Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 98. Gerald Hilang


__ADS_3

Perancis 11 siang. Kanaya yang baru saja menutup telponnya, diam termenung di sebuah sofa di kamarnya.


"Kenapa yang?"tanya Edward.


"Nggak kenapa-kenapa kok,"jawab Kanaya.


"Yakin?"tanya Edward.


"Yakin yang, kalau udah waktunya aku pasti cerita,"jawab Kanaya seraya tersenyum pada Edward.


"Kita jalan-jalan aja yuk,"ucap Kanaya.


"Kayaknya besok aja deh yang,"ucap Edward.


"Tumben di ajak jalan nggak mau,"ucap Kanaya.


"Bukannya nggak mau, badan ku nggak enak nih,"ucap Edward.


"Loh kok bisa,"ucap Kanaya.


kemudian bangkit berdiri berjalan menghampiri Edward yang sedang berbaring di tempat tidur.


"Pantesan setelah sarapan tiduran aja,"ucap Kanaya seraya duduk di tepi tempat tidur lalu menempelkan telapak tangannya di kening Edward.


"Nggak panas kok,"ucap Kanaya.


"Aku emang nggak panas yang,"ucap Edward lalu melanjutkan perkataannya.


"Cuma pening aja kepala aku."


"Ya udah aku telpon dokter dulu ya,"ucap Kanaya.


"Nggak usah yang, cariin obat sakit kepala aja deh,"ucap Edward.


"Oke, bentar ya aku cariin,"ucap Kanaya. kemudian bangkit berdiri melangkahkan kakinya dengan tergesa berjalan keluar dari kamar, menuruni anak tangga menuju dapur. langkahnya terhenti ketika Richard bertanya padanya.


"Kenapa Nay?"tanya Edward yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Cintya, melihat Kanaya berjalan tergesa-gesa.


"Edward sakit kak,"jawab Kanaya.


"Sakit?"tanya Richard. Lalu berkata.


"Bisa juga dia sakit."


*Aishhh.., kamu ini jelas bisalah, Edward juga manusia, kayak kamu nggak pernah sakit aja,"ucap Cintya.


Kemudian bangkit berdiri dari sofa dan menghampiri Kanaya.


"Aku aja yang cari obatnya, kamu naik ke atas temenin Edward gih,"ucap Cintya. kedua matanya menatap wajah Kanaya yang terlihat cemas.


"Ok. makasih Cin."ucap Kanaya. kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Richard pun bangkit berdiri dari sofa lalu mengikuti Kanaya menuju kamar Kanaya.


Sesampainya di dalam kamar Kanaya, Edward melihat Richard yang terbaring di atas tempat tidur. lalu berkata.


"Bisa juga kamu sakit Ed,"ucap Richard.


"Nggak tahu nih sejak tadi pagi kepala ku pusing,"ucap Edward. lalu berkata lagi.


"Mungkin masuk angin."


"Mungkin jadi, makanya tidur tuh harus tepat waktu jangan bergadang Mulu, kerja sih kerja tapi kan harus inget kondisi,"ucap Richard.


"Kerja?"tanya Kanaya, seraya mengerutkan keningnya menatap Edward dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Bukannya kamu cuti ya?"tanya Kanaya.


"Iya yang, ada sedikit yang harus aku kerjain. hehehe,"ucap Edward. Seraya tertawa kecil kemudian menatap wajah istrinya.


"Kamu ama kak Richard sama aja ya, nggak bisa dipercaya, gila kerja,"ucap Kanaya ketus.


"Idihh, kayak dia nggak gila kerja aja,"ucap Richard dengan nada mengejek adiknya.

__ADS_1


"Aku nggak begitu amat ya kak, kalau waktunya cuti ya cuti waktunya istirahat ya istirahat,"ucap Kanaya. lalu berkata lagi.


"Sekarang aja aku terpaksa kerja soalnya kakak tahu sendiri kan? perusahaan ku ada masalah disini, mau nggak mau aku harus selesaikan."


Tak lama kemudian Cintya masuk kedalam kamar Kanaya membawa nampan yang terdapat gelas air putih diatas nampan tersebut, dan piring kecil tempat obat sakit kepala.


"Ini Nay,"ucap Cintya lalu menyerahkan nampan kepada Kanaya.


Kemudian Kanaya mengambil obat dan juga gelas berisi air dari atas nampan lalu memberikannya pada Edward. Setelah meminum obat yang diberikan Istrinya Edward pun berkata.


"Makasih Cin."


"Sama-sama Ed,"ucap Cintya.


"Makasih sayang aku,"ucap Edward seraya tersenyum menatap wajah istrinya.


"Ya udah kamu istirahat dulu deh,"ucap Kanaya.


"Iya yang,"ucap Edward. Kemudian bertanya.


"Gerald kemana?"


"Ketaman,"jawab Kanaya.


"Di taman?"tanya Edward seraya mengerutkan keningnya menatap wajah Kanaya penuh tanda tanya.


"Emang kenapa?"tanya Kanaya.


"Biasanya dia emang kesana kalau suntuk dirumah,"ucap Kanaya.


"Sejak kapan?"tanya Edward.


"Selesai sarapan pagi, dia bilang mau ke taman, itu pun dia perginya sama ART kok"ucap Kanaya.


"Sittt,"seru Edward.


Kemudian bangkit dari tempat tidurnya.


"Kamu kenapa?"tanya Richard.


" Tunjukin dimana taman itu..!"seru Edward.


"Cepat..!"seru Edward.


setengah berlari keluar dari kamar menuju halaman rumah mewah Kanaya dimana mobil Kanaya terparkir.


Sementara itu Richard dan Kanaya serta Cintya yang terheran-heran melihat sikap Edward seperti itu. Berlari mengejar Edward.


Sesampainya di halaman dimana mobil terparkir. Edward pun membuka pintu mobil lalu memasukinya diikuti oleh Richard dan Kanaya serta Cintya. laylu Edward melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju taman yang dimaksud oleh Kanaya.


"Ada apa sih?"tanya Kanaya.


"Kamu akan tahu nanti, dimana taman itu?"tanya Edward.


"Kamu ini kenapa sih?"tanya Richard dengan nada dingin dan tegas.


Tanpa menjawab pertanyaan Richard. Edward semakin menekan pedal gas mobil menambah kecepatan mobilnya.


"Sialll,"seru Edward. Lalu berseru lagi.


"Pake macet segala lagi..!"seru Edward.


"Edward Kusuma ada apa? kenapa kamu seperti ini?"tanya Richard dengan geram.


"Anak ku dalam bahaya,"seru Edward.


"Maksud mu?"tanya Kanaya seraya menatap Edward.


"Apakah ada jalan lain?"tanya Edward tanpa menjawab pertanyaan Kanaya.


"Tidak ada jalan lain, hanya jalan ini menuju taman,"jawab Kanaya.

__ADS_1


"Apakah taman itu masih jauh?"tanya Edward.


"Tidak sudah dekat,"jawab Kanaya.


"Sial macet seperti ini mau sampai kapan?"tanya Edward.


Kemudian membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil.


"Kamu mau ngapain?"tanya Kanaya lalu membuka pintu mobil dan mengikuti Edward yang berjalan di sela-sela mobil.


Richard dan Cintya yang melihat Edward dan Kanaya keluar dari mobil, mereka pun membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil. Lalu berlari menyusul Edward dan Kanaya.Dalam benak Cintya dan Richard di penuhi dengan banyak pertanyaan.


Sedangkan Kanaya yang mengikuti Edward berlari merasakan sesuatu yang membuatnya begitu was-was dan juga di penuhi kecemasan. Tanpa mengenal lelah mereka berlari dengan kencang hingga sampai di sebuah taman yang luas. Lalu Edward dan Kanaya pun menghentikan larinya. begitu pun dengan Richard dan Cintya.


"Kita berpencar,"ucap Edward.


"Aku dan Kanaya, kamu dan Cintya,"ucap Edward lagi. lalu melanjutkan perkataannya


"Pastikan handphone kalian aktif."


"Hubungi orang-orang kalian, dan suruh menyebar di seluruh kota,"ucap Edward. Kemudian menarik tangan Kanaya melangkahkan kaki berjalan mencari Gerald di sekeliling taman yang luas itu.


"Ayo,"ucap Richard. Kemudian melangkahkan kaki bersama dengan Cintya berjalan mencari Gerald.


Tak terasa waktu pun terus berjalan tanpa sadar telah berjam-jam mereka mencari Gerald, tidak hanya di taman yang luas tersebut tetapi di semua tempat yang mereka perkirakan bisa saja Gerald pergi bermain.


"Kemana anak ku?"tanya Kanaya dari kedua matanya berlinang air mata yang tak dapat di bendungnya.


"Tenang yang,"ucap Edward seraya mendekap Kanaya. lalu berkata lagi.


"Kita pasti menemukannya aku berjanji pada mu."


"Bagaimana bisa ini terjadi, ya Tuhan ini salah ku, mengapa aku tidak memperketat penjagaan terhadap putra ku,"ucap Kanaya seraya terisak.


"Lebih baik kita kembali sekarang, hari sudah malam, kita akan melakukan pencarian lagi setelah beristirahat sejenak,"ucap Edward.


"Aku tidak bisa beristirahat sebelum aku menemukannya..!"seru Kanaya.


"Aku pun sama sayang, tapi kamu membutuhkan tenaga untuk melakukan pencarian,"ucap Edward.


"Kita akan menyebar seluruh anak buah kita untuk melakukan pencarian ini, ayo sekarang kita pulang dulu,"ucap Edward.


"Ini salah ku, aku ibu yang tidak becus mengurus anak ku sendiri," teriak Kanaya seraya terisak lalu berteriak memanggil nama Gerald.


"Geralddddddd dimana kamu nak, ini mami ayo kita pulang..!"


"Nay, cukup ayo kita pulang,"ucap Edward dengan nada tegas, seraya memeluk Kanaya mendekapnya menenangkannya.


"Tidak aku akan mencari anak ku.!"seru Kanaya. Tak lama kemudian Kanaya pun terkulai di pelukan Edward.


Dengan sigap Edward menahan tubuh Kanaya dengan tangan kanannya, lalu tangan kirinya merogoh kantong celananya mengambil handphonenya, kemudian menghubungi Richard.


"Hallo,"ucap Richard dengan nada di penuhi kekuatiran.


"Kanaya pingsan,"ucap Edward.


"Apaaa!" seru Richard.


"Kalian kesini bawa mobil,"ucap Edward kemudian menyebutkan dimana mereka berada.


"Ada apa?"tanya Cintya menatap wajah Richard.


"Kanaya pingsan,"ucap Richard.


Kemudian melangkahkan kaki berjalan mencari mobil.


"Kamu mau kemana?"tanya Cintya seraya mengikuti Richard.


"Mengambil mobil,"jawab Richard. kemudian Cintya menghentikan langkahnya.


"Lebih baik kita mencari taksi,"ucap Cintya. kemudian berjalan menuju arah ke jalan raya.

__ADS_1


"Kau benar kenapa aku jadi bodoh seperti ini,"ucap Richard. Seraya mengikuti Langkah Cintya menuju jalan raya.


Sesampainya di pinggir jalan mereka pun mencari taksi, lima menit kemudian sebuah taksi menghampiri mereka lalu Cintya mengulurkan tangannya menyetop taksi tersebut, lalu Richard dan Cintya memasuki taksi dan taksi pun melaju menuju tempat Kanaya dan Edward berada.


__ADS_2