
"Baiklah sepertinya Kanaya sudah mengambil keputusan, sekarang tinggal mempersiapkan segalanya," ucap Papi Edward. Seraya bangkit berdiri dan menghampiri Kanaya, dan duduk disebelahnya, lalu tersenyum menatap Kanaya.
"Terima kasih Nak," ucapnya kemudian memeluk Kanaya.
"Pi, dia itu milik ku, yang harusnya Papi peluk itu Mami bukan Kanaya," ucap Edward.
"Astaga," ucap Mami Edward, matanya terbelalak menatap Edward.
"Dasar Bucin akut," ucap Richard seraya mengejek Edward.
Tak lama kemudian handphone Richard berbunyi, Richard merogoh saku celana denimnya dan melihat identitas penelpon, lalu bangkit berdiri, memisahkan diri dari mereka.
"Bagaimana?" tanya Richard.
"Kami sudah menemukannya tuan," ucap Penelpon.
"Bagus," ucap Richard kemudian menutup telponnya, dan berjalan kembali menuju ruang keluarga.
Daddy Ded menatap Edward, dengan tatapan penuh tanda tanya, lalu Edward mengirim sebuah pesan WhatsApp pada Daddy nya, setelah melihat pesan tersebut, Daddy Ded membalas pesan Edward.
"Berikan yang seharusnya dia dapatkan," isi pesan Daddy Ded. Kemudian menyeringai menatap Putranya. Lalu berkata lagi seraya bangkit berdiri dan melihat wajah-wajah bahagia di ruang tamu tersebut.
"Sepertinya kita harus merayakan ini, karena Kanaya tidak bisa keluar, maka kita akan makan malam masakan Bi Wati," ucap Daddy Ded. Kemudian semuanya bangkit berdiri berjalan menuju ruang makan. Diatas meja telah tersedia dan tertata berbagai macam makanan Lezat.
...****************...
Setelah makan malam, mereka pun kembali duduk di ruang keluarga, membicarakan persiapan lamaran dan juga pernikahan.
"Nay, apakah ada yang ingin kamu katakan untuk acara lamaran dan juga pernikahan mu?" tanya Mommy Lingga.
"Tidak mom, aku serahkan semuanya pada Mommy, jangan terlalu mewah mom, sederhana saja," ucap Kanaya seraya tersenyum kecil pada Mommy, kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju taman belakang mansion. Daddy Ded dan juga Mommy Lingga serta semua yang ada di ruang keluarga menatap Kanaya. Lalu Edward bangkit berdiri dan berjalan membuntuti Kanaya. Sesampainya di halaman belakang Mansion, Kanaya duduk di kursi taman, wajahnya menengadah ke langit melihat bintang-bintang.
"Indah bukan Nay," ucap Edward, seraya menghampiri Kanaya dan duduk di sebelahnya.
"Aku tahu, kamu masih meragukan aku, tapi percayalah, semua yang ku katakan pada mu adalah benar," ucap Edward seraya menatap Kanaya.
"Lihat aku Nay," ucapnya lagi, Seraya memegang wajah Kanaya dan menghadapkannya ke wajahnya sehingga kedua mata mereka bertatapan, Edward menatap Kanaya dengan lembut, kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Kanaya, lalu menciumnya dengan lembut, Kanaya yang terkejut mendapatkan ciuman dari Edward menjauhkan kepalanya, tetapi Edward menahannya dengan tangannya, lalu Kanaya meronta berusaha menghindari ciuman Edward. tak lama kemudian rontaan Kanaya pun berhenti, jantungnya berdegub kencang, dalam benaknya berkata.
"Apa yang aku rasakan ini? mengapa jantung ku berdetak dengan kencang seperti ini."
Tak mendapatkan respon dari Kanaya Edward pun semakin memperdalam ciumannya, mendapatkan ciuman seperti itu tanpa sadar Kanaya pun meresponnya, dan membalas ciuman Edward. Kemudian Edward melepaskan ciumannya, dengan nafas tersengal, kedua tangannya memeluk Kanaya, Kanaya menjauh dari Edward.
"Biarkan seperti ini dulu Nay, sebentar saja," ucap Edward mengeratkan pelukannya, menahan suatu gejolak yang tak bisa di bendungnya.
"Ya Tuhan aku harus segera menikahi mu, Peri Kecil," ucapnya lalu berkata lagi.
__ADS_1
"Jangan menolak ku lagi,"
Kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Wajah Kanaya, yang bersemu merah.
"Kita harus secepatnya menikah, aku sudah tidak tahan jika jauh dari mu," ucap Edward. Kanaya hanya diam menatap wajah Edward, jantungnya berdegub kencang, perasaan yang sangat sulit di jelaskan tiba-tiba masuk kedalam hatinya. Melihat kedua mata yang bening, indah menatapnya, Edward tersenyum seraya berkata.
"Jika kau menatap ku seperti itu terus, maka aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi saat ini," ucap Edward.
"Ayo kita masuk, cuaca semakin dingin, dan kau harus segera beristirahat agar secepatnya pulih, banyak yang harus kita lakukan," ucap Edward.
Kemudian menarik tangan Kanaya dengan lembut, agar Kanaya bangkit berdiri. Mereka berdua pun masuk kedalam Mansion tangan Edward tak melepaskan tangan Kanaya.
"Cie cie yang lagi jatuh cinta, ngekor terusssss," seru Richard seraya meledek Edward.
"Sirik aja loe," ucap Edward, sementara itu Kanaya hanya diam. Kemudian menundukkan wajahnya yang bersemu merah.
"Uncle, kenapa uncle tidak mencari istri juga," tanya Gerald.
"Ehh, anak kecil, kamu bisa tahu istri dari mana?" tanya Richard.
"Tau lah uncle," ucap Gerald.
"Aunty Cintya cantik dan juga baik,"Ucap Gerald lalu berkata lagi
"Banyak juga cowok yang suka aunty,"
"Jelaslah aku tahu uncle, setiap aku pergi bersama Aunty Cintya, banyak laki-laki yang menatapnya," ucap Gerald.
"Tidak bisa Aunty mu itu milik uncle," ucap Richard dengan entengnya.
Semua mata menatap Richard, dan terdengarlah suara.
"Aku tidak salah kan Mom," ucap Daddy Ded.
"Mommy Setuju, Cintya baik, Mommy sejak pertama kenal Cintya Mommy sudah berencana menjodohkannya dengan Richard," ucap Mommy Lingga.
"Mommy benar, Daddy juga sudah menyelidiki keluarga nya," ucap Daddy Ded, seraya menyeringai menatap Wajah Putranya yang melongo melihat kedua orang tuanya.. Melihat mimik wajah Richard, Edward menertawakannya dan berkata, seraya tertawa.
"Bos besar yang dingin dan jutek ini sebentar lagi akan jadi mempelai juga, dan semoga saja Cintya tidak menghajar mu, hahahahaaaa,"
Kemudian Edward teringat bagaimana anak buahnya pulang dengan wajah yang tak berbentuk, kemudian bergidik, dan berkata, dengan nada mengejek.
"Hati-hati Bro, Cintya lebih galak dari Peri kecil ku,"
"Tunggu Dad, Mom, kalian?" tanya Kanaya.
__ADS_1
"Ya, Daddy Kan sudah bilang pada mu Nay, dia calon mantu Daddy," ucap Daddy Ded tak acuh.
"Astaga ternyata Daddy serius?" tanya Kanaya, membelalakkan matanya menatap Daddy nya.
"Kapan Daddy gak serius," ucap Daddy Ded seraya mengedipkan sebelah matanya pada Kanaya.
"Mom," ucap Kanaya.
"Benar sayang," ucap Mommy Lingga.
"Kak, sejak kapan?" tanya Kanaya.
"Sejak pertama kamu mengenalkan Dia pada kakak," ucap Richard seraya menatap Kanaya.
"Yakin kak..!" ucap Kanaya seraya menatap tajam Kakaknya.
"Yakin," ucap Richard seraya menatap adiknya.
"Singkirkan wanita-wanita yang mendekati kakak," ucap Kanaya dingin dan tatapan tajam pada kakaknya.
"Bukan salah kakak jika mereka mendekati kakak Nay," ucap Richard dengan wajah memelas pada Kanaya.
"Aku tidak mau tahu singkirkan mereka atau aku yang akan menyingkirkan mereka, dan satu hal lagi jangan sakiti Cintya," ucap Kanaya tajam.
"Jangan kuatir Nay," ucap Richard seraya menatap Kanaya dengan penuh keyakinan. melihat tatapan mata kakaknya lalu Kanaya berkata.
"Kau pegang janji mu kak, Cintya sudah mengalami banyak rasa sakit akibat perlakuan kedua orang tuanya, itulah yang menyebabkannya kabur dari keluarganya, dan saat itu kami bertemu," ucap Kanaya tersenyum sedih mengingat pertemuan mereka. Melihat mimik wajah Kanaya Edward merengkuh tubuh Kanaya dan memeluknya.
"Maafkan aku Nay," ucap Edward penuh Penyesalan. Kemudian Mami Edward berdiri dari sofa yang di dudukinya dan menghampiri Kanaya lalu membelai kepala Kanaya penuh kasih sayang.
"Lupakan semuanya Nak, dan sekarang kamu sudah harus merasakan kebahagian, bersama putra mu," ucap Mami Edward. Mendengar perkataan Mami Edward Kanaya hanya tersenyum sendu lalu berkata.
"Aku sangat lelah aku ingin istirahat,"
"Baiklah istirahat lah Nak," Ucap Mami Edward seraya mengecup pipi Kanaya.
"Bagaimana aku berjalan jika kau memeluk ku terus seperti ini," ucap Kanaya dengan nada jutek.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan melepaskan mu," ucap Edward. Kemudian menggendong Kanaya ala bridal style.
"Lepaskan aku Edward Kusuma, aku bisa berjalan sendiri," seru Kanaya sewot.
"Aku akan mengantar mu ke kamar dan memastikan Kau beristirahat," ucap Edward seraya melangkahkan kakinya berjalan menaiki anak tangga. Sesampainya di kamar Kanaya Edward pun membaringkan tubuh Kanaya.
"Tidurlah peri kecil," ucap Edward seraya mengambil selimut di bawah Kaki Kanaya dan menyelimuti tubuh Kanaya. Lalu mengecup bibir Kanaya sekilas. Sebelum mendengar perkataan Kanaya yang pedas, dengan cepat melesat ke arah pintu, lalu berkata.
__ADS_1
"Good night my wife, sweet dream," Seraya tersenyum dan menutup pintu dengan perlahan.
"Dasar tengil," ucap Kanaya kemudian memejamkan matanya dan akhirnya tertidur.