
Setelah berbicara pada wanita itu Kanaya menjauhkan wajahnya dan melangkah mundur, tatapannya tajam menatap wanita yang berada di hadapannya itu, lalu berkata.
"Bawa mereka Pak Komandan,"ucap Kanaya. Lalu Komandan Polisi tersebut membawa mereka.
Tak lama kemudian, Wartawan dan Reporter menyerbu Kanaya.
"Nona Kanaya, mengapa selama ini anda diam saja?"tanya salah seorang Reporter.
"Saya sengaja melakukannya hanya ingin melihat kebenaran siapa di balik dalang kisah kelam saya,"jawab Kanaya seraya tersenyum menatap mereka satu persatu.
"Dan aku bersyukur kisah kelam itu membuat kami bersatu kembali setelah pencarian ku yang sangat lama,"ucap Edward seraya memeluk Kanaya, kemudian mengecup keningnya lalu berkata lagi.
"Dan saat ini aku Edward Kusuma, dan di hadapan kalian semua..., Seraya tersenyum menjeda perkataannya, lalu merogoh saku celananya dan berlutut di hadapan Kanaya, lalu berkata lagi.
"Will You Marry Me?" seraya membuka kotak cincin beludru berwarna merah, cincin bertahtahkan berlian, yang dipersembahkan untuk wanita yang telah menempati seluruh ruang hatinya.
Kanaya menatap Edward lalu menatap cincin tersebut, lalu matanya memandang putranya yang tersenyum menatap Maminya, kemudian menatap kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Edward, serta kakaknya. Lalu terdengarlah sebuah suara yang berseru.
"Terimaaaa." lalu wartawan dan reporter pun berteriak bersamaan.
"Terima, terima." Kemudian Kanaya menatap Edward dan berkata.
"Yesss.., i willl." seraya mengulurkan Tangannya pada Edward, mendengar jawaban Kanaya, wajah Edward di penuhi dengan senyum bahagia, lalu Edward meraih tangan Kanaya dan memasukkan cincin bertahtahkan berlian tersebut pada jari manis Kanaya, lalu berdiri dan memeluk Kanaya dengan erat seraya berkata.
__ADS_1
"Terima Kasih Peri kecil."lalu mengecup kening Kanaya seraya memejamkan matanya dalam benaknya berkata.
"Terima kasih Tuhan, aku telah menemukan wanita yang ternyata sangat aku cintai ini."
Kemudian melepaskan kecupannya, lalu menatap Kanaya penuh cinta, seraya tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya pada putranya, Gerald pun menyambut uluran tangan Papinya, lalu mendekat dan mereka pun berpelukan. kedua orang tua Kanaya dan juga kedua orang tua Edward serta Richard, menatap mereka dengan penuh haru dan kebahagiaan, Mommy Lingga serta Mami Edward, meneteskan air mata bahagia. Lalu Daddy Ded dan Papi Edward merengkuh istri mereka seraya tersenyum menatap kebahagiaan putra dan putri mereka, sementara itu Richard menatap Cintya lalu tersenyum.
Wartawan dan Reporter pun tak kalah bahagia mereka bertepuk tangan dan bersorak, menyaksikan adegan romantis Edward dan juga Kanaya, serta terharu saat mereka bertiga berpelukan, Kanaya, Edward dan juga Gerald.
"2 Minggu setelah ini kami akan melangsungkan pernikahan dan kami akan mengundang kalian semua,"ucap Edward, lalu menatap Kanaya seraya tersenyum.
"Dan untuk merayakan ini semua, secara khusus, kami mengundang kalian untuk makan siang bersama di restaurant hotel ini,"ucap Edward lagi.
Kemudian mereka pun menuju Restaurant hotel. di Restaurant tersebut telah tersaji aneka makanan lezat, yang telah di hidangkan oleh pihak hotel.
"Semoga kebahagiaan ini tak pernah berakhir."
Kemudian menatap Edward yang tersenyum padanya, lalu mengalihkan tatapannya pada Gerald yang duduk bersama kakaknya dan Cintya, kemudian menatap kedua orang tuanya yang menampakkan kebahagian, dan juga kedua orang tua Edward, setelah menatap orang-orang yang dikasihinya, Kanaya pun menatap Edward seraya tersenyum, mereka pun saling bertatapan kemudian Edward bertanya
"Apakah kamu bahagia?"
"Ya,"jawab Kanaya.
"Terima kasih,"ucap Kanaya.
__ADS_1
"Aku lah yang seharusnya berterima kasih pada mu karena telah memberikan kesempatan pada ku, dan memberikan hati mu pada ku, dan kali ini aku bersumpah untuk membuat mu bahagia dan tak menyesal mendapatkan seorang suami seperti ku.
Lalu Edward pun menatap semua orang yang ada di ruangan itu dan berkata.
"Perhatian semuanya, aku ingin meminta waktu kalian 5 menit saja." Semua orang yang ada di restaurant menoleh padanya dan memandang Edward dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Aku Edward Kusuma di depan kalian, bersumpah akan membahagiakan Kanaya Bimantara seumur hidup ku, dan aku tidak akan membuatnya bersedih, apalagi meneteskan air mata, Aku bersumpah Kanaya Bimantara adalah satu-satunya cinta dalam hidup ku, baik dulu, sekarang dan selamanya, dan kalian adalah saksi dari semua sumpah dan janji ku pada Kanaya Bimantara."ucap Edward dengan tegas.
Kemudian menatap Kanaya seraya tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya pada Kanaya dan mengecup bibirnya, setelah mengecup bibir Kanaya Edward pun berkata lagi tatapannya tak lepas dari wajah Kanaya yang merona merah.
"Be My Wife Forever."(Jadilah istri ku Selamanya).
Kanaya tersenyum Pada Edward lalu mereka pun saling menatap mesra kemudian mereka saling merapat dan saling memeluk, semua wartawan dan Reporter mengabadikan kisah romantis hari ini, dan semua stasion TV dengan inisiatif sendiri melakukan siaran langsung, setiap adegan Edward dan Kanaya, sehingga semua mata di semua rumah dibelahan Indonesia menatap takjub kisah Kanaya dan Edward, kisah romantis mereka.
Setelah melewati masa-masa kelam dan akhirnya cinta mempersatukan mereka. Senyum dan tawa memenuhi wajah-wajah semua yang menghadiri jumpa Pers itu, Jumpa Pers yang awalnya untuk mengungkapkan sebuah kebenaran 10 tahun yang lalu menjadi sebuah acara lamaran dan keromantisan seorang Edward Kusuma pada Kanaya Bimantara, tatapannya, senyumannya, lirikan matanya dipenuhi dengan sebuah cinta untuk wanita yang dicarinya selama ini, sebuah kisah yang tak diketahui oleh orang lain bahkan kedua orang tua Kanaya dan juga kakaknya Richard tak mengetahui asal muasal kisah itu.
Sumpah dan Janji yang di saksikan oleh para wartawan dan juga reporter yang di abadikan pada kamera dan berjuta-juta penduduk Indonesia yang menonton acara siaran langsung dari berbagai stasiun TV, sangat membekas dan terharu dalam hati mereka yang menyaksikannya terucap sebuah doa, semoga Kanaya dan Edward mendapatkan kebahagiaan yang abadi sampai maut memisahkan mereka. Sorak sorai memenuhi restaurant tersebut semuanya mengucapkan selamat pada Kanaya dan juga Edward.
Sementara itu Gerlad yang duduk di sebelah pamannya, berlari menghampiri Papi dan Maminya kemudian Edward menggendong putranya yang berusia 10 tahun itu, seperti seorang anak berusia 5 tahun, lalu mereka bertiga berpelukan dan tertawa bahagia, tak ada lagi yang akan mengatakan anak haram, tak ada lagi yang akan mengatakan perempuan murahan pada Kanaya, tak akan ada lagi wajah sedih pada mereka, yang ada saat ini hanyalah wajah-wajah yang dipenuhi harapan akan kebahagian dan cinta yang abadi.
Tanpa mereka sadari di sebuah apartement seorang wanita menonton siaran langsung tentang Edward dan Kanaya dengan tatapan geram dan di penuhi amarah, lalu tangannya meraih asbak rokok yang ada di atas meja yang ada di depannya, lalu melemparkannya pada TV, seketika TV tersebut pecah dan meledak, dengan penuh amarah wanita tersebut mengangkat meja dan melemparkannya, lalu berteriak.
"Brengsekkkkkkkk."
__ADS_1
"Tak akan pernah aku biarkan."