Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 91. Malam Pengantin


__ADS_3

Malam yang dipenuhi dengan canda dan gurauan serta kebahagian yang baru bagi Richard dan juga Cintya. Mereka pun akhirnya memasuki kamar hotel masing-masing, untuk beristirahat.


"Yang,"ucap Edward. Seraya menghampiri Kanaya yang sedang berdiri di depan cermin kamar hotel, kemudian memeluknya dari belakang tubuh Kanaya.


"Mandi dulu gih sana,"ucap Kanaya.


"Entar ajalah malas yang,"jawab Edward.


"Bau tau ih,"ucap Kanaya. seraya menatap Edward dari depan cermin.


"Biarin kayak gini dulu yang,"ucap Edward.


Seraya mengeratkan pelukannya pada Pinggang Kanaya. Lalu Dagunya di letakkan di bahu Kanaya.


"Makasih sayang,"ucap Edward.


"Loh kok makasih?" tanya Kanaya.


"Makasih karena kamu udah mau jadi istri aku,"jawab Edward.


Kanaya menatap Edward melalui cermin lalu tersenyum lembut menatap pria yang baru di nikahinya itu. Kemudian membalikkan tubuhnya dan mendongakkan sedikit wajahnya menatap wajah Edward. Edward pun menundukkan sedikit wajahnya menatap wajah istrinya yang terlihat cantik di mata Edward walaupun sudah tidak memakai make up lagi.


"Jangan mengatakan terima kasih pada ku, seharusnya aku yang berterima kasih pada mu karena kamu sudah mau bertahan dan memperjuangkan ku dan Gerald. Walaupun kamu tahu apa yang sudah ku lakukan pada mu, tetapi kamu tidak berhenti berjuang dan menunjukkan versi terbaik dari diri mu,"ucap Kanaya. Lalu kedua matanya menatap Edward dengan lembut kemudian berkata lagi.


"Terima kasih kamu sudah menemukan ku, dan membawa ku ke pelaminan." Kemudian mengecup bibir Edward.


"Terima kasih tidak pernah lelah untuk membuat ku percaya dan juga telah menyelamatkan nyawaku. Dan tak berhenti membuat ku sadar, seandainya saat itu kamu tidak berusaha membuat ku terbangun mungkin aku tidak akan terbangun selamanya,"ucap Kanaya.


Kemudian seulas senyum bahagia terlihat di wajahnya.


Mendengar perkataan istrinya, Edward mengerutkan keningnya lalu berkata.


"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?"tanya Edward.


"Aku mengetahui segalanya, aku mendengar mu menangis memanggil ku bersama Gerald, aku tahu kamu tidak pernah beranjak pergi dari ku di rumah sakit itu,"ucap Kanaya Lalu berkata lagi.


"Aku melihat mu berkelahi dengan kak Richard, aku melihat semuanya, aku mendengar semuanya tetapi aku tidak bisa menyentuh mu.Menyentuh Gerald dan menyentuh Daddy Mommy dan yang lainnya,"ucap Kanaya.


Kemudian tersenyum menatap wajah suaminya.


"Terima kasih suami ku, I Love You,"ucap Kanaya lagi.

__ADS_1


"Kamu mendengar ku?"tanya Edward seraya memegang wajah Kanaya dengan kedua telapak tangannya.


"Iya aku mendengar mu,"ucap Kanaya tersenyum


"Jangan katakan terima kasih pada ku, apa yang aku lakukan sudah menjadi kewajiban ku dan tanggungjawab ku,"ucap Edward. Kemudian tersenyum penuh kelembutan. Di kedua matanya terlihat tatapan penuh cinta yang ditujukan pada istri yang baru saja dinikahinya.


"I love you so much Kanaya Bimantara, istri ku dan hidup ku,"ucapnya.


Kemudian mencium bibir Kanaya dengan lembut. Mendapatkan ciuman dari Suaminya Kanaya pun merespon ciuman tersebut Lalu Ciuman tersebut berubah menjadi ciuman menuntut lebih dan lebih, yang menciptakan suatu gairah yang tak dapat di bendungnya lagi.


Dan akhirnya Edward pun menggendong Kanaya, menuju tempat tidur, setelah membaringkannya di kasur dengan tergesa Edward membuka Tucxedo nya. Kedua matanya tak lepas menatap wajah Kanaya dengan tatapan penuh gairah.


Sedangkan Kanaya yang telah terbaring di atas kasur king size empuk kamar hotel menatap setiap gerak gerik Edward. Lalu tak lama kemudian Edward pun berbaring di sebelah Kanaya dengan masih menatap wajah istrinya, Edward kembali menciumnya dengan penuh gelora asmara, tangannya memeluk Kanaya dan membelai belakang punggung Kanaya dengan lembut.


Ciuman mereka yang semakin menuntut dan belaian yang semakin merajalela keseluruh tubuh istrinya, mereka saling membalas ciuman dan saling membelai, mengekspresikan cinta mereka dalam sentuhan demi sentuhan yang membuat suatu ******* demi *******, memenuhi kamar mereka.


Malam Pengantin yang mereka lalui membuat Kanaya dan Edward lunglai setelah bertempur dan menciptakan hawa nafsu panas dalam ruangan kamar mereka. Kaki mereka saling membelit, dan kedua insan yang baru saja mengalami pelepasan itu saling menatap satu sama lain dengan tatapan di penuhi cinta dan kebahagian.


"Kamu masih saja sempit yang,"ucap Edward. Seraya membelai wajah Kanaya dengan jarinya.


"Sempit?"tanya Kanaya seraya mengerutkan keningnya menatap wajah Edward.


"Astaga Edward Kusuma,"Seru Kanaya. Kedua pipinya bersemu memerah.


"Apakah kamu merasa sakit?"tanya Edward.


"Tidak,"ucap Kanaya.


"Tapi kenapa kamu meringis, saat pedangku masuk kedalam goa mu?"tanya Edward. tersenyum penuh arti.


"Aishh Edward Kusuma bisakah mulut mu tidak mengatakan hal seperti itu,"ucap Kanaya, dengan kikuk lalu kedua pipinya kembali bersemu merah.


"Hahahaaaaa,"tawa Edward pecah.


"Kenapa masih malu sih sayang,"ucap Edward.


"Aishhh sudah ah,"ucap Kanaya. Kemudian melepaskan pelukannya dari Edward.


"Sayang mau kemana?"tanya Edward. Kemudian mengeratkan pelukannya agar Kanaya tak bangkit dari tidurnya.


"Aku mau ke kamar mandi,"ucap Kanaya.

__ADS_1


"Lepasin dong yang,"ucap Kanaya dengan nada manja.


"Nanti aja,"ucap Edward.


"Gak mau ah, lengket nih badan,"ucap Kanaya, seraya melepaskan tangan kekar Edward yang membelit di pinggangnya hingga terlepas.


Kemudian Kanaya meraih selimut dibawah kakinya dan membelitkannya pada tubuhnya yang tak mengenakan busana. Lalu turun dari tempat tidur melangkahkan kakinya berjalan menuju kamar mandi hotel.


Sementara itu Edward memiringkan tubuhnya tangannya menopang wajahnya, kedua matanya tak lepas memandang punggung Kanaya hingga menghilang di balik pintu kamar mandi hotel.


Lalu Edward pun turun dari tempat tidur melangkahkan kakinya berjalan menuju kamar mandi, sesampainya di depan pintu kamar mandi Edward pun membuka pintu kamar mandi lalu masuk kedalam terlihatlah Kanaya yang sedang membasuh tubuhnya di bawah shower, lalu dengan perlahan Edward menghampirinya dan memeluknya.


"Astaga kamu ngagetin aja sih.!"seru Kanaya terkejut.


"hehehee,, maaf sayang,"ucap Edward. Seraya tertawa kecil melihat istrinya terkejut.


"Aku bantuin ya,"ucap Edward.


"Nggak mau ah, aku bisa sendiri,"ucap Kanaya.


"Aku bantuin,"ucap Edward. Kemudian menggosok punggung Kanaya.


"Edward udah deh, mandi aja ih,"ucap Kanaya dengan nada protes saat tangan Edward bergerilya kemana-mana.


"Ini juga mandi yang,"ucap Edward. Seraya tersenyum menggoda.


"Tangan mu di kondisikan sayang, ini bukannya mandi,"ucap Kanaya.


"Udah kamu sana..!"seru Kanaya. Seraya mendorong tubuh Edward


"Nggak akan,"ucap Edward. Tersenyum smirk menatap Kanaya.


"Aishh.., ini mah bakal beda ceritanya,"ucap Kanaya dalam benaknya.


"Ya udah kamu mandi deh, aku udah selesai,"ucap Kanaya. Kemudian beranjak dari bawah kucuran Shower.


"Belum selesai,"ucap Edward.


Kemudian menarik tangan Kanaya dengan lembut hingga terjerembab di dada bidang Edward, kemudian Edward memeluk Kanaya dan menengadahkan wajah Kanaya lalu menciumnya kembali.


Malam Pengantin yang di penuhi dengan rintihan. Rintihan demi rintihan kenikmatan Dari sepasang suami istri yang baru saja menikah. Membuat mereka lupa akan segalanya larut dalam cinta dan kebahagian yang di ekspresikan dalam sebuah penyatuan yang membuat mereka menjerit dalam kenikmatan.

__ADS_1


__ADS_2