
"Mam aku berangkat sekolah," ucap Gerald seraya menghampiri maminya yang masih menonton TV di ruang keluarga. kemudian mengulurkan tangannya Salim pada maminya.
"Mami anterin," Ucap Kanaya seraya mematikan TV nya.
"Aku kan naik sepeda," ucap Gerald.
"Opa aja yang anterin ok," ucap Daddy Ded.
"No," ucap Gerald.
"Loh kenapa?" tanya Daddy Ded.
"Entar satu sekolahan heboh lagi kayak kemarin kan," ucap Gerald.
"Astaga nih anak, segitunya bukan salah Opa kalau guru-guru mu itu heboh," ucap Daddy Ded seraya menepuk jidatnya mengingat saat mereka memasuki sekolah dan semua guru menatapnya dan juga mommy Lingga, serta meminta foto bersama. Siapa yang tidak mengenal mereka keluarga konglomerat nomor satu di negara ini nama mereka pun terkenal sampai Asia, wajah mereka selalu terpanjang di majalah bisnis.
"Ayo mami aja," ucap Kanaya kemudian menarik tangan Gerald menuju halaman dimana dua sepeda terparkir.
"Wahhh, kapan mami beli sepedanya?" tanya Gerald menatap takjub sepeda maminya.
"Kemarin malam, Tante Cintya yang beliin," ucap Kanaya seraya menaikkan sebelah alisnya menggoda Gerald.
"Mana ada toko sepeda yang buka malam hari mam," ucap Gerald.
"Itu sepeda mami mu, saat mami mu sekolah dulu," ucap Mommy Lingga seraya melangkahkan kakinya menghampiri putri dan cucunya. Mendengar suara mommy Lingga, Kanaya dan Gerald pun menoleh kebelakang menatap Mommy Lingga yang berjalan menghampiri mereka.
"Beneran Oma?" tanya Gerald.
"Tanya aja mami mu, kalau kamu gak percaya Oma. Mami mu dulu juga waktu sekolah seneng banget tuh pake sepeda ke sekolah," ucap Mommy Lingga, Gerald yang mendengar perkataan Omanya menatap Kanaya seakan tak percaya.
"Iya nak, Oma bener, mami juga dulu sekolah di tempat kamu sekolah di dekat perumahan sebelah. jadi sekarang kita berangkat sebelum kamu terlambat," Ucap Kanaya.
Kemudian Gerald pamit pada Omanya. Ibu dan anak itu pun berjalan menghampiri sepedanya, lalu menaiki sepeda tersebut kemudian mengayuhnya menuju sekolah Gerald dengan wajah riang dan gembira, senyum selalu menghias wajah ibu dan anak. Tanpa mereka sadari dari dalam sebuah mobil yang mengikuti mereka sepasang mata menatap mereka dengan tatapan sendu. seraya berkata.
"Maafkan aku, aku menyesal dengan semua yang kulakukan pada kalian seandainya waktu bisa terulang, aku ingin kembali ke waktu itu dan tidak akan melakukan apa yang telah aku lakukan," Ucapnya. Kemudian memakai kacamatanya dan melajukan mobilnya.
Sementara itu Kanaya dan Gerald yang telah sampai di dalam sekolah memarkirkan sepedanya, dihalaman parkir sepeda motor yang disediakan oleh pihak sekolah dengan langkah santai Gerald dan Kanaya menuju ruangan Kepala Sekolah.
"Selamat Pagi Pak Kepala Sekolah," ucap Gerald seraya tersenyum.
"Selamat pagi Gerald," Ucap Kepala Sekolah.
"Pak aku mau minta tolong, boleh ya Pak." Ucap Gerald.
"Boleh nak Gerald," ucap Pak Kepala Sekolah.
"Tolong rahasiakan identitas aku ya Pak," ucap Gerald.
"Loh...! kenapa?" tanya Pak Kepala Sekolah.
"Lakukan aja apa yang putra ku minta Pak," ucap Kanaya dengan nada tegas seraya menatap Pak Kepala Sekolah.
"Baiklah," ucap Pak kepala sekolah menatap wajah Kanaya dengan penuh tanda tanya.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi, saya titip anak saya," ucap Kanaya kemudian menoleh pada Gerald dan berkata.
"Mami pulang dulu nak," Ucap Kanaya seraya mengecup pucuk kepala Gerald. Gerald pun Salim pada maminya.
"See you mam," ucap Gerald.
Kanaya pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kepala sekolah, menuju Sepedanya. kemudian menaikinya dan mengayuhnya kembali ke mansion Bimantara. sesampainya di mansion Kanaya pun bergegas masuk kedalam.
"Kamu gak kerja nak?" tanya Daddy Ded yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Gak Dad, lagi males," ucap Kanaya. seraya menatap Daddy nya.
"Daddy juga gak kerja?" tanya Kanaya.
__ADS_1
"Gak Nay," ucap Daddy Ded.
"Mommy kemana Dad?" tanya Kanaya.
"Mommy disini," ucap Mommy Kanaya seraya menuruni anak tangga, pandangan matanya menatap Kanaya dengan tajam, wajahnya menampakkan kekesalan pada putrinya, Kanaya yang melihat wajah mommy nya, mengeryitkan keningnya.
"Mommy kenapa? tanya Kanaya.
"Katakan pada mommy, apalagi yang kau sembunyikan Kanaya Bimantara?" seru Mommynya dengan ketus.
"Apakah kamu tidak puas membuat ulah hah?" tanya Mommy Lingga lagi.
"Ulah apalagi sih mom?" tanya Kanaya.
"Kamu ditanya malah balik nanya? apa mommy pernah ngajarin kamu bertingkah seperti itu hah?" jawab mommy teriak mommy Lingga.
Daddy Ded dan Kanaya terkejut mendengar teriakan mommy Lingga begitu juga Richard yang baru saja keluar dari kamarnya menuruni anak tangga.
"Mom ada apa sih? tumben pagi-pagi, marah-marah gak jelas," ucap Daddy Ded ketus.
"Gini nih kalau Daddy selalu memanjakan Kanaya," ucap mommy Lingga seraya mendelik kesal pada Daddy Ded.
"Mommy jelasin dulu, letak kesalahan Kanaya dimana mom?" tanya Kanaya.
"Kamu gak mau ngaku Nay," ucap mommy Lingga.
"Ngaku apa sih mom? Kanaya gak ngerti," ucap Kanaya.
"Apa salah mommy sama kamu Nay," ucap Mommy Lingga seraya berlinang air mata.
"Maksudnya gimana sih mom? aku gak ngerti," ucap Kanaya kemudian Kanaya menghampiri mommy nya
"Maafkan Kanaya jika Kanaya Bersalah pada mommy, tapi mommy jelasin dulu salah Kanaya dimana?" ucap Kanaya, seraya memeluk mommy nya yang menangis tersedu.
"Salah kamu ini..!" ucap Mommy Lingga seraya mendorong Kanaya perlahan menyerahkan topeng milik Kanaya.
"Mommy dapetin ini darimana?" tanya Kanaya.
"Kamu tega bohongin mommy," ucap mommy Lingga.
"Mommy dapet dari mana? tanya Kanaya mengulangi pertanyaannya.
"Di walk in Closet kamu," ucap Mommy Lingga.
"Astaga gimana mommy bisa nemuin topeng itu?" ucap Kanaya dalam hati.
"Apalagi yang kamu sembunyikan hah?" Seru mommy Lingga seraya menatap wajah Kanaya tajam.
"Dan nihhhh..., teriak mommy Kanaya seraya memberikan majalah model Internasional. Disampul majalah tersebut terpampang seorang Desainer dunia memakai topeng, sama seperti topeng yang dipegang oleh mommy nya.
"Maaf mom," ucap Kanaya seraya menatap mommy nya dengan sendu.
"Kamu tuh ya, mommy beli baju rancangan kamu dengan harga selangit, kalau mommy tahu kamu yang buat mommy kan bisa dapat gratis," ucap Mommy Lingga seraya tersenyum lebar dan bangga, kemudian memeluk putrinya dengan erat.
"Mommy bangga pada mu Nay," ucap Mommy Lingga, kemudian melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi putrinya kemudian berkata lagi.
"Mommy gak nyangka kamu sehebat itu sekarang," ucap Mommy Lingga seraya meneteskan air matanya. kemudian memeluk Kanaya kembali.
"Tapi tunggu, saat kita ketemu di butik berarti kamu bukan pelanggan butik tetapi kamu adalah pemilik butik, dasar bandel," ucap Mommy Lingga seraya memukul lengan Putrinya dengan pelan.
"Kalian ini kenapa sih?" tanya Richard seraya mengambil majalah model yang dipegang oleh Kanaya dan juga topengnya. Daddy Ded yang penasaran mengikuti Richard, melihat majalah dan topeng tersebut dengan teliti, Mata Richard dan Daddy Ded pun terbelalak menatap Kanaya.
"Jadi kamu...," seru Daddy Ded dan Richard bersamaan, mendengar seruan mereka Kanaya hanya tersenyum seraya menatap mereka.
"Yes..., kita bisa dapet baju gratis dari rancangan terkenal dunia," ucap Daddy Ded dan Richard seraya berjoget riang seperti anak kecil. Tak lama kemudian mereka berhenti secara bersamaan dan menatap Kanaya tajam, melangkah kan kaki secara perlahan.
"Kauuuu," ucap Daddy Ded dan Richard dengan nada seolah-olah mereka marah. kemudian mereka pun memeluk Kanaya dan berkata.
__ADS_1
"Kami bangga pada mu Nay," ucap Daddy Ded.
"Kakak juga bangga pada mu Nay," ucap Richard.
Kemudian mereka pun melepaskan pelukannya dan menatap Kanaya dengan senyum penuh kebanggaan.
"Kakak Kok gak sadar ya? waktu ketemu kamu di GB Group kan memakai topeng," ucap Richard seraya menepuk jidatnya sendiri seraya terkekeh atas kebodohannya sendiri.
"Dibalik semua kegetiran hidup mu, kamu mampu melewatinya sendirian tanpa kami disamping mu, dan menjadi wanita hebat," ucap Daddy Ded kedua matanya berair, tak sanggup membayangkan bagaimana putrinya di negara asing banting tulang bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri dan putranya. Membangun usahanya sendiri tanpa bantuan siapapun, hingga dapat sesukses seperti sekarang ini.
"Kenapa kamu menyembunyikan identitas mu Nay?" tanya mommy Lingga. seraya duduk di sofa, diikuti oleh Daddy Ded, Richard dan juga Kanaya.
"Kanaya sengaja melakukan semua itu mom, karena jika mereka tahu, maka wartawan dan pers akan terus mengendus kami dan mencari tahu siapa kami, Kasian putra ku jika mereka mengetahui latar belakangnya dan juga nama keluarga ini akan tercemar, aku tidak mau kalian menanggung malu akibat masa lalu ku," Ucap Kanaya. Seraya menghela nafas panjang. kemudian menatap mommy nya dengan tatapan sendu lalu berkata.
"Maafkan Nay mom, Dad, Kak," ucap Kanaya seraya menatap satu-persatu orang-orang yang sangat di kasihinya.
"Stop mengatakan itu nak," ucap Daddy Dad.
"Kamu tidak bersalah, kamu hanyalah korban walaupun dunia tahu, Daddy tidak akan pernah malu memiliki putri seperti mu, bahkan Daddy rela menukar semua harta yang Daddy miliki demi Putri dan cucu ku," ucap Daddy Ded seraya tersenyum tulus dan penuh kasih pada Kanaya.
"Daddy mu benar nak, bagi kami orang tua anak-anak adalah harta yang paling berharga, apa yang kami miliki bisa saja sekejap mata habis jika Tuhan menginginkannya tapi kalian anak-anak kami dan juga cucu kami, tidak akan pernah habis sampai kapan pun, bahkan sampai kami berada di akhirat pun kalian akan tetap menjadi anak dan cucu kami, darah daging kami," ucap Mommy Lingga seraya tersenyum lembut pada Kanaya dan juga Richard.
"Makasih mom," ucap Kanaya dan Richard bersamaan kemudian mereka pun bangkit dari sofa yang mereka duduki dan menghampiri kedua orang tua mereka kemudian memeluk mereka dengan erat dalam hati mereka tak henti-hentinya mengucapkan. rasa syukur karena memilki orang tua yang bijaksana dan dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang.
Kemudian terdengarlah sebuah suara.
"Selamat siang,"
Mereka pun menoleh ke arah suara tersebut.
"wahhh, calon mantu datang," seru Daddy Ded dengan nada kocak.
"Aish.., Daddy mulai lagi deh," ucap Kanaya.
" Ayo duduk calon mantu," ucap Mommy Lingga seraya mengedipkan matanya genit menatap Cintya. yang datang adalah Cintya.
"Yakkkk.., mommy ikut-ikutan juga," ucap Richard tersenyum geli melihat gaya mommy nya berbicara.
"Duduk cin, jangan dengarkan mereka." ucap Kanaya.
"Kita harus ke Resort sekarang Nay, ada Masalah serius yang harus kamu sendiri tangani dan tidak boleh diwakilkan oleh orang lain." ucap Cintya.
"Masalah apa? bukankah Jeni sudah menanganinya?" tanya Kanaya.
"Di luar dugaan Jeni tidak mampu menanganinya dan ini menyangkut sebuah nama yang pastinya kamu akan sangat membencinya," ucap Cintya.
"Maksud mu?" tanya Kanaya.
"Lebih baik kamu bersiap sekarang aku akan menjelaskannya di jalan nanti," ucap Cintya.
"Oke," ucap Kanaya kemudian bangkit berdiri dari sofa yang didudukinya dengan tergesa melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Tak lama kemudian Kanaya pun telah siap dengan tergesa menuruni anak tangga tangannya menenteng koper kecil.
"Dad, mom, Nay titip Gerald, dan kami permisi," ucap Kanaya
"Ayo Cin," ucap Kanaya.
"Richard akan menemani kalian," ucap Daddy Ded.
"Tak ada bantahan," ucap Daddy Ded dengan tegas ketika melihat Kanaya ingin membuka mulutnya menyela perkataan Daddynya. kemudian terlihatlah Richard yang menuruni anak tangga berjalan kearah Kanaya seraya menenteng koper kecilnya.
"Ayo," ucap Richard seraya berjalan menuju Halaman dimana mobil Land Rover sport Range Rover keluaran terbaru seharga 4.5 milyar berwarna hitam terpajang gagah menanti pemiliknya. Kemudian mereka pun memasuki mobil tersebut dengan cepat. Richard pun mengemudikan mobil tersebut dengan kecepatan sedang.
"Katakan ada apa cin?" tanya Kanaya dingin
"Ini bacalah," ucap Cintya seraya menyerahkan berkas laporan dalam map berwarna kuning. Kanaya pun menerima map tersebut dan membukanya, matanya terbelalak membaca semua laporan itu.
__ADS_1