
Kanaya Menghela nafas berat lalu menundukkan kepalanya lagi, lalu terdengarlah wanita itu berbicara lagi.
"Kalian lihat, dia sedikit pun tidak menjawab pertanyaan kalian, yang bisa dia lakukan hanya menundukkan kepalanya."
"Huuuuuuuuu, Serua semua Wartawan dan Reporter. Mendengar seruan ejekan, Kanaya tersenyum licik dengan masih menundukkan kepalanya. Sementara itu Cintya menatap mereka satu persatu dengan tajam dan dingin ingin rasanya merobek mulut wanita itu. lima menit kemudian Kanaya mengangkat wajahnya dan menatap wanita yang berbicara itu, wanita yang ditatap oleh Kanaya menyunggingkan senyum mengejek dan sinis, lalu berkata lagi.
"Kalian lihat dengan tidak tau malunya dia mengangkat wajahnya setelah menundukkan kepalanya dengan rasa malu, hati-hati jika kalian merasa pria tampan, sepulangnya dari sini kalian akan mendapatkan rayuan darinya.
Kanaya melirik Cintya, lalu menganggukkan kepalanya, kemudian tatapannya berkeliling menatap sekeliling ruangan Ballroom, lalu berhenti di sebuah kursi belakang, duduklah dua orang pria wajahnya di penuhi dengan senyum penuh kemenangan. lalu Kanaya mengalihkan pandangannya, seolah-olah mencari sesuatu, Wajahnya menyunggingkan senyum yang tak terlihat. Lalu menatap wanita yang sedari tadi berbicara.
"Boleh saya tahu anda siapa nona?"tanya Kanaya dengan nada sendu.
"Aku?"tanya wanita itu. Lalu wanita itu tersenyum mengejek, tak lama kemudian menutup wajahnya dan menangis. seorang wanita yang duduk disebelahnya merengkuhnya dan berkata.
"Sabar ya, kamu harus kuat dan tenang, aku yakin kok wanita itu pasti akan mendapatkan balasannya,"ucap Wanita itu.
Semua mata memandang wanita itu, dengan tatapan penuh tanda tanya, lalu wanita yang satunya menatap mereka satu persatu dan berkata.
"Mengapa kalian menatap teman ku seperti itu hah?"
"Apakah kalian tidak merasa keterlaluan, dia hanya korban dari Wanita itu,"serunya seraya menunjuk Kanaya.
"Maksud mu apa?"tanya Seorang wartawan.
"Teman ku ini sebenarnya adalah kekasih Edward Kusuma,"ucapnya lalu berkata lagi.
"Gara-gara wanita itu, Edward mencampakkannya dan dia terpaksa menggugurkan kandungannya, karena wanita itu mengancamnya."
__ADS_1
"Dan si Edward brengsek itu, mengikuti permainan wanita itu hanya karena tubuhnya dan juga pengecut,"ucapnya lagi.
"Maksud mu apa nona?"tanya salah seorang reporter.
"Bukankah Edward Kusuma itu juga korban dari Nona Kanaya?"tanya Reporter itu lagi.
"Korban yang akhirnya menjadi candu,"Jawab Wanita itu.
"Kami tidak mengerti,"ucap Para wartawan dan Reporter.
"Kalian pasti tidak akan mengerti karena mereka sangat pandai menutupi aib mereka secara mereka kan keluarga kaya, bisa membeli siapapun dengan uang,"ucap wanita itu.
"Maksudnya bagaimana nona,"tanya Seorang wartawan.
"Nona Kanaya kembali dari persembunyiannya hanya untuk mendapatkan tuan Edward lagi, sehingga tuan Edward mencampakkan kembali teman saya ini,"ucap wanita itu lagi kemudian berbicara kembali.
"Astaga tuan Edward sebejat itu?"tanya Reporter.
"Ya benar kalian tahu penyebabnya apa?"tanya wanita itu lagi.
"Karena keluarga Kusuma sangat takut pada Keluarga Bimantara, sehingga mereka menerima nona Kanaya kembali padanya, dan keluarga Kusuma memanfaatkan keluarga Bimantara untuk membangkitkan kembali perusahaan dan kejayaannya."ucap wanita itu seraya tersenyum licik menatap Kanaya.
"huuuuuuuuu, ternyata keluarga Kusuma sama bejatnya dengan keluarga Bimantara,"ucap Para Reporter dan Wartawan.
Kanaya dan Cintya memperhatikan semua orang Yang ada di ballroom, lalu Kanaya menatap Cintya dan mengedipkan matanya, Kemudian Cintya menganggukkan kepalanya.
"Apakah kalian sudah puas dengan pernyataan kedua wanita itu?"tanya Kanaya seraya menatap tajam kedua wanita itu.
__ADS_1
"Manusia. tidak ada yang sempurna, dan aku tidak ingin membela diri dan mengatakan pernyataan apapun pada kalian, tetapi seseorang akan mengatakannya langsung pada anda-anda semua,"ucap Kanaya. Tak lama kemudian dari arah pintu samping Ballroom muncullah dua orang wanita, tersenyum menatap Kanaya dan memeluk sahabatnya itu.
"Kamu masih terlihat cantik Nay, maaf malam itu aku tidak sempat membantu mu, aku kebingungan mencari mu Nay,"ucap wanita itu.
"Tidak apa-apa Ratih, semua sudah terjadi, dan maaf aku sempat mencurigai mu,"ucap Kanaya seraya tersenyum lembut pada Ratih, perempuan itu adalah Ratih yang sempat di curigai oleh Kanaya penyebab dia di jebak oleh septiayansah Budiman. Kemudian Ratih menatap semua orang yang ada di ruangan itu lalu berkata.
"Aku adalah saksi utama malam dimana Kanaya di jebak, malam itu aku mengajak Kanaya untuk merayakan ulang tahun ku, dan saat aku berdansa dengan pacar ku, aku meninggalkan Kanaya sendirian, dan seorang pria menghampiri Kanaya, pria itu adalah sepupu ku, Septiyansah Budiman, saat aku menyadari jika Septiyansah menghampiri Kanaya, aku ingin menghampirinya, tetapi Pacar ku melarang ku karena masih ingin berdansa dengan ku."
"Tak lama kemudian setelah kami selesai berdansa, aku mencari Kanaya, tetapi sepupu ku mengatakan dia sudah pulang, aku sangat curiga malam itu lalu, aku berusaha mencari Kanaya, hingga aku menemukan Kanaya di bopong oleh seorang pria, lalu aku mengikutinya, dan ternyata Kanaya di bawa ke sebuah pentouse yang biasa digunakan oleh sepupu ku itu, lalu aku meminta kunci pentouse pada resepsionis dan mengeluarkan Kanaya dari kamar pentouse itu, dan membawanya ke sebuah kamar VVIP hotel.
" Tetapi aku melakukan sebuah kesalahan, karena terburu-buru aku tidak mengunci kamar. Saat itu aku ingin mengambil handphone ku dan menghubungi orang tua Kanaya, aku lupa menyimpan handphone ku dimana, aku tidak mengingat nomor mereka.Dan saat aku mengingat belum mengunci pintu kamar Kanaya, aku berlari kembali ke kamar itu,"ucap Ratih seraya menghela nafas panjang, lalu menatap wajah Kanaya dengan tatapan sendu lalu berkata pada Kanaya.
"Maafkan aku Nay karena keteledoran ku, kamu harus mengalami semua ini." Kanaya hanya tersenyum pada Ratih. Lalu Ratih mengalihkan kembali tatapannya pada para wartawan dan juga para reporter. lalu berkata lagi.
"Saat aku kembali masuk kedalam kamar tersebut, Kanaya sudah tidak ada di dalam kamar itu, aku hanya mendapati seorang pria duduk di dalam kamar tersebut, saat aku bertanya pada pria itu, pria itu hanya tertawa terbahak-bahak, dan dia mengancam ku untuk tidak mengatakan apapun pada kedua orang tua Kanaya.
Kemudian mata Ratih meneteskan air mata teringat bagaimana pria itu mencekiknya dan mengancamnya, dengan sekuat tenaga dia meronta dan melakukan perlawanan, sehingga membuat pria itu marah dan memukulnya hingga babak belur, lalu saat pria itu lengah dia berusaha sekuat tenaga dengan sisa tenaga yang ada dia mengendap keluar dari kamar itu dan berlari, hingga berhasil melarikan diri. Kemudian Ratih pun menatap kembali para wartawan dan reporter itu, lalu berkata lagi.
"Kalian semua sangat bodoh mudah terperdaya oleh kedua wanita itu yang dipergunakan oleh seseorang yang ingin menghancurkan keluarga mereka, kalian tahu mereka mungkin berhasil melakukannya saat itu, tetapi kalian tidak tahu bahwa mereka ketakutan sehingga menunda sampai sejauh ini, Apakah kalian tidak berpikir masa 10 tahun yang lalu, dan baru sekarang terungkap kejadian itu?"ucap Ratih tajam.
"Nona Ratih boleh saya tahu siapa pria yang memukuli anda? dan mungkinkah dia dalang dari semuanya?"tanya seorang reporter yang baru saja berbicara selama jumpa pers ini berlangsung tak sedikit pun dia berbicara.
"Benar,"ucap Ratih tegas.
"Bagaimana anda membuktikannya?"tanya pria itu.
"Aku mengenal betul wajah pria itu,"ucap Ratih.
__ADS_1
Sementara itu seorang pria yang duduk di sebuah kursi di pojok gelisah tak menentu, dia begitu kaget ketika Ratih muncul, dan seorang pria lagi yang duduk disebelahnya menggenggam kedua telapak tangannya menghilangkan segala kekikukan, dan kegelisahannya, melihat seorang wanita di sebelah Ratih.