
"Sayang kamu lelah?"tanya Edward.
"Aku lelah dan lapar,"Jawab Kanaya.
"Apakah kalian belum makan?"tanya Mommy Lingga.
"Belum Mom, nggak sempet,"ucap Kanaya.
"Sebentar yang aku ambilkan,"ucap Edward. Lalu melangkahkan kakinya berjalan menuju meja yang masih di penuhi dengan hidangan.
Setelah mengambil piring dan juga menaruh makanan diatas piring, Edward kembali melangkah kakinya berjalan menghampiri Kanaya.
"Gerald kemana mom?"tanya Kanaya.
"Gerald sudah tidur di temani Bi Wati,"jawab Mommy Lingga.
"Udah kamu makan dulu yang,"ucap Edward.
"aaa,"ucap Edward.
"Aku bisa makan sendiri,"ucap Kanaya.
"Buka mulutnya aku suapin,"ucap Edward.
Kemudian Kanaya membuka mulutnya dan memakan nasi dan lauknya dari sendok Edward.
"Kamu makan juga,"ucap Kanaya.
"Oke,"ucap Edward.
"Suit-Suit,"ucap Richard seraya bersiul. menggoda kedua mempelai.
"Pengantin baru ni yeeee,"ucap Richard lagi.
"Sirik aja loe,"seru Edward.
"Siapa yang sirik?"tanya Richard.
"Elo tuh yang sirik,"jawab Edward.
"Nggak mungkinlah,"ucap Richard. Seraya mendelik pada Edward.
"Udah-udah biarkan mereka makan dulu,"ucap Mommy Lingga.
Kemudian Edward dan Kanaya pun menyantap makanan yang ada diatas piring, mereka saling suap-suapan. sesekali Richard menggoda mereka dan dibalas lirikan tajam Edward. Semua orang hanya menggelengkan kepala melihat Richard dan Edward jika bertemu selalu saja seperti kucing dan anjing ada saja yang dijadikan pertengkaran kecil, saling meledek dan saling melemparkan sindiran.
"Kalian mau bulan madu kemana?"tanya Mommy Lingga.
"Belum tahu Mom,"jawab Kanaya.
"Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan,"ucap Kanaya.
"Pekerjaan nggak akan ada habisnya princess,"ucap Daddy Ded.
"Iya benar,"ucap Papi Edward.
"Lebih baik kalian ke Maldives,"ucap Papi Edward.
"Benar disana sangat indah dan cocok untuk kalian berbulan madu,"ucap Mami Edward, dengan penuh antusias.
"Aisshh, aku dan Kanaya yang akan berbulan madu tapi kenapa mami yang sangat antusias sekali?"tanya Edward.
"Kan kami juga mau ikut kalian bulan madu,"ucap Richard.
"Hah..!"seru Edward, seraya memelototkan matanya pada Richard.
"Nggak, nggak bisa, enak aja kalian ikut kami,"ucap Edward.
"Bisa..! keputusan sudah mutlak kami ikut,"ucap Richard
"Ishhh, ngeyel, nggak bisa, aku bilang nggak bisa ya nggak bisa,"ucap Edward.
"Bisa..!"seru Richard ngotot.
__ADS_1
"Astagaaa, ini yang mau bulan madu siapa sih?"tanya Cintya seraya menatap Richard.
"Mereka,"jawab Richard.
"Terus kemana kamu yang heboh?"tanya Cintya.
"Kan udah di sepakati, sayang, honey, bunny sweety, kita akan ikut mereka bulan madu,"ucap Richard. Seraya nyengir menatap wajah Cintya yang melongo menatap Richard.
"Cie cie.. yang lagi kasmaran, sayang honey, bunny sweety,"ucap Edward seraya meledek Richard.
"Masalah bulat loe..!"seru Richard.
"Nggak tuh secara gue kan udah dapet bidadari gue,"ucap Edward.
"Lah itu tadi, protes aja loe,"ucap Richard.
"Yang mulai duluan siapa?"tanya Edward.
"Kamu tuh yang mulai duluan,"jawab Richard.
"Stoppp,"seru Kanaya.
"Kalian ini kenapa sih? kalau udah ketemu pasti aja ribut,"ucap Kanaya dengan nada kesal.
"Nggak bosen apa berantem mulu,"ucapnya lagi.
"Nggak,"seru Richard dan Edward kompak.
"Astaga,"seru Kanaya dan Cintya bersamaan. Seraya membelalakkan mata mereka lalu menatap Edward dan Richard.
sementara itu kedua orang tua mereka juga Kakek Pratama dan istrinya Ayu dan juga Opa Hendra tertawa kecil melihat kelakuan mereka.
"Semua nggak ada yang boleh ikut, karena nggak akan ada bulan madu,"ucap Kanaya kesal.
"Tapi yang,"seru Edward dengan nada protes dan memelas.
"Rasain loe, karatan tuh rudal loe,"ucap Richard seraya tertawa.
"Ini semua gara-gara elo tau,"Seru Edward. Seraya mendelikkan kedua matanya pada Richard.
"Adik ipar kualat loe,"seru Richard.
"Dan catet ya siapa juga yang bujang lapuk, tuh calon istri gue,"ucap Richard. Seraya mendelikkan kedua matanya pada Edward.
"Baru calon istri, belum menjadi istri,"Seru Edward, dengan nada mengejek.
"Bentar lagi jadi istri, bulan depan udah sah,"ucap Richard seraya tersenyum mengejek Edward.
"Kalau perlu Minggu depan,"ucapnya lagi.
"Hah...,serius?"ucap Daddy Dad dan Mommy Lingga.
"Serius Mom, Dad, kapan sih aku nggak pernah serius?"tanya Richard.
"Yesss..!"Seru Daddy Ded kegirangan.
"Astaga kalian ini kenapa sih?"tanya Cintya.
"Nay,"seru Cintya menatap Kanaya.
"Hands up cin, kalau kak Richard udah ngomong gitu nggak ada lagi yang bisa bantah dia,"ucap Kanaya. Seraya mengangkat kedua tangannya dan tersenyum menggoda Cintya.
"Opa setujuuuuu,"seru Opa Hendra.
"Kakek dan Nenek juga setujuuuuu,"seru Kakek Pratama dan Nenek Ayu.
"Papi dan Mami juga setujuuuuu,"seru kedua orang tua Edward.
Kemudian mereka pun tertawa dengan penuh kebahagiaan.
"Stoppp..! kalian ini kenapa sih?"tanya Cintya.
"Mereka udah setuju, apalagi yang ditunggu?"tanya Kanaya.
__ADS_1
"Nay, jangan ikut-ikutan deh,"ucap Cintya.
Kanaya hanya tersenyum menatap sahabatnya itu lalu berkata.
"Berbahagialah Cin, lupakan semuanya sudah saatnya kamu bahagia,"ucap Kanaya.
"Tapi Nay? nggak secepat ini juga,"ucap Cintya.
"Kenapa?"tanya Kanaya.
mendapatkan pertanyaan dari Kanaya, tiba-tiba Cintya terdiam, seulas kesedihan terlihat di wajahnya dan dengan susah payah Cintya menetralkan Wajahnya menjadi seperti biasanya.
"Jangan disembunyikan Nak,"ucap Mommy Lingga.
Kemudian menghampiri Cintya dan duduk disebelahnya lalu memeluk Cintya dan berkata.
"Kami tahu masa lalu mu, dan jangan takut tidak ada seorang pun yang bisa menyakiti mu lagi, sekarang kita sudah menjadi satu keluarga dan sudah selayaknya kita saling berbagi, anggaplah Mommy ini Mommy kandung kamu,"ucap Mommy Lingga.
"Jangan merasa sungkan atau merasa malu,"ucap Mommy Lingga lagi.
Kemudian Cintya memeluk erat Mommy Lingga kedua matanya meneteskan air mata, belum pernah selama dia hidup mendapatkan pelukan seorang ibu, saat ini dia mendapatkan pelukan seorang ibu yang dipenuhi dengan kasih sayang dari Mommy Lingga dan dia tidak ingin melepaskannya lagi.
"Betapa rindunya aku dipeluk seperti ini, pelukan seorang ibu yang tak pernah aku rasakan dan sekarang aku mendapatkan pelukan itu dari seorang ibu yang bukan ibu kandung ku, tetapi seorang ibu dari ibu kandung sahabat ku,"ucap Cintya dalam benaknya.
Kanaya menatap haru Cintya lalu bangkit berdiri dari kursinya berjalan menghampiri Cintya, lalu menarik sebuah kursi yang diletakkannya di sebelah kursi Cintya. Kemudian tangannya mengelus lembut punggung Cintya. lalu berkata.
"Mommy benar Cin."
Kemudian Cintya merenggangkan pelukannya dan menatap Mommy Lingga.
"Makasih Tante,"ucap Cintya seraya tersenyum sendu.
"Mommy,"ucap Mommy Lingga.
"Kamu putri Mommy sama seperti Kanaya,"ucap Mommy Lingga.
"Tapi..!"ucap Cintya.
"Tidak ada tapi-tapian,"ucap Daddy Ded tegas.
"Apakah kau ingin singa mengamuk dan Kami semua di terkamnya?"tanya Daddy Ded. Dengan senyum menggoda istrinya.
"Daddyyyyyy,"seru Mommy Lingga.
"Tuh kan..! udah mengaum,"ucap Daddy Ded.
"Mommy,"ucap Cintya kemudian menangis terisak.
Mommy Lingga memeluk Cintya dengan erat. Lalu berkata.
"Jangan menangis nak, cukup sudah kamu bersedih dan mulai hari tidak boleh ada lagi kesedihan di wajah cantik mu,"ucap Mommy Lingga.
Kemudian merenggangkan pelukannya lalu menatap Wajah Cintya, sebuah senyum penuh cinta seorang ibu pada putrinya menghias wajah Mommy Lingga.
"Terima kasih,"ucap Cintya.
"Sama-sama sayang."ucap Mommy Lingga.
"Sekarang mari kita menyambut kebahagian,"ucap Mommy Lingga.
"Dan mulai besok kita akan persiapkan sebuah pernikahan lagi,"ucap Kanaya.
"Dan sudah aku putuskan aku akan menunda bulan madu,"ucap Kanaya lagi.
Kemudian menoleh pada suaminya lalu menatap Edward dengan tatapan penuh harap.
Mendapatkan tatapan dari Kanaya, Edward pun tersenyum menatap wajah Kanaya lalu menganggukkan kepalanya menyetujui Keputusan Kanaya.
"Makasih sayang,"ucap Kanaya tanpa suara.
"Sama-sama sayang,"ucap Edward tanpa suara. lalu berkata lagi.
"I Love you so much."
__ADS_1
"I love you too,"ucap Kanaya.
Lalu mereka pun saling melemparkan senyum penuh kebahagiaan.