
Kemudian Kakek Pratama kembali ke tempat duduknya begitu pun dengan Edward dan Kanaya serta Opa Hendra dan Mommy Lingga.
"Paman apapun yang terjadi dimasa lalu lebih baik kita lupakan Paman, kita mulai semuanya dengan lembaran baru,"ucap Papi Edward.
"Kita tidak perlu mengingatnya lagi, biarkan masa lalu menjadi masa lalu dan kita tutup sampai disini, sekarang keluarga kita telah bersatu kembali, dengan pernikahan Kanaya dan Edward yang sebentar lagi akan di laksanakan,"ucap Papi Edward.
"Benar sekali apa yang dikatakan Putra, kita tidak hidup di masa lalu tetapi kita hidup di masa kini dan juga masa yang akan datang,"ucap Deddy Ded.
"kalian benar, tetapi berhati-hati lah,"ucap Kakek Pratama.
"Kami mengerti Paman,"ucap Mommy Lingga. seraya menatap Kakek Pratama.
"Terutama Kanaya dan Edward,"ucap Kakek Pratama.
"Kami mengerti kek,"ucap Edward. Seraya menatap kakek Pratama, lalu tatapan matanya beralih pada Kanaya, seulas senyum menghias wajahnya.
"Pandang aja terus lama-lama kecantikan adik gue luntur gara-gara kamu,"ucap Richard, dengan nada mengejek.
"suka-suka aku dong, lagian cantiknya Kanaya nggak akan luntur," ucap Edward, seraya mendelikkan matanya pada Richard.
"Iyalah siapa dulu dong kakaknya,"ucap Richard.
"Ishhhh, narsis loe,"ucap Edward.
"Kenyataan kok,"ucap Richard
"Kenyataan apaan?"tanya Richard.
"Kenyataan kalau kakaknya ganteng berarti adiknya cantik,"ucap Edward
"Nggak nyambung banget sih,"ucap Edward dengan nada mengejek.
"Nggak nyambung gimana?"Tanya Richard.
"Secara gitu loh Kanaya adik aku, dan aku kakaknya kita satu gen tuh yang duduk di sono sama di sono penciptanya, ganteng dan cantik, ya jelaslah anaknya juga ganteng dan cantik,"ucap Richard lalu berkata lagi.
"Yang bikin aku bingung tuh kamu,"ucap Richard.
"Maksud kamu apaan?"tanya Edward.
"Ya iyalah bingung, om Putra dan Tante Narindra ganteng dan cantik. Lah kamu gak ada tuh gantengnya walaupun dikit, jangan-jangan loe anak tetangga lagi,"ucap Edward.
"Whatttt..!"seru Edward.
"Semprul loe, ngomong seenak udel aja,"ucap Edward sewot.
"Nggak percaya? tanya aja tuh Mami kamu,"ucap Richard. seraya tersenyum mengejek.
"Bener kan Tante?"tanya Richard.
"Kualat loe sama adik ipar ngomong gitu,"ucap Edward. Seraya mendelikan matanya pada Richard.
"Eh dimana-mana juga nggak ada tuh sejarahnya kakak ipar kualat sama adik ipar, yang ada adik ipar kualat sama kakak ipar. lagian kamu kan belum sah jadi adik ipar aku,"ucap Edward, seraya tersenyum meledek lalu kedua alis matanya di naik turunkan, menggoda Edward.
"Kata siapa?"tanya Edward.
"Kata aku dan semua orang,"jawab Richard.
"Sudah-sudah kalian ini kenapa sih bertengkar Mulu, setiap ketemu ada aja yang bikin kepala pusing,"ucap Kanaya.
"Dia tuh yang mulai duluan yang,"ucap Edward.
__ADS_1
"Elehhhh yang..!"seru Richard.
"Yang hujan turun lagi di bawah payung hitam kita berteduh,"ucap Edward. Menyanyikan sebuah lagu lama. kemudian berkata lagi.
"Sayang hujannya belum turun dan nggak akan hujan-hujan hahaha,"ucap Edward seraya tertawa mengejek Edward
"Dasar kutu kupret..!"seru Edward. Lalu bangkit berdiri kemudian bertolak pinggang.
"Apa loe..!"seru Richard. Lalu bangkit berdiri dan bertolak pinggang mengikuti Richard, kedua mata mereka saling menatap tajam.
"Aisshh kalian ini kenapa sih?"tanya Cintya.
"Ribut aja kerjaannya,"ucap Cintya.
"Nggak ada hal lain apa yang bisa kalian lakukan selain ribut,"ucap Kanaya seraya menatap tajam Edward dan juga Richard.
"Dia yang mulai duluan,"ucap Richard.
"Dia yang mulai duluan yang bukan aku,"ucap Edward.
"Issh yang hujan turun lagi,"ucap Richard.
"Kamu...!"seru Edward. kemudian berjalan menghampiri Richard.
Melihat Edward berjalan menghampirinya, Richard pun melangkahkan kakinya mengambil langkah seribu berlari menghindari Edward. Lalu Edward pun mengejar Richard sehingga mereka saling berkejar-kejaran. Semua orang yang melihat mereka hanya menggelengkan kepala tak habis pikir dengan kelakuan mereka yang seperti anak kecil memperebutkan mainan.
Lalu Richard berlari kesebuah pohon mangga yang rindang yang tumbuh di taman mansion. lalu duduk di bawah pohon itu, Kemudian Edward pun mengikutinya.
Mereka diam sesaat dan tak lama kemudian Richard berkata.
"Jaga adik ku, dengan semua masa lalu yang terjadi pada keluarga kita dan juga masa lalu kalian membuat ku merasa kuatir pada Kanaya,"ucap Richard. kemudian melemparkan sebuah batu kecil menghilangkan segala kekuatirannya.
"Entahlah aku memiliki perasaan yang tidak enak dengan semua yang terjadi, aku dan Daddy menyelidiki tentang mereka dan aku tidak menyangka mereka memiliki kekuatan yang tidak bisa dianggap enteng, aku tidak mengerti mengapa mereka menunggu selama 10 tahun untuk merusak keluarga kita kembali, padahal saat kejadian kalian itu mereka bisa saja langsung menghancurkan dan membuat kekisruhan agar keluarga kita saling membenci dan saling menghancurkan,"ucap Richard.
"Entahlah aku juga tidak mengerti apa yang mereka inginkan,"ucap Edward.
"Berhari-hari aku menyimpulkan semua kejadian dan semuanya seperti tak masuk di akal ku,"ucap Edward lagi.
"Dan itu yang membuat kakek Pratama menangis pilu, aku tidak tahu apa yang menyebabkannya seperti itu,"ucap Richard lagi.
"Hanya dia yang mengetahuinya,"ucap Edward
"Cepat atau lambat dia akan mengatakannya pada kita,"ucap Richard.
"Tetapi mulai saat ini kita harus sangat berhati-hati dalam bertindak, dan aku berharap mata mu ada dimana-mana,"ucap Richard.
"Aku mengerti itu tanpa kamu katakan pun aku sudah melakukannya,"ucap Edward.
"Ya aku tahu itu, tetapi walau bagaimana pun kita tidak boleh lengah sedikit pun,"ucap Richard.
"Pernikahan kalian sebentar lagi dan saat itu seluruh keluarga besar kita akan berkumpul, aku ingin mulai saat ini kita mengatur keamanan,"ucap Richard
"Mereka tidak berhasil mencemarkan nama baik kita dan aku yakin mereka akan berusaha lagi melakukannya sampai mereka berhasil memporak porandakan keluarga kita,"ucap Edward.
"Kau benar dan di balik tipuan kecil mereka ada satu maksud tertentu yang tidak kita ketahui,"ucap Richard.
"Dan aku yakin mereka saat ini akan melakukannya lagi, berhati-hati lah dengan makanan dan minuman yang kamu makan dan minum,"ucap Richard.
"Kita tidak akan pernah tahu pergerakan mereka, karena pergerakan mereka sangat terselubung dan aku yakin trik kecil yang mereka ciptakan hanya untuk mengecoh kita saja,"ucap Edward
"Kau benar, kita sepaham maka dari itu jangan sampai trik kecil mereka itu membuat kita terkecoh sehingga kita melepaskan musuh yang sesungguhnya,"ucap Richard.
__ADS_1
Kemudian mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, mengingat dan menyimpulkan setiap kejadian yang terjadi selama ini. Lalu Edward dan Richard saling bertatapan penuh arti kemudian Richard berkata.
"Apakah yang kau pikirkan sama dengan ku?"tanya Richard.
"Jika kau masih teman ku berarti pemikiran kita sama,"ucap Edward. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak dan bangkit berdiri. Lalu berkata.
"Let's do it," ( Mari Kita lakukan ) ucap mereka berdua secara bersamaan, lalu berkata lagi.
"Let's start this game," ( Mari kita memulai permainan ini ).
Kemudian mereka bertiga bertos ria kemudian di wajah mereka terlihatlah seringai licik.
Tak lama kemudian mereka pun tertawa terbahak-bahak, lalu Edward berkata.
"Sudah lama kita tidak seperti ini,"ucap Edward.
"Ya kau benar,"ucap Richard.
"Hampir saja mereka berhasil menghancurkan kita, tetapi untunglah Papi mu masih memiliki akal sehat,"ucap Richard.
"Ya kau benar dan untunglah Daddy mu itu tidak benar-benar menghancurkan kami,"ucap Edward.
"Kau pikir Daddy ku bodoh?"tanya Richard.
"Kau lihat dia terlihat tenang tidak seperti biasanya,"ucap Richard.
"Kau benar dia terlihat tenang tetapi ketenangannya itu mengandung makna yang tidak kita ketahui,"ucap Edward.
"Biasanya jika terjadi sesuatu pada Kanaya dia akan bertindak cepat dan meratakan semua yang menyakiti adik ku, tetapi saat ini dia tidak melakukan apapun aku sempat heran dan protes tetapi Daddy menyingkapi protes ku hanya dengan menatap ku dan menaikkan sebelah alisnya ciri khasnya jika tak ingin di bantah,"ucap Richard.
"Jika sudah seperti itu siapapun tidak akan pernah berani membantahnya bukan?"tanya Edward.
"Kau benar jika sekali kau membantahnya sama saja kau membangunkan singa yang tertidur, aku saja anaknya tak berani mengatakan apapun padanya,"ucap Richard.
"Ternyata kau takut juga pada Daddy mu,"ucap Edward dengan nada mengejek.
"Seperti kau tidak takut saja pada Papi mu heuh,"ucap Richard seraya tersenyum mengejek.
"Ya kau benar Daddy Mu dan juga Papi ku memiliki sesuatu yang tak bisa di bantah, pembawaan mereka yang tenang tetapi saat ketenangan mereka terancam maka akan seperti air bah yang menghanyutkan,"ucap Edward seraya menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya.
"Ya dan yang bisa meredakan air bah itu hanya satu orang,"ucap Richard.
Kemudian Richard dan Edward saling menatap dan berseru secara bersamaan.
"Istri mereka."
Kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Jika Singa perempuan Bimantara sudah mengaum maka Daddy akan diam,"ucap Richard.
"Dan jika singa perempuan Kusuma menatap Papi maka Papi akan diam seribu bahasa,"ucap Edward. kemudian mereka tertawa membayangkannya. lalu Edward berkata.
"Sudah jangan tertawa lagi nanti kita kualat."
"Kau benar dan sepertinya mereka sudah menunggu kita,"ucap Edward seraya menoleh ke belakang melihat Mommy Lingga dan Mami Edward melihat mereka.
"Bagaimana kalau kita berlomba lari, mengenang jaman kita dulu,"ucap Edward.
"Oke siapa takut,"ucap Richard.
"Satu dua tiga...!"seru Richard dan Edward lalu mereka pun berlari menuju kursi taman mansion.
__ADS_1