
Kebahagian yang tak dapat di pungkiri oleh seorang Edward Kusuma, wajahnya memancarkan kebahagian, masa lalu telah mengajarkannya, untuk tidak mengutamakan egonya dan dengan penuh keyakinan menatap Cintya dan berkata.
"Kau tidak akan pernah bisa tahu apa yang ku rasakan, tetapi aku sangat berterima kasih pada mu, karena saat keadaan terpuruk kau selalu mendampingi Kanaya, dan putra ku, aku berhutang budi pada mu dan aku tidak tahu dengan cara apa aku membalasnya, tetapi hanya satu yang dapat kupastikan pada mu, tidak akan pernah aku menyakiti Kanaya lagi, aku tidak tahu kapan datangnya cinta ini tetapi aku bisa pastikan peri kecil itu adalah cinta sejati ku, yang aku cari selama ini," ucap Edward.
"Dan bagaimana jika Kanaya menolak mu?" tanya Cintya.
"Dia tidak bisa menolak ku, dia sudah melamar ku dan berjanji akan menikahi ku," ucap Edward.
"Hah..! maksud mu?" tanya Richard
"Kalian mau tahu saja," ucap Edward. Seraya tersenyum mengejek Richard.
"Sudah-sudah, sekarang kita masuk kedalam dulu, apakah kalian tidak malu di lihat orang," ucap Mommy Lingga.
"Astaga benar," ucap Cintya. Seraya melihat orang-orang yang berkerumun, memperhatikan mereka.
"Biarkan saja mereka mom," ucap Daddy Ded.
"Ayo masuk," ucap Mommy Lingga. Kemudian mereka masuk kembali ke dalam mansion. Sesampainya di depan pintu mansion Edward menjongkokkan tubuhnya, kemudian Gerald pun turun.
"Papi pulang dulu kerumah Oma dan Opa, sebelum menjelang malam, Papi akan kesini lagi," ucap Edward seraya menatap putranya.
"Dan berjanjilah pada Papi, untuk menjaga Mami," ucap Edward lagi.
"Oke, aku janji akan menjaga mami," ucap Gerald seraya memeluk Papinya.
"Good Boy," ucap Edward. lalu mereka pun saling melepaskan pelukan.
Kemudian Edward pun melangkahkan kakinya berjalan menuju mobil lalu melajukannya, menuju mansion. kedua orang tuanya.
...****************...
Sementara itu Kanaya yang telah bangun dari tidurnya menoleh kesamping mencari putranya.
"Bukannya Gerald tadi tidur bersama ku?" tanyanya dalam hati.
"Kamu udah bangun nak?" tanya Mommy Lingga, dari arah pintu kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Kanaya seraya membawa nampan berisi Nasi dan lauk pauk.
"Ayo bangun makan siang Nay, udh jam 1 lebih loh," ucap Mommy Lingga lagi.
__ADS_1
"Iya mom," ucap Kanaya seraya bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi tempat tidur.
"Udah disitu aja, Mommy ambilin," ucap Mommy Lingga.
"Nay bisa ambil sendiri mom," ucap Kanaya lalu bangkit berdiri dan berjalan, menuju sofa, kemudian mengambil piring yang ada di atas meja dan mengambil nasi dan dan sayur SOP serta ayam goreng. lalu Kanaya pun menyantap makanan tersebut, dan berkata.
"Enak, makanan rumah sakit membuat ku tersiksa," ucap Kanaya. lalu menyuapkan lagi ke mulutnya.
"Gerald kemana mom, kok gak keliatan," ucap Kanaya.
"Ada tuh di bawah, lagi ngobrol sama Daddy," ucap Mommy Lingga.
"Cintya?" tanya Kanaya.
"Udah balik ke kantor, katanya ada pekerjaan yang harus di selesaikannya, kamu dan Cintya sama aja gila kerja,"ucap Mommy Lingga.
"Kalau kami gak kerja gimana kami makan Mom," ucap Kanaya.
"Kamu gak kerja juga, Kamu masih bisa makan, harta Daddy mu gak akan habis-habis," ucap Mommy Lingga.
"Itu kan punya Daddy bukan punya aku," ucap Kanaya.
"Udah ah ngomong sama kamu gak akan ada habisnya," ucap Mommy Lingga cemberut.
"Kamu udah makan nak?" tanya Kanaya.
"Udah mam," jawab Gerald
"Mam kalau udah makan bisa gak aku ngomong sama Mami," ucap Gerald
"Mau ngomong apa? ngomong aja," ucap Kanaya.
"Nanti aja kalau mami udah selesai makannya," ucap Gerald.
"Mami udah selesai makan kok," ucap Kanaya. lalu mengambil gelas yang berisi air putih dan meneguknya, serta memakan obat yang diberikan maminya. Setelah itu Kanaya pun meletakkan gelas diatas meja. Lalu menatap Gerald dan berkata.
"Katanya mau ngomong," ucap Kanaya.
"Kalian bicara berdua dulu ya Mommy bawa ini ke bawah," ucap Mommy Lingga seraya membereskan bekas makan Kanaya.
__ADS_1
Setelah Mommy Lingga keluar kamar, Gerald pun menatap Maminya dan berkata.
"Maukah Mami memenuhi keinginan ku?" tanya Gerald.
"Apa itu nak?" tanya Kanaya.
"Berjanjilah pada ku terlebih dahulu," ucap Gerald
"Mami Janji," ucap Kanaya.
Kemudian Gerald pun menghela nafas panjang seraya menatap Maminya dengan tatapan sendu dan penuh harap.
"Bolehkah aku meminta Papi?" tanya Gerald.
Mendengar pertanyaan putranya Kanaya sontak terkejut, kedua matanya terbelalak, tatapannya melihat kedua mata putranya, di dalam mata putranya terlihat suatu keinginan yang terpendam, suatu kerinduan akan sosok seorang ayah.
"Bagaimana kamu bisa meminta itu nak?" tanya Kanaya.
"Mam, seumur hidup ku, aku tidak pernah meminta sesuatu pada mu Mam, dan kali ini aku ingin meminta Papi ku," ucap Gerald
"Aku ingin memiliki Papi, mami, seperti teman-teman ku yang memiliki keluarga yang utuh, aku ingin bermain dengan Papi, aku merindukannya mam," ucap Gerald seraya menatap Kanaya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Aku ingin kita bersama Mam? Apakah aku salah meminta Papi pada Mami?" tanya Gerald.
Kanaya menatap putranya dengan tatapan tak percaya, kemudian merengkuhnya dan memeluknya.
"Mami tidak tahu apakah mami bisa mewujudkannya atau tidak," ucap Kanaya.
"Apakah mami tidak bisa membuka pintu maaf sedikit saja pada Papi, setelah apa yang Papi lakukan pada Mami selama ini?" tanya Gerald. Kanaya hanya terdiam mendengar perkataan putranya, lalu memeluk erat tubuh putranya.
"Maafkan Mami nak," ucap Kanaya.
Mendengar itu Gerald melepaskan pelukan Maminya dan menatap wajah Kanaya, dengan tatapan kecewa, tatapan kecewa seorang anak yang tak bisa berbuat apapun atas keputusan maminya, lalu Gerald pun menundukkan kepalanya, kemudian menatap Maminya kembali, dan berkata.
"Baiklah Mam," ucap Gerald, seraya bangkit berdiri dan berjalan perlahan keluar dari kamar Maminya dengan wajah tertunduk sedih.
Kanaya hanya menatap punggung Gerald hingga menghilang di balik pintu, lalu memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya pada sofa yang didudukinya.
Tak lama kemudian dia pun bangkit berdiri menuju balkon, berdiri menatap halaman mansion sesekali menghela nafas panjang seolah-olah memiliki beban yang sangat berat. kemudian matanya berkeliling menatap halaman mansion, lalu Kanaya termenung tatapannya tak lepas dari sebuah ayunan di taman halaman mansion, di ayunan itu terlihatlah Gerald yang duduk seraya melamun pandangannya kosong, wajahnya terlihat sangat sedih.
__ADS_1
Kemudian Gerald bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kolam air mancur, dan duduk disisi kolam, seraya menundukkan kepalanya, Kanaya tahu jika putranya seperti itu, dia sedang menahan kesedihan dan tangisnya.
"Maafkan mami nak," ucap Kanaya. Tak tahan melihat putranya seperti itu, Kanaya pun membalikkan tubuhnya dan masuk kembali kedalam Kamarnya, lalu duduk di sofa.