, dengan lihat Cintya menghindarinya dan tiba-tiba pria itu terjengkang kebelakang, tanpa Cintya melakukan apapun.
Edward berjalan menghampiri pria itu, Lalu berkata.
"Kau ingin merusak keluarga kami hah..!"bentaknya. Sementara itu Richard yang telah turun dari podium sedari tadi tak hentinya memukuli pria yang duduk di pojok itu, dengan geram Richard berkata.
"Tidak semudah itu kau menghancurkan keluarga ku bajingan." lalu berkata lagi.
"Karena kau adik ku menjadi korban kebiadaban mu, maka saat ini kau akan merasakan hancurnya di tangan ku seperti apa."
Tanpa mereka sadari dua orang pria, menyusup dan berusaha melarikan diri tetapi sangat naas sebelum mereka keluar Daddy Ded dan juga Papi Edward telah menghantam mereka dengan pukulan yang membuat mereka jatuh tersungkur mencium kerasnya ubin lantai Ballroom. Lalu tak lama kemudian pasukan Polisi memasuki Ballroom dan berteriak.
"Hentikan." Lalu mereka pun memborgol 4 pria dan juga kedua wanita itu. Lalu menggiring mereka ke mobil tahanan polisi.
Kanaya bersedekap dan menatap mereka tajam lalu menghampiri salah seorang wanita yang selalu bersama Bella. Lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga wanita itu.
"Kau tahu, aku bukan Kanaya yang dulu lagi, yang mudah terenyuh saat kau menghiba kepada ku dan menceritakan semua kebohongan mu."
__ADS_1