
Keesokan paginya Kanaya dan yang lainnya melakukan aktifitas seperti biasanya, Gerald pun melakukan homeschooling di mansion.
Tak lama kemudian Edward datang menjemput Kanaya untuk melepas perban yang ada di keningnya.
Sesampainya di rumah sakit, semua mata menatap Kanaya, dengan tatapan mencemooh, Kanaya yang tak perduli dengan tatapan itu seolah-olah tak melihat, lalu sampailah mereka di dalam ruangan dokter.
"Selamat pagi Dok" ucap Kanaya dan Edward.
"Pagi, tuan, nyonya,"ucap Dokter seraya menatap Kanaya lalu menatap Edward.
"Silahkan duduk,"ucap Dokter mempersilahkan Edward dan Kanaya duduk. kemudian Edward dan Kanaya pun duduk di kursi, Dokter pun bertanya pada Kanaya
"Bagaimana kondisi anda nona apakah semenjak keluar dari rumah sakit ini anda merasakan sesuatu?"
"Tidak Dok,"jawab Kanaya.
"Baiklah jika begitu, mari kita buka perban anda,"ucap Dokter. Kemudian dokter pun mendekati Kanaya dan mulai membuka perban Yang ada di kening Kanaya. setelah membuka lilitan perban yang melingkari kepalanya.
"Apakah anda pernah mencuci rambut anda nona?"tanya dokter.
"Iya benar Dok, saya melakukannya di salon, saya sudah tidak tahan dengan bau apek rambut saya,"ucap Kanaya.
Dokter hanya tersenyum mendengarnya, kemudian Kanaya bertanya.
"Bagaimana anda bisa mengetahuinya Dok?"tanya Kanaya.
"Ikatan perban di kepala anda masih sedikit basah nona,"ucap Dokter.
"Oh begitu dok, saya pikir sudah kering dok, karen pegawai salon mengeringkan rambut saya menggunakan hairdryer,"ucap Kanaya.
"Tidak apa-apa nona, yang terpenting kening anda tidak terkena air,"ucap Dokter.
"Selesai,"ucap Dokter, kemudian dokter pun mengambil cermin yang ada di dalam lacinya lalu, memperlihatkannya pada Kanaya seraya tersenyum.
"Hemm, Edward berdehem.
"Dok apakah kau tidak bisa menutup mata mu, atau menutup wajah mu agar tidak tersenyum pada istri ku?"tanya Edward.
"Lalu bagaimana aku bisa membuka perbannya jika aku, menutup wajah ku tuan?"tanya Dokter.
"Jangan dengarkan dia Dok,"ucap Kanaya seraya memperhatikan keningnnya. lalu bertanya lagi pada dokter.
"Dok apakah luka di kening ku ini akan membekas seperti ini?"tanya Kanaya.
__ADS_1
"Tidak juga nona, saya akan memberi salep pada anda. Anda bisa mengoleskan sehari tiga kali, Luka itu akan berangsur menghilang, tetapi akan tetap meninggalkan bekas luka sedikit,"ucap Dokter.
"Ohh,"ucap Kanaya ber oh ria.
"Sayang, jangan kuatir dengan luka itu, hanya sedikit dan tak terlihat," ucap Edward seraya memperhatikan luka di kening Kanaya yang memanjang.
"Dok apa jahitan ini tidak di buka? sepertinya sudah menyatu dengan kulit kening ku,"ucap Kanaya.
"Tidak perlu nona, benang jahit itu akan bersatu dengan kulit anda, dan itu tidak akan membahayakan, kami melakukannya karena kami tidak ingin ada bekas jahitan di kulit anda,"ucap Dokter.
"Baiklah Dok, terima kasih banyak,"ucap Kanaya seraya meletakkan cermin di atas meja.
"Apa anda tidak terpengaruh dengan gosip tentang saya?"tanya Kanaya.
"Saya tidak perduli dengan gosip nona, saya lebih suka berpikiran positif agar saya tidak cepat tua, hahahaha,"jawab dokter seraya tertawa. Kanaya tersenyum mendengar perkataan Dokter. Sementara itu Edward hanya diam menatap tajam pada dokter yang tertawa lepas.
"Apakah sudah selesai dok?"tanya Edward dingin dan tajam.
"Sudah tuan dan ini resep salep dan anda bisa menebusnya di apotik rumah sakit ini,"ucap Dokter tersebut.
"Baguslah kalau begitu kami permisi dan semoga saya tidak bertemu dengan mu lagi,"ucap Edward, seraya meraih tangan Kanaya dan menggenggamnya, lalu bangkit berdiri berjalan keluar dari ruangan dokter.
"Permisi Dok,"ucap Kanaya.
"Calon suaminya itu benar-benar posesif." kemudian dia pun duduk kembali di kursinya seraya membaca laporan kesehatan para pasiennya.
Setelah menebus obat Edward dan Kanaya berjalan keluar dari rumah sakit dan seulas senyum licik terulas di bibirnya yang mungil. lalu berkata.
"it's time for the show to start,"(saatnya pertunjukan di mulai)ucap Kanaya.
Mendengar Kanaya berbicara seperti itu, Edward hanya menatapnya dan tersenyum.
Kemudian mengeratkan genggamannya, lalu berkata.
"Ayo,"ucapnya seraya melangkahkan kakinya berjalan menuju parkiran rumah sakit. tak lama kemudian para wartawan dan reporter, berlarian berbondong-bondong mengejar menghampiri mereka berdua. Sesampainya di depan Kanaya dan Edward.
Lampu Blitz dan kamera mengarah pada wajah Kanaya, dengan santai Kanaya menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu berlari memutari mobil Edward dan dengan tergesa membuka pintu mobil, lalu memasuki mobil tersebut.
"Jalan perlahan,"ucap Kanaya pada Edward. lalu Edward pun melajukan mobilnya perlahan semua wartawan dan juga reporter mengikuti mobil Edward, ada yang mengetuk pintu mobil Kanaya bahkan ada yang menghalangi jalannya mobil Edward.
"Nona, Nona,"ucap Seorang wartawan mengetuk pintu mobil Edward.
"Apakah benar pemberitaan tentang anda?"tanya wartawan tersebut, seraya mengetuk-ngetuk pintu mobil Edward. Lalu Kanaya membuka pintu mobil dan menampakkan wajahnya.
__ADS_1
"Jika memang semua itu benar, apa urusan kalian?"tanya Kanaya seraya tersenyum licik pada wartawan tersebut.
"Lebih baik kalian minggir dan beri tahu teman-teman kalian untuk menyingkir jika tidak jangan salahkan aku jika aku menabrak mereka,"ucap Kanaya dingin.
Tak lama kemudian reporter pun datang menyorot wajah Kanaya. kemudian Kanaya menutup pintu mobil.
Sementara itu Edward membunyikan klakson mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah sakit seolah-olah, kabur dari para wartawan dan juga para reporter.
Kanaya membalikkan tubuhnya, lalu berkata.
"Sepertinya mereka semakin penasaran, dan aku yakin 10 menit lagi siaran berita TV akan mengabarkan tentang ku dan Gerald."ucap Kanaya.
"Kamu benar peri kecil dan saat semuanya gempar, seseorang di luar sana akan tertawa penuh kemenangan, merasa bahwa mereka sudah melakukannya dengan baik dan rencana mereka untuk menjatuhkan mu telah sukses,"Ucap Edward.
"Ya,"ucap Kanaya lalu duduk kembali di kursinya. seraya menatap Edward.
"Aku mengenal mu sayang,"ucap Edward seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda Kanaya.
Kanaya hanya tersenyum, kemudian menatap lurus jalanan ibu kota. sesampainya di mansion Edward pun memarkirkan mobilnya, lalu mereka pun membuka pintu mobil dan keluar dari mobil berjalan masuk ke dalam mansion.
"Mom,"seru Kanaya.
"Mommy disini Nay, gak usah teriak-teriak, kayak di hutan aja."ucap Mommy Lingga.
"Gerald kemana mom?"tanya Kanaya.
"Di ruang belajar sama gurunya,"jawab Mommy Lingga.
Kemudian Kanaya menoleh pada Mommy nya yang fokus menonton TV, Kanaya pun melihat pada TV tersebut.
"Cepet juga mereka bergerak,"ucap Kanaya seraya melihat wajahnya yang terlihat sedang membuka kaca mobil Edward, tiba-tiba Mommy Lingga berkata.
"Kamu cantik juga di depan Kamera,"ucap Mommy Lingga seraya menoleh dan menatap wajah Kanaya.
"Lah emang cantik dari sejak lahir kan mom,"jawab Kanaya. seraya nyengir kuda pada Mommy nya.
"Bagaimana luka mu Nay?"tanya mommy Lingga.
"Baik kok Mom,"jawab Kanaya seraya duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Lukanya akan meninggalkan sedikit bekas,"ucap Kanaya.
"Gak apap-apa Nay,"ucap Mommy Lingga.
__ADS_1
"Kamu bisa ke Singapura atau ke negara mana gitu, untuk ngilangin bekas luka kamu yang seuprit itu,"ucap Mommy Lingga lalu menatap luka pada kening Kanaya.