Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 49. Siapkan Lamaran Kalian


__ADS_3

Waktu menunjukkan Pukul 18.30. Sesuai janji Edward datang bersama kedua orang tuanya. Kanaya yang saat itu duduk bersama kedua orang tuanya bersama Gerald dan juga Richard di sofa ruang keluarga, menatap heran kedatangan Edward dan juga kedua orang tuanya. Edward hanya tersenyum menatap Wajah Kanaya yang terlihat sangat cantik malam itu walaupun masih terlihat pucat. Kemudian Edward menghampiri Kanaya, dan mendekatkan wajahnya ke telinga Kanaya lalu berkata.


"Kamu sangat cantik Peri kecil,"


Mendengar perkataan Edward Kanaya menjauhkan kepalanya dan menatap tajam Edward.


"Edward duduklah," ucap Maminya.


"Oke Mam," ucap Edward seraya mendudukkan tubuhnya di sebelah Kanaya.


"Duduknya di situ dong," ucap Kanaya dingin.


"Lebih nyaman duduk di sebelah kamu," ucap Edward seraya mengedipkan matanya menggoda Kanaya.


"Cihh, menyebalkan," ucap Kanaya seraya menggeserkan tubuhnya agar menjauh dari Edward.


"Sudah-sudah, kapan mulainya ini?" tanya Mommy Lingga.


"Mulai apaan sih Mom?" tanya Kanaya. lalu memelototkan matanya pada Edward yang bergeser hingga duduk lebih dekat pada Kanaya.


"Lamaran," ucap Dady Ded.


"Lamaran? siapa yang akan dilamar?" tanya Kanaya.


"Kamu Nay, Siapa lagi," ucap Richard.


"Hah..!" Seru Kanaya.


"Dengan siapa?" tanya Kanaya seperti orang linglung.


"Tuh yang disebelah kamu," Ucap Richard.


"Dia..!" seru Kanaya seraya menunjuk Wajah Edward.


"Iya," ucap Edward.

__ADS_1


"Apakah kau senang Peri kecil? Bukankah dulu kau yang melamar ku? lalu sekarang kenapa kau sangat terkejut," ucap Edward seraya tersenyum pada Kanaya.


"Astaga, saat itu aku masih kecil," seru Kanaya .


"Aku tidak mau menikah dengan mu," seru Kanaya lagi.


"Kau akan menikah dengan ku," ucap Edward seraya menatap wajah Kanaya.


"Astaga ini apa-apaan sih?" tanya Kanaya. seraya menatap semua yang ada di ruang keluarga.


Matanya pun menatap Gerald yang tertunduk lesu. Melihat Gerald seperti itu, Kanaya merasa sangat sedih, hatinya benar-benar hancur, Lalu Gerald mengangkat kepalanya dan menatap maminya dengan tatapan sendu, wajahnya terlihat sangat sedih, lalu menundukkan kepalanya lagi seolah-olah menyembunyikan kesedihannya.


"Maafkan Mami nak," ucap Kanaya dalam benaknya.


"Awalnya saya sangat terkejut, mendengar perkataan Edward yang meminta kami datang kesini,"ucap Mami Edward.


"Dan inilah yang saya takutkan, Kanaya tidak ingin menikah dengan Edward, maka dari itu kami kesini datang untuk memastikan terlebih dahulu, apakah Nak Kanaya mau menerima lamaran Edward dan menikah dengan Edward, mengingat semua yang sudah terjadi, mungkin sulit bagi Nak Kanaya melupakan semuanya, tetapi alangkah baiknya Nak Kanaya memikirkannya," Ucap Mami Edward.


"Dan kami akan menerima keputusan Nak Kanaya, apapun keputusan itu, begitu pun dengan Edward," ucap Papi Edward.


"Awalnya Edward kekeuh ingin segera melamar Kanaya malam ini juga, tetapi akhirnya dengan berat hati Dia menerima apa yang kami katakan," ucap Papi Edward.


"Jika aku menolak mu ?" tanya Kanaya.


"Aku akan menculik mu, dan membawa mu keatas menara, dan akan aku kerangkeng kamu, lalu aku memanggil penghulu dan menikahi mu, dan lalu kita akan hidup berdua di menara itu, sampai tua aku tidak akan mengijinkan mu keluar dari menara itu," ucap Edward dengan enteng.


"Astaga bagaimana kau masih mengingat semua itu?" tanya Kanaya.


"Aku mengingat semuanya," ucap Edward seraya menetap Kanaya dengan lembut dan berkata lagi.


"Tak ada satu pun yang tidak ku ingat, semaunya masih ada disini," ucap Edward seraya menunjuk keningnya.


"Aku semakin bingung, pada kalian, sebenarnya kisah apa yang kalian miliki?" tanya Richard.


"Kisah yang tidak akan bisa di lupakan, kisah seorang peri kecil yang cantik berbaju pink dengan rambut di ikat dua, yang sangat senang mengejar kupu-kupu, dan secara tak sengaja melihat seorang pangeran yang hampir saja jatuh dan si peri itu menolongnya lalu mereka pun bersahabat dan mengikat janji jika si peri kecil itu sudah dewasa dia akan menemuinya dan menikahinya," ucap Edward.

__ADS_1


"Dan sekarang aku menagih janji pada peri kecil itu," ucap Edward dengan nada tegas seraya menatap wajah Kanaya.


Mendengar semua perkataan Edward, Kanaya memejamkan matanya, terbayang di kedua pelupuk matanya putranya Gerald, lalu membuka matanya dan menoleh pada Gerald, yang tertunduk sedih, menyembunyikan kesedihannya. Lalu menatap kedua orang tuanya dan juga kakaknya serta orang tua Edward, lalu menatap kembali putranya yang masih tak mengangkat wajahnya. Merasa terus di tatap oleh Maminya Gerald pun mengangkat wajahnya kemudian menoleh dan menatap pada Kanaya.


Di wajah putranya jelas terlihat kesedihan dan juga kedua mata yang bening itu berusaha menahan tangis yang ingin menyeruak keluar dari kedua pelupuk matanya. Kanaya pun menghembuskan nafasnya dan berkata.


"Baiklah, siapkan lamaran kalian," ucap Kanaya. seraya menatap wajah putranya. Gerald yang mendengar perkataan maminya bangkit berdiri dan berlari menghampiri maminya.


"Makasih Mam," ucap Gerald kemudian memeluk maminya dengan erat. Edward tampak sangat bahagia kemudian menatap Kanaya dan juga Gerald dalam hatinya berkata.


"Akhirnya lengkaplah kebahagian ku," ucap Edward kemudian merangkul Kanaya dan juga putranya seraya berbisik.


"Makasih Nay," kemudian mengeratkan pelukannya pada kedua orang yang sangat dicintainya itu. Kedua orang tua Kanaya dan juga kedua orang tua Edward serta Richard bernafas dengan lega. Malam ini adalah malam yang dipenuhi dengan kebahagian, dengan suka cita, dengan tawa, dalam hati mereka berkata.


"Semoga kebahagiaan ini tak akan pernah berakhir.


"Baiklah sepertinya Kanaya sudah menerima Edward dan lusa kami akan datang kesini untuk melamar Kanaya," ucap Papi Edward.


"Apakah tidak sebaiknya sekalian bertunangan saja?" tanya Mami Edward.


"No. Mam, sekalian ke penghulu aja," ucap Edward.


"Apa? Kau gila ya," seru Kanaya.


"Iya, ku sudah gila karena aku mencintai mu, jadi lebih baik sekarang kita ke penghulu saja," ucap Edward seraya bangkit berdiri menarik tangan Kanaya.


"Edward Kusuma, malam ini aku akan membawa mu ke rumah sakit jiwa, lepaskan tangan adik ku, apakah kau tidak lihat dia baru saja keluar dari rumah sakit hah..!" seru Richard seraya berdiri bertolak pinggang menatap tajam Edward, kedua pria itu pun saling menatap tajam.


"Sorry kakak ipar aku lupa," ucap Edward seraya menepuk jidatnya dan cengengesan.


"Cinta mu sudah membuat mu gila," ucap Richard seraya mengejek Edward, kemudian menatapnya tajam dalam hati berkata.


"Semoga saja kau benar-benar mencintai adik ku, aku tahu bagaimana kau, tetapi aku tidak yakin jika wanita itu hadir kembali, bisa saja kau menyakiti adik ku, dan saat itu kau akan merasakan bagaimana aku menghajar mu habis-habisan, bersama wanita mantan kekasih mu itu,"


Secara diam-diam Richard mencari informasi mantan kekasih Edward.

__ADS_1


Sementara itu Edward yang mendapatkan tatapan tajam dari Richard pun berkata dalam hatinya.


"Aku tahu apa yang kau kuatirkan, aku sangat mengenal mu chard apapun yang kau pikirkan, semua itu tak akan terjadi, itu janji ku pada mu,"


__ADS_2