
"Gimana Nay?" tanya Cintya. sesampainya di GB group.
Kanaya hanya termenung tak menjawab pertanyaan Cintya.
"Apa yang terjadi Nay?" tanya Cintya.
"Putra Kusuma mengetahui Gerald putra ku, seperti dugaan ku, dia bersama anaknya yang bajingan itu datang ke sekolah miliknya itu, hanya ingin menemui Putra ku dan ingin memperlihatkan pada bajingan itu, bahwa Gerald adalah anaknya." ucap Kanaya.
"Aku merasa beruntung ada insiden itu, jika tidak saat itu mungkin saja Putra Kusuma dan anaknya yang bajingan itu telah berbicara pada Gerald dan entah apa yang dikatakannya." ucap Kanaya.
kemudian matanya menerawang ingatannya kembali pada tatapan sendu Putra Kusuma, dan senyumnya, Perkataannya membuat Kanaya merasa iba pada pria paruh baya itu, jelas terlihat ketulusannya dan keinginannya mendapatkan pengakuan dari Gerald. Andai saja saat itu anaknya yang bajingan itu tidak memperlakukannya seperti wanita murahan dan menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya mungkin saja saat ini dia bisa memaafkannya tetapi semua sudah terlambat kebenciannya terhadap anak semata wayang Putra Kusuma telah berakar. semua kejadian itu masih membekas diingatannya.
"Cin, bagaimana dengan perusahaan si bajingan itu?" tanya Kanaya.
"Beres Nay, satu persatu sudah tumbang dan jika kamu mau, aku bisa menyelesaikan semuanya," ucap Cintya.
"No, aku ingin sedikit demi sedikit perusahaannya di gerogoti, aku ingin melihat dia kelimpungan sedikit demi sedikit hingga di ujung keputusasaan, dan saat diujung keputusasaan aku ingin melihat seperti apa pria bajingan itu," ucap Kanaya. Seraya memainkan pulpen yang ada ditangannya, tatapan matanya memandang jauh kedepan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kemudian seulas senyum licik terlihat dibibirnya yang mungil, Cintya yang melihat senyum licik menghias di bibir Kanaya hanya dapat menggelengkan kepalanya, Dia tahu jika sudah seperti itu, di otak bos nya sekaligus Sahabatnya itu, telah memiliki rencana yang akan membuat seseorang pontang panting kebingungan bahkan mungkin saja di ujung kehancuran.
Tak terasa waktu pun terus berganti jam telah menunjukkan pukul 1 siang, Kanaya pun bangkit dari kursi kebanggaannya tak lupa Kanaya mengambil topeng kebanggaannya dari dalam tasnya topeng yang di desain khusus olehnya, sehingga terlihat sebuah topeng yang cantik dan elegan terkesan mewah. Dengan langkah santai Kanaya keluar dari ruangannya menuju ruangan Cintya sesampainya di depan pintu ruangan Cintya dai pun membuka pintu tersebut dan terlihatlah di dalam ruangan itu Cintya sedang sibuk dengan laptopnya.
"Cin, makan siang yuk," ucap Kanaya
"Bentar Nay, tanggung nih," ucap Cintya.
"Yang bos disini kamu atau aku," ucap Kanaya.
"Ok Bu bos, aku matiin dulu laptop nya," ucap Cintya seraya menoleh pada Kanaya dan mengedipkan sebelah matanya.
Setelah mematikan Laptopnya Cintya pun menghampiri Kanaya yang berdiri di depan pintu seraya menyenderkan tubuhnya pada pilar pintu, kedua wanita cantik itu pun berjalan beriringan menuju Lift khusus CEO. tak lama kemudian pintu lift pun terbuka, Kanaya dan Cintya pun keluar dari Lift tersebut semua mata karyawan GB Group memandang CEO dan juga Asisten kepercayaannya dalam hati mereka bertanya-tanya bagaimana wajah CEO mereka itu di balik topeng tersebut.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah Restaurant yang menyajikan makanan khas Nusantara, setelah memarkirkan mobil Sport Lamborgini Anvantando miliknya Kanaya dan Cintya pun membuka pintu mobil dan memasuki restaurant itu, semua mata pengunjung terutama pengunjung pria memandang kagum pada Kanaya. Kanaya Bimantara selalu menjadi sorotan setiap mata pria, kecantikannya yang alami dipoles make up tipis menambah keayuan wajahnya. dengan tanpa mengindahkan pandangan setiap pengunjung pria mereka pun memilih meja yang berada dipojok restaurant tersebut.
"Cihh, laki-laki gatel," ucap Kanaya dengan nada meremehkan.
"Resiko jadi orang cantik," ucap Cintya.
"Kayaknya aku harus pake topeng selamanya," ucap Cintya dengan nada enteng.
__ADS_1
"Hushhh, gak gitu juga kali cin, cukup di perusahaan aja dan peragaan busana, oke..," Ucap Cintya.
"Seharusnya kamu bangga ditakdirkan berwajah cantik, lah wanita lain rela mengeluarkan kocek ratusan juta bahkan milyaran hanya untuk dapetin wajah seperti kamu." ucap Cintya lagi.
Tak lama kemudian waitress menghampiri mereka dan menyerahkan buku menu, seraya berkata.
"Silahkan nona."
Kanaya dan Cintya pun membuka-buka lembar demi lembar buku menu tersebut
"Gurame asam manis, nasi putih dan Capcay, minumnya Orange juice," ucap Kanaya.
"Samain aja deh," ucap Cintya. kemudian menyerahkan buku menu kepada waitress tersebut.
setelah mencatat pesanan, Kanaya dan Cintya waitress pun berlalu dari meja mereka, 30 menit kemudian Waitress pun kembali ke meja mereka dengan nampan yang berisi pesanan Kanaya dan Cintya, kemudian menyajikan di atas meja.
"Silahkan dinikmati nona-nona," ucap Waitress dengan nada sopan dan hormat. Kemudian berlalu dari meja Kanaya dan Cintya.
Kanaya dan Cintya dengan lahap menikmati makan siangnya tanpa suara. Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka berdua. Tak lama kemudian pemilik mata tersebut menghampiri mereka dan berkata.
"Apakah aku bisa duduk bersama kalian?"
"Cihh, kau lagi," ucap Kanaya dengan dingin. kemudian kembali menyantap makanannya, tak memperdulikan pria tersebut.
"Ya aku lagi," ucap pria tersebut. kemudian matanya melihat sebuah kursi kosong di sebelah Cintya lalu mendudukinya, sehingga berhadapan dengan Kanaya. matanya tak lepas memandang wajah cantik Kanaya seraya tersenyum menggoda.
"Kau tahu, kau semakin cantik saja, padahal tadi pagi baru saja kita bertemu," ucap Pria itu. Pria itu adalah Eden pria yang mendapatkan tamparan dan juga sikuan dengkul Kanaya di dalam lift Perusahaan Kusuma Group. Cintya menatap Kanaya dan juga Eden secara bergantian, kemudian menatap Kanaya dengan tatapan penuh tanya, Kanaya yang mengetahui arti tatapan Cintya hanya menggendikkan bahunya. kemudian menyudahi makannya dan bangkit berdiri dari kursinya kemudian berjalan meninggalkan Cintya dan Eden tetapi langkahnya terhenti ketika Eden Berdiri di depannya dan menghalangi jalannya.
"Minggir," ucap Kanaya dengan tatapan dingin dan tajam menatap Wajah Eden.
"Apakah kau sesombong dan secongkak ini?" tanya Eden seraya menatap mata Kanaya seraya tersenyum menggoda.
"Apakah kau semurahan ini?" tanya Kanaya.
"Kau..!" seru Eden dengan tajam kemudian seulas senyum menghias wajahnya lalu terdengar keukeuhan tawa.
"Aku baru menemukan wanita seperti mu, sangat menarik dan aku pasti akan mendapatkan mu," ucap Eden seraya mencondongkan wajahnya ke telinga Kanaya.
"Dan Kau tidak akan mendapatkannya Eden," ucap Sebuah suara pria dengan geram, kemudian mendekati Eden dan menarik baju Eden sehingga Eden mundur kebelakang, kemudian wajahnya menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Kau," Ucap Eden.
"Ya aku, dan kau telah berani menggodanya maka kau berhadapan dengan ku Eden," Ucap pria tersebut.
"Dengar Edward sepupuku yang ganteng tapi kurang beruntung, dia bukan miliki mu jadi terserah aku mau menggodanya atau pun menikahinya itu urusan ku," ucap Eden dengan nada sewot. pria itu adalah Edward yang kebetulan datang ke Restaurant itu untuk makan siang. Kanaya yang kesal dengan kedua pria yang ada dihadapannya itu, kemudian melangkah kaki meninggalkan mereka, sedangkan Cintya yang merasakan gelagat yang tidak baik beranjak pergi menuju kasir dan membayar semua makanan mereka kemudian menyusul Kanaya.Tak lama kemudian saat mereka akan memasuki mobil sebuah tangan menarik Kanaya seraya berkata.
"Aku tidak perduli kau akan memukulku atau menyiksa Ku, tetapi izinkan aku berbicara dengan mu sebentar saja, setelah itu terserah pada mu," Ucap Edward.
Kanaya hanya menatap Edward dengan tajam kemudian menatap tangan Edward yang memegangnya, lalu menepisnya dengan keras sehingga tangan Edward terlepas, kemudian memasuki mobilnya tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Ingat Tuan, apapun yang ada dipikiran anda, semuanya sudah terlambat," ucap Cintya dengan nada tegas dan dingin wajahnya terlihat datar dan kejam memandang wajah Edward.
" Kau tahu yang kau hadapi bukan wanita lemah seperti wanita yang anda hina dan caci maki serta anda permalukan seperti wanita murahan di pinggir jalan, seperti yang anda katakan di masa lalu." Ucap Cintya.
"Katakan pada ku apakah anak yang berada di sekolah itu adalah anak ku?" tanya Edward.
"Anak? anak yang mana?" Tanya Cintya.
kemudian berlalu dari hadapan Edward memasuki mobil Kanaya. kemudian mobil tersebut melaju dengan kencang membelah jalanan ibu kota. Sementara itu Eden memperhatikan mereka dari kejauhan dalam hatinya berkata.
"Kau tidak akan pernah mendapatkannya..!"
Sementara itu didalam mobil Kanaya hanya diam, tak bicara sedikit pun, pandangan matanya menatap jalanan melalu kaca mobilnya.
"Siapa pria itu Nay?" tanya Cintya seraya melirik Kanaya.
"Entahlah dia mengaku bahwa Putra Kusuma adalah Pamannya, aku bertemu dengannya di Kusuma Group dan aku menampar dan menyikut Pusaka keramatnya dengan dengkul kaki ku," ucap Kanaya dengan enteng, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
mendengar jawaban Kanaya Cintya yang sedang menyetir sontak tertawa keras, seraya berkata.
"Hahahaha, aku bisa bayangkan bagaimana dia kesakitan memegang pusaka keramatnya itu, hahahahaaa,"
Kanaya hanya menggendikkan bahunya tak perduli, Cintya pun melirik Kanaya dalam hatinya berkata.
"Sepertinya akan ada masalah baru,"
"Cari tahu tentang pria bernama Eden itu Cin, aku merasakan sesuatu yang tidak baik pada pria itu," ucap Kanaya.
"Ok," ucap Cintya.
__ADS_1
"Tanpa kamu meminta pun aku akan mencari tahu tentang pria itu," ucap Cintya dalam hati.