
Setelah Amelia keluar dari salon Edward menatap Kanaya lalu bertanya
"Sayang sejak kapan berdiri di situ?"
"Sejak tadi, aku hanya keramas saja lalu aku keluar dan melihat pemandangan yang sangat menakjubkan," ucap Kanaya.
"Sayang percayalah pada ku, perempuan itu hanyalah masa lalu ku," ucap Edward.
"Astaga apa kau tidak bisa mencari wanita yang lebih bermoral?"Tanya Kanaya.
"Sayang dengar, aku tidak perduli pada wanita itu," ucap Edward seraya menatap wajah Kanaya, kedua tangannya memegang wajah Kanaya.
"Kau mengerti?" tanya Edward.
"Hemm," ucap Kanaya.
"Sebaiknya kita keluar dari sini," ucap Kanaya tak acuh.
"Oke," ucap Edward, lalu mengecup sekilas bibir mungil Kanaya.
"Apakah kau tidak bisa berhenti mencium ku?" tanya Kanaya.
"Tidak, bibir mu adalah candu ku," ucap Edward, melepaskan wajah Kanaya lalu mengedipkan sebelah matanya menggoda Kanaya. Kanaya hanya melengos dan berjalan keluar dari Salon.
Sementara itu Edward menghampiri kasir dan membayar tagihan keramas Kanaya. Setelah membayar Edward mengikuti Kanaya, keluar dari salon berjalan menuju mobilnya. sesampainya di mobil Edward dan Kanaya pun memasuki mobil, lalu Edward melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kita mau kemana?" tanya Kanaya.
"Kita ke perusahaan sebentar lalu ke suatu tempat," ucap Edward seraya tersenyum melirik Kanaya yang duduk di sebelahnya. Tak lama kemudian mereka pun sampai di perusahaan Edward, G K Group. Kanaya mengerutkan keningnya Melihat Billboard perusahaan. Lalu menatap Edward dengan penuh tanda tanya, dalam benaknya berkata.
"Mengapa perusahaannya memiliki nama yang hampir sama dengan perusahaan ku?" kemudian menepis semua pertanyaan itu.
"Ayo," ucap Edward seraya menarik tangan Kanaya dan menggenggamnya melangkahkan kakinya memasuki perusahaan tersebut, Sesampainya di lobi perusahaan semua mata memandang mereka berdua. Dalam benak mereka bertanya-tanya siapa yang bersama CEO mereka. Kemudian Edward mengajak Kanaya memasuki lift khusus CEO, sesampainya di lantai atas, mereka pun keluar dari lift berjalan menuju ruangannya, seorang sekertaris yang duduk di belakang meja bangkit berdiri dan menatap wajah Edward yang tampan, lalu mengerutkan keningnya melihat Kanaya yang berada disamping Edward.
"Perempuan gatal," ucap Sekertaris tersebut dalam hatinya. kemudian menatap tajam tangan Edward yang mengeggam tangan Kanaya.
"Berti, panggil Jerry keruangan ku," ucap Edward dingin.
"Baik tuan," ucap Sekertarisnya yang bernama Berti. Tatapan matanya tak lepas menatap wajah Edward.
Kemudian Edward mengajak Kanaya memasuki ruangannya.
"Duduk dulu Nay," ucap Edward.
Kanaya duduk di sofa tatapan matanya mengelilingi seluruh ruangan tersebut lalu berkata dalam hatinya.
"Desain ruangan ini cukup bagus."
"Tok
"Tok
"Masuk," ucap Edward.
__ADS_1
Pintu pun terbuka Jerry melangkahkan kakinya memasuki ruangan bosnya.
"Bos memanggil ku?" tanya Jerry. seraya berjalan menghampiri Edward dan memberikan beberapa berkas yang harus di tandatanganinya, lalu Jerry menoleh pada Kanaya.
"Wahhh nona Kanaya akhirnya aku bisa melihat mu secara langsung, anda sangat cantik nona, perkenalkan nama saya Jerry, Asisten pribadi tuan Edward," ucap Jerry seraya melangkahkan kakinya mendekat pada Kanaya, mengulurkan tangannya pada Kanaya.
"Jerry tangan mu,dan mata mu hati-hati," ucap Edward, lalu menatap tajam Jerry.
"Kau boleh memperkenalkan diri tetapi tidak diperbolehkan sedekat itu, dan mata mu itu tak boleh menatap Kanaya ku lebih dari lima menit, ingat itu," ucap Edward tajam.
"Astaga Bos, lalu aku harus bagaimana, apakah aku harus menutup mata ku?" tanya Jerry.
"Kau benar," ucap Edward.
"Nona Kanaya, apakah aku boleh bertanya pada mu?"tanya Jerry.
Tanpa menunggu jawaban dari Kanaya Jerry bertanya lagi
"Apa yang anda berikan pada Tuan Edward sehingga bos yang dingin dan menyebalkan ini menjadi seperti ini?"
"Jangan dengarkan perkataannya, dia salah makan obat," ucap Kanaya ketus, seraya mendelik pada Edward.
"Sayang," ucap Edward. seraya bangkit berdiri berjalan menghampiri Kanaya, dan duduk disebelahnya. Lalu menatap tajam asistennya itu, tangannya merengkuh tubuh Kanaya.
"Pergilah," ucap Edward dingin matanya melotot pada Asistennya itu.
"Astaga bos kau benar-benar Bucin," ucap Asistennya.
"Apakah kau masih ingin di situ dan mendapatkan lemparan pulpen ini?" tanya Edward.
"Balikkan tubuh mu,"ucap Edward.
"Ambilkan berkas itu yang ada di atas meja," ucap Edward. Kemudian Asistennya mengambil semua berkas di atas meja Edward lalu memberikannya pada Edward.
"Balikkan tubuh mu," Ucap Edward.
"Untuk apa bos?" tanya Jerry
"Balikkan tubuh mu," seru Edward. Kemudian Jerry membalikkan tubuhnya dengan dongkol.
"Jangan membalikkan tubuh mu, sampai aku selesai menandatangani berkas ini," ucap Edward.
Kemudian Edward menandatangani semua berkas yang diberikan oleh Asistennya. setelah selesai menandatangani, Edward pun berkata.
"Tutup mata mu dan balikkan tubuh mu," ucap Edward.
"Astaga si bos ini benar-benar membuat ku kesal," ucap Asistennya dalam hati.
"Ulurkan tangan mu," ucap Edward. Kemudian Asistennya itu mengulurkan tangannya. Lalu Edward bangkit berdiri dan meletakkan semua berkas di tangan Asistennya, lalu berkata.
"Pergilah dan jangan coba-coba melihat Kanaya Ku, kalau kau melihatnya sedikit saja akan aku congkel kedua mata mu," ucap Edward tajam.
Lama-lama aku bisa gila," ucap Jerry seraya menggelengkan kepalanya dan berlalu dari ruangan Edward. Sedangkan Kanaya yang melihat tingkah konyol Edward hanya menggelengkan kepalanya tak acuh lalu berkata.
__ADS_1
"Jika tingkah mu terus seperti ini, bisa-bisa kau membuat Asisten mu itu gila." ucap Kanaya seraya mendelik pada Edward.
"Biarkan Dia gila, siapa suruh dia berani menatap mu," ucap Edward seraya menatap Kanaya.
"Aku tidak rela jika wajah cantik mu ditatap oleh pria lain," ucap Edward tegas. lalu Edward pun bertanya
"Sayang, mau minum apa?"
"Aku tidak haus," ucap Kanaya kesal.
"Apakah kau masih lama?" tanya Kanaya.
"Sebentar lagi, aku selesaikan pekerjaan ku dan setelah itu kita keluar," ucap Edward seraya tersenyum menatap wajah Kanaya. lalu bangkit berdiri, berjalan menuju mejanya dan duduk di kursi kebesarannya lalu membuka berkas laporan yang ada diatas meja. Melihat Edward yang sedang serius bekerja, Kanaya pun membaringkan tubuhnya diatas Sofa lalu, membuka handphonenya mengecek beberapa Email dari Cintya, tak lama kemudian Kanaya pun tertidur.
...****************...
waktu pun terus berjalan, Edward melirik jam yang ada dipergelangan tangannya.
"Astaga Sudah jam 1 Siang," ucapnya lalu menoleh kearah Kanaya yang terbaring di sofa. Melihat Kanaya tertidur pulas, Edward menghampirinya, tatapan matanya lembut memandang wajah Kanaya.
"Kau sangat cantik jika tertidur peri kecil," ucap Edward, jari tangannya membelai pipi Kanaya. tiba-tiba sebuah ingatan terbayang di pelupuk matanya seorang anak kecil berusia 7 tahun menghampirinya dan mengulurkan sebatang coklat.
"Hai, Mommy ku bilang jika sedang sedih kau harus memakan coklat," ucapnya seraya tersenyum.
"Ini ambillah,"ucapnya lagi.
Edward tersenyum mengingat anak kecil itu, lalu terkejut mendengar suara Kanaya.
"Jam berapa ini?" tanya Kanaya yang terbangun.
"Jam 1 siang," ucap Edward, tersenyum menatap Kanaya, lalu bangkit dari sofa yang ditidurinya.
"Ayo kita makan siang,"Ucap Edward.
"Sebentar aku ingin ke toilet dulu,"Ucap Kanaya.
Lalu Kanaya pun berjalan menuju kamar mandi, menghampiri wastafel dan menatap wajahnya di depan cermin, kemudian membasuh wajahnya, setelah mengasuh wajahnya, Kanaya pun membuka tasnya dan memoles kembali wajahnya dengan makeup tipis. setelah selesai Kanaya keluar dari kamar mandi, berjalan menghampiri Edward.
"Ayo," ucap Kanaya.
Edward hanya tersenyum, tak bergeming sedikit pun, kedua matanya tak lepas dari wajah Kanaya.
"Apakah kau hanya ingin menatap ku?" tanya Kanaya, lalu melangkahkan kakinya berjalan menuju pintu. Edward hanya tersenyum mendengar perkataan Kanaya lalu bangkit berdiri menyusul Kanaya dan menarik tangannya sehingga Kanaya terjerembab menubruk dada Edward.
"Apa-apaan sih?"tanya Kanaya.
Edward menatap Kanaya tanpa menjawab pertanyaannya lalu wajahnya semakin mendekat pada wajah Kanaya, kemudian dengan lembut Edward menempelkan bibirnya di bibir Kanaya dan menciumnya dengan lembut, Kanaya yang kaget mendapatkan ciuman Edward memundurkan kepalanya kebelakang, Edward menahan kepala Kanaya, lalu memperdalam ciumannya. Jantung Kanaya berdegub kencang, dengan malu-malu Kanaya pun membalas ciuman Edward.
Kemudian Edward pun semakin merapatkan tubuh mereka, lalu kedua tangannya membelai belakang punggung Kanaya dengan perlahan dan lembut. Mereka pun terhanyut dalam ciuman yang sangat intip, hingga Kanaya meronta berusaha melepaskan diri, ketika Tangan Edward mulai bergerilya di tubuhnya, merasakan rontaan dan protes dari Kanaya. Edward pun menghentikan aksinya, lalu memeluk Kanaya dengan erat dan berkata.
"Maafkan Aku," ucap Edward. Nafasnya tersengal menahan gairah yang ingin segera menyeruak dari dalam tubuhnya.
"Biarkan seperti ini dulu," ucap Edward tetap memeluk Kanaya serta menenangkan dirinya. Kanaya hanya diam membeku, dalam pelukan Edward tak bergeming sedikit pun dia menyadari apa yang mereka lakukan membuat Edward berusaha keras mengendalikan diri menahan emosinya. Tak lama kemudian Edward pun merenggangkan pelukannya, lalu berkata.
__ADS_1
"Kita akan menikah secepatnya,"ucap Edward tegas. tanpa menunggu jawaban dari Kanaya Edward pun menarik tangan Kanaya perlahan mengajaknya keluar dari ruangan, berjalan menuju lift. Tak lama kemudian mereka pun sampai di lobi, semua mata wanita menatap cemburu pada Kanaya, Edward Kusuma CEO tampan, idaman para wanita, sifat dinginnya membuat Para wanita semakin terpesona dan penasaran padanya. Seperti halnya saat ini para karyawan wanita menatap tajam dan iri pada Kanaya, tangannya yang di gengam erat oleh Edward, dan tatapan mata Edward yang lembut saat menatap Kanaya, membuat para wanita itu geram.